Permata dari Limbah Kaca

M. Chodri

Pemilik PT Reka Cipta Manik

 

Ia melebur botol bekas parfum untuk dijadikan perhiasan unik nan cantik. Untuk mendapatkan warna berbeda, ia menggunakan botol bekas beraneka warna. Kini, produknya bisa ditemui di beberapa negara, bahkan juga di benua Afrika.

 

Setiap orang memproduksi sampah sebanyak 1-2 kilogram per hari. Nah, jika di Indonesia ada 250 juta penduduk—termasuk di dalamnya wisatawan yang melancong ke negeri ini atau warga negara asing yang bekerja di sini—maka akan ada 500.000 ton sampah per hari. Padahal, pemerintah baru mampu mengelola 30%  dari total produksi sampah per hari. Sisanya? Hanya menjadi gunungan sampah yang bertebaran di mana-mana, menimbulkan bau tak sedap dan pencemaran. Bahkan, menurut data dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta, produksi sampah di Provinsi DKI Jakarta saja bisa mencapai 6.000 ton, atau setara dengan sekitar 27.000 meter kubik, per hari dan diprediksikan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Sampah-sampah ini komposisinya adalah 65% organik dan 35% anorganik.

Sampah anorganik ini jika dikelola dengan baik bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, tak kalah dengan sampah organik yang bisa diubah menjadi kompos. Oleh sebab itu, banyak yang memanfaatkan sampah anorganik menjadi barang-barang daur ulang dengan berbagai fungsi. Salah satunya adalah Muhammad Chodri. Pemilik PT Reka Cipta Manik ini menciptakan keajaiban dari botol parfum bekas dan pecahan kaca lainnya. Semua itu disulapnya menjadi aksesori wanita nan cantik.

 

Jari-Jari Sepeda

Di sebuah rumah di kawasan Kampung Rawa, Jakarta Pusat, si empunya rumah tampak sibuk mempersiapkan proses produksi pembuatan manik-manik berbahan baku kaca. Maklum saja, siang itu, Chodri, sang pemilik rumah, bakal menerima kunjungan pejabat-pejabat dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Menurut para pejabat itu, usaha Chodri mampu mengurangi tumpukan sampah yang tak bisa diurai oleh tanah. Pasalnya, Chodri memanfaatkan limbah botol parfum, pecahan kaca, dan berbagai barang pecah belah lainnya untuk dijadikan kalung, gelang, dan aneka  perhiasan yang cantik dan bernilai ekonomis.

Proses pembuatan perhiasan tersebut cukup sederhana. Langkah pertama adalah melebur botol kaca yang tak terpakai di atas kompor sederhana yang mampu menghasilkan suhu hingga 2.000 derajat Celsius. Kemudian Chodri memilin leburan itu menjadi sebuah batang kaca yang panjangnya bisa mencapai satu meter. Untuk mengeringkannya, ia cukup mengangin-anginkannya di alam terbuka. Lalu, untuk menghasilkan warna-warna cantik, Chodri mengaku tak menggunakan bahan pewarna apa pun. “Warna manik-manik itu saya dapatkan dari warna asli botol bekas yang saya pakai. Kalau untuk motif, cukup memadukan warna dari botol-botol yang berbeda warnanya,” urai kakek satu cucu ini. Kendati sederhana, ternyata ia mampu menciptakan motif pelangi, zebra, padi, keong, lurik, dan sebagainya.

Nah, tahapan selanjutnya adalah membuat batang kaca itu menjadi manik-manik. Batang kaca itu kemudian dilebur kembali di atas api dan dibentuk sesuai keinginan dengan melilitkannya pada sebuah alat sederhana: jari-jari sepeda. Sebelumnya, Chodri sudah mencelupkan jari-jari sepeda itu ke tepung tapioka basah agar manik-manik mudah dilepaskan jika telah dingin. “Saya menggunakan alat kerja yang amat sederhana,” kata pria asal Jombang ini, sambil menunjuk tungku, jari-jari sepeda, pompa, pasah, dan martil.

Oleh karena tidak menggunakan cetakan khusus dalam menciptakan bentuk dan motif manik-maniknya, Chodri menyebut perhiasan ciptaannya masuk dalam kategori “limited edition”. “Ini karena saya tak bisa lagi membuat motif yang sama persis untuk proses pembuatan perhiasan selanjutnya,” kata dia, terbahak.

Jika manik-manik telah selesai dibentuk, Chodri kemudian menyerahkan proses merangkai perhiasan kepada istrinya, Bagus Siti Elfia. “Model perhiasannya saya buat sesuai dengan imajinasi saya. Kadang-kadang saya juga terinspirasi dari gambar-gambar perhiasan yang ada di majalah-majalah mode,” papar Elfia. Oleh karena perhiasan-perhiasan ini bisa disebut sebagai barang dengan kategori limited edition, maka harganya pun menjadi relatif mahal. Kalung, misalnya, kisaran harganya Rp27.500‒Rp275.000, tergantung model dan kerumitan proses pembuatannya.

Soal bahan baku untuk industrinya, Chodri mengaku mendapat pasokan limbah kaca dari tiga pengepul utama asal Karawang, Tangerang, dan Cirebon. “Sebelumnya, saya mencari sendiri ke mana-mana, dimulai dari lapak-lapak kecil. Justru dari lapak-lapak kecil itulah saya kemudian mendapat informasi tentang tempat pengepul limbah kaca ini,” jelas pria kelahiran 18 Agustus 1960 ini. Untuk membeli botol bekas dari pihak pengepul, cerita Chodri, ia cukup mengangsurkan uang Rp3.500 per kilogram. “Kalau beli satuan, harga per botolnya bisa Rp300 sampai Rp400,” kata dia. Setiap bulan, usaha Chodri membutuhkan dua hingga tiga ton botol kaca bekas untuk bahan baku.

 

Terinspirasi Gelas Pecah

Ayah lima anak ini mengawali usahanya pada 1987. Kala itu, Chodri masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan biro perjalanan di bilangan Rawamangun, Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. “Saya terdesak oleh kebutuhan hidup,” aku dia, mengenang ide pendirian usahanya. Agar tak membutuhkan modal besar, ia kemudian memanfaatkan segala peralatan yang ada di sekitarnya, seperti tangki, kompor, dan pompa angin. Seiring dengan berjalannya waktu, Chodri pun berhasil menciptakan kompor buatannya sendiri. Kompor ciptaannya itulah yang akhirnya digunakan untuk melebur bahan baku pembuatan perhiasan.

Semula ia terinspirasi untuk membuka usaha las karbit dan pandai besi. Namun, suatu ketika Chodri tak sengaja menyenggol gelas berisi kopi hingga pecah. Terdorong rasa ingin tahu, ia pun memanaskan pecahan kaca itu di atas kompor buatannya. “Pecahan kaca itu meleleh dan menghasilkan bentuk-bentuk yang indah,” aku dia. Peristiwa gelas pecah itulah yang kemudian menginspirasi Chodri untuk membuat kerajinan manik-manik dari limbah kaca. Keong buntet dan giwang adalah model aksesori pertama yang berhasil dibuatnya.

Proses uji coba membuat kompor dan berbagai manik-manik memakan waktu lima bulan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1987, Chodri mulai serius menekuni bidang usahanya ini. Untuk usaha pembuatan aksesori wanita, Chodri mengaku hanya menggelontorkan modal Rp2,5 juta. Reka Cipta Manik dipilih menjadi brand produknya. “Reka itu asalnya dari mereka-reka atau berimajinasi, sedangkan cipta adalah menciptakan atau berkreasi. Adapun manik, karena produk kami adalah manik-manik. Akhirnya tercetuslah nama Reka Cipta Manik,” jelas pria yang gemar bereksperimen ini. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1989, Chodri memutuskan untuk bekerja total sebagai entrepreneur, dan mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja.

Saat ini Chodri mempekerjakan 16 karyawan, terdiri dari tujuh karyawan pria dan sembilan karyawan wanita. Karyawan pria bertugas pada divisi proses produksi, sementara karyawan wanita bertugas merangkai manik-manik menjadi aksesori yang siap pakai. “Sebagian besar yang saya rekrut menjadi karyawan adalah para tetangga sekitar rumah. Saya ingin memberdayakan masyarakat di sekitar saya,” ungkap Chodri.

Setiap bulan, Reka Cipta Manik mampu menghasilkan 35.000 kalung. Adapun omzetnya berkisar Rp40‒60 juta per bulan. Chodri mengaku membidik kalangan masyarakat menengah ke atas dan para pencinta seni sebagai target konsumennya. Saat ini, produk Reka Cipta Manik mudah ditemukan di sejumlah galeri di kawasan Kemang, di Jl. Surabaya, serta  di kawasan Ciputat. Chodri juga membuka gerai di UKM Center Waduk Melati, Jakarta Pusat. Tidak hanya berkutat di Jakarta, aksesori buatan Chodri ini juga dipasarkan hingga Martapura di Kalimantan Selatan, selain di Yogyakarta, Solo, dan Bali. Bahkan, melalui agennya yang ada di Bali, produk Chodri kemudian merambah pasar mancanegara, seperti ke Jepang, Australia, Amerika Serikat, hingga Zimbabwe di Afrika.

Meskipun produknya telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, Chodri mengakui usahanya selama ini masih terhambat kendala pemasaran produk serta permodalan. Kredit Usaha Rakyat pun dimanfaatkan Chodri untuk menambal kebutuhan modal usahanya. Selain itu, naiknya harga serta langkanya minyak tanah sebagai bahan bakar untuk proses produksinya  turut memperpanjang daftar kendala yang dihadapi Chodri. “Saya sedang bereksperimen untuk mengganti minyak tanah dengan gas,” jelasnya. Namun, masih ada kendala lainnya. Industri berbasis kreasi ini rentan terhadap pembajakan atau peniruan. Pria tamatan SMA ini memahami benar kondisi tersebut. Untuk itu, ia mengaku sedang mengajukan pendaftaran hak paten dan pendaftaran pembuatan perusahaan.

Banyaknya kendala yang menghadang tak membuat lulusan SMAN 168 Jakarta ini patah arang. Ia terus melakukan inovasi untuk produk aksesorinya serta  menciptakan produk lainnya. Chodri juga memproduksi lukisan berbahan pasir sebagai usaha sampingannya. Impian terbesarnya adalah menyadarkan dan mengajak para kawula muda untuk tidak memandang sebelah mata terhadap sampah. “Dari sampah pun bisa menghasilkan rezeki,” pungkasnya, bangga. Siapa sangka, dari limbah kaca bisa menghasilkan “permata”. ###

 

Tulisan ini pernah dimuat dalam Rubrik Smartpreneur Majalah Warta Ekonomi Edisi 1/XXI/2009

About these ads

5 responses to “Permata dari Limbah Kaca

  1. mas codri yth saya tinggal di kalimatan timur.saat ini saya terinspirasi buat kreasi dari kaca bekas.kebetulan di tempat saya banyak sampah kaca yang berserakan.mohon petunjuk cara peleburan kaca dan alat apa aja yang di gunakan.apa perlu pakai silinder las karbit terus kompor gunanya untuk apa.

    • Mas syamsudin terima kasih atas perhatianya……………..
      utk peleburan dan proses pembuatan manik manik kami siap mengadakan pelatihan
      ketempat mas syamsudin……….dengan rincian bbb:

      1.Biaya pelatihan utk 5orang @ Rp.5.000.000 X 5 = Rp.25.000.000
      adapun biaya tersebut digunakan,alat,kompor cetak 5 unit,kompor oplos 1unit,bahan
      baku 200kg,serta sarana pununjang alat2 lainya.
      2.platihan dilakukan selama 1 bulan
      untuk lebih jelasnya dapat menghubungi kami di no Hp 087878017377

      terima kasih salam sukses selalu

      BR//M.CHODRI

      • Pak Chodri, saya tertarik dengan kerajinan perhiasan kaca yang bapak buat.. tapi saya mencoba menghubungi via no hp tsb, off line ya. jika tdk keberatan apakah ada no lain atau alamat yang dapat saya hubungi pak..? sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

        Salam hormat,
        Lucy

  2. Saya tertarik dengan usaha seperti ini karena saya pikir prosesnya mudah dan tak memerlukan modal yang besar.
    Karena secara jujur kendala yang saya hadapi saat ini adalah ketiadaan modal.
    Saya mohon informasi bagaimana membuat atau mendapatkan alat untuk meleburkan kaca tersebut melalui email yang saya cantumkan.
    Sudilah kiranya comment saya ini dapat direspon.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s