Pencerahan bagi Masyarakat Tanpa Listrik

Rabu, 15 Oktober 2008 20:05 WIB – warta ekonomi.commhpplab

Eddy Permadi Nurgana

Direktur CV Cihanjuang Inti Teknik

Gelap gulita! Itulah yang terasa jika hidup tanpa listrik. Di tangan Eddy Permadi Nurgana, potensi air diubah menjadi sumber listrik. Wujud dari obsesi terpendamnya justru sudah tersebar mulai dari Aceh hingga Papua, bahkan Swiss.

Byar pet. Seperti itulah kondisi kelistrikan di Indonesia. Meningkatnya permintaan akan listrik dan masalah kekurangan pasokan listrik menjadi biang keladinya. Belum lagi rasio elektrifikasi yang belum merata menyentuh seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rasio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 58%. Ini data 2007. Jika penduduk Indonesia ada 220 juta orang, berarti masih ada 105 juta jiwa yang belum menikmati pasokan listrik.

Di tengah kesulitan masyarakat Indonesia untuk mendapat pasokan listrik itulah Eddy Permadi Nurgana justru melihat sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Ia kemudian menciptakan rekayasa dan manufaktur pembangkit listrik tenaga air, khususnya mikrohidro. Ia melihat, potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kalau saja tenaga air bisa dimanfaatkan, potensi itu bisa menjelma menjadi tenaga listrik dengan daya yang seluruhnya bisa mencapai 75.000 megawatt (MW). Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan total kapasitas terpasang untuk semua jenis pembangkit listrik di Indonesia yang saat ini mencapai 26.000 MW. Sayangnya, pemanfaatan mikrohidro baru mencapai 2,5% dari seluruh potensi yang ada.

Untuk mengubah pergerakan air menjadi energi listrik, diperlukan turbin air. Turbin ini berfungsi sebagai alat pengubah energi potensial air menjadi energi torsi (putar) yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak generator, pompa, dan peralatan lain. Untuk daerah yang mempunyai sumber energi air, hal ini tentu sangat menguntungkan. Semula, Eddy mengaku hanya ingin berkontribusi sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasainya. Namun, siapa sangka, sekarang dia menuai hasilnya. Konsistensinya di bisnis pembangkit listrik tenaga mikrohidro bisa memberikan solusi di tengah krisis listrik yang tengah melanda negeri ini.

Obsesi Terpendam

Tidak mudah menemukan kantor CV Cihanjuang Inti Teknik (Cintek). Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam dari Jakarta, Warta Ekonomi akhirnya sampai juga ke Jl. Cihanjuang di Cimahi, yang menjadi kantor sekaligus workshop CV Cintek. Lokasinya berada di pinggir jalan sempit. Kincir angin yang dipajang di samping gedung menjadi penanda bahwa kami berada tepat di markas produsen pembangkit listrik tenaga  mikrohidro itu. “Kalau mengikuti jalan ini, Anda bisa sampai ke pesantren Daarut Tauhid milik Aa Gym,” kata Eddy sambil mempersilakan kami masuk.

Direktur CV Cintek ini lalu berkisah bahwa ia terinspirasi untuk memanfaatkan air menjadi energi alternatif setelah berkunjung ke sebuah museum energi di Zurich, Swiss, pertengahan 1980-an. Di museum itu ada pembangkit listrik tenaga  mikrohidro untuk menggiling gandum. Oleh karena Pegunungan Alpen potensi airnya besar, mikrohidro menjadi salah satu sumber energi masyarakat di sana. “Indonesia, sebagai negara yang memiliki potensi air yang melimpah, seharusnya bisa seperti Swiss,” pikir Eddy, yang sempat menghabiskan empat tahun di negeri yang terkenal sebagai pembuat arloji itu, untuk mempelajari teknik peleburan logam (foundry). Hanya saja, kata dia, potensi itu belum digarap dengan baik di Indonesia.

Sepulang dari Swiss, pemegang gelar Diploma III dari Politeknik Mekanik Institut Teknologi Bandung ini memilih untuk tetap mengabdi kepada almamaternya dengan menjadi staf pengajar, profesi yang telah digelutinya sejak 1980. Baru pada 1992, Eddy memberanikan diri untuk mendirikan CV Cintek. Kala itu, usahanya baru sebatas desain dan manufaktur mesin cetak untuk tablet pupuk NPK dan urea. Sayangnya, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada  1998 hingga 2000-an membuat Eddy terpaksa merumahkan seluruh karyawannya. “Sejak itu, saya berprinsip tidak akan lagi bergantung pada siapa pun,” tegas pria yang sebagian rambutnya sudah mulai memutih ini. Pasalnya, sebelum krisis ekonomi melanda, CV Cintek adalah “anak angkat” dari sebuah perusahaan. Ini membuat CV Cintek sedikit banyak bergantung pada perusahaan itu, terutama untuk soal pendanaan.

Dengan mengandalkan semangat entrepreneurship-nya, Eddy terus bergerak. Ayah tiga anak ini meneruskan usaha di bidang yang sama, yakni memproduksi mesin-mesin pembuat pupuk multihara. Kali ini, ia mengambil kredit lunak dari Bank Jabar. Oleh karena pupuk urea adalah salah satu produk bersubsidi yang rawan diselewengkan, Eddy berpikir untuk berpindah wilayah produksi. Pada tahun 2000, ia mulai mempelajari bidang teknologi mikrohidro. Gayung bersambut, Eddy mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program transfer pengetahuan yang diselenggarakan oleh Ditjen LPE, Departemen ESDM, dan Lembaga Kerja Sama Teknik Jerman (Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit, GTZ). Akhirnya, ia mempelajari teknologi pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang pernah membiusnya di Swiss.

Setelah mendapatkan kucuran ilmu dari Entec AG, Swiss, Eddy pun menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut untuk membuat turbin. Pada dasarnya, CV Cintek memproduksi pembangkit listrik tenaga mikrohidro, seperti turbin jenis cross flow, propeller, turbin jenis “celup”, dan komponen turbin. Disebut turbin celup karena alat ini harus dicelupkan ke dalam semacam bak penampungan. Turbin baru bisa bergerak jika ada air yang menggenangi bak tersebut. Istimewanya, turbin jenis ini bisa digunakan pada sungai dangkal dengan kedalaman tak lebih dari satu meter. “Kami sudah memperhitungkan turbin tetap bisa bergerak meski sungainya kering pada saat musim kemarau,” jelas suami Milly Nurgana ini. Adapun turbin jenis propeller hanya bisa digunakan pada sumber air dengan tinggi minimal satu meter. Nah, untuk air terjun dengan ketinggian lebih dari 30 meter, ia menciptakan turbin jenis cross flow. Nantinya, turbin jenis ini bisa menghasilkan tenaga listrik 600 watt hingga 70.000 watt.

Dengan bangga Eddy menuturkan bahwa dirinyalah yang merancang dan memiliki hak paten atas turbin jenis propeller tersebut. “Inovasi saya tercipta karena tuntutan pasar,” ujar pria yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) ini. Soal harga, Eddy memastikan harga produknya lebih miring ketimbang produk impor, yakni antara Rp2,5 juta hingga Rp100 juta. Meski harganya lebih miring, soal kualitas boleh diadu. Sebelum memasang turbin, Eddy mengatakan bahwa tim dari Cintek harus menyurvei daerah bersangkutan untuk melihat potensi air, seperti lebar sungai dan debit air mengalir. Dan, bagi pemesan turbin, pihak Cintek akan memberi pendidikan dan pelatihan soal mekanisme dan perawatan bagi para operator turbin.

Berpihak pada Masyarakat Desa

Guna memasarkan produknya, Eddy memilih untuk menggandeng pemerintah daerah. Sembilan dari sepuluh pemesan turbin buatan Cintek adalah pemerintah daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Hebatnya, ia sempat memasang dua turbin propeller turbular produksinya di sebuah sungai di Bucholz, Swiss. “Soal harga jual ke sana tentu dua kali lipat dibandingkan dengan menjualnya di negeri sendiri,” kata peraih ASEAN Energy Award 2004 ini, tergelak. Untuk periode Juli hingga Oktober 2008, Cintek telah mengerjakan sepuluh pesanan turbin.

Warta Ekonomi sempat melangkahkan kaki di kampung Babut Girang, Cimahi Utara, tepatnya di pinggir Sungai Leuwi Layung, tempat berdirinya lokasi percobaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro Cintek. Di lahan seluas satu hektar ini tak cuma ada laboratorium pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Hanjuang, tetapi ada juga fasilitas pemondokan. Eddy menuturkan, masyarakat setempat tak perlu lagi membeli listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara, karena sudah tersedia listrik dari PLTMH milik Cintek.

Saat ini boleh dikatakan bahwa obsesi Eddy telah tercapai. Ketua ORARI lokal Bojonagara, Bandung, ini ingin memanfaatkan potensi air yang ada di seluruh Indonesia sebagai pengembangan energi alternatif. Akan tetapi, obsesi Eddy tak cuma sebatas itu. Ia juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Itu sebabnya, untuk bisnisnya, Eddy mengambil tenaga kerja yang kebanyakan dari wilayah Jawa Barat.

Selain berbisnis pembangkit listrik, Eddy juga mendirikan divisi minuman tradisional Jawa Barat, yang memproduksi bandrek, bajigur, beas cikur, dan sekoteng instan dengan merek Hanjuang. Divisi ini menjadi penyelamat ketika proyek pembangkit tengah sepi. “Proyek pembuatan PLTMH baru ramai di pertengahan tahun, saat anggaran untuk pemda baru turun,” ungkap Eddy, sambil menyeruput bandrek hangat.

MARTHAPURI DWI UTARI

CV Cihanjuang Inti Teknik

Divisi Teknik    Rekayasa dan Manufaktur Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro

Jl. Cihanjuang 204

Cimahi 40513

Telepon            : 022-6640814

Faksimile          : 022-6640814

Website : http://www.hanjuang.co.id

Faisal Rahadian

Direktur PT Wahana Pengembangan Usaha & Sekretaris Jenderal Asosiasi Hidro Bandung

Eddy sangat berpihak pada pengembangan masyarakat desa. Pembangkit Listrik Tenaga  Mikrohidro (PLTMH) Cihanjuang ini berusaha memberikan perhatian terhadap listrik desa. Idealisme dan kegigihannya jarang ditemukan pada pengusaha mana pun.

One response to “Pencerahan bagi Masyarakat Tanpa Listrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s