Meraup Berkah dari Sampah

M. Baedowy

Pemilik CV Majestic Buana Group

Pekerjaan sebagai auditor di sebuah bank asing dia tinggalkan untuk menjadi entrepreneur di bidang pengolahan sampah. Ia memproduksi mesin pencacah sampah plastik dan mengolah sampah plastik menjadi biji plastik serta lakop sapu.

Persoalan sampah memang menjadi masalah krusial saat ini. Seiring jumlah penduduk Indonesia yang kian membengkak, sampah pun kian menggunung dan tidak terkelola dengan baik. Bahkan, empat tahun silam terjadi tragedi longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang menelan korban hingga puluhan orang tewas akibat tertimbun sampah. Nah, daur ulang sampah bisa menjadi solusi yang tepat bagi pengelolaan sampah anorganik. Bahkan, produk daur ulang (recycle) sampah ini telah menjadi bagian dari gaya hidup di beberapa negara maju.

Di Indonesia, pengusaha seperti M. Baedowy pun memiliki bisnis di bidang daur ulang sampah anorganik. Selain memproduksi mesin pencacah sampah plastik, Baedowy juga memproduksi lakop sapu yang dibuatnya dari botol minuman mineral. Berkat sampah, ia berhasil meraih sejumlah prestasi, di antaranya menjadi jawara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009.

Pekerjaan sebagai auditor di sebuah bank asing dia tinggalkan untuk menjadi entrepreneur di bidang pengolahan sampah. Ia memproduksi mesin pencacah sampah plastik dan mengolah sampah plastik menjadi biji plastik serta lakop sapu.

Persoalan sampah memang menjadi masalah krusial saat ini. Seiring jumlah penduduk Indonesia yang kian membengkak, sampah pun kian menggunung dan tidak terkelola dengan baik. Bahkan, empat tahun silam terjadi tragedi longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang menelan korban hingga puluhan orang tewas akibat tertimbun sampah. Nah, daur ulang sampah bisa menjadi solusi yang tepat bagi pengelolaan sampah anorganik. Bahkan, produk daur ulang (recycle) sampah ini telah menjadi bagian dari gaya hidup di beberapa negara maju.

Di Indonesia, pengusaha seperti M. Baedowy pun memiliki bisnis di bidang daur ulang sampah anorganik. Selain memproduksi mesin pencacah sampah plastik, Baedowy juga memproduksi lakop sapu yang dibuatnya dari botol minuman mineral. Berkat sampah, ia berhasil meraih sejumlah prestasi, di antaranya menjadi jawara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009.

Berkah Mesin Rusak

Akhir April silam, Warta Ekonomi menyambangi bengkel kerja Baedowy di bilangan Bekasi Timur, Jawa Barat. Setiba di sana, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Ibu Kota, bengkel kerjanya terlihat cukup luas dan para pekerjanya tampak sedang sibuk melakukan kegiatan produksi. Sebagian pekerja merakit mesin cacah sampah. Sementara itu, pekerja yang lain melakukan serangkaian proses pencacahan sampah, yakni mulai dari mencuci botol plastik, memasukkannya ke dalam mesin, hingga menjemur hasil cacahan. Di pojok ruangan, tampak ibu-ibu sedang sibuk menyortir plastik cacahan.

Kisah Baedowy menjadi entrepreneur ternyata melalui beberapa tahap. Semula, suami Ririn Sari Yuniar ini adalah auditor Royal Bank of Scotland (RBS) yang berkantor di gedung World Trade Center, Jakarta. Namun, akibat situasi kerja yang terancam terpuruk akibat krisis moneter yang melanda Asia sepuluh tahun silam, Baedowy memutuskan untuk mengundurkan diri, pada 1999. “Saya ingin tetap berpenghasilan, bukan sekadar berpenghasilan tetap,” dalih pria berkacamata ini. Untuk menyambung hidup, ayah tiga anak ini sempat bekerja di sebuah perusahaan batik di Pekalongan, sebagai manajer keuangan. Selain mengurus dan menata keuangan pabrik, ia juga bertugas mengatur kegiatan pameran produksi batiknya.

Ternyata, justru di Pekalongan Baedowy mencapai keputusan bulat untuk menjadi entrepreneur, yakni saat ia bertemu dengan seorang pimpinan bank pemerintah. Singkat cerita, keduanya sepakat mendirikan bisnis di bidang  sampah. Mengapa sampah? Menurut pria 36 tahun ini, sampah adalah produk tak bernyawa, tak berumur alias tak mudah basi, serta sulit. “Sulit di sini artinya tak banyak orang yang bersedia menggeluti bisnis ini,” kata dia. Sayangnya, usaha kongsian ini hanya bertahan delapan bulan saja. Mereka pecah kongsi karena perbedaan gaya kepemimpinan.

Oleh karena sudah kepalang basah di bisnis sampah, Baedowy memutuskan untuk merintis usaha sejenis. Ia merintis bisnis dengan modal Rp50 juta, hasil tabungan ketika masih bekerja. Uang itu digunakan untuk menyewa sepetak sawah di kawasan Mustika Jaya, Bekasi, yang waktu itu bak tempat jin buang anak, membangun bengkel kerja, membeli mesin penggiling sampah, serta sebuah mobil pikap keluaran 1992.

Namun, ternyata tak mudah untuk merintis bisnis baru. Tiap bakda Isya, dengan mengendarai pikap bututnya, pria asli Balikpapan ini berkeliling ke lapak-lapak pemulung untuk mendapatkan sampah plastik. Radius pencariannya menembus hingga Cikampek, Rawamangun, dan Pulogadung. Keesokan harinya sampah tersebut digiling oleh karyawan borongan yang berasal dari lingkungan di sekitar tempat usahanya.

Selama enam bulan Baedowy menjalankan rutinitas tersebut. Kendala demi kendala yang menghadang, di samping ketatnya kompetisi antar-pengusaha limbah serta minimnya pengalaman mengenai bisnis sampah, nyaris membawanya pada kebangkrutan. Itu masih ditambah lagi dengan persoalan mesin pencacah (crusher) plastik kepunyaannya yang kerap kali ngadat, yang  berujung pada terhambatnya proses produksi. “Sambil jalan, saya belajar betulin mesin itu. Saya bongkar, kemudian pasang lagi. Pokoknya sampai hafal betul isi perut mesin itu,” kata dia. Pehobi travelling ini pun sempat berpikir untuk menjual usahanya. Namun, hingga setahun berjalan, pabrik pengolahan sampah milik Baedowy tak kunjung mendapatkan pembeli. “Saat bisnis suram, saya sempat berpikir untuk menjadi PNS saja,” kenangnya.

Akan tetapi, dalam kondisi terjepit itulah naluri bisnis Baedowy kembali muncul. “Sambil menunggu pabrik laku, saya mulai mengotak-atik mesin pencacah,” ungkapnya. Penyandang gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Merdeka, Malang, ini pun memodifikasi mesin pencacah plastik miliknya. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan oleh sampah yang sedang diproses, dinding tabung ia buat miring sekitar 30 derajat. “Ini agar sampah yang masuk tidak ada yang bersembunyi di dalam tabung,” terang dia. Lalu, di ujung mesin yang berada di bagian bawah, Baedowy memasang pintu berengsel. Alhasil, ia melihat adanya peluang bisnis baru di luar pengolahan sampah, yakni memproduksi mesin pencacah. Di kemudian hari, Baedowy pun memproduksi mesin penghasil pelet plastik dan mesin pengolah sampah lainnya. Bahkan, putra pasangan Supomo dan Zubaidah ini pernah membangun mesin pesanan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pria kelahiran Balikpapan, 2 Mei 1973 ini pun menerapkan sistem kemitraan untuk penjualan mesin giling sampahnya. Baedowy melatih dan membina relasi bisnis yang membeli produk mesin gilingnya. Bahkan, ia menampung hasil cacahan  plastik mitra kerjanya. Hingga saat ini Baedowy telah memiliki 60 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mesin cacah sampah plastiknya, Baedowy mematok harga Rp29–45 juta per unit, sudah termasuk pelatihan di lokasi mitra.

Tidak hanya memproduksi mesin giling sampah saja, pria yang dibesarkan di Balikpapan ini juga mengolah biji plastik dari sampah plastik seperti botol minuman dan oli menjadi lakop sapu. Lakop sapu buatannya itu dijual kepada produsen sapu ijuk seharga Rp500 per buah. Produk tersebut memiliki ciri khas yaitu adanya huruf “MB” di bagian atas lakop. “Trademark kami adalah tanda ‘MB’ itu,” ujarnya. Sayangnya, meskipun Baedowy memproduksi mesin cacah sampah plastik, dia tidak mendaftarkan paten pada produknya. “Kalau saya patenkan, malah akan banyak yang meniru karena detail produk justru terekspose,” dalihnya. Alhasil, penggemar musik Beatles ini pun membiarkan kalau ada pihak yang menjiplak produknya.

Baedowy pun menampung limbah botol minuman mineral berjenis PET (polyethylene terethylene) dan kemudian mencacahnya menjadi biji plastik. Nantinya biji plastik tersebut digunakan sebagai bahan baku bermacam produk seperti benang poliester, keset, bola plastik, dan lain-lain. Ia juga menjual biji plastik ke pabrik-pabrik pengolahan plastik sebagai bahan bakunya. Sayangnya, Baedowy terkena imbas krisis global dan terpaksa menghentikan ekspor biji plastiknya ke Cina tahun ini. “Terpaksa kami berhenti mengekspor biji plastik ke Cina tahun ini karena kondisi klien kami yang kurang baik akibat krisis global,” jelasnya.

Terobsesi Pensiun Dini

Naluri  bisnis Baedowy memang telah terbentuk sejak ia masih di bangku kuliah. Sewaktu di semester ketiga, Baedowy menggunakan uang yang seharusnya untuk mudik ke Balikpapan justru untuk berdagang baju bersama pacar yang kini menjadi istrinya. Selanjutnya, bermodalkan nekat dan berguru pada sejumlah pedagang, Baedowy memutuskan untuk berjualan pisang molen. “Momoh Molen”, demikian Baedowy memberikan nama pada bisnis barunya. Nama tersebut diilhami oleh nama kecilnya. Saat itu Baedowy sempat memiliki tiga gerobak. Dari situlah mental entrepreneur-nya kian kuat terbentuk. “Pengalaman itu membangun jiwa saya untuk tidak gengsi,” ungkapnya. Misalnya, ketika Baedowy harus menanggalkan kebiasaan berjas dan berdasi ketika bekerja di kawasan Sudirman, lalu berbalik 180 derajat ke bisnis sampah.

Di awal bisnis sampah ini, Baedowy sempat ditentang oleh kedua orang tuanya, yang menginginkan sang putra menjadi pegawai BUMN seperti mereka. Namun, Baedowy kukuh dengan keinginannya menjadi pengusaha. Dan kini, Baedowy boleh tersenyum lega. Bisnis yang awalnya ditentang oleh kedua orang tuanya itu telah membuahkan hasil. Selain berhasil meraih juara I Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2006, Baedowy baru saja menyabet juara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009. Saat ini, Baedowy mampu membukukan omzet sebesar Rp100–200 juta per bulan, serta mempekerjakan 40 karyawan, tujuh di antaranya staf tetap dan sisanya karyawan borongan.

Meskipun bisa dibilang telah menuai kesuksesan, Baedowy masih memiliki obsesi terpendam. “Saya ingin pensiun dini di usia 40 tahun,” ujarnya. Itu artinya tinggal empat tahun lagi Baedowy menjalankan bisnis ini. Lantas, akan dikemanakan bisnis sampahnya ini? Menurut pria yang bercita-cita menjadi seorang arsitek ini, perusahaannya kelak akan dibagikan kepada karyawan serta adiknya yang telah membantu dalam membesarkan bisnisnya. Hanya saja bentuknya berupa penyertaan modal tanpa setor uang, sehingga 51% saham masih menjadi milik Baedowy sedangkan sisanya dibagi secara proporsional untuk karyawan dan sang adik. ###

MARTHAPURI DWI UTARI

CV Majestic Buana Group

Jl. Cimuning No. 35 Kota Legenda

Mustika Jaya, Bekasi 17310

Telp  : 021 7020 1859

Fax   : 021 8265 0584

Email : majesticbuana@yahoo.com

Testimonial:

Sandiaga Salahuddin Uno, ketua Komite Tetap Bidang UKM Kadin (Juri Kehormatan Dji Sam Soe Award 2009)

Baedowy itu kreatif banget! Ia mewakili generasi abad ke-21 yang diperlukan oleh bangsa Indonesia karena kemampuan mengolah sampah menjadi peluang. Ia adalah sosok entrepreneur yang mampu bertahan,  ulet, jujur, dan inovatif. ###

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s