Ojek Eksklusif bagi Para Eksekutif

Selasa, 16 September 2008 17:23 WIB – warta ekonomi.com

Dwi Caesario Finanta916200852607PM347

Direktur Operasional PT Ningrat Muda Mandiri

Ia menyediakan ojek mewah untuk kalangan menengah ke atas. Penumpang tak perlu takut kotor dan bau asap karena Limobike menyediakan kostum khusus. Dan, tak ada tarik ulur soal harga, karena perusahaan mematok tarif berdasarkan zona antar.

 

Hidup di zaman serba cepat seperti sekarang, manusia dituntut untuk selalu dinamis dan berpikir praktis. Lalu, dengan tuntutan seperti itu, apa jadinya jika Anda maunya cepat, tetapi harus menghadapi kemacetan di jalan? Sejumlah orang mengaku tak segan turun dari mobil dan berganti naik ojek demi mencapai tempat tujuan tepat waktu. Pengalaman ini juga dialami Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat hendak meninjau pintu air Tarakan, di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, awal Januari silam. Kala itu, banjir yang merendam sebagian wilayah Ibu Kota ini menghambat iring-iringan perjalanan rombongan DKI 1. Maka, “Bang Kumis”—sebutan Fauzi Bowo semasa kampanye—pun tak segan-segan turun dari mobil dan naik ojek ke tempat tujuan.

 

Ojek memang bisa disebut moda alternatif di kala macet menghadang. Bentuk bodi sepeda motor yang lebih ramping daripada mobil membuatnya lebih gesit dan mudah berkelit menembus sela-sela kendaraan. Kalau tidak benar-benar terpaksa, para eksekutif enggan memanfaatkan moda ini. Alasannya, selain si tukang ojek yang ugal-ugalan saat membawa ojeknya dan wajah langsung terkena asap kendaraan karena bagi penumpang tak disediakan helm full face, ada juga faktor gengsi! Apa kata dunia jika Pak Direktur naik ojek? Namun, bagi dua bersaudara, Dwi Caesario Finanta dan Koko Sandoza Finanta, kekurangan dari ojek konvensional itu langsung ditanggapi dengan menawarkan ojek eksklusif bernama “Limobike”. Laksana naik limusin beroda dua, penumpang akan merasa aman dan nyaman. Pun, wajah dan baju dijamin tak bakal kotor atau bau asap kendaraan karena Limobike menyediakan kostum khusus bagi para penumpang.

 

Limusin Roda Dua

Warta Ekonomi sempat kaget ketika petugas keamanan meminta kami melepaskan alas kaki sebelum masuk ruangan kantor PT Ningrat Muda Mandiri di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Usut punya usut, ruangan kantor yang didominasi warna kuning dan biru tua itu ternyata merangkap sebagai musala. Ketika azan memanggil, seluruh karyawan dan pimpinan segera meninggalkan meja kerja dan menuju tengah ruangan untuk melakukan salat berjamaah. Di sana, terhampar karpet bermotif sajadah. Nuansa religi makin kental saat indra pendengaran dibuai oleh lagu rohani dari Opick, sementara lukisan kaligrafi berukuran besar tergantung di sudut ruangan.

 

Di kantor yang tidak begitu luas itulah Koko Sandoza, sang presiden direktur, dan Dwi Caesario, yang menjabat sebagai direktur operasional, menjalankan PT Ningrat Muda Mandiri. Sejatinya, perusahaan ini telah eksis sejak awal 1990-an dengan bidang usaha kontraktor umum (general contractor) serta pengelolaan hotel dan wisata (hospitality management). Pada 1999, perusahaan mengembangkan sayap dengan memberikan jasa alih daya, seperti pengantaran produk dan contact center. “Divisi layan antar McDonald’s kebanyakan memakai jasa kami,” tutur Dwi Caesario, bangga. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki divisi logistik, cash and safe, serta food taxi, yakni jasa memesankan dan mengantarkan makanan, dan terbaru adalah jasa ojek eksklusif, yakni divisi Limobike.

 

Koko mengisahkan, ide meluncurkan divisi Limobike muncul pada 2006. Ia dan Ade, panggilan akrab Dwi Caesario, ingin naik ojek yang aman dan nyaman. Namun, pada waktu itu mana ada ojek yang sesuai dengan keinginannya. Maka, mereka pun melihat layanan ojek seperti itu sebagai peluang bisnis.

 

Setelah mematangkan konsep, mereka berdua memberi nama layanan ojek eksklusif ini Limobike, yang berasal dari penggalan kata “limousine” dan “motor bike” (sepeda motor). Namun, Limobike ini bukan ojek biasa. Pasalnya, Limobike tidak bakal mangkal di pinggir jalan atau berkeliaran seperti taksi untuk disetop penumpang. Nantinya, kata Ade, yang bisa memanfaatkan jasa Limobike adalah mereka yang sudah mendaftarkan diri ke perusahaan. Lalu, untuk mendapatkan layanan, si calon penumpang  harus booking lewat call center. “Kami tidak bersaing dengan ojek dan taksi. Limobike ini bekerja di segmen baru dan terbatas,” imbuh ayah satu anak ini. Sedari dua tahun silam, layanan ini sudah berjalan di Bali, tetapi mereka baru beroperasi di Jakarta pada Agustus 2008 ini.

 

Untuk membayar atas jasa antarannya, penumpang tak perlu melakukan tawar-menawar dengan si abang pengemudi atau melihat argo seperti taksi. “Penumpang akan dikenai tarif berdasarkan sistem zona,” terang Ade. Jadi, tarif dihitung dari titik keberangkatan alias trading area yang berada di radius 10 kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia (HI), yakni di wilayah Segitiga Emas Kuningan-Sudirman-Thamrin. Nah, untuk jarak tempuh 0–10 kilometer dari trading area, penumpang harus membayar Rp35.000 per antaran. Selanjutnya, untuk radius 10–20 kilometer, penumpang harus membayar Rp45.000. Adapun untuk radius 20–40 kilometer, jasa Limobike ini dibanderol seharga Rp55.000. Lalu, bagaimana jika jarak antaran lebih dari 40 kilometer? “Penumpang harus membayar kelebihan tarif sebesar Rp10.000,” kata Ade.

 

Kelebihan Limobike yang berwarna kuning terang ini tentu saja ada pada armada yang dipakai. Tidak seperti ojek konvensional yang memakai sepeda motor biasa, Limobike menggunakan skuter bermerek Piaggio. Kalau di Bali Limobike menggunakan Piaggio Gran Turismo 200 yang nyaman untuk kontur geografis berbukit, maka di Jakarta mereka memilih Piaggio Fly 125 yang gesit menembus kemacetan. Tentu saja, pemilihan merek Piaggio ini didasarkan atas alasan eksklusivisme dan telah dikenal masyarakat, terutama para ekspatriat yang menjadi target utama Limobike. “Tadinya sempat tebersit untuk menggunakan motor gede 1.600 cc. Namun, kalau mengingat konsep Limobike, motor gede tidak fleksibel di Jakarta,” kata Ade. Saat ini, Limobike Jakarta memiliki armada terdiri dari 30 skuter Piaggio yang didatangkan langsung dari Italia.

 

Oleh karena menggunakan kendaraan yang harganya tak bisa dibilang murah, Koko dan Ade memasang peralatan Global Positioning System (GPS) yang bisa melacak keberadaan pengendara dan penumpang secara real time. Nah, bagi para penumpang, ini menariknya, setiap penumpang akan mengenakan helm full face berinterkom yang memungkinkan mereka berkomunikasi dengan pengemudi Limobike. Jadi, tak perlu berteriak-teriak untuk menunjukkan lokasi pemberhentian kepada si pengemudi. Akan tetapi, sebelum memasang helm, si penumpang harus memakai penutup kepala sekali pakai (disposable) agar rambut tidak bersentuhan langsung dengan helm. Soal barang bawaan, jangan khawatir, boks skuter Piaggio yang memiliki kapasitas 48 liter ini cukup untuk menampung laptop dan tas kerja penumpang. Lalu, supaya baju tak bau asap kendaraan, perusahaan juga menyediakan jaket dan selimut eksklusif bagi penumpang. “Selimut ini akan memberi kenyamanan bagi penumpang perempuan yang mengenakan rok,” tutur Ade yang lulusan arsitektur dari Royal Melbourne Institute of Technology, Australia, ini.

 

Menariknya, untuk daerah layanan  Bali, selimut ini juga berfungsi sebagai alas duduk di pantai. Pasalnya, di Bali, Limobike tak cuma mengantarkan penumpang dari satu titik ke titik lain, tetapi juga menawarkan paket wisata, seperti tur kuliner atau mengejar matahari terbenam.

 

Bukan Bisnis Murahan

Tatkala menumpang ojek konvensional, jantung penumpang pasti akan dag-dig-dug karena si tukang ojek selalu ngebut atau kendaraannya kerap menyelinap di sela-sela mobil. Kenyataan ini tentu berbeda dengan Limobike. Ade menjamin para pengemudinya tak akan mengendarai kendaraannya secara ugal-ugalan, karena perusahaan telah mengatur batas kecepatan maksimum 60 kilometer per jam. Sementara itu, para pengemudi harus memiliki postur tubuh yang memadai, lulus ujian safety riding, hospitality, dan  product knowledge. Selain itu, perusahaan juga mengisyaratkan hanya mereka yang memiliki pendidikan minimal D3 yang bisa menjadi pengemudi. “Pengemudi Limobike harus menguasai bahasa Inggris yang baik, selain bahasa Indonesia,” ujar Ade yang sempat menjadi anggota Paskibraka ini.

 

Limobike memang bukan bisnis murahan. Sayangnya, Ade enggan membeberkan angka investasinya. Ia hanya mengisyaratkan, satu unit Piaggio Fly 125 setidaknya butuh investasi Rp30 juta-an, sementara Piaggio Gran Turismo 200 harganya Rp60 juta-an per unit. Saat ini, PT Ningrat Muda Mandiri memiliki 30 unit Piaggio Fly 125 dan 10 unit Gran Turismo 200. Jadi, untuk pengadaan kendaraan saja butuh dana tak kurang dari Rp1,5 miliar. Ini belum termasuk biaya lain-lain. Menurut kalkulasi Ade, jika melihat office hour dan intensitas kemacetan kota Jakarta, Limobike bisa melayani 18 single trip per hari. Namun, ia memasang target tiap unit harus melayani 12 single trip per hari. “Bila target ini terpenuhi, bisnis akan mencapai titik` impas dalam waktu satu setengah tahun,” tegas dia.

 

Koko dan Ade optimistis dengan prospek bisnis limusin roda dua ini, meski sempat ada ganjalan dari Ditjen Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan, yang menyatakan bahwa ojek tidak termasuk kategori angkutan umum. “Kami adalah pionir layanan ini di Indonesia dan memiliki positioning yang kuat di bisnis ini,” tegas Ade. Menurut dia, dua hal tadi akan mempermudah kelanjutan perjalanan Limobike. Tentu saja, ke depan, mereka akan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan pelayanan. Bbrruuumm….

 

MARTHAPURI DWI UTARI

 

 

PT Ningrat Muda Mandiri

Limobike Ningrat Division

Graha Enka Deli Lt. 1

Jl. Warung Buncit Raya No. 12 Jakarta 12760

Telepon            : 021 – 7989898

Website            : www.ningratmudamandiri.com

 

 

Doddy Moedjito

Presiden Direktur PT Expanda Megah Indonesia

Ade adalah sosok yang smart, jeli dalam melihat peluang bisnis, dan ahli strategi. Limobike ini inovasi yang sangat bagus dari seorang Ade. Eksekutif dengan tingkat mobilitas tinggi pasti butuh kendaraan yang cepat dan lincah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s