Di Radio (Kayu) Aku Dengar…

Singgih Susilo Kartono

Direktur CV Piranti Works (Magno Wooden Radio)


Singgih memproduksi radio dengan chasing kayu. Uniknya, ia membidik pasar negara maju yang sudah mapan dengan teknologi modern, namun ingin bernostalgia dengan gadget lawas.

Sebelum televisi menjadi sebuah media yang sangat populer di masyarakat, radio merupakan andalan masyarakat. Bahkan, pada masanya, tokoh Pergerakan Kemerdekaan Indonesia mengetahui kekalahan Jepang dari radio. Hingga kini, kendati telah lahir piranti elektronik yang lebih anyar, radio tetap dinanti. “Kami tetap bisa melakukan aktivitas seperti biasa sembari mendengarkan radio,” papar Singgih Susilo Kartono.

Di tangan Singgih, chasing radio tak lagi mengkilat karena terbuat dari logam stainless atau campuran plastik. Melainkan berdesain ultra kontemporer karena terbalut kayu sonokeling dan mahoni. Margno Wooden Radio, merek radio kayu ini, tak dijual di pasar dalam negeri. Melainkan khusus untuk konsumsi ekspor. Tiap tahun, nilai ekspor radio kayu ini mencapai rata-rata US$180.000.

Berjodoh dengan Kayu

Singgih Susilo Kartono, yang lahir dan besar di lingkungan pedesaan, mengaku terbiasa dekat dengan material alam. Pria kelahiran Temanggung, 21 April 1968 ini mengaku cinta dengan produk dari kayu. Selepas kuliah, Singgih bekerja sebagai desainer produk pada PT Prasidha Adhikriya, sebuah perusahaan furnitur, handicraft, dan produk permainan kayu di Bandung hingga tahun 1995. Mundur dari Prasidha, Singgih memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Temanggung. Di kabupaten di kaki Dataran Tinggi Dieng ini, ia dan rekan-rekannya sempat mendirikan PT Aruna Aruntala yang memproduksi wooden toys untuk pasar ekspor. Di perusahaan ini, ia menjadi manajer produksi sekaligus desainer. Singgih pun sempat mengikutkan salah satu desain ciptaannya, yakni radio kayu, ke sebuah kompetisi desain bertajuk International Design Resource Award 2007 di Seattle. Kala itu, desain Singgih berhasil meraih posisi runner up.

Oleh karena impian Singgih untuk  memproduksi radio kayu tak kunjung terwujud, selain karena ada perbedaan pandangan antarpemilik perusahaan, ia memutuskan keluar dan mendirikan CV Piranti Works pada 2004. Berbekal dana pinjaman Rp10 juta dari seorang rekan dan skuter orang tua untuk sarana mobilisasi, ia nekat mendirikan usaha yang tak jauh-jauh dari perkayuan. “Semula saya enggan berusaha di bidang kayu. Biar beda dengan perusahaan yang lama,” aku dia. Tetapi, apa daya, Singgih kembali terseret di kerajinan kayu dengan memproduksi radio kayu impiannya. Sejatinya, radio kayu ini merupakan representasi dari tugas akhir Singgih di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada awal pendirian Piranti Work ini, Singgih hanya membuat kaca pembesar (magnifying glass) berbingkai kayu dalam berbagai desain dan ukuran. Salah satunya, kaca pembesar berbentuk elips yang ketika dibuka akan menyerupai huruf “g”. Dari produk awal itu, maka tercetuslah brand Magno yang berasal dari kata “magnifying”. “Kaca pembesar ini bagi saya mempunyai nilai filosofi tersendiri, yakni melihat segala sesuatu secara detail,” papar Singgih. Dalam perkembangannya, Piranti Works memproduksi alat tulis kantor (stationery) dan radio kayu, sesuai impian Singgih.

Pada 2005, saat radio kayu versi awal masih berbentuk sederhana. Namun, lama kelamaan bentuknya makin menarik tanpa menghilangkan unsur kontemporer. Sejatinya, Magno Wooden Radio ini terdiri dari dua jenis. Jenis yang pertama adalah personal radio dengan bentuk kotak kecil dengan dua buah knob untuk tunner, pegangan, dan antena. Untuk jenis ini, tanpa ada display gelombang seperti yang jamak ditemui pada radio zaman dahulu. “Tanpa display tersebut, yang merupakan komponen utama radio, pendengar bisa melatih kepekaan pendengaran,” terang Singgih. Meski demikian, radio jenis ini begitu disukai oleh pasar Jepang dan Eropa. Radio ini memiliki dua kombinasi warna dari dua jenis kayu yang berbeda. Kayu sonokeling yang berwarna gelap menjadi sisi depan personel radio ini, dan sisanya didominasi oleh kayu mahoni yang berwarna terang.

Adapun jenis kedua adalah tipe radio meja, yang terdiri dari dua model, yakni  WR03-CUBE/4B dan WR03-RECT/4B. Sesuai namanya, “cube” maka radio ini berbentuk kubus tanpa sudut lancip. Sementara itu, “rect” yang berasal dari kata rectangular (persegi panjang) memiliki ukuran lebih panjang. Berbeda dengan personal radio, tipe radio meja ini memiliki tiga knob, antena, dan tentunya display gelombang. Bentuk radio meja ini mengingatkan pada ikon radio jadul yang begitu melegenda, terlihat seperti kotak dengan panel depan dan belakang berbentuk lengkung. Oleh karena memiliki ukuran lebih besar, radio jenis ini relatif sulit untuk dipindah-pindahkan. “Namanya juga radio meja jadi memang didesain tidak portable,” kata bapak dua anak ini. Menurut dia, pasar Amerika merupakan penggemar sejati model ini.

Pada dasarnya, radio yang membutuhkan empat baterai ukuran AAA untuk bisa bersuara ini dapat menangkap sinyal AM dan FM. Bahkan, dengan channel FM, pendengar bisa menangkap siaran TV analog, tentu saja hanya suara yang terdengar.

Tebang Sedikit, Tanam Banyak

Kendati memiliki divisi mainan dengan merek Toys for Soul, produk ini tak diciptakan untuk anak-anak, melainkan orang dewasa yang butuh relaksasi dan rekreasi. “Saya ingin konsumen bernostalgia, mengingat kembali masa kecil yang indah,” ucap dia. Produk mainan ini antara lain gasing, boneka berbentuk alien atau ikan yang badannya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan. Begitu juga dengan divisi alat tulis, Singgih tetap menawarkan desain yang tak membuat orang bosan. Menariknya, semua produk Piranti Works ini dibungkus dengan kotak dari kayu albasia lengkap dengan petunjuk pemakaian dan penyimpanan. Bahkan, ia menaruh pesan bertuliskan “Jangan beli produk saya, bila Anda tidak memiliki waktu untuk merawatnya.” Sebab, kata pemenang Good Design Award Japan 2008 (G-Mark) untuk kategori Pioneering & Experimental Design ini, produk kayu membutuhkan perawatan lebih intensif ketimbang produk dengan bahan dasar plastik atau besi. Singgih menyarankan agar konsumen mengolesi permukaan radio dengan teak oil dan melap dengan kain lembut secara rutin agar keindahannya terjaga.

Oleh karena berorientasi ekspor, produk karya Singgih ini sulit ditemui di pasar dalam negeri. Untuk pasar lokal, Singgih Singgih hanya memasarkan produknya situs belanja online http://www.idegift.com dan toko buku Aksara dengan harga berkisar antara Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta. Keterbatasan ketersediaan Magno dipasar domestik ini disebabkan karena dirinya belum mampu memenuhi permintaan pasar dari luar.   Sedangkan untuk pasar ekspor, ia membanderol dengan harga antara US$49 hingga US$90. “Magno ini benda koleksi yang personal, bukan komoditas. Sehingga harganya memang relatif lebih mahal,” kata dia. Tiap bulan, perusahaan dengan 33 karyawan, yang seluruhnya berasal dari warga desa Kandangan, Temanggung ini hanya mampu memproduksi 200 unit. Ke depan, ia menargetkan akan menampung 1.000 perajin lokal, yang berarti menyerap seperempat warga desa, untuk menggenjot kapasitas produksi hingga dua kali lipat, tiap bulannya.

Menurut Singgih, material kayu yang dipakainya memiliki arti kesempurnaan. Menurut dia, kekuatan dan kelemahan kayu bisa digunakan secara bersamaan. “Material yang sempurna itu terletak pada keseimbangan yang diberikannya. Kayu mengajarkan kita akan adanya batas itu,” papar Singgih. Di zaman modern ini, manusia sering melupakan batas-batas keseimbangan itu. “Kondisi tak seimbang itu adalah lampu merah bagi kita,” tambahnya.

Itu sebabnya, ia begitu peduli ada kelestarian alam dan lingkungan. Setidaknya, 10% dari hasil penjualan produk Piranti Works, ia sisihkan untuk usaha pembibitan dan penanaman pohon. Bahkan, workshop Piranti Works yang berada di areal 2.200 meter persegi ini berbagi tempat dengan area pembibitan pohon sengon, mahoni, sonokeling, dan pinus. Asal tahu saja, kayu hitam Sonokeling baru bisa digunakan sebagai material setelah berusia 50 tahun. Tak cuma itu, ia menggandeng SMP Negeri 3 Bulu yang berada di kaki Gunung Sumbing untuk melaksanakan Eco Program for School yang salah satu programnya adalah menanam pohon secara berkala. Ia menerapkan prinsip tebang sedikit tanam lebih banyak. Jadi, tak asal menebang pohon untuk memproduksi radio kayu. “Kita memiliki sumber daya kayu, sehingga kita harus menggunakannya secara bijaksana,” tegasnya. ###

Testimonial :

Irvan Noeman, Presiden Direktur PT BD+A Design

Singgih tahu bagaimana mengkombinasikan antara local value dengan modern design. Magno menjadi bukti bahwa desain yang bagus bisa memberikan nilai tambah. Perpaduan antara modern, sustainable, eco friendly, dan bisa diterima oleh pasar.

Magno Wooden Radio

CV Piranti Works

Krajan 1 RT 02/RW 07 Kandangan

Temanggung, Jawa Tengah 56821

Telp                 : 0293-4900 894

Faksimile       : 0293-4900 894

Email               : singgihskartono@yahoo.com

Website           : www.magno-design.com

One response to “Di Radio (Kayu) Aku Dengar…

  1. salam sukses M.singgih kenalkan nama saya dennis aku salut atas perkembangan yang sekarang anda dapatkan hanya bermodalkn kayu dadaerah sendiri anda bisa dan pengalaman anda` anda bisa meraup sebuah imkam yang luar biasa?????????? tolong ajari saya gimana saya bisa memasarkan bahan kayu sonokeling saya untuk dipasarkan ke luar negri tlg ajarin saya trimakasih. salam sukses????? dr. dennis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s