Saat Si Raksasa CPO Berpaling Pada Si Manis

Rasanya intuisi dan insting yang tajam terhadap bisnis yang menjanjikan wajib dimiliki setiap pengusaha. Demikian pula dengan naluri yang dimiliki oleh konglomerat CPO pemilik Wilmar Group – Martua Sitorus yang justru membidik industri gula di tahun 2010 ini. Martua tak cukup puas dengan bisnis CPO-nya dan justru melirik untuk investasi baru di bidang yang sama yaitu agribisnis tapi berbeda komoditas. Bagaimanakah potensi serta prospek dari percobaan bisnis Wilmar ini?

Mencaplok Pabrik Gula Terbesar di Australia

Raja kelapa sawit (crude palm oil) – Wilmar Corp. kini siap menjadi juragan gula. Alasannya, “Kami percaya bahwa situasi ekonomi yang kuat dan kondisi demografis mendorong tumbuhnya permintaan akan gula di negara Asia. Dan kami mengidentifikasi Indonesia, karena mengalami deficit produksi gula serta masih ada ketersediaan lahan untuk produksi gula,” kata Au Kah Soon, corporate communications Wilmar International Ltd.

Keseriusan ini ditunjukkan dengan mengakuisisi Sucrogen Limited, pabrik gula mentah di New South Wales, Australia lewat Wilmar International Ltd. Sucrogen Limited ini tadinya bernama CSR Limited yang dimiliki oleh CSR Limited – sebuah perusahaan manufaktur ternama yang beroperasi di Asia dan New Zealand. Akuisisi senilai A$1,750 juta atau setara dengan US$1,472 juta (diluar bunga minoritas) atau sekitar Rp14 miliar ini dilakukan pada 1 April 2010 lalu. Dari kesepakatan ini terdiri dari US$1,133 juta sebagai ekuitas, dan US$339 juta sebagai hutang bersih.

Proses penyelesaian kesepakatan ini akan berakhir sekitar tanggal 30 September 2010 setelah disetujui oleh Badan Penanaman Modal Australia (Australia’s Foreign Investment Review Board) dan Kantor Penanaman Investasi Luar Negeri New Zealand (New Zealand’s Overseas Investment Office). Sementaranya, dana akuisisi ini berasal dari kas internal dan pinjaman bank seperti diungkapkan oleh Kah Soon.

Seberapa strategiskah Sucrogen Limited ini hingga korporasi milik tycoon Martua Sitorus dan Tan Sri Robert Kuok kepincut pada Sucrogen? “Kami membeli Sucrogen karena kami percaya ini investasi yang sangat menguntungkan dan mereka memiliki tim manajemen yang bagus sehingga membantu kami dalam membangun perkebunan di Indonesia,” ujar Kah Soon.

Wajar saja mengingat Sucrogen ini mengoperasikan tak hanya gula tapi juga bergerak dibidang energi terbarukan dengan rantai nilai mulai dari perkebunan, bahan pemanis (sweeteners) tapi juga bioethanol. Industri gula yang berbasis di Sydney Utara, New South Wales Australia ini punya segudang potensi. Pertama, pabrik ini merupakan produsen raw sugar terbesar di Australia sekaligus eksportir raw sugar terbesar kedua di dunia setelah Queensland Sugar Limited (QSL).

Selain itu, Sucrogen memiliki tujuh penggilingan di Queensland dengan kapasitas produksinya mencapai 2,1 juta metrik ton per tahun. Pabrik ini masih ditunjang dengan generator dengan bahan bakar energi terbarukan (renewable energy) terbesar yaitu biomassa yang memanfaatkan sisa hasil buangan produksi perkebunan gulanya dengan kapasitas mencapai 171 megawatt. Menurut sumber penulis, korporasi dalam hal ini Wilmar diuntungkan karena Sucrogen sudah sangat mapan.

Bagaimana dengan pemasarannya? Apakah untuk kebutuhan domestik di Indonesia yang artinya cost distribution-nya akan sangat mahal ataukah untuk ekspor? Lagi-lagi si sumber menyatakan bahwa Sucrogen sudah punya pasar sendiri. “Kita tinggal nerusin aja,” kata sumber itu. Selain memenuhi kebutuhan gula di Australia dan New Zealand, Sucrogen juga mengekspor gula putih dan raw sugar ke Singapura, Indonesia, Hong Kong, Fiji, Papua Nugini, Guam/Saipan dan Kiribati/Tuvalu.

Demikian pula untuk produk berbasiskan gula yang digunakan untuk industri makanan di Asia Pasifik dan Jepang menjadi sasaran Sucrogen. Bahkan mereka memiliki kapal “MW Pioneer’ dengan kapasitas 20 ribu ton dan mampu berhenti untuk membongkar 500 ton per jamnya atau memasukan gula tiga ribu ton per hari. Rasanya, tak heran kalau Wilmar lantas berani jor-joran untuk investasi di bidang gula ini karena sasaran tembaknya memang memiliki potensi yang sangat menjanjikan.

Bangun Pabrik Gula Terintegrasi di Papua

Di dalam negeri, Wilmar Group lewat PT Papua Resource Indonesia juga berniat membangun industri gula terpadu. Perusahaan yang berasal dari Singapura ini turut meramaikan program Merauke Integrated Food and Energy Estate yang digelar oleh pemerintah dengan berfokus pada perkebunan tebu dan pabrik gula. Perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis ini berhasil mengantongi izin konsesi lahan 20 ribu hektar dari izin yang diajukan seluas 100 ribu hektar dengan kapasitas pabrik penggilingan gula delapan ribu TCD.

Untuk investasi megaproyek di Papua ini, Wilmar sudah siap menggelontorkan uang sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp18 triliun. saat ini, perusahaan sedang memperhitungkan mengenai akses infrastruktur yang masih sangat minim. Untuk itulah, perusahaan sedang mengkaji lewat feasibility study yang memakan waktu enam bulan. Dengan demikian, proyeksinya proyek ini benar-benar bisa berjalan di tahun depan. Kendala infrastruktur ini, kata MP Tumanggor, komisaris PT Wilmar Nabati Utama, perusahaan bersedia untuk membangun berbagai fasilitas infrastruktur  yang dibutuhkan perusahaan. “Asalkan pemerintah memberikan insentif,” kata Tumanggor dalam media harian nasional.

Namun, informasi lain justru didapat dari Mirza Adityaswara, chief economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Mirza mengungkapkan dari hasil Papua Investment Day yang digelar Oktober tahun lalu, ada beberapa perusahaan yang telah berinvestasi secara kongkrit di Papua. Salah satunya adalah Wilmar Group dibawah bendera PT Papua Resource Indonesia. Kabarnya, perusahaan sudah mendapatkan dukungan tax holiday, fasilitas bunga subsidi, pengurangan PPh untuk rencana pembangunan pabrik gula terintegrasi dengan lahan 20.000 hektar dan kapasitas pabrik 8.000 TCD.

Meramaikan Upaya Swasembada Gula

Masuknya Wilmar ke sektor gula ini rasanya bukan pilihan salah. Terlebih lagi pemerintah memiliki target swasembada gula di tahun 2014. Dan salah satu cara yang ditempuh adalah revitalisasi industri gula nasional terhadap pabrik-pabrik gula baik milik negara maupun swasta. Revitalisasi mesin menjadi agenda utama yang akan menelan anggaran Rp1 triliun. Kapasitas produksi gula konsumsi nasional di tahun 2009 baru mencapai 3,25 juta ton. sementara kapasitas produksi gula rafinasi mencapai 2,18 juta ton di tahun 2009. Padahal total konsumsi gula mencapai 4,85 juta ton per tahun.

Selama ini industri gula sulit berkembang karena banyak persoalan yang melingkupi industri ini. Mulai dari kemampuan mesin produksi yang sudah tua. Untuk itu dicanangkan program revitalisasi industri gula nasional yang memang sasarannya untuk merevitalisasi mesin pabrik gula. Selain terkendala kapasitas produksi, masalah distribusi juga menjadi hambatan utama industri manis ini.

Demikian juga yang menjadi persoalan utama Wilmar Group. Dengan pusat produksi di Papua, bisa dipastikan ongkos distribusi akan sangat mahal bila dipasarkan ke daerah luar Papua. Untuk itulah pihak Wilmar berharap pemerintah menunjukkan sikap dan kejelasan mengenai persoalan infrastruktur. “Kalau pabrik sudah dibangun, tapi tak jelas soal infrastruktur bisa ditebak harga gula yang dikirim ke Jawa akan semakin mahal,” kata M. P. Tumanggor. Walaupun belum ada kepastian kapasitas produksi dan persoalan distribusi dari pabrik gula yang dimilikinya, setidaknya Wilmar sudah ikut meramaikan usaha pemerintah untuk swasembada gula nasional. Semoga saja kiprah Wilmar ini seberuntung bisnisnya di CPO.