Ridwan Kamil : Obsesi Evolusi Membawa Prestasi

Ridwan Kamil

Founder Urbane Indonesia

Dalam usia 38 tahun, Ridwan Kamil berhasil mengembangkan usaha jasa konsultan perencanaan, desain, dan arsitektur bernama PT Urbane Indonesia yang kini masuk dalam daftar 10 perusahaan jasa arsitektur terbaik Indonesia versi perusahaan riset konstruksi BCI Asia. Nama Ridwan Kamil sendiri sebagai arsitek juga kian mencuat. Selain pernah meraih gelar International Young Design Entrepreneur of The Year dari British Council Indonesia pada 2006, tahun ini ia juga dinobatkan sebagai Architect of The Year oleh Elle Décor Magazine.

Pengalaman Dua Kali Dipecat

Mata hari bersinar cerah ketika Warta Ekonomi menyambangi kantor PT Urbane Indonesia yang terletak di ujung jalan Sumur Bandung, Bandung Jumat (24/7) lalu. Bertolak belakang dengan kondisi fisik bangunan kantor yang merupakan bangunan tua dan masih dipertahankan keasliannya, semangat jiwa muda langsung terpancar saat kaki melangkah masuk ke dalam kantor perusahaan jasa konsultan perencanaan, desain, dan arsitektur yang namanya kian moncer itu. Beberapa anak muda berusia di bawah 30 tahun tampak sedang asyik mend esain di depan monitor komputernya masing-masing. Tak berapa lama, M. Ridwan Kamil, salah satu pendiri PT Urbane Indonesia, datang menyambut. “Selamat datang,” sapa pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 itu. Ia kemudian mengajak duduk di sebuah gazebo yang ada di kantornya.

Dengan ramah, Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, pun mengisahkan perjalanan kariernya sebagai arsitek yang kemudian dalam usia muda berhasil mengembangkan usaha sendiri di bidang desain dan arsitektur bernama PT Urbane Indonesia. Perusahaan itu kini tergolong perusahaan papan atas di bidangnya. Bersama Urbane, Emil memang berhasil meraih sederet prestasi membanggakan. Lulusan jurusan teknik arsitektur dari Institut Teknologi Bandung ini sempat dinobatkan sebagai Young Design Entrepreneur of The Year versi British Council Indonesia. Kemudian, selama dua tahun terakhir Urbane dinobatkan sebagai salah satu dari 10 perusahaan arsitektur terbaik di Indonesia oleh perusahaan riset konstruksi BCI Asia. Tahun ini, pemegang gelar Master of Urban Design, College of Environmental Design, University of California, Berkeley, AS, ini ditahbiskan sebagai Architect of The Year oleh Elle Décor Magazine.

Kendati demikian, segala kesuksesan itu tidaklah diraih Emil semudah membalikkan telapak tangan. Emil pernah merasakan jatuh bangun saat merantau di Amerika Serikat, 12 tahun silam. Kala itu Emil mendapat sponsor dari sebuah perusahaan untuk magang di sebuah perusahaan konsultan desain dan arsitektur Amerika. Namun, tiba-tiba krisis moneter datang mengguncang Indonesia pada 1997. Hal itu ternyata memberikan pengaruh terhadap perjalanan karier Emil selanjutnya. Baru empat bulan magang, Emil harus menerima kenyataan bahwa perusahaan yang mensponsorinya ke Amerika tak mampu membayar gajinya. Emil pun dihadapkan pada dua pilihan yang berat: kembali ke Indonesia atau tetap tinggal di Amerika dengan risiko yang harus ditanggungnya sendiri. “Saya kemudian memilih nekat tetap tinggal,” ujarnya mantap.

Emil menyadari jalan yang dipilihnya tidak mudah, tetapi ia pantang menyerah. Di negeri Paman Sam itu, ia sempat menganggur selama tiga bulan karena berkali-kali ditolak kerja oleh banyak perusahaan konsultan desain dan arsitektur di sana. Bahkan, ia juga pernah dilecehkan karena berasal dari Indonesia. Anak kedua dari lima bersaudara ini mengaku pernah dua kali dipecat dari tempat kerjanya selama berada di Amerika.

Namun, beragam pengalaman itulah yang akhirnya membentuk Emil menjadi pribadi yang lebih kuat dan tak mudah menyerah. “Ada nilai-nilai selama tujuh tahun merantau yang membentuk saya harus mengambil keputusan cepat, toleran, menghargai pekerjaan orang, memuji karyawan bila berprestasi, dan mengingatkan karyawan bila salah, serta memotivasi mereka. Itu semua hasil pengalaman yang tidak saya dapat dari buku teks,” kenang lelaki berkacamata ini.

Mendirikan Urbane Indonesia

Meski kemudian Emil berhasil mapan dan berkecukupan secara finansial di Amerika, ia merasa hidupnya tak sepenuhnya utuh. Dengan dalih memenuhi panggilan jiwa dan tergugah secara moral untuk berkontribusi terhadap masyarakat di Indonesia, Emil memutuskan kembali ke Tanah Air pada 2004. Ia lantas berkongsi dengan dua rekannya untuk mendirikan perusahaan konsultan desain dan arsitektur sendiri bernama Urbane Indonesia.

Nama “Urbane” sengaja dipilih dan merupakan singkatan dari urban evolution yang merepresentasikan obsesi Emil untuk mengubah kota dengan cara yang kreatif. Namun, Emil sadar bahwa kreativitas saja tidak cukup, ia juga harus memperhitungkan beratnya persaingan usaha di dunia arsitektur. Ia harus mampu mengawinkan kreativitas dan bisnis. Maka, Emil pun mengandalkan jurus visioning service untuk mendapatkan kepercayaan klien, yaitu ia harus mampu menerjemahkan hal-hal yang menjadi keinginan klien menjadi sebuah desain arsitektur yang baik. “Dalam hal ini saya berusaha memberikan added value dalam desain-desain saya. Jadi, tak hanya perkara desain belaka,” ujarnya.

Selain itu, Emil juga berusaha mengedukasi klien tentang ilmu-ilmu lainnya sehingga sang klien merasa comfortable dengan konsep yang telah dibuatnya. Alhasil, Emil mampu mengombinasikan antara desain arsitektur yang kreatif dan memiliki nilai komersial. “Spiritnya adalah good design is good business,” cetusnya. Jurus itu terbukti efektif dalam memperoleh kepercayaan klien. Apalagi, pengetahuan Emil yang luas terhadap perkembangan arsitektur global memberikan nilai tambah terhadap karyanya. “Dalam berbisnis ini, kreatif saja tak cukup, tapi harus pula memiliki knowledge,” imbuhnya mantap. Prinsip ini antara lain diterapkannya saat memperoleh kepercayaan untuk mendesain proyek properti bergengsi kawasan superblok Rasuna Epicentrum milik Grup Bakrie.

Dalam mengkreasi superblok Rasuna Epicentrum yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta, itu, Emil punya cerita unik. Pada awalnya, pengerjaan masterplan superblok ini dikerjakan oleh firma arsitektur lain dengan desain kawasan itu hanya dikapling-kapling saja, tanpa ada nilai tambahnya. Sejak ditangani Emil, desainnya berubah. Bagi Emil, setiap bangunan di kawasan superblok itu harus bisa “ngobrol” dengan lingkungan atau bangunan sekitarnya. “Caranya dengan menciptakan area ritel pada lantai dasar, seperti kafe, toko buku, atau supermarket,” ujarnya. Harapannya, area ritel ini mampu menciptakan interaksi antarpenghuni superblok. Bagi Emil, makin besar interaksi sosial antarpenghuni bangunan, makin sehat pula lingkungan tersebut. Hasilnya? Hiramsyah S. Thaib, direktur utama PT Bakrieland Development Tbk. sebagai klien Emil, mengaku puas dengan desain karya Emil. “Dia mampu menerjemahkan permintaan atau visi misi dari kliennya menjadi suatu karya arsitektur yang memiliki nilai tambah dan komersial,” ujar Hiramsyah.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Emil membagi lini bisnis Urbane dalam dua bagian, yaitu departemen urban design dan departemen arsitektur. Departemen urban design bertanggung jawab dalam perencanaan pengembangan kawasan (masterplan). “Departemen ini penting sebab kalau kami murni hanya bergerak di bidang arsitek bangunan, kami tidak akan tahu di mana ada proyek pengembangan kawasan,” imbuh suami dari Atalia Praratya ini. Ditambah dengan menggarap proyek-proyek internasional, sinar bisnis Urbane makin terang saat baru menginjak tahun kelima. Berkat pergaulannya yang mengglobal, tak heran jika Emil telah mendesain 61 proyek masterplan di Asia dan Timur Tengah sejak 1997. Emil pun mengerjakan proyek dari beberapa firma arsitek terkemuka dunia seperti SOM, EDAW, dan SAA (Singapura). “Kalau mereka overload, proyek masterplan mereka dialihdayakan ke kami,” ujarnya.

Dalam hal penentuan harga desain, Emil mengaku mematok harga yang reasonable. Untuk sebuah proyek bangunan, Emil mematok angka Rp500 juta hingga Rp3 miliar, tergantung besarnya nilai proyek. Sementara untuk proyek masterplan, pria yang lahir dan besar di Bandung ini mematok tarif US$20.000 per minggu. Tarif ini diperoleh Emil dari cost production yang telah dikeluarkannya lalu dikalikan tiga. “Mengapa tiga? Ini tak lain demi mendapatkan profit margin yang reasonable bagi perusahaan,” jelas pencinta olahraga joging ini. Cost production yang dikeluarkan memang berbeda dengan industri manufaktur. Untuk bisnis kreatif, ongkos produksi lebih terletak pada biaya sumber daya manusia, termasuk di dalamnya biaya riset, biaya gaji, dan biaya operasional lainnya. Per tahun, Urbane mampu mengerjakan enam proyek baik lokal maupun internasional. Hingga 2007, Emil maupun bersama Urbane telah menghasilkan 61 karya masterplan dan 17 proyek bangunan internasional serta 33 proyek masterplan dan 29 proyek bangunan di Indonesia.

Saat ini Urbane mempekerjakan 30 orang staf yang didominasi oleh anak-anak muda yang dinamis dan kreatif. Meskipun hanya 30 staf, tetapi Emil menjamin mereka memiliki skill bertaraf internasional. “Hampir 90% mantan staf Urbane kemudian berhasil berkiprah ke luar negeri karena di sini kami menggunakan standar internasional, baik untuk quality control, imajinasi, sikap, dan penguasaan bahasa asing,” imbuhnya.

Ayah dari Emmeril Khan Mumtadz dan Cammilia Laetitia Azzahra ini menyadari bahwa bisnis kreatif berasetkan ide, maka ia pun mempunyai jurus-jurus supaya para stafnya tetap memiliki ide-ide brilian. Salah satunya adalah dengan memberikan bonus vacation trip ke luar negeri untuk para staf setiap setahun sekali. “Ide-ide gila itu dihasilkan dari proses mengkhayal, membaca, dan melihat. Dan, traveling adalah salah satu cara untuk menstimulasi ide kreatif itu,” jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan di National University Singapore ini.

Sukses secara finansial memang telah digenggam Emil. Namun, ia masih memiliki mimpi-mimpi yang ingin dicapainya. Emil giat mengampanyekan green building ini melalui karya-karyanya, baik berupa desain maupun dalam tulisan-tulisan di berbagai media, termasuk memanfaatkan 30.000 botol bekas minuman berenergi yang ditumpuk dan dijadikan sebagai pagar serta bagian dari dinding rumahnya sehingga diberi nama Rumah Botol. Emil juga mengabdikan sebagian hidupnya pada komunitas kreatif sebagai ketua Bandung Creative City Forum. Di komunitas ini, Emil memiliki obsesi untuk menjadikan Bandung sebagai kota kreatif di level Asia, baik secara ekonomi maupun penataan kotanya. “Ini semua saya lakukan agar hidup lebih seimbang,” pungkasnya.

MARTHAPURI DWI UTARI


Urbane Indonesia

Jl. Sumur Bandung 20

Bandung 40132

Telp             : (022) 250 0453

Faksimile      : (022) 250 4253

Website        : www.urbane.co.id

Email            : urbane@cbn.net.id

Testimonial       :

Hiramsyah S. Thayib, direktur utama PT Bakrieland Development Tbk.

Karya Emil cukup kreatif dan inovatif serta memiliki kemampuan untuk menerjemahkan visi dan misi dari kliennya. Emil mampu memadukan antara good architect dan good business sehingga bisa mengakomodasi keinginan dari kliennya. Selain memberikan value added terhadap lingkungan, juga memberikan keuntungan dari sisi komersial.

Boks :

Rule of succes ala Emil :

1. Sukses tak selalu diidentikkan harus berada di Jakarta sebagai pusat perekonomian negara. Emil bersama Urbane membuktikan dengan meraih Top Ten Architecture Business Award dari BCI Indonesia selama dua tahun berturut-turut dan satu-satunya firma arsitektur yang berasal dari Bandung.

2. Sukses tak selalu identik sebagai fully professional. Emil pun berhasil menyeimbangkan antara sebagai seorang praktisi arsitektur dan seorang akademisi.

3. Sukses tak selalu identik dengan perusahaan berkaryawan banyak. Urbane hanya memiliki 30 orang staf. Menurut Emil, perusahaannya mengedepankan kualitas yang tidak melulu diukur dari ukuran kapasitas karyawannya.

4. Memenangkan persaingan pasar dengan visioning service yaitu kombinasi antara good design models dan kreativitas, sehingga Emil tak hanya sebagai tukang rancang bangun saja.

5. Menebarkan jejaring hingga level global. Terbukti pendapatan Urbane Indonesia sebanyak 20% ditopang dari proyek luar negeri.

Profil :

M. Ridwan Kamil

Tempat, tanggal lahir        : Bandung, 4 Oktober 1971

Status                              : Menikah, dikaruniai seorang putra dan putri

Jabatan                           :

-       Prinsipal PT Urbane Indonesia

-       Dosen Jurusan Teknik Arsitektur – Institut Teknologi Bandung

-       Senior Urban Design Consultant – SOM, EDAW (Hongkong & San Fransisco), SAA (Singapura)

Pendidikan                       :

-       Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

-       Master of Urban Design, College of Environmental Design,  University of California – Berkeley, AS

Awards yang diraih           :

2009  : – Architect of The Year dari Elle Décor Magazine.

- Top Ten Architecture Business Award dari BCI Indonesia

2008  : – Top Ten Architecture Business Award dari BCI Indonesia

2007  : Winner of International Design Competition for Aceh Tsunami Museum

2006  : Winner International Young Design Entrepreneur of The Year versi British Council Indonesia

2005   : – Winner of International Design Competition – Waterfront Retail Masterplan, Suzhou, RRC

- Winner of International Design Competition – Kunming Tech Park, Kunming, RRC

2004   : Winner of International Design competition – Islamic Center,  Beijing, RRC

6 responses to “Ridwan Kamil : Obsesi Evolusi Membawa Prestasi

  1. Bisa bantu saya mendapatkan kontaak arsitek2 muda yg sdh banyak mengeluarkan design & karya2 bangunan?
    saya butuh untuk menawarkan kerjasama supplier wallpaper dari produk terpercaya import langsung dari Jepang, setiap arsitek akan mendapatkan harga spesial berupa diskon khusus mencapai 20% hingga 25%.
    Hubungi saya Novi di 0812 – 8294 7579
    ASAP ya…
    Thanks

  2. pa saya bisa magang atau kerja ga disana ?
    tolong bantu saya mewujudkan cita-cita saya sebagai architect .
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s