The Indonesian King Promotor

Adrie Nurmianto Subono

Chairman PT Java Musikindo Plus

Berawal dari kecintaannya terhadap musik, Adrie meninggalkan usaha perkapalan untuk menjadi promotor konser musik. Sebuah bisnis yang saat itu belum banyak dijamah orang Indonesia. Kini, ia mampu menghelat 12 pertunjukan per tahun.

There is no business like showbiz. Industri hiburan memang bisnis yang menjanjikan. Selain tahan banting, ia juga tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi apa pun. Bahkan dalam kondisi krisis pun showbiz masih melenggang. Sebab, di tengah situasi yang pelik, masyarakat masih tetap membutuhkan hiburan. Menurut catatan Departemen Perindustrian, industri kreatif, yang di dalamnya terdapat industri musik, meliputi semua aktivitas yang menyangkut proses produksi album lagu, rekaman suara, komposisi musik, termasuk  pertunjukan musik,  menyumbang 5,67% dari produk domestik bruto (PDB) 2006 atau senilai Rp104,79 triliun.

Jika bicara soal pertunjukan musik, orang tentu tak akan lupa menyebut nama Adrie Subono dengan Java Musikindo-nya, yang merupakan perusahaan promotor konser musik nomor wahid di Indonesia. Berkat kinerja Adrie pula masyarakat Indonesia bisa menikmati aksi panggung artis-artis mancanegara seperti Mariah Carey, Westlife, The Corrs, Black Eye Peas, atau Beyonce. Adrie sudah sejak 1993 menekuni profesi sebagai promotor musik, sebuah pilihan usaha yang masih jarang peminatnya.

Bisnis Spekulasi

Kesibukan ayah tiga anak ini memang luar biasa. Saat Warta Ekonomi menemuinya, ia tengah sibuk mempersiapkan pergelaran konser Angel & Airwaves, sebuah band asal AS, yang manggung pada 9 Desember 2008 silam. Kendati demikian, Adrie, yang sore itu mengenakan  hoodies warna hitam dan celana jins model pensil warna hitam juga, bersedia membagi cerita seputar perjalanan bisnisnya, di ruang kerjanya yang bergaya minimalis.

“Saya hobi nonton konser,” katanya mengawali kisah. Pria dengan nama lengkap Adrie Nurmianto Subono ini mengaku rajin menonton konser saat tinggal di Jerman pada 1970. Ketika pulang ke Indonesia, keponakan mantan Presiden B.J. Habibie ini mengaku selalu rindu untuk menonton konser live music. Sayangnya, hobi tersebut tak bisa langgeng karena ia harus menekuni bisnis properti dan perkapalan milik keluarga. Alhasil, “Saya sering memanfaatkan business trip ke luar negeri sekaligus untuk nonton konser,” aku dia, tergelak.

Namun, hanya sampai 1993 ia bertahan sebagai pengusaha properti dan kapal. Selebihnya, pria yang mengaku tak lulus SMA ini mencoba profesi baru: menjadi promotor konser musik. “Saat itu saya merasa prihatin. Konser artis luar negeri jarang sekali digelar di Indonesia,” keluh Adrie. Hanya sesekali artis mancanegara didatangkan ke Indonesia. Itu pun dengan kualitas yang tak seperti harapannya.

Pada 1994, dengan bermodalkan tekad yang kuat, Adrie mendatangkan grup musik rock Saigon Kick. Hasilnya? “Gagal total,” ungkapnya sambil terbahak, mengenang konser pertama yang digelarnya 14 tahun silam. Saat itu, Jakarta Convention Center yang  dipilih sebagai venue hanya terisi setengahnya. Adrie pun menyadari kekurangan konser perdananya itu: perizinan dan minim pengalaman. Hingga kini, Adrie menganggap kerugian yang dideritanya pada konser pertamanya sebagai harga yang harus ia bayar saat terjun ke bisnis promotor. “Mahal dan menyakitkan,” ungkapnya. Namun, kegigihan dan kemauan untuk terus belajar membuatnya tidak patah arang atas kejadian tersebut. Kegagalan ini menjadi cambuk baginya untuk terus belajar menjadi lebih baik.

Setahun kemudian, Adrie memboyong grup band Supergroove dari Selandia Baru. Lagi-lagi, ia mendapatkan pelajaran dari pemilihan tempat pertunjukan (venue). Namun, Adrie pantang menyerah. Proyek ketiganya adalah perhelatan “Jakarta Pop Alternative Festival” dengan format outdoor di Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada 1996. Jika kedua proyek sebelumnya dilakukan di venue indoor, maka Adrie pun bereksperimen untuk menggelar konser dengan format dan konsep baru. Ia menggabungkan enam artis dari dalam dan luar negeri, di antaranya, Foo Fighter, Beastie Boys, Sonic Youth, Pas Band, Netral,  dan Nugie. Hasilnya? “Konser outdoor lebih rumit. Pusing saya,” keluh dia.

Kini, Adrie telah belajar dari pengalaman. Menurut dia, menjadi promotor konser yang baik harus mampu memilih artis, menentukan waktu dan tempat konser, serta meng-handle media dengan baik. Jika di awal pendirian Java Musikindo hanya mampu menghadirkan satu bintang dalam satu tahun, kini ia bisa menghelat 12 konser setahun. Selama 2008, pehobi olahraga ini telah memboyong grup musik Panic at The Disco, My Chemical Romance, Bjork, Incubus, One Republic, Avenged Sevenfold, Angel & Airwaves (Ava), dan Bullet for My Valentine manggung di Jakarta.

Ayah Melanie, Christy, dan Adrian Subono ini mengakui bisnis promotor memang penuh spekulasi. Oleh karena itulah, di awal karier membangun Java Musikindo, banyak rekannya memandang kiprah Adrie dengan skeptis. Sebab, pria kelahiran 11 Januari 1954 ini berani melepaskan bisnis perkapalan yang telah mapan demi membangun bisnis baru di bidang seni pertunjukan. “Saya merintis bisnis ini berdasarkan trial and error, serta prinsip learning by doing,” jelasnya.

Menurut Adrie, bisnis pertunjukan tak ada matinya, mampu bertahan di segala situasi. “Orang selalu membutuhkan hiburan,” alasannya. Adrie menyebut porsi kue showbiz masih sangat besar, sehingga dia mencoba untuk mengambil kesempatan emas tersebut.

Kisah Tisu Toilet Berwarna Pink

Menggelar sebuah konser bukan perkara mudah. Selain rumit, persiapannya setidaknya memakan waktu sampai tiga bulan. “Tahap pertama adalah melakukan deal dengan artis,” jelas Adrie. Ini termasuk menentukan honor dan waktu konser. Masalah honor ini bukan perkara mudah, sebab tak ada patokan khusus dari pihak artis. “Hal ini membuat promotor harus putar otak dan mempertimbangkan berapa sepantasnya artis tersebut dibayar,” imbuhnya. Menurut dia, honor artis asing berkisar US$10.000–1 juta tiap kali pentas. Untuk mempermudah kerjanya, ia sering bekerja sama dengan middle agent di kawasan Asia, yang bertugas mengusahakan agar jadwal tur artis menjadi efektif dan efisien dari satu negara ke negara lain di suatu kawasan. Jadi, laksana promotor bagi promotor.

Adrie membagi Java Musikindo menjadi dua lini besar, yaitu artist rider dan production rider. Artist rider bertanggung jawab terhadap seluruh kebutuhan sang artis, mulai dari akomodasi, pengurusan visa, penjemputan dari bandara hingga mengantar kembali ke bandara, makanan, minuman, hotel, dan hal-hal lainnya. “Mereka cukup repot saat mengurusi permintaan Mariah Carey yang ingin agar gorden kamar hotel dihiasi kupu-kupu dan seluruh ruangan harus bernuansa pink, termasuk tisu toilet pun harus berwarna pink,” ungkap Adrie. Tugas divisi artist rider ini baru berakhir ketika pintu pesawat yang membawa si artis pulang ke negaranya ditutup. Sementara itu, divisi production rider bertanggung jawab mengurusi peralatan dan perlengkapan panggung. Ia harus memastikan panggung, tata suara, tata lampu, serta kargo artis telah diurus dengan baik sejak tiba di bandara, di venue, hingga kembali lagi ke bandara.

Dalam menyelenggarakan konser, ada dua hal penting yang menyita perhatian Adrie, yakni faktor kenyamanan penonton konser dan keamanan. “Ini untuk menghindari kejadian-kejadian buruk dalam penyelenggaraan konser,” katanya. Bahkan, ia mengaku sering turun langsung ke lapangan agar penonton merasa lebih aman. “Sejumlah penonton mengaku merasa lebih aman jika melihat saya di lapangan,” cetus Adrie, terbahak. Menurut dia, hal inilah yang membedakan Java Musikindo dengan promotor lainnya. Tak heran jika Adrie kerap diundang menjadi pembicara dalam berbagai seminar, dan bahkan menjadi tempat konsultasi para promotor baru yang ingin menimba ilmu darinya. Ia pun sempat menulis buku WOW, yang berisi seluk-beluk bisnis promotor yang dijalaninya.

Menurut Adrie, hitungan rugi dari bisnis ini tidak mutlak dalam dunia seni pertunjukan. “Hitungannya relatif,” kata dia, pendek. Kadang, sekali waktu, Java Musikindo bisa meraup keuntungan hingga miliaran rupiah, tetapi kadang juga harus merugi. Apalagi, lima tahun pertama berdirinya Java Musikindo, kondisi keuangannya “berdarah-darah”. Kini, dengan tujuh karyawan tetap yang berada di kursi manajemen dan sisanya karyawan tidak tetap, ia berhasil mendatangkan puluhan artis asing untuk berkonser di Tanah Air.

Adrie bertutur, ketiga anaknya turun langsung dalam bisnis ini dan telah menjalankan perannya dengan sangat baik.  Melanie, si sulung, bertugas mengurusi divisi artist rider, sedangkan Christy mengendalikan divisi promosi. Sementara itu, si bungsu Adrian mengurusi penjualan tiket. “Saya harap bisa memberi warisan berbentuk perusahaan bernama Java Musikindo bagi anak-anak saya,” kata suami Chrisje Fransz Subono ini. Adrie berjanji masih akan tetap berkecimpung di dunia yang turut membesarkan namanya ini hingga di ujung usianya. Baginya, dengan berkutat di bidang yang digelutinya kini justru membuatnya tetap awet muda. “Usia boleh tua, jiwa tetap muda,” kata pria yang memiliki obsesi menjadi middle agent ini. Selain itu, Adrie juga berharap agar konser dipandang sebagai sebuah produk kesenian dan kebudayaan. Akur! ###

MARTHAPURI DWI UTARI

Java Musikindo Plus

Plaza Mutiara lantai 2, Suite 201

Kawasan Mega Kuningan

Jl. Lingkar Mega Kuningan Kav. E1-2, No. 1-2

Jakarta 12950

Telepon        : (021) 57988623/4/5

Faksimile      : (021) 57988626

Email            :  info@javamusikindo.com

Website        :  http://www.javamusikindo.com

Rhenald Kasali, ketua Program Studi MM FE-UI, komisaris independen PT Indomobil Multi Finance

Adrie adalah sosok yang luar biasa. Pengusaha yang mengeksploitasi keunikannya dan sangat fokus terhadap apa yang dilakoninya. Ia memiliki idealisme yang tinggi dalam bisnis dan amat paham seluk-beluk dunia yang digelutinya. ###

One response to “The Indonesian King Promotor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s