Sinnob Sprocket Gear: Peredam Masalah Moda Roda Dua

Hobi dan latar belakang di industri otomotif mengantarkan Bardi pada Sinnob. Hasil temuan Bardi ini berupa sprocket gear yang dilapisi polimer poliuretan, dan diklaim sebagai yang pertama di dunia. Alat ini mampu mengatasi permasalahan seputar sepeda motor. Potensi bisnisnya luar biasa besar mengingat populasi sepeda motor di negeri ini yang mencapai 35 juta unit.


Tiga tahun silam, Ardi sering mengeluhkan suara sepeda motornya yang sangat berisik. Menurutnya, dengan performa suara yang mengganggu, motor yang harganya tidak bisa dibilang murah itu jadi tampak murahan. Oleh karena tak mendapatkan jalan keluar dari permasalahan itu, Ardi pun memilih menjual motornya.

Persoalan di atas memang jamak terjadi pada pengguna sepeda motor di Indonesia. Apalagi populasi sepeda motor di negeri ini telah mencapai 35 juta unit. Potensi yang sangat “gurih” ini ditangkap oleh A. Bardi dengan mengembangkan Sinnob, sprocket gear yang mampu mengatasi permasalahan yang sering dihadapi pengguna sepeda motor, seperti suara mesin yang berisik, mesin yang cepat panas, dan sebagainya. Bardi menghadirkan inovasi ini untuk meredam masalah-masalah tersebut.

Berlapis Poliuretan

Tidak mudah menemukan kantor PT Abdi Metal Perkasa di bilangan Depok, Bogor. Letaknya yang berada di dalam gang, membuat kantor sekaligus pabrik itu terkesan nyempil. Namun, siapa sangka, ketika masuk ke dalamnya, pabrik PT AMP ternyata sangat luas. Berbagai mesin berukuran jumbo ada di dalam pabrik yang memproduksi beberapa komponen otomotif tersebut.


Selama sepuluh tahun lamanya, Bardi melakukan riset untuk menghasilkan Sinnob ini. Tak terhitung pula berapa dana yang telah digelontorkan untuk proses riset dan pengembangan ini. Namun,   Bardi memiliki mental pantang menyerah. Hingga akhirnya terciptalah Sinnob yang merupakan akronim dari sprocket gear innovation of Mr. Bardi.Sprocket gear merupakan salah satu sistem dari sebuah motor untuk memindahkan tenaga secara mekanis melalui rantai sebagai perantara. Gesekan antara rantai dan sprocket gear inilah yang sering kali menimbulkan masalah. Mulai dari bisingnya suara motor, belum lagi panas yang berlebih yang bisa mengakibatkan berkurangnya efisiensi performa motor.


Inovasi Bardi ini justru berawal dari pengalaman pribadinya menggunakan sepeda motor Honda Tiger dan mengalami masalah seperti yang dikeluhkan Ardi dan ratusan pengguna motor lainnya, yaitu gesekan antara gir (gear) yang menimbulkan suara berisik. Bagi pehobi otomotif ini, pemeo “di balik ancaman selalu terselip peluang” terbukti kebenarannya. Otak Bardi berpikir keras untuk mencari solusi permasalahan yang dia hadapi. Tidak tanggung-tanggung, Bardi rela menggelontorkan uang Rp6 juta untuk membeli belt gear Harley-Davidson demi risetnya. Hasilnya, sebuah ide jenius, yakni melapisi sprocket gear biasa dengan polimer poliuretan (polyurethane).


Mengapa poliuretan?  Karakter polimer ini memiliki sifat yang elastis, liat, dan tahan lama. Selain itu, polimer ini biasa digunakan pada industri cat, pelapis antikimia pada besi, kayu, dan bahan bangunan. Sifat elastisitas ini meredam gesekan antara rantai dan sprocket gear sehingga tidak berisik. Selain itu, dengan faktor gesekan yang kecil, maka, efeknya, tenaga yang ditransmisikan ke roda menjadi lebih besar. “Hasilnya, performa kendaraan pun menjadi lebih optimal,” tandas Bardi.


Bapak satu anak ini tidak pelit berbagi proses pembuatan sprocket gear-nya. Tahap pertama, gir besi dikikir ulang di bagian gerigi, kemudian dilapisi dengan polimer poliuretan dengan dipanaskan di mesin pres hidrolik (hydraulic press) dengan suhu 100 derajat Celsius selama delapan menit. Gir besi yang telah berlapis poliuretan tersebut kemudian dirapikan dan dimasukkan kembali ke mesin oven bersuhu tinggi. Dalam proses dioven ini sekaligus dilakukan pula proses pewarnaan. “Pewarnaannya pun menggunakan cat poliuretan,” imbuh pria yang pernah berkarier di Grup Astra ini. Selanjutnya adalah proses pelabelan dan pengepakan,  yang merupakan tahap terakhir.


Sinnob bisa digunakan untuk  Honda Tiger, Honda Mega Pro, Suzuki Thunder, Yamaha Scorpio, Yamaha Vixion, Kawasaki Ninja, dan motor bebek. Hingga saat ini, Bardi mampu membukukan omzet Rp3 miliar hingga Rp4 miliar per tahun.

Si Rambo, The One Man Show


Ternyata tak hanya sukses menciptakan inovasi sprocket gear, Bardi juga berhasil membuat mesin pres hidrolik yang digunakan dalam proses produksinya. Ada dua alasan yang melatarbelakangi pembuatan mesin ini. “Saya ini seperti Rambo. Senang sekali mengerjakan semuanya sendiri, karena, bagi saya, ada kepuasan tersendiri,” ujar pria jebolan ATMI Surakarta ini. Dalih kedua, alat buatannya jauh lebih ekonomis ketimbang membeli mesin yang sudah jadi. Bahkan harganya bisa separo dari harga di pasaran yang mencapai sekitar Rp82 juta. “Jika membuat sendiri hanya seharga Rp30 juta,” ujarnya. Saat ini, Bardi telah berhasil membuat 20 unit mesin yang digunakannya sendiri.


Bahkan, Bardi menargetkan memproduksi 120 unit mesin pres hidrolik hingga 2015, atau 20 unit per tahun. Dengan demikian, kapasitas produksi sprocket gear-nya bisa meningkat menjadi 5.000 buah per hari atau setara dengan 125.000 buah per bulan. Saat ini kapasitas produksinya baru 2.000 buah per bulan.

Saat ini, selain memproduksi Sinnob, Bardi bersama PT Abdi Metal Perkasa juga mencetak komponen suku cadang Vespa. Bardi pun memproduksi ceramic mold processes atau alat pencetak keramik dan genteng. Bahkan, PT KIA Keramik Mas kini menjadi klien utamanya. “Mold berlapis poliuretan ini justru produksi pertama saya sebelum Sinnob,” ujar Bardi. Ia juga tengah melakukan riset untuk inovasi terbarunya yang masih berkutat di dunia otomotif. “Tidak jauh dari dunia otomotif, karena memang hobi saya adalah utak-atik otomotif,” ujarnya, terkekeh.

Sayangnya, meskipun produk-produk Bardi tak kalah dengan produk luar negeri, kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri masih rendah. “Untuk mengakalinya, pada desain cover ditulis ‘USA Technology’ agar orang lebih aware terhadap produk kami yang notabene produk lokal,” ungkapnya, prihatin. Menyedihkan memang, ketika karya anak bangsa diremehkan oleh bangsa sendiri, sementara kualitasnya setara bahkan jauh lebih baik dari produk luar negeri. Kecintaan terhadap produk lokal unggulan inilah, menurut Bardi, yang perlu ditumbuhkan kembali agar produk kita bisa bersaing dengan produk luar. Setuju!

MARTHAPURI DWI UTARI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s