Manisnya Bisnis Medis

dr. Gideon Hartono

Direktur Utama PT Hi-Lab International (Hi-Lab Diagnostic Center)


Setelah sukses dengan jaringan Apotek K-24, sang pemilik merintis bisnis laboratorium klinis yang memanfaatkan TI. Ia berharap bisa berekspansi ke kota-kota besar di kawasan Asia.

Sektor kesehatan memang senantiasa memberikan peluang yang bagus dari waktu ke waktu. Bisa dikatakan, prospek bisnis ini selalu cerah, tak perlu khawatir terhadap situasi makroekonomi. Apalagi di Indonesia, yang berpenduduk sekitar 240 juta jiwa, dan kebanyakan masih memiliki kesadaran yang relatif rendah akan pentingnya menjaga kesehatan.

Kalau menyitir data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, mencapai 15,4%. Adapun penyakit TBC berkontribusi terhadap 7,5% kematian di Indonesia. Sayangnya, banyak yang baru menyadari menderita penyakit ketika sudah mencapai tahap kronis.

Bagi Gideon Hartono, ini berarti masih ada ceruk yang bisa digali demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Semula, Gideon mendirikan jaringan Apotek K-24, waralaba farmasi di negeri ini yang mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai apotek jaringan pertama di Indonesia yang buka 24 jam nonstop setiap hari. Kini, Gideon kembali menjajal peruntungan bisnisnya di bidang laboratorium klinik. Sebagai diferensiasi dengan laboratorium lainnya, Hi-Laboratorium Diagnostic Center (Hi-Lab)—nama laboratorium milik Gideon—menyediakan layanan pengiriman pemeriksaan hasil laboratorium lewat SMS dan internet.

Serba Hi-Tech

Yogyakarta dikenal sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar. Di kota ini pula, Warta Ekonomi menemui Gideon Hartono, sang pelopor inovasi bisnis di ranah kesehatan. Pasca-keberhasilan merintis jaringan bisnis Apotek K-24—kependekan dari Komplet 24 jam— kemampuan entrepreneurship Gideon tak lagi diragukan. Pria yang mengawali kariernya sebagai dokter sejak 1987 ini kembali terusik naluri bisnisnya hingga mendirikan sebuah laboratorium klinik. Sejak 2003, ia terinspirasi untuk mendirikan laboratorium yang dilengkapi fasilitas teknologi informasi (TI). “Sekarang eranya hi-tech. Jadi, saya harus memanfaatkan kecanggihan teknologi yang sudah ada untuk menunjang bisnis,” tegas pria kelahiran Yogyakarta, 10 Oktober 1963 ini.

Ketika bertandang ke laboratorium Hi-Lab di kawasan Kota Baru, Yogyakarta, Warta Ekonomi menemukan atmosfer modern yang begitu kental. Dinding berwarna putih, sebagai penanda sebuah institusi kesehatan, makin terlihat resik dengan penataan ruang yang lega. Di dekat pintu masuk terdapat alat untuk mengambil nomor antrean yang bentuknya mirip dengan mesin ATM. Untuk menggunakannya, pasien cukup menggesek member card. Sembari menunggu waktu, pasien tak perlu resah. Mereka bisa duduk santai di sofa bergaya retro berwarna oranye dan menonton tayangan TV kabel dari sebuah TV layar datar 21 inci yang tertempel di sudut ruangan. Adapun pasien pemilik member card VIP punya kesempatan untuk menunggu di lounge khusus yang lebih eksklusif. Di sana ada sofa yang lebih nyaman dan televisi dengan layar 53 inci. Untuk ruang tunggu pasien, Gideon menyediakan 12 PC layar datar dengan akses internet tanpa batas.

Untuk perangkat laboratoriumnya, tentu saja Gideon menyediakan peralatan medis yang terbilang lengkap dan berteknologi tinggi. Mulai dari alat digital mammography untuk mengecek kanker payudara, digital panoramic-cephalometric untuk scanner atau rontgen bentuk rahang dan gigi, ultrasonography (USG) empat dimensi, dan sejumlah peralatan medis lainnya. Pilihan tersebut, kata mantan bakal calon wakil wali kota Yogyakarta ini, sesuai dengan konsep Hi-Lab yang hi-tech, hi-quality, dan hi-speed. “Penggunaan alat canggih ini mengurangi keterlibatan manusia, sehingga meringankan tugas para analis laboran,” katanya. Bahkan, ia mengklaim di laboratoriumnya ada sejumlah peralatan yang baru digunakan pertama kali di Indonesia. Meski begitu, Gideon tidak serta merta mereduksi jumlah karyawannya. Penciptaan lapangan kerja juga menjadi perhatian utama Gideon. “Meski menggunakan teknologi canggih, peran manusia tetap tidak tergantikan,” imbuh dia. Saat ini, Gideon mempekerjakan 65 karyawan.

Jamaknya, setelah diperiksa, pasien harus mengambil hasil laboratorium beberapa hari kemudian. Namun, di Hi-Lab, petugas laboratorium yang bakal mengirimkan hasilnya lewat SMS. Tentu saja, untuk mendapatkan hasil pemeriksaan, tak perlu menunggu hingga berhari-hari, cukup dalam hitungan menit. Bagi pasien yang menginginkan hasil pemeriksaan lebih lengkap, bisa mengakses situs www.hi-lab.co.id. Nantinya, pasien cukup memasukkan nomor ID yang tertera pada member card dan password untuk melihat atau mencetak hasil pemeriksaan. “Data kesehatan pasien akan tersimpan selama tiga tahun di server kami,” jelas Gideon. Menurut dia, hal itu akan memperkecil risiko kehilangan rekam medis pasien. Namun, bagi pasien yang enggan repot, dan mungkin sedikit gagap teknologi, pihak Hi-Lab tetap mau menyediakan hasil pemeriksaan dalam bentuk hard copy (print). Atas inovasi pengiriman hasil laboratorium lewat SMS dan internet online ini, lagi-lagi MURI memberi penghargaan kepada Hi-Lab Diagnostic Center sebagai laboratorium klinik pertama di Indonesia yang mampu melakukan hal tersebut.

Lebih lanjut Gideon menuturkan bahwa tiap pasien yang mendaftar akan mendapatkan member card. Nah, member card ini merupakan “kartu sakti” bagi seluruh layanan Hi-Lab. Pasalnya, di kartu ini pasien mendapatkan nomor unik yang bakal menjadi user ID apabila mengakses situs laboratorium untuk mendapatkan hasil rekam medis. “Era hi-tech justru mempermudah kita, mempersempit ruang dan waktu,” ungkap bapak dua putra ini. Saat ini, Gideon tengah sibuk menyiapkan fasilitas home service, yakni pelayanan pemeriksaan laboratorium di rumah pasien. “Tidak ada biaya tambahan, kok,” kata anak kelima dari tujuh bersaudara ini, berpromosi.

Hikmah di Balik Kegagalan

Gideon berkisah, saat duduk di kelas 1 SMA Kolese De Britto, Yogyakarta, ia menderita penyakit gondongan yang membuatnya sulit membuka mulut, sehingga tidak bisa makan, sulit berbicara, dan badan meriang. Kala itu, orang tua Gideon membawanya ke dokter. “Hanya dengan sekali suntikan, tak lebih dari 10 menit saya bisa terbebas dari segala penderitaan itu,” kenang Gideon. Itu sebabnya, ia lantas bercita-cita menjadi dokter. Lewat program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), Gideon berhak masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) karena selalu menduduki peringkat pertama saat di SMA. Hanya, ia sempat gagal masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Setahun kemudian, ia kembali mencoba mendaftarkan diri ke fakultas yang sama, juga di UGM. Hasilnya, ia diterima. “Setelah kejadian itu, saya merasa seperti diperingatkan agar jangan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Masih ada kekuatan lain yang jauh lebih kuat, yaitu kekuatan Tuhan,” kata pria yang pernah menyusun buku kumpulan soal fisika bertajuk The Green Book of Physics Problems ini.

Sewaktu lulus dari UGM, Gideon mengaku beruntung. Sebab, menurut peraturan pemerintah yang berlaku saat itu, setahun setelah meraih gelar sarjana kedokteran, dia harus menjadi pegawai negeri sipil (PNS) Departemen Kesehatan RI. Padahal, dia bukan pribumi asli—kendati nenek buyutnya dari pihak ayah dan ibu berdarah Jawa asli. Namun, keberuntungan Gideon hanya sampai di titik itu. Sembilan tahun silam, ketika hendak mengambil program spesialis, mantan Kepala Puskesmas Umbulharjo I Yogyakarta ini terhadang faktor etnis. Ia pun mewujudkan rencana B, yakni berbisnis. Ia sempat membuka usaha fotografi, sebelum merintis usaha Apotek K-24. “Kalau saya berhasil jadi dokter mata, mungkin masyarakat masih tetap kesulitan mencari obat saat tengah malam atau hari libur,” katanya, terbahak.

Naluri bisnisnya yang kuat membuat Gideon selalu berpikir untuk membuat usaha lain. Baru satu tahun menjalankan bisnis farmasinya, pria yang kerap memenangi lomba fotografi ini berkeinginan membuat sebuah laboratorium klinik yang didukung TI. Sayangnya, saat itu ia harus memendam asa karena mesti fokus pada pengembangan jaringan waralaba Apotek K-24. “Saat itu, konsultan waralaba saya menyarankan untuk mengembangkan usaha apotek dulu. Jika sudah mapan, baru boleh ekspansi usaha,” ujarnya. Akhirnya, setelah memendam hasrat selama 3,5 tahun, Gideon mulai merintis usaha barunya dengan payung hukum PT Hi-Lab International, pada Desember 2007. Ia mengaku harus merogoh kocek hingga Rp15 miliar, di luar gedung, untuk berinvestasi di bisnis laboratorium.

Kendati sudah sukses berbisnis waralaba, Gideon mengaku masih menghadapi tantangan. “Di dunia kesehatan, dokter masih sangat memegang peranan dalam pengambilan keputusan. Jadi, tantangan saya adalah bagaimana mengajak para dokter itu untuk bekerja sama dengan kami,” ungkap pria yang meraih gelar dokter pada 1987 ini. Saat ini, usaha Apotek K-24 sudah memiliki 100 gerai yang tersebar mulai dari Aceh hingga Atambua. Kini, ia menggantungkan harapan bahwa Hi-Lab bakal mencapai kesuksesan seperti Apotek K-24 miliknya, dan bahkan bisa merambah kota-kota besar di Asia. “Mimpi saya adalah Go Asia!” tegas suami drg. Inge Santoso, Sp. Ort.  ini. ###

Hi-Lab Diagnostic Center

Jl. Yos Sudarso No. 27

Kota Baru – Yogyakarta 55224

Telepon        : 0274 557722

Faksimile      : 0274 557744

E-mail          : info@hi-laboratorium.co.id

Website        : http://www.hi-laboratorium.co.id

Muhammad Munawaroh, direktur sales & marketing PT Indofarma (Persero) Tbk.

Gideon adalah seorang pengusaha muda yang berani melakukan terobosan baru dan meyakini langkah yang diambilnya adalah benar. Sosoknya sangat visioner sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. ###

3 responses to “Manisnya Bisnis Medis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s