Adu Bijak Menghadang Para Pembajak

Ahmad Noor Arief

Direktur Utama PT Aseli Dagadu Djokdja


Dagadu, produk yang menjual kalimat plesetan, kini menjadi suvenir khas Yogyakarta, setelah gudeg dan bakpia. Kendati produk bajakan dijual dengan harga supermurah, Dagadu tetap memiliki konsumen setia.

 

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat

penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama suasana Jogja…

 

Sepenggal lagu bertitel “Yogyakarta” yang dilantunkan Katon Bagaskara dari Kla Project tadi menyiratkan suasana Yogyakarta yang penuh keramahan dan kehangatan. Berbagai julukan pun disematkan pada kota yang saat ini dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X itu. Di antaranya: Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Gudeg, hingga Kota Sentra UKM Kreatif. Di provinsi daerah istimewa ini, industri yang berbasis kreatif memang tumbuh dengan suburnya, sebab didukung oleh lingkungan yang kondusif karena memiliki tiga hal, yaitu talent, technology, dan tolerant.

Apabila pelesir ke Yogyakarta, tangan rasanya gatal jika tak membeli gudeg, bakpia, dan Dagadu, sebuah merek kaus oblong berciri khas yang mengandung kata-kata plesetan. Bisnis yang dibesut 25 mantan mahasiswa Yogyakarta ini berhasil survive, kendati banyak orang yang membajak produknya. Usaha yang berdiri sejak 1994 itu kini telah meraih omzet hingga Rp10 miliar per akhir 2008. Ahmad Noor Arief, sang komandan, mengaku memiliki strategi cerdas untuk mengatasi para pengusaha licik yang mencuri ide perusahaannya.

 

Creativepreneurship Mahasiswa

Di suatu pagi yang dihiasi rintik hujan, Ahmad Noor Arief, direktur utama PT Aseli Dagadu Djokdja, menyempatkan diri menerima kunjungan Warta Ekonomi. Ia mengenakan busana kasual, tetapi tetap rapi. Penampilan pria kelahiran 8 Januari 1969 ini menyiratkan pribadinya yang hangat dan low profile. Meskipun tak bisa lagi dikatakan muda, jiwa Arief toh masih terus muda. Apalagi seluruh karyawan Dagadu didominasi anak muda. Bahkan, desain ruangan kantor pusat Dagadu pun dibuat se-funky mungkin, dengan dihiasi warna-warni yang cerah.

Sejurus kemudian, meluncurlah penuturan Arief seputar bisnis yang dirintisnya sejak 15 tahun silam itu. Tutur Arief, kala itu, ia dan kawan-kawannya yang memiliki kegemaran mendesain grafis mencoba menuangkan ide-idenya di atas media kaus. kaus-kaus itu lalu dijual di sejumlah kegiatan kampus. “Pada awalnya tidak terpikirkan untuk secara serius menjadikan hobi ini sebagai sebuah bisnis,” ungkap lulusan jurusan teknik arsitektur dari Universitas Gadjah Mada tahun 1995 ini. Waktu itu, 25 anak muda ini menyebutnya hanya sebagai “bisnis main-main”. Pemberian merek Dagadu pun dilakukan secara main-main, tanpa perencanaan maupun strategi yang khusus. Dagadu diambil dari bahasa slang anak muda Yogyakarta yang berarti “matamu”.

Akan tetapi, siapa sangka, seiring dengan berjalannya waktu, bisnis yang dianggap hanya main-main ini ternyata gurihnya bukan main. Ini terutama setelah Dagadu membuka gerai di Lower Ground Malioboro Mall di Jl. Malioboro, Yogyakarta, pada 9 Januari 1994. Produk mereka adalah kaus oblong, polo shirt, gantungan kunci, stiker, topi, payung, mug, dan pernak-pernik lainnya. Namun, yang membedakan produk Dagadu dengan yang lainnya adalah rancangan grafis bertema Yogyakarta, yang di dalamnya mengandung kalimat-kalimat bernada guyonan ataupun plesetan. “Kami menyebutnya sebagai cendera mata alternatif Yogyakarta,” ungkap Arief.

Tiga tahun setelah berdiri, para pendiri Dagadu sepakat untuk mengelola perusahaan secara profesional. Atas nama legalitas dan profesionalisme, 25 orang mahasiswa tingkat akhir tersebut kemudian membentuk PT Aseli Dagadu Djokdja sebagai badan hukum. Oleh karena konflik kepentingan amat tinggi, sebab menyatukan isi kepala 25 orang tidaklah mudah, maka mereka sepakat untuk melakukan pembagian kerja. Empat orang kemudian ditunjuk untuk duduk di dewan direksi, sementara 21 orang lainnya bersedia hanya menjadi pemegang saham saja. Saat itu, Arief ditunjuk sebagai direktur yang membawahkan bidang desain dan produksi. Uniknya aturan di perusahaan ini, “Untuk menjadi direktur ditetapkan secara bergilir,” kata dia. Pada 2000, Arief ditetapkan sebagai direktur utama. “Budaya toleransi dan saling menghargai yang tinggi berhasil meredam potensi konflik yang cukup besar,” ungkapnya.

Untuk mempertahankan brand selama 10 tahun ternyata bukan perkara mudah. Di Dagadu, aspek kreativitas tak hanya diterapkan pada proses desain dan produksi saja,  tetapi juga dalam urusan pemasaran. Untuk urusan memasarkan produk, Arief memercayakannya kepada para mahasiswa tingkat II dengan program magang. Tentu saja ada sejumlah syarat mutlak yang harus mereka penuhi. Misalnya, penguasaan bahasa lokal (bahasa Jawa plus bahasa slang anak muda Yogyakarta) dan bahasa asing. Mereka ditempatkan pada divisi Garda Depan (Gardep), yang selain bertugas sebagai tenaga pemasaran, juga menjadi customer service dan public relations. “Waktu saya menjadi mahasiswa, peluang untuk magang di perusahaan amat kecil,” dalih Arief, yang telah mencetak 36 angkatan Gardep. Program yang telah berjalan selama 12 tahun itu semula dibentuk saat penjualan Dagadu melonjak tajam, dan para pendiri kesulitan mengatur waktu antara mengurus Dagadu dan urusan kampus. Selain menggandeng mahasiswa lewat program magang, Dagadu juga menggandeng tukang-tukang becak untuk meng-guide wisatawan, baik asing maupun lokal, ke gerai-gerai Dagadu. “Program ini cukup efektif,” puji kolektor miniatur mobil antik ini.

 

Beli yang Palsu Memalukan

Oleh karena memosisikan diri sebagai ikon Yogyakarta, Dagadu bersikeras untuk tidak membuka cabang di tempat lain. Di kota asalnya itu pun Dagadu hanya memiliki dua gerai resmi, yakni di kawasan Pakuningratan dan di Malioboro Mall. “Jika ada yang menjual di luar tempat itu, berarti barang Dagadu bajakan,” tandas direktur Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Yogyakarta ini. Kendati demikian, bagi konsumen di kota-kota lain yang berminat membeli produk asli Dagadu, jalan tetap terbuka. Mereka menyediakan fasilitas Pesanan Lewat Kawat (Pesawat), yaitu layanan pemesanan melalui internet online. Ini memang untuk memudahkan konsumen. Metode pembayaran pun bisa dilakukan melalui internet banking.

Bisnis Dagadu yang diawali dengan modal Rp4 juta—hasil patungan Arief dan 24 rekannya—itu sejak semula memiliki visi sebagai perusahaan kreatif. “Pada awal pendirian usaha, kami bervisi sebagai perusahaan kreatif yang berbasiskan kompetensi,” tegas bapak dari empat anak ini. Creativepreneurship, begitu terminologinya. Aspek kreativitas ini tak hanya diterapkan di desain produk,  tetapi juga pada diferensiasi produk-produknya. Untuk mengurangi kejenuhan pasar, Dagadu menciptakan produk-produk limited edition.

Bahkan, seperti layaknya buah-buahan, produk Dagadu juga tergantung musim alias musiman. “Misalnya, kalau bertepatan dengan musim penghujan, kami memproduksi payung, tentunya dengan jumlah terbatas. Dan, desainnya setiap tahun juga terus berubah,” kata suami Erlina Hidayati ini. Selain untuk mengurangi kejenuhan, kata Arief, langkah tersebut juga menjadi salah satu jurus yang ampuh dalam mengurangi pembajakan. Maklum, produk Dagadu dibanderol dengan harga yang relatif tinggi. Sehelai kaus berlabel “Aseli Dagadu” saat ini dihargai hingga Rp60.000 per potong. Bandingkan dengan produk bajakannya yang bisa diperoleh dengan harga hanya Rp11.000 per potong! Tentu saja, dari sisi bahan serta kualitas jahitan dan cetakan, perbedaannya bak bumi dan langit.

Arief mengaku kendala terbesar yang ia hadapi dalam bisnis beromzet Rp10 miliar ini adalah pembajakan. Meski telah memusatkan penjualan di dua gerai resmi, peredaran produk bajakan tak terkendali. Bahkan, hanya beberapa langkah dari Malioboro Mall—gerai resmi Dagadu—pedagang yang menjual produk bajakan berderet-deret di sepanjang Jalan Malioboro. “Saya justru prihatin dengan adanya para pembajak itu. Mereka terpaksa mendompleng brand kami untuk tetap eksis,” jelas Arief. Menurut dia, para pembajak tidak memiliki rasa percaya diri, tetapi ingin memperkaya diri. Suatu ketika, manajemen Dagadu sempat melakukan aksi borong produk bajakan untuk mengurangi peredarannya. Hasilnya? “Tak banyak berubah,” keluh Arief.

Meski terus dihadang pembajakan, Arief pantang menyerah. Komitmen manajemen yang berbunyi “Malu bertanya sesat di jalan, beli yang palsu memalukan” pun dicetak pada label produk. Demi mengatasi persoalan pembajakan, Arief mengharapkan pemerintah membangun sebuah pusat kegiatan kreatif untuk menyalurkan ide-ide masyarakat, tak terkecuali ide dari para pembajak. Pusat kegiatan kreatif itu, kata Arief, juga membantu masyarakat untuk mengimplementasikan ide-idenya tersebut menjadi sebuah produk baru. Saat ini Arief tengah berusaha mendirikan sebuah youth center guna menjadi ajang kegiatan kreatif. “Saya ingin menjadikan Dagadu sebagai perusahaan yang menyalurkan ide kreatif menjadi sebuah produk, tetapi tetap berorientasi komersial,” tandasnya. Siapa tahu, dengan memberi wadah bagi para pembajak, kelak mereka tidak akan melakukan kegiatan melawan hukum itu lagi. ###

MARTHAPURI DWI UTARI

 

 

PT Aseli Dagadu Djokdja

Jl. IKIP PGRI No. 50 Sonopakis

Yogyakarta 55182

Telepon        : (0274) 373441

Faksimile      : (0274) 373493

Website        : http://www.dagadu.co.id

Kafi Kurnia, managing director Interbrand

Bisnis Dagadu ini very interesting! Arief berhasil menyatukan 24 orang pemegang saham tanpa masalah dan mentransformasi bisnis ala kampus. Kemampuan leadership-nya memang tidak diragukan lagi!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s