Bambang Rachmadi Siap Kalahkan McDonald’s

Perseteruan bisnis antara Bambang N. Rachmadi dan McDonald’s Corporation di perusahaan patungan PT Bina Nusa Rama memuncak dengan dicabutnya hak waralaba Bambang atas McDonald’s di Indonesia lewat PT Ramako Gerbangmas. Bambang pin kemudian memutuskan mencoba melawan bisnis jaringan restoran siap saji asal Amerika Serikat itu dengan membuka jaringan restoran siap saji serupa milik sendiri dengan brand ToniJack’s. “Saya siap kalahkan McDonald’s!” janjinya.

Ada yang tak biasa pada Rabu (30/9) malam di Sarinah Department Store – Thamrin Jakarta. Di salah satu sudut, tepat di bawah symbol khas McDonald’s nampak dua buah mobil ekskavator dengan dua orang operator sedang sibuk berusaha menutup symbol dengan kain hitam. Tak cukup itu, malam itu kesibukan juga terasa di restoran waralaba McDonald’s Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Puluhan orang dengan kostum hitam-hitam berkerumun di depan McDonald’s yang ternyata adalah karyawan McDonald’s.

Di tengah kerumunan itu, sesosok pria paruh baya bergaya kasual dengan atasan abu-abu, berjins dan mengenakan ikat kepala hitam. Dialah Bambang Nuryanto Rachmadi, si pemilik gerai McD Sarinah. Senyum terkembang di bibir Bambang yang saat itu datang bersama istrinya. Malam itu adalah terakhir kalinya gerai pertama McD beroperasi dan berganti brand menjadi ToniJack’s. Tepat pukul 00.00 seluruh menu McD yang terpampang di meja kasir secara serempak berganti menjadi menu a la restoran bersimbol bajak laut (pirates).

Pukul 00.15 seremonial pergantian brand pun dimulai. Nuansa nasionalisme sangat kental terasa. Upacara a la 17-an pun diikuti oleh segenap karyawan dan Bambang pun bertindak sebagai inspektur upacara didampingi oleh Suryo Bambang Sulisto, komisaris utama PT Bumi Resources Tbk. Prosesi penurunan bendera McD yang bertuliskan ‘Buka 24 Jam’ berlangsung khidmat dengan diiringi lagu Indonesia Raya. Bendera pun berganti dengan bendera warna hitam berlambang sendok garpu disilangkan. Usai seremoni penurunan bendera, Bambang berpidato. Diawali dengan kalimat ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah wafat McD Indonesia pada malam ini.’ Dengan berapi-api, Bambang membangkitkan semangat para karyawannya. “Kita bisa mengembangkan usaha lebih baik dari McD,” ucapnya optimis di penghujung pidato. Seremonial pun diakhiri dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri dan Maju Tak Gentar secara serempak. Bambang pun menyalami satu persatu karyawannya tanda upacara telah usai.

Siap Kalahkan McDonald’s

Pergantian brand ToniJack’s Indonesia ini adalah buntut dari pencabutan paksa lisensi McD yang seharusnya berakhir tahun 2011. Pada 11 Agustus silam, Bambang diberitahu bahwa lisensinya akan dicabut pada tanggal 15 September. Bambang pun mengajukan negoisasi dengan dalih memikirkan karyawan dan berhasil memperpanjang hingga tanggal 30 September. Pria yang kerap disapa dengan Tonny ini juga memohon kepada McD Indonesia untuk menyelesaikan hingga hak franchise-nya berakhir. “Mereka (McD Indonesia) terus saja mencari alasan untuk memberhentikan franchise ini, ya sudah!” jelas Bambang seusai acara.

ToniJack’s berdiri dibawah bendera PT Ramako Gerbangmas. Kali ini Bambang menggandeng Suryo Bambang Sulisto, komisaris utama PT Bumi Resources Tbk. menjadi partner bisnisnya. Kerjasama ini bukan tanpa alasan, Suryo melihat bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta orang merupakan pasar yang sangat menjanjikan. “Prospek sektor makanan itu luar biasa,” jelas Suryo. Selain itu, track record Bambang dalam mengelola McD dibawah PT Ramako Gerbangmas selama 19 tahun juga menjadi pertimbangan bagi Suryo yang didapuk menjadi komisaris utama ini. Suryo pun optimis dengan kerjasama ini berkaca pada kesuksesan Jollibee, sebuah restoran cepat saji asal Filipina. Tony Tan Caktiong mendirikan Jollibee di tahun 1978 karena tak berhasil mendapatkan lisensi waralaba dari Wendy’s atau McDonald’s. Tony pun memadukan citarasa lokal dalam makanan modern. Hasilnya? Kini Jollibee memiliki lebih dari 1.700 cabang di seluruh dunia (200 diantaranya berada diluar Filipina), mempekerjakan lebih dari 25.000 karyawan dan membukukan pendapatan lebih dari US$1 miliar per tahun.

Menyebut nama Bambang memang identik dengan inovasi menu di McD Indonesia. Bambang menjadi satu-satunya franchisee yang berhasil membawa paket nasi dan ayam goreng (PaNas) menjadi menu utama di Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1951 ini tahu pasti bahwa mayoritas penduduk Indonesia tidak bisa terlepas dari nasi sebagai makanan pokok. Bahkan penjualan Pengetahuan lokal ini yang menjadi nilai lebih Bambang di mata Suryo. “Dalam bisnis yang paling penting itu the man behind the business untuk bisa sukses. Figure yang paling paham dan ahli mengenai masalah fastfood di Indonesia adalah Bambang,” ujar Suryo optimis.

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Firmanzah, dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. “Sebagai entrepreneur dia (Bambang) punya insting untuk melakukan dan mengembangkan sesuatu yang baru,” kata Firman. Menurutnya dengan pengalaman Bambang di bisnis serupa, akan sangat membantu membesarkan brand barunya ini. Pengetahuannya tentang supplier, karakter konsumen Indonesia, potensi pasar dan cara promosi menjadi kelebihan Bambang. “Saya rasa tangan dinginnya bisa untuk itu,” imbuhnya. Ditambah lagi dengan dukungan financial dari Suryo sebagai presiden komisaris, rasanya kesuksesan bisa diraih Bambang bersama ToniJack’s.

Tak demikian menurut Anang Sukandar, ketua Asosiasi Franchise Indonesia. “It’s a new brand, Bambang harus mulai dari nol untuk penetrasi pasar. Ya, liat saja nanti,” ujar Anang. Anang menambahkan untuk mencapai kesuksesan seperti McD, promosi menjadi sarana paling ampuh. Dan cost untuk promosi juga tidak bisa dibilang murah. Bila tak didukung modal financial yang kuat, Anang pesimis bahwa ToniJack’s bisa mengalahkan McD.

Walaupun memang harus diakui bukan perkara yang mudah untuk mengalahkan McDonald’s. Dilihat dari jumlah gerai, McD telah memiliki 97 outlet sementara ToniJack’s baru memiliki 13 gerai. Bambang pun optimis bahwa dari 13 gerai yang dimiliki berada di lokasi yang strategis. Tak hanya itu saja, selama ini ke 13 gerai McD selalu memberikan pendapatan terbesar diantara outlet  McD di seluruh Indonesia. Ke 13 gerai tersebut diantaranya Sarinah (Thamrin), Melawai Plaza, Blok M Plaza, Arion, Kelapa Gading, Sunter, Bandung Indah Plaza, Surabaya Plaza, Bandara Soekarno-Hatta, ITC Mangga Dua, Citra Land, Gajah Mada Plaza, dan Kebon Jeruk.

Pembukaan ToniJack’s ini menjadi babak baru bagi Bambang Rachmadi. Kids market menjadi target market ToniJack’s mengingat potensi pasarnya masih sangat luas. Asumsinya, satu restaurant seperti Sarinah atau Surabaya bisa mencapai 300 pesta ulang tahun per bulannya. Ditambah pula dengan karakteristik orang Indonesia yang cenderung menyukai pesta dan bila mengadakan acara keluarga tidak pernah kecil-kecilan. Minimal 50 undangan bahkan bisa mencapai 200 undangan. “Bahkan, pernah satu restaurant tini ditutup  hanya untuk ulang tahun saking banyaknya tamu,” imbuhnya. Tahun depan, Bambang menargetkan akan menambah lima outlet Toni Jack’s. “PT Ramako Gerbangmas ini sudah mencapai suatu economic of scale, critical mass-nya sudah tercapai. Artinya, dia sudah ekonomis karena volumenya besar-besar,” jelas pecinta golf ini.

Jatuh Tertimpa Tangga

Sekedar kilas balik, restoran McDonald’s di Indonesia dikelola oleh dua entitas yang berbeda yaitu di bawah PT Ramako Gerbangmas (PTRG) dan PT Bina Nusa Rama. PTRG didirikan oleh Bambang Rachmadi pada tahun 1991 yang memiliki hak franchise McD atas 15 outlet hingga tahun 2011. Kemudian, pada tahun 1994 Bambang melalui PT Rezeki Murni (PTRM) miliknya bekerja sama dengan International Development Services (IDS) yang berafiliasi dengan McD Corp. bernama PT Bina Nusa Rama (PTBNR). PTBNR berhak mengelola 97 gerai McDonald’s di Indonesia. Adapun kepemilikan saham PTRM hanya 10 persen, sedangkan sisanya dikuasai IDS.

Bambang bercerita bahwa sedari awal berdiri joint venture hingga sekarang, rugi sampai US$130juta. “Padahal menurut perhitungan kita, McD itu sudah mengantongi kira-kira sekitar US$150juta dari royalty, franchise fee dan penjualan yang lain,” imbuh Bambang. Lalu bagaimanakah pengelolaan McDonald’s yang sesungguhnya hingga menderita kerugian sebesar itu. Bambang menyebut bahwa sebenarnya ada 40 gerai McDonald’s yang rugi karena factor lokasi. “Kalau misalnya ada perusahaan yang rugi saya akan tutup, karena akan mengerogoti keuntungan gerai lainnya?” jelas Bambang. Namun, pihak McD tetap bersikukuh mempertahankan ke 40 gerai tersebut. Akibatnya, kerugian terus membengkak, yang diikuti dengan utang perusahaan juga ikut membengkak. Utang perusahaan yang kian menggendut, berakibat Bambang tidak pernah mendapatkan pembagian dividen sepeser pun.

Penyandang Master of Business Administration, dari John F. Kennedy University, California ini juga menyebut meskipun dirinya menjabat sebagai presiden direktur PTBNR namun kewenangannya sama dengan wakil presiden direkturnya. “Ada dua kapten di satu kapal,” jelas Bambang. Masih menurut Bambang, ketika Bambang mengajukan pengunduran diri, ditolak dengan dalih Bambang sebagai figure head perusahaan. Buntutnya, pria yang dijuluki bapak McD Indonesia ini pun mengundurkan diri dari jabatan sebagai presiden direktur pada bulan Mei 2008.

Perseteruan pun dimulai saat PTBNR tiba-tiba mengumumkan penjualan seluruh asetnya, yaitu 97 gerai restoran ke anak usaha Grup Sosro, yaitu PT Rekso Nasional Food. Rekso menggelontorkan uang US$20 juta atau senilai Rp200 miliar untuk pembelian asset ini. Namun, Bambang mengaku tidak pernah menyetujui penjualan aset itu ke Grup Sosro. Penjualan asset ini diduga untuk menutup sebagian hutang PTBNR kepada McD Corp sebesar US$150 juta. Dengan penjualan asset ini, maka PTBNR masih menanggung hutang lagi sebesar US$130 juta. Yang membuat Bambang geram sebagai pemegang saham PTBNR 10% pun turut menanggung hutang. Hal inilah yang membuat Bambang tak pernah menyetujui opsi untuk penjualan asset.

Berdasarkan dokumen yang Warta Ekonomi dapat, Todd Ozer Tucker selaku kuasa dari IDS, Inc., menyebutkan bahwa dirinya selaku pemegang saham tidak mengetahui cara lain agar perusahaan mampu membayar hutang. Untuk itu, pilihan menjual secara substansial semua asset perusahaan, maka perusahaan akan menghasilkan pendapatan atau paling tidak mengurangi porsi dari hutang tersebut. Ricardo Simanjuntak, selaku kuasa hokum PTBNR mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, pilihan untuk menjual saham menjadi tidak masuk akal karena utang perusahaan yang mencapai US$150 juta. “Siapa yang mau beli sahamnya kalau perusahaan memiliki utang sebesar itu?” ujar Ricardo yang dihubungi via telepon. Maka, pilihannya adalah dengan menjual asset perusahaan.

Ternyata pemilihan partner baru McD ini melalui proses tender di Hong Kong dan diikuti oleh sekitar 90 perusahaan. “McD Corp. cukup pintar karena mengambil perusahaan dengan latar belakang family business, karena dianggap lebih menguntungkan,” jelas Anang Sukandar, ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI). Menurutnya, bila lisensi diberikan kepada perusahaan berbasis keluarga, pengambil kebijakan dan kekuasaan tetap berada di tangan keluarganya. “Meminimalisir kemungkinan dijual ke tangan kompetitor,” imbuhnya. Perusahaan dengan basis bisnis keluarga yang kuat dan memiliki profesionalisme menjadi kriteria McD Corp. dalam menggandeng mitra baru. Dan pilihannya jatuh kepada PT Rekso Nasional Food.

Sementara itu ketika Warta Ekonomi mengkonfirmasi perihal pembelian asset McD, Rekso Grup enggan berkomentar. ‘Kami tidak memiliki kewenangan dan kompetensi untuk menjawab pertanyaan Bapak tersebut. Mohon Bapak dapat mencari dari sumber informasi yang berwenang dan berkompeten dari sumber yang lain’ demikian surat elektronik yang Warta Ekonomi dapatkan dari Hermawan Sastrarahardja, corporate secretary PT Anggada Putrarekso Mulia.  Sebelum berpindah tangan ke Rekso Grup, Recapital nyaris menjadi pemilik McD. Di detik-detik terakhir Recapital justru membatalkan pembelian McD tersebut. Upaya mengkonfirmasi kepada Rosan P. Roeslani, presiden direktur PT Recapital Advisor belum menjawab pesan singkat, maupun telepon redaksi hingga detik terakhir.

Senada dengan sikap Rekso Group dan Recapital yang terkesan bungkam, pihak McD Indonesia pun terkesan enggan memberikan statement terhadap kasus ini. Hanya saja memang, pasca pengalihan asset PTBNR tak terlacak kantornya. Termasuk dari board of director dan board of commissioner PTBNR. Ricardo Simanjuntak, kuasa hokum PTBNR pun tidak mengetahui para pemegang saham  serta board of director dan board of commissioner PTBNR. “Yang saya tahu Rafik Mankarious adalah presiden direktur PTBNR,” ujar Ricardo. Sementara Rafik Mankarious saat dikonfirmasi pun enggan berkomentar.

Ujung-ujungnya Masalah Keluarga

Ternyata, ada sekelumit cerita dibalik kasus perseteruan Bambang Rachmadi dengan PTBNR. Namun menurut sumber Warta Ekonomi didapatkan fakta bahwa sengketa Bambang dengan pihak McD Indonesia tak lepas dari permasalahan keluarga. “Awalnya ketika Bambang mendapatkan lisensi dari Amerika mendapatkan proporsi saham 90% dikuasai oleh mantan istri pertamanya, Yanti Sudharmono dan 10% nya milik Bambang Rachmadi,” ujarnya. Keduanya dibawah perusahaan PT Bina Nusa Rama. Permasalahan internal antara Bambang dan Yanti tersebut akhirnya berujung pada perseteruan antara Bambang dengan pihak International Development Service. Karena penguasaan saham dominasi Yanti maka lisensi McDonald’s tetap berada di tangannya. Dan Bambang sebagai pemegang saham minoritas pun harus menerima kenyataan bahwa dirinya didepak dari kerjasama tersebut dan merelakan Rekso Grup menjadi penggantinya.

Versi lain menyatakan pencabutan atas lisensi PT Ramako Gerbangmas yang dilakukan oleh McD Corp. adalah akibat kepemilikan saham ganda. Tri Adhyaksa, managing partner Adhyaksa & Co sekaligus pengacara Bambang Rachmadi menyatakan bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Agung tahun 2009 atas perceraian Bambang dan Yanti Sudharmono menyatakan pembagian harta bersama 50:50 termasuk di dalamnya PT Ramako Gerbangmas. Bambang yang tidak mengajukan Peninjauan Ulang atas Putusan MA tersebut dianggap menyetujui keputusan tersebut. Artinya, berdasarkan putusan tersebut komposisi kepemilikan PT Ramako Gerbangmas menjadi 50% dikuasai oleh Bambang Rachmadi dan sisanya oleh Yanti Sudarmono. Akibat perubahan komposisi kepemilikan, Bambang Rachmadi dianggap melanggar perjanjian hingga akhirnya hak waralabanya dicabut September silam. “McD memanfaatkan isu perceraian antara Bambang dengan ibu Yanti,” ujarnya. Hingga saat ini, PT Ramako Gerbangmas masih menjadi milik Bambang Rachmadi sepenuhnya karena Putusan MA tersebut baru berlaku bila terjadi perubahan anggaran dasar perusahaan.

Di tengah kasus yang masih bergulir dengan PTBNR dan McD Indonesia, Bambang akhirnya kembali ke bisnis asalnya yaitu fast food. Bambang pun berkonsentrasi penuh dengan bisnis barunya ini. Menurutnya, bisnis ini bisa berkembang cepat, future-nya sangat terbuka luas, barrier of entry boleh dibilang tidak ada. Tidak seperti bank, money changer, apotek yang harus ada ketentuannya. “Saya tidak mau berkomentar tentang itu,” jawabnya ketika ditanya seputar kelanjutan kasus Bank IFI. Artinya, Bambang tak akan lagi berbisnis di bidang perbankan seperti sebelumnya.