Animasi oh Animasi…

Belum adanya cerita dan karakter yang kuat membuat industri animasi kesulitan berkembang

“Yang penting itu ciptakan dulu budaya kreatif. Jangan dulu ngomong soal ekonomi kreatif. Kalau sudah terbentuk budaya kreatif, tumbuh industrinya baru bisa bilang soal ekonomi kreatif.”

Sepenggal kalimat itu adalah curahan hati (curhat) yang meluncur dari mulut seorang Peni Cameron, penggiat industri kreatif khususnya industri animasi. Di suatu siang yang sangat cerah, Sabtu (30/1), saya sangat beruntung bisa bertemu sekaligus mendengar banyak cerita dari sang Marketing Animasi ini di rumahnya yang sangat asri dan cozy di Pamulang. Ungkapan tadi cuman sebagian kecil ungkapan kegeramannya pada pemerintah yang hanya menuntut industri kreatif untuk menghasilkan nilai ekonomi, tanpa mau memberikan investasi bahkan perhatian secuil pun. Kalau tulisan tentang Peni Cameron, ada di bagian yang berbeda (cek di Folder Smartpreneur yah). Tapi inti dari dua jam perbincangan adalah betapa beratnya industri animasi untuk berkembang di Indonesia ditengah minimnya dukungan dari pemerintah.

Ada beberapa kendala yang membuat industri ini terkesan ‘seperti kura-kura’ berjalan dengan sangat lambat. Satu, Indonesia masih kekurangan penulis script (scriptwriter) dengan ide cerita yang sangat kuat. “Terutama scriptwriter yang mengerti animasi ya. Karena menulis script animasi itu berbeda dengan script sinetron atau script film biasanya. Film animasi yang ditonjolkan adalah visualisasinya,” jelas Peni. Lihat saja kalau Nobita menangis memohon bantuan ke Doraemon, bisa dibayangkan berapa ember air mata yang keluar dari si ‘mata empat’ itu. Tanpa perlu banyak dialog, penonton sudah bisa menebak bahwa Nobita sedang sedih. Tapi memang pengemasannya berbeda dengan sinetron. Cerita animasi tentu lebih lucu visualisasinya dibandingkan film lainnya. Itulah mengapa, kata Peni, jangan sampai menulis animasi seperti menulis script sinetron.

Belum lagi, menemukan sebuah karakter animasi yang sangat kuat itu bukan perkara mudah. Indonesia yang multietnik, multibahasa, multikultur tetapi animator masih kesulitan untuk menciptakan satu karakter yang kuat. Seperti animasi Amerika dengan ciri khas cerita binatang seperti karakter Mickey Mouse, Donald Duck, dan animasi lainnya. Atau karakter super hero yang cirinya berpakaian ketat, bersayap, bertopeng, memakai pakaian dalam diluar (kalau tak semuanya, karakter itu bercirikan salah satu dari yang saya sebut). Di Indonesia memang sudah ada yang membuat karakter animasi yaitu Marlin Sugama dan Andi Martin dengan tokoh ‘HEBRING’nya. Hebring adalah superhero versi Indonesia yang berasal dari Jawa Barat dengan ciri khas baju biru bersayapnya dan diambil dari bahasa sunda yang berarti hebat. Ide awalnya adalah karena pasangan suami istri ini geregetan (bukan judul lagunya Sherina yah) di Indonesia nyaris tidak ada icon superhero, jadi pehobi game ini menciptakan karakter Hebring.

Masih berkaitan dengan dua hal di atas yaitu berkaitan dengan Intellectual Property Right. Di Indonesia, paten karakter belum ada. Di negara ini, para animator harus mendaftarkan satu persatu karakter. Contoh gampangnya, icon Mickey Mouse yang sudah dipatenkan di Amerika. Paten ini mencakup semuanya, termasuk Mickey Mouse berbaju biru, merah, kuning, hijau, ketawa, nangis (in a short, patennya mencakup in any condition). Kalau di Indonesia itu harus patenin satu per satu, walaupun karakternya sama tetapi atribut berbeda patennya berbeda pula. Jadi pasti akan ada banyak paten dalam satu karakter. Padahal, biaya patennya Rp400.000 per karakter. Seandainya, ada 30 karakter, maka animator harus mengeluarkan uang Rp400.000×30= Rp12.000.000. Bayangkan, berapa besar investasi yang harus dia keluarkan? Bisa saja dengan anggaran Rp12.000.000 itu dipergunakan untuk pengembangan karakter baru, atau pengembangan bisnis lainnya. Hal inilah yang dikeluhkan oleh Peni, betapa tidak pro bisnisnya pemerintah terhadap industri animasi.

Bila tadi sudah berpanjang lebar tentang kendala yang dihadapi oleh industri animasi. Sekarang kita bicara alternatif solusi yang bisa dilakukan. Peni maupun Indra Utoyo, chief information officer PT Telkom Tbk. berharap agar pemerintah mau mendukung tumbuhnya industri kreatif khususnya animasi dengan menumbuhkan ekosistemnya terlebih dahulu. Setidaknya, pemerintah harus mau berinvestasi untuk melakukan sosialisasi dan menumbuhkan bibit-bibit animator muda di daerah. Seperti yang sudah dilakukan oleh Peni dengan melakukan roadshow ke 12 kota di Indonesia sebagai upaya untuk mengenalkan animasi dan mencari calon-calon animator potensial. Peni memang memiliki concern khusus terhadap dunia animasi. Tak terhitung lagi berapa investasi dari kocek pribadi Peni ditengah minimnya dukungan dana. Peni bahkan membentuk Indonesia Creative Idol (ICI) dengan slogannya ‘Banjiri Dunia dengan  Kreativitas Indonesia’. Tak cukup itu, kini Peni Comunity Weekly Creative Workshop yaitu sebuah mini workshop bagi para generasi muda Indonesia yang kreatif sebagai persiapan menjadi ICI. Dan sepertinya Peni tak pernah berhenti untuk mengembangkan industri animasi ini. Demikian pula dengan Wahyu Aditya dengan HelloMotion dan HelloFest sebagai upayanya mengembangkan industri animasi Indonesia. Dan peran animator-animator lainnya.

Tentunya langkah Peni ini akan terasa berat bila hanya berjalan sendirian. Indra pun berharap adanya sinergi antara tiga pihak terkait antara yang tahu (dalam hal ini pelaku bisnis), yang mampu (investor) dan yang kuasa (pemerintah), agar industri animasi ini bisa bergerak lebih cepat dan pada akhirnya industrinya bertumbuh yang pasti diikuti dengan pergerakan ekonomi. Semoga pemerintah responsif terhadap kebutuhan industri animasi dan industri kreatif secara umum agar industri ini cepat berkembang bahkan menjadi penopang utama perekonomian negara seperti yang telah terjadi di Jepang dan Korea.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s