Era Soekamto: Mereguk Laba dari Brand DNA

Era Soekamto

Managing Director PT Urban Production (Urbancorp Indonesia)

Fashion put it all on me

Don’t you want to see these clothes on me

Fashion put it all on me

I am anyone you want me to be

Oh oh la la la

We love designer…

Sepenggal bait dari lagu Fashion milik Lady Gaga nampaknya mencerminkan bahwa wanita identik dengan fashion up date. Tak jarang, wanita bersedia menjadi fashion slave demi penampilan dan berakibat pada perilaku konsumtif yang menggila. Namun demikian, dunia fesyen selalu menarik untuk disimak. Bisnis di dunia fesyen ini akan selalu menarik mengingat sandang adalah kebutuhan utama manusia selain pangan dan papan. Terlebih lagi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa adalah potensi pasar yang sangat gurih untuk digarap.

Meskipun perkembangan dunia tata busana di Indonesia belum sepesat di Milan, New York, Paris ataupun London tapi kemampuan perancang busana Indonesia tak usah diragukan lagi. Jakarta Fashion Week 09/10 yang digelar 14-20 November 2009 lalu menjadi salah satu event fashion week utama di Indonesia yang memberikan arahan fashion Indonesia dan memeragakan bakat serta kreativitas dunia fashion Indonesia. JFW ini diikuti oleh 60 fashion designer terkemuka di Indonesia. Salah satunya adalah Era Soekamto, pemilik brand Urban Crew yang sempat menghilang dari dunia fashion selama tiga tahun. Bisa dibilang, inilah ajang pembuktian kembalinya brand Urban Crew yang siap meramaikan dunia fashion di Indonesia. Tak heran bila tema yang diusung Era pada JFW 09/10 adalah Urban Crew Back From Journey 2010.

Berawal Dari Dreambox

Urban Crew is Back! bunyi press rilis Era Soekamto dengan brand-nya Urban Crew kala mengikuti Jakarta Fashion Week 09/10. Inilah momentum kembalinya Urban Crew setelah sempat vakum selama tiga tahun. Meskipun begitu, rekam jejak Era Soekamto sebagai fashion designer memang tak perlu diragukan lagi. Desainer yang pernah menggarap desain dan pemesanan kostum untuk film Ca Bau Kan, Janji Joni dan Ekspedisi Maladewa ini termasuk dalam jajaran fashion designer top di Indonesia. Cukup sulit menculik waktu fashion designer wanita yang memiliki ciri khas desain etnik ini. Pasca JFW 09/10 yang digelar pertengahan November lalu, Era masih terbelit dengan kesibukan persiapan Trend Show IPMI 2010 yang digelar pada Jumat (4/12) silam. Dan akhirnya pada Selasa (22/12) sore yang cerah, berlokasi di Gaya Boutique, Plaza Indonesia – Era Soekamto yang nampak anggun dengan berbalutkan minidress hitam dengan lilitan scarf di lehernya meluangkan waktunya kepada Warta Ekonomi bercerita seputar bisnis dan kecintaannya pada dunia fashion di Indonesia.

Era bertutur bahwa sedari kecil dirinya memang gemar dengan dunia fashion dan bercita-cita menjadi perancang busana. Era kecil pun memiliki hobi menggambar, mengkliping foto-foto fashion dan mengkoleksi berbagai warna baru yang menarik untuk dikoleksinya sejak kelas lima SD. “Baru saya sadari belakangan bahwa itu adalah dream box saya,” tuturnya. Cita-cita menjadi desainer itu pun tak pernah luntur sedikit pun dalam kehidupan Era. Hingga Era menginjak bangku sekolah menengah atas Era mengambil jurusan Fisika di bangku SMA karena dirinya ingin menjadi desainer yang pola pikirnya berstruktur. Barulah ketika lulus SMA, Era fokus mewujudkan mimpinya dengan melanjutkan kuliah di sekolah mode Lasalle International Fashion College di Singapura.

Perjalanan karirnya di dunia fashion di mulai dalam usia yang sangat belia yaitu ketika menginjak umur 20 tahun. Era sempat bekerja di pabrik tekstil Tarumatex sebagai perancang dan mengajar pada Lassale Jakarta. Kemudian Era mengikuti Indonesia Young Designers Contest dan menjadi juara. Kemenangan inilah yang menjadi debut Era bersama Ichwan Thoha mendirikan Urban Crew di tahun 2007. Mengapa memilih mendirikan Urban Crew? “Lebih kepada aksi ketidak puasan saya melihat fashion di Indonesia yang masih sangat terkotak-kotak industrinya,” kata Era. Saat itu, menurut Era belum ada brand fashion lokal yang mampu menggabungkan antara kreativitas dan brand positioning fashion designer. Kekuatan industri garment pada produksi masal dan terintegrasi tidak bisa sejalan dengan kemampuan fashion designer yang berdiri sendiri-sendiri. Padahal bila keduanya disatukan ditambah dengan kekuatan entrepreneurship akan menghasilkan brand lokal yang kuat dan bisa bersaing dengan brand internasional lainnya.

Berbekal modal yang merupakan tabungan dari gajinya bekerja di perusahaan tekstil itulah menjadi titik awal kiprah Era. Pengagum Coco Chanel ini pun mengakui bahwa Urban Crew dimulai dengan sistem sersan (serius tapi santai). “Jadi modal bukan faktor utama, melainkan konsep, dan kinerja yang prima,” tandas Era. Era pun memulai bisnis dari rumah yang merangkap menjadi workshop sekaligus butik di bilangan Radio Dalam. Dua hal itulah ditambah dengan keberanian dan networking yang kuat, akhirnya mendorong Era dan Ichwan mendatangi Dupont Lycra untuk menjadi sponsor peragaan tunggal mereka pertama. Pagelaran pertama pun sukses. Era muncul di saat yang tepat, dengan target market anak muda di segmen menengah-atas yang haus akan mode fashion dan merek luar yang belum banyak berdatangan ke Indonesia. Sejak itu, Era siap unjuk gigi sebagai brand lokal baru yang siap bersaing. Energi dan idealisme yang masih sangat luar biasa ditunjang dengan sifat agresif khas anak muda akhirnya berhasil mendongkrak brand Urban Crew meledak di pasaran.

Bekerja di Balik Layar

Sayangnya, meledaknya brand Urban Crew ini tidak dibarengi dengan kesiapan menjalankan bisnis secara serius. “Keagresifan saya lebih ke branding-nya tapi enggak balance dengan bisnisnya,” kata Era. Faktor kuantitas produksi yang tidak berimbang menjadi kendala utamanya. Di tahun kesembilan, tepatnya tahun 2006 Era menarik brand Urban Crew, dan menggarap pasar ekspor yang menurutnya lebih menjanjikan. Keputusan bisnis yang diambil memang cukup berat, mengingat penarikan brand ini disaat Urban Crew tengah berada di puncak ketenaran.

Pasar ekspor memang menggelitik bagi Era, tak lain karena perkara kuantitas. “Gampangnya, di pasar lokal saya buat 15 desain terjual 20 pieces. Sementara untuk ekspor satu desain bisa terjual hingga 100-500 pieces,” urai Era. Menyadari bahwa dirinya membangun brand Urban Crew di Indonesia, maka ketika memasuki pasar ekspor produk Era tak lagi menggunakan brand Era Soekamto. Dibawah bendera Unique Indonesia dengan segmen internasional buyers, Era berekspansi ke Hong Kong, Amerika Tengah, dan India. Tak hanya menggarap pasar ekspor saja, Era juga melakukan pembenahan di beberapa divisi perusahaannya. Oleh sebab itu. Era enggan disebut vakum. “Saya hanya bekerja di balik layar, tidak berarti saya vakum,” katanya.

Kini, setelah tiga tahun vakum dari dunia mode Era siap menggebrak dunia fesyen Indonesia dengan pengelolaan manajemen yang lebih terintegrasi, profesional dan out of the box. Saat ini, UrbanCorp memayungi empat divisi diantaranya, high fashion designer label (Era Soekamto), ready to wear (Urban Crew), uniform design and production services (Urban Garmindo) dan Indonesian fashion artwork design and production specialist (Unique Indonesia).

13 tahun sudah perjalanan karir Era sebagai fashion designer telah dijalani. Bukan waktu yang sebentar dengan berbagai pembelajaran sebagai fashion designer sekaligus entrepreneur yang bisa menggabungkan antara kemampuan untuk think out of the box dan pengetahuan manajemen berbasis motivasi. Bisnis mapping dan dream planning menjadi kata kunci pengagum Tom Ford dalam mempertahankan bisnis. Baginya, ada sebuah rantai yang saling berkaitan antara kreativitas, think out of the box, komitmen, pengutamaan kualitas, dan mengutamakan karyawan. Dalam pengelolaan karyawannya Era menggunakan pendekatan holistik yaitu dengan memberikan wadah bagi karyawan dan meng-empower kemampuan setiap karyawan. Era memberikan kesempatan kepada karyawan untuk terus berkembang sesuai dengan mimpi dan keinginan mereka dengan memberikan stimulant. “Saya cukup memberikan arahan, selanjutnya saya serahkan mereka dengan kreativitasnya saya biarkan mengalir. Kelak, mereka akan menjadi kepanjangan tangan dari Era. Walaupun dengan pendekatan ini memiliki resiko karyawan yang tak loyal, Era tak gentar. “Just let go,” ujarnya santai.

Kekuatan Brand DNA

Era boleh tersenyum lega. Usaha yang dirintis selama 13 tahun kini sudah mulai menampakkan hasilnya. Urban Crew sebagai brand ready to wear masih tetap dinanti oleh fashionista Indonesia, terbukti bahwa upaya branding yang dilakukan oleh dulu berhasil. Ditambah pula dengan kesuksesan brand Era Soekamto sendiri yang menangani dua lini yaitu made to measure dan couture line. Label Era Soekamto yang menyasar segmen hi-fashion designer label mematok harga Rp1,8 juta hingga di atas Rp25 juta. Sementara untuk Urban Crew sendiri dipasang harga Rp200 ribu hingga Rp2,2 juta. Era mengaku bahwa dalam memberikan harga ini berdasarkan riset dan adjustment dari kompetitor. Mengapa demikian? Era pun harus menyeimbangkan antara harga dengan para pesaingnya dan tetap mengutamakan para customer-nya yang adalah segmen kelas menengah atas. Dari harga tersebut, Era mengaku mampu mereguk profit margin hingga 1000%. Sementara dari Urban Garmindo, 40% nya bisa diraih sebagai keuntungan bersih. Bisnis yang gurih bukan?

Memang tak mudah menjalankan dua brand yang bertolak belakang. Disatu sisi, Urban Crew yang identik dengan citra keras, agresif dan berapi-api, sementara label Era Soekamto mencerminkan citra wanita yang elegan, mewah dan anggun. Namun, hal itulah yang menjadi kelebihan Era Soekamto dengan kemampuan dualisme desainnya. “Saya harus bisa men-switch otomatis saat saya harus mendesain Urban Crew dan saat saya mendesain Era Soekamto,” jelas wanita yang aktif dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia ini. Seorang fashion designer, tambah Era harus bisa melihat brand DNA sebagai sebuah kekuatan. “Saya harus mengurai DNA dari sebuah brand, baik dari sifat, detail, teknik, bahan, dan akhirnya bisa men-define karakter brand yang saya punya,” urai wanita yang menjadikan Redcliff sebagai film favoritnya.

Era kini kian mantap menjalani profesi sebagai fashion designer sekaligus entrepreneur. Begitu pula dengan langkah bisnisnya yang kian matang meskipun tak lagi agresif dan menjadi pragmatis, menyesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya. “I can’t believe, di usia saya segini, I’ve done so many thing. Dan saya bersyukur,” imbuh Era. Namun, tak berarti langkah Era terhenti. Wanita kelahiran Ampenan, Lombok 3 Mei 1976 silam ini tengah menikmati perannya sebagai salah satu tim pakar cagar Tenun Badui dengan Cita Tenun Indonesia. sambil terus menggenjot Urban Crew sebesar mungkin. “Menyaingi Zara!” ucapnya yakin saat berbagi tentang obsesi terbesarnya. Sesuai dengan targetnya membangun brand Urban Crew menjadi percontohan brand lokal yang dapat go internasional.

PT Urban Production

Taman Radio Dalam V, Jl Deltasari F2 – 45

Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12140

Telp                 : (021) 985 662 52

Faksimile        : (021) 727 987 23

Website          : www.urbancorpindonesia.com

Email               : info@urbancorpindonesia.com


Testimonial :

Luwi Saluadji Purbodiningrat, owner of Postour & Co

Era adalah sosok yang cukup professional dan bisa diandalkan. Era menjadi salah satu fashion designer Indonesia yang berhasil membangun perusahaan fashion terintegrasi. Kesuksesannya sekarang dalam membangun brand tentu harus dibarengi dengan kesuksesan secara materi. Namun begitu, Era harus memiliki konsistensi dan keinginan untuk selalu meningkatkan kemampuan dan perbaikan diri agar tetap eksis di bisnis ini.

Rule of succes a la Era :

  1. Berani untuk menjadi berbeda!
  2. Memiliki keunikan terhadap setiap produk maupun desainnya dan attention to the detail.
  3. Maintain a good relationship with everybody dan always empower people and ourself.
  4. Be passion to the industry and the community.
  5. Tak pernah berhenti belajar.

Profil :

Era Soekamto

Tempat, tanggal lahir      : Ampenan, Lombok, 3 Mei 1976

Status                                    : Belum menikah

Jabatan                                :

–       Founder dan managing director PT Urban Production

–       Fashion consultant dan public relation for PT Indonesia Wacoal

–       Fashion Consultant for Brand Aid consultant group to apprehand several re-branding  korean fashion brand Ramses and hisgesture

Pendidikan                       :

–       Lasalle International Fashion College Singapura (1995)

Awards yang diraih         :

1997 – 2004               :

–      Runner up Indonesia Young designer contest Jakarta,

–      Runner up Asian Young Designer contest Singapore,

–      Best Illustrator Indonesian Fashion week Jakarta,

–      Semi Finalist Surrealism fashion contest at Switzerland.

–      Best up coming designer A+ Magazine Fashion Award, Evian Bottle fashion icon,

–      Designer of the year Dara magazine

–      Nominated of Brand of the year Nokia and A+ magazine fashion award.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s