Bisnis Israel: Membidik Asia Tenggara dengan Teknologi Pertanian

Tiga tahun lalu, tepatnya 25-26 Juni 2006, M.S. Hidayat, ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) didampingi John A. Prasetio, wakil ketua umum Kadin bidang Hubungan Kerjasama Ekonomi Internasional, Fachry Thaib, ketua Kadin Komite Timur Tengah – OKI (K2T2 OKI), Chris Kanter, Shinta Wijaya, Sandiaga Uno, Maxi Gunawan, Luhut Pandjaitan dan dua orang wakil dari Nadhlatul Ulama Suhairi dan Masdar Subagy bertandang ke Israel. Kunjungan itu merupakan undangan dari Manufacturers Association of Israel (MAI) dan Israel Export and International Cooperation Institute (ICI) dan murni untuk kepentingan bisnis.

“Dalam kunjungan itu, kita diajak melihat pertanian, bagaimana tanah yang tandus bisa subur dengan memanfaatkan teknologi dan akhirnya bisa menanam tomat, apel, anggur dan macam-macam disana. Mereka bikin aliran airnya bagus, subur,” tutur Fachry Thaib. Fachry sangat mengakui bahwa teknologi pertanian dan telekomunikasi di sana sangat maju. Tujuan Kadin pun mengambil keuntungan dari adanya teknologi yang berkembang di Israel untuk diserap di Indonesia. keberhasilan penerapan teknologi pertanian Israel memikat hati MS Hidayat agar teknologi itu diterapkan di kawasan timur Indonesia dengan struktur tanah yang cenderung tandus dan kering. “Kalau bisa ditiru kenapa engga? Dan mereka sebenarnya juga mau bantu,” Fachry menambahkan. Hubungan bisnis antara Israel dan Indonesia sejatinya harmonis. Pihak Israel pun sempat mempertanyakan permusuhan antara Indonesia dan Israel. Di sela pertemuan, meluncur pertanyaan “Apa kesalahan kami padamu sampai kami dimusuhi?” dari pihak Israel. Sontak, pertanyaan itu mengejutkan seluruh rombongan dan tak satupun yang bisa menjawab pertanyaan yang cukup menyulitkan dan sensitif itu.

Sayangnya, ketika rombongan Kadin tersebut kembali ke tanah air, karena derasnya pemberitaan negatif tentang kunjungan ini akhirnya membuyarkan beberapa agenda bisnis. “Berita yang beredar sangat negatif, akhirnya rencana kerjasama bisnis kita mundur karena takut,” tambah Fachry kala bercerita tentang kunjungan Kadin itu. Akhirnya hubungan bisnis antara Indonesia dan Israel berjalan melalui pihak ketiga atau perantara dari negara lain. Israel menggandeng perusahaan besar di Amerika, Jerman, Singapura maupun di negara-negara lain.

Menurut Sofjan Wanandi, ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut tak adanya direct investment ini sebenarnya faktor psikis dan politik yang lebih kental mewarnai kedua negara ini. Itulah mengapa, nyaris tak ada catatan direct investment Israel di Indonesia. Data dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menunjukkan tidak ada investasi dari Israel. Berbeda halnya dengan beberapa negara di Asia Tenggara yang memiliki hubungan diplomatik antara Israel. Seperti Kamar Dagang Singapura-Israel di Singapura, dan beberapa investor yang berinvestasi di Singapura, serta Thailand, Vietnam dan Kamboja yang mengadopsi peralatan hi-tech dan teknologi agrikultur Israel.

Pertanian dan Hi-Tech

Israel yang memang mengalami keterbatasan sumber daya alam, justru membuat riset dan development (R&D) di bidang pertaniannya berkembang dengan sangat pesat. Berkat teknologi produksi pangannya, ekspor Israel mencapai US$42,86 miliar yang mencakup ekspor buah, sayur, pharmaceutical, software, kimia, teknologi militer dan berlian. Selain itu, Israel memang dikenal sebagai leader di bidang konservasi air dan energi geothermal dan berbagai teknologi cutting-edge dalam bentuk software seperti komunikasi dan ilmu pengetahuan yang berhasil menyanding antara Intel, Silicon Valley dengan Microsoft yang membangun pusat R&D-nya di Israel pertama kalinya. Lalu ada pula korporasi multinasional hi-tech seperti IBM, Cisco Systems, dan Motorola yang membuka fasilitas di Israel. Kelebihan Israel dibidang teknologi dan pertanian inilah yang membuat banyak negara lain tertarik untuk mengadopsi teknologinya.

Terhitung, Israel telah menancapkan jejaknya di empat negara di Asia Tenggara diantaranya Singapura, Thailand, Vietnam dan Kamboja. Hubungan diplomatik Israel-Singapura telah terbentuk sejak tahun 1968, setahun setelah Israel menjalani perang enam hari dengan Mesir. Pada tahun itu, Singapura membeli 72 tank AMX-13 buatan Israel dan 170 kendaraan militer V200. Hubungan ini kian dikukuhkan saat Israel meresmikan perwakilannya di Asia Tenggara dengan pembukaan kedutaan besar Israel di Singapura. Dengan demikian, banyak perusahaan milik Israel mendirikan kantor perwakilannya di Singapura. Kedua negara ini menjalankan hubungan yang luas dibidang keamanan dan militer. Hingga di tahun 1990, hubungan diplomatik ini meluas di bidang bisnis dengan didirikannya Kamar Dagang Singapura-Israel. Di Singapura kerjasama perdagangan ini sifatnya government to government (G to G). Dengan adanya perjanjian bilateral ini maka memungkinkan Israel untuk melakukan investasi secara langsung (direct investment) ke Singapura. Kelebihan Israel di bidang hi-technology diserap dan diterapkan oleh Singapura.

Salah satu kerjasama Israel dengan Singapura adalah melalui Vertex Venture Holdings Ltd (Vertex Group) yang berpartner dengan Singapore Technologies, sebuah perusahaan yang memfokuskan diri dalam investasi pada teknologi informasi juga memberi bantuan berupa sistem manajemen, penetrasi ke pasar global, membuat jaringan dengan perusahaan-perusahaan lain yang strategis di dunia, membantu kebutuhan pendanaan. Vertex Grup ini adalah pemilik dari Temasek Holding Pte. Ltd dan memiliki kantor pusat di Singapura dan cabang di Silicon Valley (USA), Tel-Aviv dan Beijing.

Selain itu, Singapura melalui Singapore Economic Development Board (EDB) dan Kantor Pusat Ilmuwan (Office of the Chief Scientist/OCS) di Israel bekerjasama membentuk The Singapore-Israel industrial R & D Foundation (SIIRD) untuk mempromosikan, fasilitasi dan mensupport proyek kerjasama research & development (R&D) industri, antara perusahaan dan organisasi dari Israel dan Singapura yang berujung pada komersialisasi. Salah satu focus utamanya adalah proses bisnis di bidang agrikultur. Kerjasama ini tak lain untuk membangun desain yang komprehensif dengan biaya yang efektif untuk solusi rantai manajemen yang bisa memperpanjang dan menjamin kesegaran produk-produk agrikultur. Proyek ini melibatkan CartaSense dari Israel, sebuah pabrikan dan developer solusi monitoring pertanian secara real time dan nirkabel. Serta iWOW Communications (Singapura), sebuah provider global di bidang teknologi nirkabel untuk komunikasi mobile dan machine to machine (M2M). Kerjasama ini berhasil menciptakan solusi yang berbasiskan kemajuan dan jaringan teknologi. Solusi ini menjanjikan cakupan komunikasi, memonitor perubahan temperatur dan kelembaban, dan implementasi perbaikan secara instan dan sistematis. Tak hanya pertanian, tapi juga pemanfaatan energi secara efisien. Contohnya adalah penggunaan listrik melalui sistem metering yang cerdas yang menjembatani celah antara standar tua dan baru. Singapore’s Mustard Technology adalah salah satu perusahaan yang memiliki spesialisasi dalam teknologi dan Israel menjadi technology developer melalui Speech Modules yang membangun sebuah platform inovatif untuk mengindeks dan mencari melalui konten audio. Platform ini memiliki target market customer care dan call center sebaik industri mass media.

Membidik Negara Berkembang di Asia Tenggara

Naluri bisnis Israel yang tak pernah puas, setelah berhasil menancapkan jejak bisnis di Singapura, Israel juga merambah di negara dunia ketiga yaitu Thailand. Negara Thailand juga memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sejak 23 Juni 1954. Di tahun 1958, Israel membuka kedutaan besar di Thailand sementara Thailand baru membuka kedutaan besar di Israel pada tahun 1996. Adanya hubungan diplomatik ini memperkuat kerjasama bilateral di berbagai bidang khususnya agrikultur. Israel juga berinvestasi dengan membangun hotel berbintang di Thailand. Beberapa investor yang dikomandoi oleh TGI Realestate Investment yang dimiliki Yossi Tuviyahu akan membangun 230 kamar hotel di pulau Koh Samui, Thailand. Group investor yang berasal dari pengusaha Israel siap menggelontorkan dana sekitar US$31 juta untuk proyek ini. Nantinya akan dibangun hotel berbintang empat di atas lahan 1,73 acres dengan 79 suites termasuk di dalamnya 10 villa yang dilengkapi dengan kolam renang pribadi. Proyeksi dari TGI menyebut bahwa dari hotel ini akan meraih 65% tingkat okupansi dengan yield 13% untuk investor.

Vietnam pun tak lolos dari sasaran bisnis Israel. Lagi-lagi alih teknologi di bidang agrikultur menjadi kunci Israel untuk meraih pasar di Vietnam. Israel dan Vietnam yang menandatangani Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan, sebuah perjanjian bisnis yang legal untuk pembangunan perdagangan di bulan Agustus 2004 ini. Tak hanya agrikultur, bidang turisme, ekploitasi dan produksi minyak dan gas, telekomunikasi, farmasi dan aquakultur. Dua korporasi Israel yang menancapkan kantor perwakilan di Hanoi ini antara lain, AgroNet dan Astraco. AgroNet adalah portal pertanian yang komprehensif dan professional yang menyajikan sumber informasi berkualitas mengenai pertumbuhan sayuran dan buah-buahan, bunga, riset and development manager, pemasaran, eksportir, grosir pertanian, konsultan, perencana irigasi, perngatur air, pembeli, murid, mahasiswa dan siapapun yang tertarik di bidang pertanian. Portal ini memfokuskan diri pada manajemen di area pertanian seperti bibit, pupuk, irigasi, semaian, pengendalian hama, pertanian organik, disinfeksi tanah, mekanisasi, penyimpanan, transportasi, ekspor, greenhouse, dan lainnya. Sementara Astraco Metro Ltd. yang berkantor di Ho Chi Minh City merupakan sebuah korporasi asal Israel yang bergerak di beberapa bidang diantaranya kimia pertanian, peralatan irigasi, peralatan kesehatan, minyak esensial, fumigant dan bahan kimia, keramik, industri makanan dan komoditas, telekomunikasi serta peralatan elektrik. Berdasarkan data dari website perusahaan, Astraco Grup ini dimiliki oleh Koortrade International Ltd. salah satu cabang dari pionir perusahaan investasi public di Israel. Koortrade International Ltd. telah berdiri sejak tahun 1960 sebagai pemilik tunggal dari Koor Industries Ltd. salah satu grup perusahaan terbesar di Israel. Surat berharga Koor Industries diperdagangkan di New York dan Tel-Aviv Stock Exchanges dengan core bisnis yang luas termasuk diantaranya telekomunikasi, agrochemicals, dan sebagainya.

Selain itu, tercatat ada empat investor Israel di Vietnam yaitu I.G. International Trading Ltd. yang bergerak dibidang trading, Lahat Ltd. sebuah perusahaan trading peralatan irigasi dan sistem penetesan air, green house, pengontrol kecepatan air dan irigasi, sistem inspeksi X-Ray portable dan kabel, Family Medical Practice yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan serta peralatan laboratorium, produk farmasi dan medis, serta Oktava Ltd. yang memproduksi garmen untuk pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa, mengimpor pupuk dan bahan kimia, serta proyek pembangunan dan investasi. Israel yang menempati posisi 60 diantara 85 investor asing di Vietnam seakan mengukuhkan bahwa perjanjian dagang kedua negara ini berjalan harmonis. Sepatu, pakaian dan produk peternakan menjadi pasar utama ekspor Vietnam ke Israel. Sebaliknya peralatan hi-tech, kimia dan pupuk adalah produk impor dari Israel. Pemerintah Vietnam dan Israel pun memiliki perjanjian penghindaran pajak berganda di Hanoi pada bulan Agustus 2009 silam untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan transparan untuk peningkatan transaksi.

Ternyata, Israel juga memiliki rekam jejak bisnis di Kamboja. Terbukti di tahun 2008, Israel menempati posisi ke empat investor asing terbesar di Kamboja dalam hal nilai proyek. Ekspor Israel ke Kamboja di tahun 2009 pun meningkat hampir 97% menjadi US$1,25 juta dari sebelumnya US$631 ribu. Seperti dikutip dari situs www.farmgrabland.org menyebutkan bahwa jejak proyek Israel adalah pembangunan hotel bintang lima di Sihanoukville oleh Queenco Tourism International. Sementara di sisi impor, menurut data Kementerian Perdagangan Kamboja menyebut bahwa US$353,107 dihasilkan oleh barang dari Israel dan eksport mencapai US$138,531 di tahun 2007. Kini, Israel dan Kamboja sedang menjajaki kerjasama bisnis di bidang telekomunikasi dan pertanian yang memang menjadi keahlian Israel. Hal ini lumrah, mengingat bisnis bergerak menuju return/laba yang tertinggi. Tinggal bagaimana kejelian melihat sebuah peluang dan mengelola bisnis tersebut.

3 responses to “Bisnis Israel: Membidik Asia Tenggara dengan Teknologi Pertanian

  1. we hope soon open embassy/Kedutaan israel in Indonesia, we would be frendship israel in ekonomi global thank

  2. kami mengharapkan terjadi hubungan bilateral antara Indonesia dan Israel dalam bidang pertanian,Teknologi dan ll mengingat israei negara maju dalam iptek dan teknologi pertanian semoga bisa berkembang dan terjalin dalam hubungan kominikasi yang baik dalam percaturan ekonomi global.

  3. Di awal artikel ada pertanyaan simple tapi susah di jawab.”apa kesalahan kami(israel) padamu(indonesia) mengapa kami di musuhi?”
    aku gak bisa jawab,ada yg bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s