BioCeramics: Septic Tank Alternatif

Persoalan sanitasi dan limbah tak henti-hentinya diperbincangkan khalayak. Untuk mengatasinya, Andreas Susanto menciptakan Bioceramic sebagai septic tank alternative yang ramah lingkungan serta hemat tempat maupun biaya.

Banjir agaknya menjadi kata yang akrab terjadi di ibukota. Hampir setiap tahunnya Jakarta dilanda banjir. Tak mengherankan memang bila banjir kerap menyambangi Jakarta karena system drainase yang tak cukup baik. Belum lagi bicara mengenai sanitasi masyarakat di Indonesia yang ternyata belum tertata dengan baik pula. Berbicara sanitasi yang tak teratur selalu berkaitan dengan pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air.

Berdasarkan data Susenas yang dikutip dari www.sanitasi.or.id menyebut bahwa pada tahun 2007 terdapat 50,86% dari total penduduk Indonesia yang belum memiliki septic tank. Kenyataan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi persoalan limbah yang belum terselesaikan. Masalah pembuangan limbah manusia (septic tank) yang berakibat pada pencemaran air tanah bila tidak terkelola dengan baik. Septic tank biasanya membutuhkan bak penampung yang cukup besar dan memakan tempat. Sementara untuk kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan, septic tank menjadi sebuah persoalan tersendiri. Belum lagi persoalan rutinitas kuras WC, bau dan belum lagi kala banjir melanda menjadi persoalan yang melingkupi sanitasi lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut Andreas Susanto menciptakan sebuah alat pengganti septic tank yang bernama Bioceramic. Bioceramic adalah alat yang berfungsi sebagai penghancur tinja sekaligus sebagai filter pengolah limbah. Bebas kuras, hemat tempat dan hemat biaya diklaim menjadi kelebihan dari Bioceramic ini.

Kisi-Kisi Keramik Penghancur Tinja

Andre mengawali riset tentang produk ini pada tahun 2001. Saat itu, bersama dengan rekannya yang baru saja kembali dari Jerman memiliki konsep membuat bisnis yang ramah lingkungan. Pencemaran air tanah dan air sumur khususnya pencemaran septic tank menjadi perhatian utama bagi Andre. “Pencemaran dari septic tank itu pada resapannya, sehingga air tanah dan air sumur tidak bisa diminum,” ujar Andre.

Atas dasar itulah, Andre menciptakan alat pengganti septic tank yang ramah lingkungan. Prinsip kerjanya sangat sederhana, karena tanpa menggunakan listrik, mesin ataupun peralatan teknis lainnya. Septic tank alternative ini terdiri dari dua kompartemen yang berbahan dasar beton atau fiberglass yang memiliki fungsi berbeda. Mengapa beton ataupun fiberglass? Hal ini tak lain karena konstruksi yang lebih kuat bila ditanam di dalam tanah dan kedap air. “Sehingga kotoran yang belum terolah tidak mencemari air tanah atau air sumur,” jelas Andre.

Kotak pertama adalah kotak yang berfungsi sebagai filter WC dan terdapat filter kontrol diatas permukaannya. Dan kompartemen kedua adalah filter penyaring limbah (PL). Tinja dan kotoran yang berasal dari kloset akan masuk ke kompartemen pertama ini. Di dalam kompartemen pertama inilah baik kotoran padat maupun cair akan diolah kembali menjadi cair. Kotoran padat yang berupa tinja yang telah masuk akan diuraikan dan dihancurkan melalui kisi-kisi keramik yang ada di dalamnya. Proses penghancurannya pun hanya memakan waktu sekitar 20 menit hingga menjadi kotoran cair. Di dalam filter WC ini terdiri dari dua lapis kisi-kisi keramik dengan ukuran yang berbeda. Kisi-kisi ini berasal dari keramik yang didatangkan dari Jerman dan mengandung bakteri alamiah khusus yang mampu mengurai tinja.

Selanjutnya, kotoran yang telah diolah dalam filter WC akan masuk ke filter PL. Di dalam kompartemen kedua inilah maka air limbah dari filter WC akan dinetralisir dengan air sabun. Tak hanya limbah yang berasal dari filter WC saja, limbah wastafel, dapur maupun tempat cuci piring pun akan ditampung dalam filter PL ini. Limbah tersebut bercampur dengan air sabun dan menetralisir dari bakteri Escherichia Coli, bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Andre pun mengklaim dengan campuran air sabun dengan limbah akan membunuh bakteri E Coli tersebut. Sayangnya, Andre belum melakukan riset lebih lanjut mengenai kandungan bakteri E Coli pada limbah olahannya.

Hasilnya? Air dapat disalurkan ke parit ataupun got bahkan bisa dipergunakan untuk menyiram tanaman karena bisa diserap oleh tanah. Sayangnya, air tersebut belum bisa dikonsumsi oleh manusia sebagai mestinya. “Kita belum ada penelitian lebih lanjut agar hasil uraian limbah ini layak dikonsumsi,” ujar pria kelahiran Purwokerto, 17 November 1958 ini.

Tak Melulu Permukiman

Andre membagi tiga tipe produknya berdasarkan kapasitas penggunanya. Untuk produk tipe A berkapasitas sebanyak 10 orang, tipe B berkapasitas 20 orang, dan tipe C dengan kapasitas hingga 75 orang. Klien Andre tak melulu kawasan permukiman saja. Baru-baru ini Andre justru mendapatkan order dari hotel Aston Papua yang ingin menggunakan produknya sebagai pengganti septic tank. Bila kapasitas terbesar hanya 75 orang, bagaimana dengan penggunaan di hotel, apartemen maupun perkantoran? “Cukup pasang dengan pola parallel,” tandasnya mantap. maksud parallel disini adalah misalnya sebuah hotel dengan kapasitas 300 orang maka akan membutuhkan empat buah BioCeramics dengan tipe C. Harga jual per produk pun cukup reasonable dan terjangkau. Untuk produk Bioceramic berbahan beton tipe A dengan kapasitas 10 orang seharga Rp3,5 juta, tipe B seharga Rp5 juta dan tipe C seharga Rp7,5 juta. Sedangkan Bioceramic berbahan fiberglass lebih mahal Rp1 juta dibanding yang berbahan beton.

Walaupun relative mudah dalam pemasangan maupun penggunaan, Andre mengisyaratkan beberapa hal yang harus diikuti oleh konsumennya. Bapak tiga anak ini pun menegaskan dalam hal pemasangannya bisa ditanam ataupun diletakkan di atas permukaan tanah selama posisinya lebih rendah daripada kloset. Kedua, mengenai pipa sambungan sebaiknya menghindari pipa yang berbentuk T dan menyarankan untuk menggunakan pipa bersudut 45˚atau berbentuk Y. Hal ini masuk akal mengingat untuk menghindari aliran air yang tersumbat. Selebihnya, perawatan standar dengan menghindari masuknya benda-benda asing seperti plastic, pembalut yang bisa menyumbat aliran air limbah.

Andre yang sebelumnya berprofesi sebagai wirausaha di bidang jual beli mobil ini memang banting setir ke bisnis yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini tak lepas dari keprihatinannya terhadap pencemaran khususnya pencemaran air. Kini, di tahun ke delapan, kapasitas produksinya telah mencapai 1.000 buah per bulannya. Namun Andre masih belum merasa puas dengan pencapaiannya ini. pencemaran lingkungan masih menjadi concern utamanya sambil terus melakukan perbaikan terhadap Bioceramic.

Profil Inovator

Nama                    : Andreas Susanto

Jabatan                 : Direktur PT Andre San’t Tunggal Jaya

Prospek Bisnis

Sanitasi di Indonesia masih menjadi masalah yang belum banyak teratasi. Berdasarkan data Economic Impacts of Sanitation in Southeast Asia yang dilakukan oleh Water and Sanitation Program (WSP) Bank Dunia pada tahun 2007, 43% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 94 juta jiwa penduduk Indonesia belum memiliki jamban. Bahkan hanya terdapat 2% dari jaringan air limbah di perkotaan yang diolah. Ini artinya potensi pasar produk BioCeramics sebagai septic tank alternative masih sangat luas. Barita menambahkan terlebih lagi berbicara mengenai keterbatasan lahan untuk septic tank serta penyediaan alat yang ramah lingkungan, praktis dan efisien, Bioceramic bisa menjadi jawaban alternative dari persoalan tersebut.

Testimonial

Barita,

Bio Ceramic cukup efektif dan efisien secara waktu dan maintenance. Selain itu harganya cukup reasonable dan mampu mengurangi masalah bau dalam septic tank. Dalam tiga tahun penggunaannya, kami belum ada keluhan apa pun.

10 responses to “BioCeramics: Septic Tank Alternatif

  1. maaf pak, apa benar tidak penuh selamanya?… saya tertarik pak ini yang saya cari2, sampai rumah baru saya sampai sekarang belum saya tempati karena menunggu teknologi semacam ini.

  2. bagaimana cara mengatasi lemak yang nempel dan menutup lubang pl.
    sehingga air sabun dari kamar mandi dan tempat cuci piring tersumbat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s