Kewirausahaan Sosial: Dari Komunitas Untuk Komunitas

Isu wirausaha memang tak akan pernah ada habisnya. Mulai dari tips menjadi wirausahawan sukses hingga berbagai kendala yang melibat di dalam menjalankan wirausaha. Salah satu isu yang sedang menghangat adalah kewirausahaan sosial. Wirausaha sosial adalah  salah satu jenis kewirausahaan yang memiliki tujuan utama untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan lingkungan hidup dengan memberdayakan komunitas melalui kegiatan yang bernilai ekonomi.

Di Inggris, perkembangan kewirausahaan sosial sudah mencapai 60.000 organisasi yang melakukan kegiatan kewirausahaan dan membukukan kontribusi terhadap pereknomian Inggris mencapai 8,4 miliar poundsterling per tahunnya. Diantaranya adalah BELU yang merupakan organisasi wirausaha sosial yang bertujuan pada penyediaan air bersih dan Coin Street Builders yang berbasis komunitas dan berhasil mentransformasi 13 hektar pemukiman di daerah South Bank, London menjadi pemukiman yang ramah lingkungan.

Fadjar Anugerah, project manager British Council menyebut bahwa kewirausahaan sosial diawali dengan keprihatinan terhadap keadaan sosial yang berujung menjadi sebuah model bisnis baru. “Starting business-nya adalah karena keprihatinan sosial,” kata Fadjar. Contohnya adalah Rumah Zakat yang menciptakan Kornet SuperQurban Rumah Zakat sebagai akibat keprihatinan pembagian kornet yang seringkali tidak merata dan terbatas masanya. Selain itu, Saung Angklung Udjo dan Telapak adalah dua contoh pelaku kewirausahaan sosial di lndonesia.

Saung Angklung Udjo yang didirikan oleh Udjo Ngalagena banyak memberikan kontribusi kepada bisnis kerajinan angklung dan kesenian tradisional Sunda. Berkat pertunjukan regulernya, Saung ini mampu meraup omset kotor mencapai Rp10 miliar pada tahun 2009 silam. Semua itu bisa diraihnya berkat operasi lokakarya dan tur promosi yang dilakukannya ke berbagai negara.

Sementara itu, Telapak adalah koperasi komunitas yang didirikan oleh Silverius Oscar Unggul (Onte) di Sulawesi Tenggara. Telapak berhasil mendapatkan label SmartWood yang meningkatkan penghasilan anggota koperasi sampai empat kali lipat serta menyumbang pendapatan asli daerah dengan penerapan prinsip penebangan ramah lingkungan yaitu menanam 10 bibit untuk setiap pohon yang ditebang.

British Council ingin menghubungkan pengalaman perkembangan Kewirausahaan Sosial di Inggris dengan yang sudah berkembang di Indonesia. Dalam rangka menumbuhkan wirausahawan sosial berbasiskan pemberdayaan komunitas, British Council dan Arthur Guiness Fund (AGF) membuka kompetisi Community Entrepreneurs Challenge (CEC) yang boleh diikuti oleh para wirausahawan pemula maupun setengah mapan. Program ini akan membangun jaringan di 30 komunitas untuk mendukung sekitar 120 wirausahawan sosial. Selain pelatihan, jaringan ini akan menyusun parameter-parameter yang akan dipakai ke depan untuk program Dana Investasi Kewirausahaan Sosial (Social Investment Trust Fund) yang akan dikelola bersama dengan pemerintah daerah, BUMN maupun perusahaan swasta. “Kesuksesan wirausahawan sosial akan diukur dari social return on investment indicators-nya,” pungkas Fadjar.