Probio Chicken: Mematuk Rezeki dari Ayam Kualitas Organik

Produk organik diidentikkan dengan minimal bahan kimia. Dari sisi kesehatan, akan lebih baik daripada produk sayur ataupun ternak kebanyakan yang bukan organik. Prospek bisnis yang masih terbuka di bidang organik ini mendorong Christopher Emille Jayanata menciptakan Probio Chicken, ayam dengan pemeliharaan yang sehat dan higienis berkualitas organik.

You are what you eat. Idiom itu agaknya tepat untuk dipertanyakan kembali kepada diri kita masing-masing: seberapa pedulikah Anda terhadap kesehatan Anda sendiri? Sebab, setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh akan memberikan efek yang berbeda. Apabila tubuh sering mengonsumsi makanan dengan kandungan bahan kimia yang cukup tinggi, tubuh pun akan cepat rusak. Demikian pula halnya apabila makanan yang masuk ke tubuh diolah dengan kandungan bahan kimia minimal, bahkan nyaris nol, maka tubuh bereaksi positif. Tidak hanya itu, tren autisme mulai berkembang beberapa waktu belakangan ini tak lain karena konsumsi produk makanan berbahan kimia kian tinggi. Penderita autis memang jauh lebih sensitif terhadap bahan kimia.

Itulah alasannya mengapa tren produk organik sangat booming di negara-negara maju. Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan sudah sangat tinggi. Bahkan, setiap tahun digelar acara seperti BioFach sebagai sarana promosi dan pameran produk-produk organik yang diadakan di Eropa, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia sendiri memang belum terjadi booming produk organik seperti di negara-negara maju. Harga yang relatif lebih mahal dan kurangnya sosialisasi membuat produk ini masih menjadi produk nomor dua. Namun, Christopher Emille Jayanata mencoba mengambil kesempatan lebih awal. Ia pun mengambil potensi bisnis produk organik dengan menciptakan Probio Chicken atau ayam yang pemeliharaannya dilakukan secara higienis dengan kualitas organik. Emille, begitu ia biasa disapa, menyebut produknya ramah dikonsumsi oleh siapa saja, termasuk penderita autis.

Apa pun Makanannya, Minumnya Probiotik

Matahari bersinar cerah saat Warta Ekonomi menyambangi sebuah peternakan ayam di kawasan Sentul yang sejuk. Di dalam peternakan ayam itu berdiri lima kandang berdinding bambu berukuran 25 x 15 meter dengan dua tingkat dan beralaskan jerami. Masing-masing tingkat dihuni oleh 4.000 ekor ayam. Dengan demikian, ada 40.000 ekor ayam yang menempati peternakan tersebut.

Sekilas tidak ada perbedaan dengan peternakan lainnya. Hanya saja, peternakan ini nyaris tanpa bau khas peternakan pada umumnya! Kesan inilah yang ditangkap Warta Ekonomi saat tiba di peternakan binaan Emille. Mengapa bisa demikian? Emille menjawab semua itu berkat probiotik. Cerita seputar penggunaan probiotik untuk ayam pun mengalir dari bibir pria yang tergabung dalam sebuah milis komunitas entrepreneur muda ini.

Pertemuan Emille dengan I Putu Kompyang, peneliti tentang probiotik dari Balai Penelitian Ternak Ciawi pada tahun 2000 menjadi cikal bakal lahirnya inovasi Probio Chicken ini, yaitu probiotik yang terdiri dari mikroba-mikroba yang memiliki fungsi sebagai pupuk cair, pengganti fungisida dan pestisida. Pada 2001 Emille mulai mengomersialkan probiotik ini dengan nama “Tumbuh” yang bisa diaplikasikan untuk tanaman, hewan, udang, maupun susu. Namun, persaingan yang ketat dengan industri agrokimia raksasa di Indonesia membuat Emille memeras otak untuk mempertahankan bisnisnya. Akhirnya, Emille pun memilih untuk menjual produk akhir daripada bahan bakunya. Pria kelahiran Bogor, 17 Oktober 1972 ini pun banting setir dengan menjual ayam probiotik yang diberi label Probio Chicken.

Lalu, apa bedanya Probio Chicken dengan ayam broiler yang telah ada di pasaran? Emille menyebut Probio Chicken adalah ayam yang pemeliharaannya higienis dengan kualitas organik. Sarjana lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini menambahkan ia juga memproduksi Probioherba, yaitu campuran antara probiotik dan herbal temuannya pada air minum ayam. Probiotik terdiri dari sepuluh jenis mikroba yang baik untuk pencernaan ayam. Selain menambahkan probiotik, Emille juga memberikan herbal yang terdiri dari 10 jenis tanaman tradisional Indonesia. “Dengan Probioherba ini, pencernaan ayam menjadi lebih sehat karena bakteri probiotik melakukan fermentasi dalam perut,” imbuh Emille. Penggunaan probiotik yang dicampurkan dalam air minum ini membuat ayam menjadi lebih sehat, ditambah kandungan lemak dan kolesterol yang rendah.

Tidak hanya itu, masalah kandang pun menjadi perhatian utama Emille. Hal ini terlihat saat meninjau peternakan binaannya. Kandang berukuran 25 x 15 meter dan beralaskan jerami itu hanya diisi 4.000 ekor ayam saja. Alhasil, ayam menjadi lebih leluasa bergerak. Jika selama ini penggunaan desinfektan dianggap tidak ramah lingkungan, itu karena di dalamnya mengandung amoniak yang memang tidak baik untuk tubuh manusia. Emille menghindari hal itu dan menggantikannya dengan ProLimba-probiotik khusus semprot. Setiap hari jerami yang ada di kandang disemprot dengan probiotik (ProLimba) agar kotoran ayam dapat terurai lagi oleh mikroba yang terkandung dalam ProLimba.

Sayangnya, Probio Chicken ini belum sepenuhnya organik karena pakannya masih menggunakan pakan dari pabrikan pakan ayam. Emille pun mengakui bahwa produknya belum 100% organik. “Bibit ayam tidak organik tak masalah, tetapi untuk 100% organik, maka pakan ayamnya harus alami tanpa imbuhan bahan kimia dan proses pemotongan ayamnya juga harus bebas dari bahan kimia,” jelas Emille. Ayam Probio Chicken tetap makan makanan ayam yang terdiri dari campuran jagung, tepung tulang, tepung darah, dan bungkil kedelai yang diolah menjadi pelet. “Makanannya bisa apa saja, hanya minumnya Probioherba,” ujar Emille. Menurut dia, apabila menggunakan organik sepenuhnya, harga per ekornya akan menjadi lebih tinggi. Untuk saat ini, harga per ekor Probio Chicken mencapai Rp32.000 dengan target pasarnya di beberapa pusat perbelanjaan seperti Ranch Market, Carrefour, dan Giant.

Ungkap Emille, ia memproduksi sendiri probiotik ini di sebuah laboratorium di Bogor. Saat ini Emille menggandeng 20 peternak ayam di Bogor, masing-masing dengan kapasitas 10.000‒20.000 ekor ayam. Kapasitas penjualan per bulan mencapai 10.000 ekor ayam dengan omzet per bulan mencapai Rp300‒400 juta.

Cinta Dunia Botani Sejak Kecil

Pertanian dan peternakan adalah dunia yang akrab digeluti Emille sedari kecil. Hal ini tak lain karena orang tua Emille adalah angkatan pertama Institut Pertanian Bogor (IPB). “Orang tua membiasakan kami dengan dunia pertanian, bahkan kami punya plant nursery keluarga,” ungkap Emille. Tidak hanya dibekali pengetahuan tentang pertanian dan peternakan saja, semangat entrepreneurship juga ditanamkan dalam diri Emille kecil. Di usia 15 tahun, Emille pun menjual kaktus peliharaannya dengan brand Emille’s Collections. Ketika itu Emille memelihara tanaman kaktus hingga sebanyak 1.200 pot.

Kecintaannya pada dunia desain sekaligus pertanian akhirnya mengantarkan Emille mengambil jurusan Arsitektur Lansekap di Universitas Parahyangan Bandung. Selepas kuliah, Emille mendirikan PT Essicipta Lestari, sebuah perusahaan arsitektur lansekap, pada 1994. Namun, perusahaannya mengalami guncangan saat krisis moneter 1998. Order pun melambat, tetapi Emille tak gentar karena portofolio Emille sebelumnya sudah banyak. “Order proyek sebelum krisis sudah banyak. Kebetulan saya saving juga untuk menjaga situasi yang tidak diinginkan,” ujarnya. Maka tak heran jika perusahaan Emille selamat dari krisis dan bertahan hingga sekarang.

Pada 2001 barulah Emille merambah bisnis baru di bidang agrobisnis. Ia membuat divisi baru di perusahaannya, yaitu Tumbuh, yang menjual probiotik untuk aplikasi pertanian. Pada 2004 Emille kian serius menekuni bidang agrobisnis dengan merintis berdirinya PT Pronic Indonesia yang memproduksi Probio Chicken dan beragam produk organik lainnya.

Selain memproduksi Probio Chicken, ungkap Emille, ia juga mengembangkan bisnis organik lainnya yang diperoleh berkat jejaringnya yang luas dengan pebisnis di bidang serupa, yaitu tanaman organik. Pehobi botani ini pun merangkul dr. Sonia Wibisono untuk berbisnis katering organik. Tidak puas, Emille lalu membangun Organic Mart, yaitu toko produk-produk organik dengan sistem online lengkap dengan konsultan dan terapis produk organik. Lagi-lagi karena kecintaannya kepada dunia botani, Emille mengepakkan sayap bisnisnya dengan membuka Badak Air Organic Park di Tapos, Ciawi, Jawa Barat.

Puaskah Emille dengan apa yang telah diraihnya? “Belum, saya berharap lebih banyak lagi orang Indonesia yang makan produk organik,” ujarnya. Caranya? Sosialisasi dan pameran memang menjadi sarana yang cukup ampuh agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan. Bahkan, kini Emille tengah melakukan lobi kepada beberapa pihak yang terkait untuk mengadakan pameran produk organik. “Saya punya mimpi bisa mengadakan pameran produk organik akbar seperti BioFach di Jerman,” katanya, mantap. Meskipun bukan perkara mudah, langkah Emille patut diapresiasi agar masyarakat Indonesia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan seperti di negara-negara maju.

Prospek Bisnis :

Prospek bisnis Probio Chicken atau ayam probiotik memang masih sangat terbuka lebar. Hanya saja, memang butuh waktu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi produk organik. Probio Chicken, di mata Gatot Sutoto, pendiri PT Global Red Crispy, secara kualitas gizi telah terbukti dengan uji laboratorium bahwa bebas antibiotik, dagingnya lebih segar, kenyal, serta rendah lemak dan kolesterol. “Dari sisi rasanya pun jauh lebih gurih daripada ayam broiler umumnya,” ungkap Gatot. Hanya saja, Gatot menyayangkan volume ayamnya yang lebih kecil daripada ayam broiler biasa. “Hal ini bisa memengaruhi permintaan konsumen,” ujarnya. Harapan Gatot, volume Probio Chicken bisa bertambah, meskipun harganya relatif lebih mahal.


Testimonial :

Gatot Sutoto, Pendiri PT Global Red Crispy

Dari sisi penampilan, Probio Chicken memang solid, warnanya segar, dan dagingnya kenyal. Kualitas gizinya pun telah terbukti dari hasil uji laboratorium bahwa tidak mengandung antibiotik. Sayangnya, dari sisi volume, produk ini relatif lebih kecil dan harganya lebih mahal 20%‒30% dibandingkan dengan ayam broiler biasa.

Profil Tokoh Inovator :

Nama : Christopher Emille Jayanata

Jabatan : Pendiri dan Direktur PT Pronic Indonesia

Penghargaan yang diperoleh:

1. Anugerah Produk Asli Indonesia dari Bisnis Indonesia pada 2008

Marthapuri Dwi Utari