Peni Cameron : Perintis Bisnis Animasi Ala Disney

Peni Cameron

Direktur PT Citra Andra Media

Tanpa memiliki studio produksi sendiri, Peni Cameron berhasil mengembangkan bisnis animasi dengan cara mengembangkan networking dengan studio-studio animasi di pelbagai daerah dan TV-TV lokal serta lomba-lomba animasi. Ia juga merintis bisnis merchandise animasi dan properti berbasis animasi seperti layaknya Disney.

Membicarakan industri animasi seakan tak ada habisnya. Salah satu bagian dari 14 subsektor industri kreatif ini memang belum sepopuler industri film, maupun musik. Tapi, perlahan industri animasi ini mulai menggeliat. Lihat saja sukses film Avatar besutan sutradara James Cameron yang menjadi tonggak sejarah bangkitnya film animasi di dunia. Lalu, bagaimana dengan industri animasi di Indonesia?

Meskipun kini industri animasi nasional mulai berkembang, namun masih hanya segelintir orang saja yang memang benar-benar berbisnis di industri animasi. Maklum saja, untuk belajar membuat animasi harus merogoh kocek yang tak bisa dibilang murah. Belum lagi bicara tentang kendala kurangnya scriptwriter yang mampu membuat cerita untuk film animasi. Ditambah dengan kendala pemasaran (marketing) film animasi. Atas dasar itulah, Peni Iswahyurani Cameron mendirikan PT Citra Andra Media (CAM Solutions) sebagai perusahaan yang menjual produk animasi termasuk peralatan dan film. Seperti apakah kiprahnya?

Mengandalkan Bisnis Merchandising

Belum lama pulang dari Singapura memimpin tur para pemenang lomba Indonesia Creative Icon di negeri Singa sebagai hadiah perlombaan, Peni kemudian berbagi kisah bisnisnya di rumahnya yang asri di bilangan Pamulang, Tangerang. Peni bercerita ihwal kecintaannya pada dunia animasi bermula saat buah hatinya masih kecil. Menurut Peni, banyak sekali nilai-nilai edukasi yang positif dalam film animasi yang bisa dijadikan teladan oleh anak-anak, seperti nilai-nilai kesetiakawanan, fighting spirit, dan kedisiplinan. Nilai-nilai itulah yang ingin Peni ajarkan kepada ketiga anaknya, yaitu Russel Cameron, James Cameron, dan Cassandra Cameron.

Kecintaan Peni terhadap dunia animasi lantas diwujudkannya dengan mendirikan PT Adianimas Cipta tahun 1996. “Dulu, animasi kita berbeda jauh dengan sekarang. Dulu yang dikenal adalah animasi 2D yang dalam proses pembuatan satu film animasi melibatkan banyak sekali orang. Untuk proses inking, penciler, maupun proses lainnya masing-masing membutuhkan 20 orang,” jelas Peni. Jadi, betapa tak efisien dan rumitnya untuk proses pembuatan sebuah film animasi saat itu.

Peni yang tadinya berencana membuat sebuah film animasi pun terpaksa batal karena krisis moneter keburu melanda Indonesia tahun 1998 silam. Meskipun bisnisnya hancur, Peni tak patah arang. Peni menggandeng 12 kolega dengan ketertarikan yang sama terhadap dunia animasi dan akhirnya membentuk Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI) tahun 2004.

Namun, jangan dibayangkan dengan membangun AINAKI ini, industri animasi Indonesia bergerak dengan pesat. Anggota AINAKI sendiri pun mengalami keterbatasan dana sehingga untuk mengembangkan animasi bukan perkara mudah. Oleh karena kendala keterbatasan dana itulah, maka pada tahun 2006 Peni mendirikan PT Citra Andra Media (CAM Solutions/CAMS). “Akhirnya saya mendirikan CAMS sebagai sebuah perusahaan yang khusus memasarkan animasi,” kata wanita pehobi dansa salsa ini.

Keunikan CAMS ini adalah perusahaan animasi yang berdiri tanpa memiliki studio produksi sendiri. Pada tahun pertama CAMS mengadakan Road To Animation Festivals di 12 kota di Indonesia. Dengan festival ini, Peni banyak mengenal penyedia konten lokal, media televisi lokal dan event organizer lokal serta studio animasi yang memiliki karya bagus. Hasilnya, Peni pun menggandeng enam studio animasi dari lima kota besar di Indonesia untuk disponsorinya. “Kita justru membiayai studio milik rekan-rekan kita yang notabene masih muda-muda,” jelas Peni.

Selain itu, menjalin networking dengan beberapa stasiun TV dan radio lokal menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Peni. Meskipun terhitung berskala lokal, tetapi kekuatan jaringan di lebih dari 50 kota membuat Peni mantap bekerjasama dengan media lokal. “Bedanya TV lokal dengan TV nasional, TV lokal memang membayar murah untuk satu episode film animasi. Tapi, TV nasional justru memungut bayaran sebelum film animasi itu ditayangkan. Itulah mengapa, TV nasional cenderung membeli film animasi impor,” kata Peni dengan nada gemas. Walaupun TV lokal hanya bisa membayar murah, namun Peni sanggup menggandeng beberapa TV lokal yang bisa untuk menutup biaya produksinya.

Satu media lokal umumnya bersedia membayar seharga Rp500.000 per episode film animasi produksi CAMS, sementara film seri animasi minimal terdiri dari 13 episode. Jadi, jika satu film animasi ditayangkan di 40 TV lokal jaringan CAMS, maka Rp260 juta sudah pasti terkantongi CAMS untuk satu judul film. Dari sebuah produksi film, Peni mematok 50% untuk biaya produksi, 30% biaya marketing dan promosi, sisanya sebesar 20% sebagai profit atau keuntungan. Belum lagi dari penjualan dalam bentuk keping disc yang dijual seharga Rp7.500 hingga Rp10.000. Asumsinya, bila Peni hanya mengambil laba Rp1.000 per keping dan penjualan mencapai 100.000 keping per episode, maka akan ada laba Rp1.000 x 100.000 keping x 13 (jumlah episode) = Rp1.300.000.000 (hanya dari penjualan VCD saja).

Rupanya, dibenak Peni potensi industri animasi bukan hanya pada filmnya saja, tetapi juga pada merchandise karakternya. Istri dari Keith Cameron ini mengakui terinspirasi oleh model bisnis Disney. Disney memiliki dua bagian bisnis yaitu consumer produk dan media network. Bisnis consumer produk Disney adalah seperti merchandise tokoh Mickey Mouse yang sangat diminati kalangan anak-anak. Merchandise yang awalnya hanya dipakai untuk cover meja tulis untuk anak-anak itu sekarang berkembang dengan sangat pesat. Sebut saja, mulai dari pakaian, mainan anak, dekorasi rumah sampai buku, games, makanan dan minuman, elektronik sampai benda-benda seni.

Layaknya karakter Mickey Mouse buatan Disney yang merchandise-nya ada di setiap negara, maka cukup dengan membeli lisensi karakter Mickey Mouse akan terbuka peluang bisnis yang bisa digarap dari bisnis merchandise ini. Apalagi anak-anak adalah potensi pasar yang luar biasa gurih bila digarap dengan serius. Mulai dari produk jam tangan, tas, mainan, buku, penggaris dan stationary lainnya. Peni pun secara serius menggarap bisnis merchandise ini dengan menggandeng (lagi-lagi) TV lokal maupun stasiun radio lokal sebagai outlet “dagangannya”.

Peni sadar benar besarnya potensi pasar dalam bisnis merchandise ini. Ia mencontohkan film Disney yang meskipun telah diproduksi sejak puluhan tahun lalu, namun merchandise-nya tetap dicari orang hingga saat ini. Kesemuanya mengandalkan lisensi dan royalty atas intellectual property atau hak kekayaan intelektual atas film atau karakter animasi tersebut. Bisnis inilah yang memang sengaja dibidik oleh Peni. “Jadi, cukup sekali membuat film animasi, namun bisa bertahan hingga puluhan tahun untuk lisensi merchandise-nya,” ujar Peni semangat.

Seakan tak mau kalah, bila Disney memiliki Disney Park & Resort, Peni pun berencana membuka Hotel Animasi tahun ini. Disini, peran Peni adalah menjual konsep Hotel Animasi pada developer maupun para pemilik hotel untuk merenovasi hotel sesuai dengan karakter yang ditawarkan. Konsep Hotel Animasi ini, akan menyentuh berbagai bidang, seperti interior (bed cover, desain ruangan, berbagai pernak-pernik lainnya). Bisnis lisensi yang nantinya menjadi merchandising yang dibidik Peni akan menghasilkan keuntungan bagi para produser dan kreator. Intellectual property right menjadi sebuah komoditas baru yang menghasilkan rupiah.

Membiasakan Budaya Kreatif

Memasuki tahun keempatnya berbisnis, Peni mengaku masih belum merasakan sukses, meskipun hasil karya animasi yang telah dibuatnya mencapai ratusan buah. Sebut saja film seri 24 menit berjudul Kuci dan Catatan Dian yang merupakan kerjasama dengan dua studio. Sedangkan film seri enam menit antara lain Tora Tori, Bakpia vs Geplak, Him & Her, Island of Paradise, Bani, On-Com, dan Pempek Family. Mengangkat local character dan local culture memang menjadi ciri khas animasi Peni. Tahun ini, Peni bersiap untuk produksi tiga film animasi layar lebar dan akan siap launching pada bulan Agustus.

Peni memang tak pernah lelah mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Road show ke 12 kota (Medan, Padang, Banjarmasin, Balikpapan, Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Bali, Manado, Makassar dan Papua) yang bersinergi dengan RISTEK dan Telkom menjadi agenda tahunan CAMS untuk menjaring dan mengetahui pola perkembangan industri animasi di Indonesia. Tujuannya tak lain adalah memberikan pendidikan, pelatihan dan motivasi kepada animator muda. Semuanya dikemas melalui kegiatan CAMS Award, Indonesia Creative Icon, dan Animart. CAMS Award adalah lomba khusus animasi dan komik dengan slogan CFbC (Creativity & Fun Building Characters) yang bertemakan pembentukan karakter dengan beberapa kategori utama seperti anti korupsi, dampak lingkungan dan menghormati sesama. Hasil kompetisi tersebut berbentuk iklan layanan masyarakat. Sedangkan Indonesia Creative Icon adalah kegiatan lomba spectrum kreatif yang terdiri dari animasi, digital music, digital comic, fashion, craft, music performance, tari, games dan applied science. Tahun ini adalah tahun kedua penyelenggaraan ICI.

Minimnya dukungan pemerintah di sektor industri kreatif menjadi keprihatinan tersendiri bagi Peni. “Yang terpenting buat pemerintah, ciptakan dulu budaya kreatif di Indonesia, baru bisa bicara tentang ekonomi kreatif,” kata pehobi olahraga tenis ini.  Indra Utoyo, chief information officer PT Telkom Tbk. pun mengamini hal tersebut. “Industri animasi ini masih termasuk emerging industries. Jadi, yang terpenting adalah menumbuhkan ekosistemnya dahulu. Ketika ekosistem sudah terbentuk dengan baik barulah industri kreatif ini bisa menghasilkan nilai ekonomi,” papar Indra. Selama ini, pemerintah memang gencar menggembar-gemborkan ekonomi kreatif, namun nyaris minim dukungan. Diperlukan sinergi antara yang tahu (dalam hal ini pelaku industri kreatif), yang mampu (dalam hal ini investor) dan yang kuasa (dalam hal ini pemerintah). Sinergi ketiganya inilah yang diharapkan bisa membangkitkan industri kreatif menjadi sumber perekonomian baru. Agar tak kalah dengan Malaysia, imbuh Indra, pemerintah sudah selayaknya memberikan insentif atau minimal mewajibkan TV nasional menyiarkan sekian persen film animasi lokal. Jadi, tak hanya film animasi Malaysia bertajuk Upin & Ipin saja yang bisa merambah pasar animasi Indonesia, tetapi juga produk animasi Indonesia yang bisa berjaya di negerinya sendiri.

PT Citra Andra Media

Golden Madrid Blok E 9

Jl. Letnan Soetopo,

Bumi Serpong Damai – Tangerang 15310

Telp                : (021) 531 605 44

Faks                : (021) 531 605 45

Website          : http://www.cams.co.id

Email              : marketing@cams.co.id

Testimonial         :

Indra Utoyo, chief information officer PT Telekomunikasi (Telkom) Tbk.

Peni adalah sosok yang tidak pernah berhenti untuk memajukan industri animasi di Indonesia. Passion-nya sangat tinggi dalam mengembangkan bisnis animasi. Karena industri kreatif masih termasuk emerging industries, memang butuh waktu untuk menjadi sumber ekonomi baru. Namun demikian, Peni harus melakukan penajaman dalam hal sisi bisnis model yang sustainable.

Rule of succes a la Peni :

1. Menggandeng stasiun televisi lokal sebagai media pemasaran yang lebih efektif dibandingkan dengan televisi nasional.

2. Tak hanya industri animasinya saja yang bisa digali potensinya. Peni pun merambah bisnis licensing dimana karakter film seri akan dijadikan merchandising, show performance dan property.

3. Bekerja dengan hati (do it with heart).

4. Passion.

5. Tidak mudah menyerah.

6. Selalu konsisten.

Biografi :

Peni Iswahyurani Cameron

Tempat, tanggal lahir           : Surabaya, 13 September 1966

Status                                          : Menikah dikaruniai dua putra dan satu putri

Jabatan                                      :

–      Direktur PT Citra Andra Media (CAM Solutions)

–      Sekretaris Komisi Badan Pertimbangan Film Nasional (BP2N)

Pendidikan    :

– Teknik Arsitektur – Institut  Teknologi Indonesia, Serpong (1993)

Pengalaman Kerja    :

  • 1987 – 1990, PT Datascript – Ergomatic Division – Marketing
  • 1992 – 1996, American Language Training – Marketing
  • 1996 – 1998, PT Adianimas Cipta – Animation Co – Director
  • 2000 – 2004, PT Putriku Jayaupakarti – Trading Co – Director
  • 2004, Founder of AINAKI (Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia)
  • 2004 – 2006, Secretary General of AINAKI
  • 2005 , National Competence Standard – Animation (Team)
  • 2006 – now, PT Citra Andra Media (CAM SOLUTIONS) – Director
  • 2007 – now, BP2N (Badan Pertimbangan Film Nasional – National Film Advisory Board) – Commission Secretary

Awards yang diraih  :

2009               : Finalis Indigo Fellow 2009

2007               : – ANIMART – Best Booth – RITECH EXPO, August 2008

– INAICTA – Winner Start Up Co Category, November 2008

2 responses to “Peni Cameron : Perintis Bisnis Animasi Ala Disney

  1. Baru-baru ini, saya melihat Peni Cameron dan mulai mengenal sosok wanita super yang satu ini. Diam-diam, aku mengidolakannya di hati. Seandainya saja dapat bertemu secara langsung dengan Sang Idola.. Bener2 takjubbbb bangeettt dech..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s