Brian Yaputra: Mematri Kaca, Mematri Prestasi

Brian Yaputra

Presiden Direktur PT Eztu Adimore (Eztu Glass Art)


Ingat kaca patri, ingat Brian Yaputra! Idiom yang tepat untuk menggambarkan bahwa nama Brian Yaputra memang lekat sebagai maestro kaca patri. Tak hanya bualan belaka, di dunia arsitektur dan properti nama Brian sudah tak asing lagi. Disneyland, Hong Kong adalah salah satu masterpiece-nya.

Pernahkah Anda singgah ke Johar Shopping Center (JSC) di Semarang? Di sana Anda akan disuguhi oleh sebuah karya seni kaca patri bernilai tinggi. Pada bagian depan JSC Anda akan terpukau oleh kaca patri berukuran 30X12 meter dengan motif gunungan yang dikitari sulur-sulur flora nusantara. Sangat indah! Pendaran matahari di atas gunungan dan burung phoenix di bagian bawahnya menyempurnakan karya ini. Tak cukup memberikan keindahan, karya ini pun ditahbiskan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai seni kaca patri terbesar di Indonesia.

Siapakah pembuat kaca patri yang sarat dengan budaya Jawa nan indah itu? Brian Yaputra, demikian nama si pembuat kaca patri bercita rasa seni tinggi itu. Di kalangan property maupun arsitek, nama Brian sudah tak asing lagi. JSC adalah salah satu dari deretan karya Brian yang telah melanglang buana hingga ke Afrika.

Menemukan Habitatnya

Teriknya matahari yang menggantung di bulan Ramadan tak menyurutkan niat Warta Ekonomi untuk mewawancarai Brian Yaputra, pionir bisnis kaca patri di Indonesia. Di bilangan Tomang, berdiri tegak sebuah rumah megah berpintu gerbang kayu kokoh yang setiap kaca jendelanya terdapat kaca-kaca patri dengan desain yang simple minimalis kotak-kotak kecil bergaris. Memasuki ke dalam halamDi bagian belakang, terdapat sebuah gazebo yang beratapkan kaca patri berwarna-warni nan indah. Tak hanya itu saja, beberapa hiasan berbahan kaca berbentuk kupu-kupu dari kaca menggantung di pepohonan, cicak-cicak dan kepik dari kaca pun menempel di salah satu dinding luar. Bergaya smart kasual Brian menyambut Warta Ekonomi dengan hangat. Cerita seputar perjalanan bisnis PT Eztu Adimore mengalir lancar dari mulut pria kelahiran Semarang, 12 Agustus 1947 ini.

Ihwal perkenalannya dengan dunia kaca patri adalah saat dirinya berkesempatan melancong ke kota Byzantium, Turki di tahun 1980. Brian saat itu terpesona dengan keindahan kota Byzantium yang sarat dengan kaca-kaca patri nan indah. Mengamati indahnya seni kaca itu membuat hati Brian bergejolak. Brian yang sebelumnya berkecimpung di bisnis peralatan elektronik rumah tangga merk Orbit milik keluarganya ini pun merasa menemukan passion yang selama ini dicarinya. “Saya merasa habitat saya ada disini (kaca patri),” ujar ayah dari Mounty Augusta, Ken Binsar, dan Dien Moontly ini.

Terdorong sense of art yang kental dan rasa penasaran akhirnya menarik Brian untuk mempelajari kaca patri lebih jauh. Majalah dan buku impor mengenai kaca patri pun dilalapnya demi memuaskan rasa ingin tahunya. Brian pun rela menggelontorkan uang yang tak sedikit demi mempelajari seni kaca yang berasal dari Eropa ini. Saat itu, Brian tak segan mengirimkan rekannya Freddy Sudjadi untuk mempelajari tentang kaca patri hingga ke North Carolina, Amerika Serikat. Hingga akhirnya pada tahun 1981, Brian memutuskan banting setir menekuni bisnis kaca patri. Pada awalnya, klien-klien Brian adalah teman-teman dan relasi yang memesan kaca patri yang berproduksi di garasi rumahnya.  Terhitung masih usaha yang sangat muda, Brian pun harus turun tangan sendiri untuk mematri produknya. Sampai-sampai tangan Brian pun terbakar solder patri saat mematri kaca produksinya.

Pengalaman menggarap proyek internasional Brian memang tak terhitung lagi jumlahnya, khususnya di Asia. Salah satunya didapat Brian saat melakukan perjalanan bisnis dari Shanghai-Hong Kong. Dalam pesawat Cathay Pacific itu, Brian tak sengaja bersebelahan dengan Dr. Tao Ho yang sedang menderita batuk. Brian pun menawarkan permen sebagai bentuk perhatiannya, dan terjadilah dialog antara Brian dengan Tao yang ternyata adalah Ketua Asosiasi Arsitek Hong Kong (Hong Kong Architect Association) dan akhirnya berujung pada beberapa informasi proyek di Hong Kong. Tak lama setelah pertemuan pertamanya, Brian ditelpon Tao Ho yang akan datang ke Indonesia. Ternyata, Brian mendapatkan proyek plafon Gereja Wingwong Pantecoastal Church di Hong Kong dari relasinya itu. Proyek pertama berjalan dengan sukses, kemudian diikuti dengan enam proyek gereja lainnya di Hong Kong. Hingga akhirnya, Brian mendapatkan proyek desain fantasyland di Disneyland Hong Kong senilai US$200 ribu.

Booming property dan real estate di tahun 1981 pun turut mendongkrak bisnis Brian. Order demi order terus mengalir berdatangan. Bisnis yang berawal dari garasi rumah dengan tiga orang karyawan, perlahan pun menanjak hingga akhirnya tahun 1986 memindahkan lokasi produksinya di Cikupa, Tangerang dengan luas lahan dua hektar. Brian pun akhirnya membuka show room di Jalan S. Parman dan Jalan Biak Jakarta untuk mendongkrak penjualan produknya. Dan akhirnya, bisnis keluarganya pun ditinggalkan demi passion yang telah berhasil ditemukannya.

Si Perfeksionis Yang Mengutamakan Kualitas

Saat mendatangi pabriknya yang berada di Cikupa, Tangerang nampak jelas bahwa proses produksinya dilakukan secara professional dengan ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Di atas lahan seluas dua hectare itu PT Eztu Glass Art berdiri dengan dua bangunan utama. Proses menggambar atau mendesain, proses pemotongan, proses perakitan serta proses mengkilaukan kaca dilakukan di gedung satu. Sementara untuk proses finishing touch dan pengepakan di gedung dua.

Brian mengakui bahwa dirinya sangat perfeksionis. Hal ini pun terlihat saat melakukan inspeksi di pabriknya di Cikupa. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawannya di cek satu demi satu. Bahkan memberikan catatan kecil di atas kertas proyek. Walaupun terkadang Brian menjadi lebih rewel saat tidak puas dengan hasil kerja karyawannya, namun kolektor benda antic ini pun tak segan memuji karyawannya bila hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Brian memang sangat mengutamakan kualitas produknya, bahwa harga menjadi mahal tak bersoal. “Saya tidak ingin menurunkan harga, tapi kualitas jadi menurun,” ujar pehobi traveling dan fotografi ini. Baginya, menjaga kualitas serta reputasi menjadi harga mati untuk bertahan bahkan menjadi nomor wahid di Asia Tenggara.

Demi mempertahankan kualitas, Brian selalu menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik yang diimpor dari Jerman, dan Amerika Serikat. Brian pun mengaku tidak neko-neko dalam menjalankan bisnis ini. Tak ada strategi khusus termasuk dalam hal pemasaran produknya. “Mengandalkan word of mouth dan networking yang telah terjalin luas,” tandas pria yang mempekerjakan 380 orang karyawan ini.

Meskipun bisnis serupa telah menjamur, Brian tak takut bersaing. Keunikannya terletak pada desainnya yang limited edition. Pria yang aktif di Rotary Club ini hanya membuat satu desain untuk tiap pesanan. “Saya tidak membuat desain yang sama, kecuali atas permintaan konsumen itu sendiri,” ujarnya. Untuk itulah, daya kreasi dan imajinasi sangat diperlukan demi penciptaan desain kaca patri. Dari mana Brian mendapat inspirasi? Travelling menjadi sarana ampuh untuk menumbuhkan daya imajinasi. Kakek enam cucu ini bahkan menyebut alam sebagai sumber inspirasi terdahsyat karena setiap hal yang ada di alam sangat menarik untuk diterapkan dalam kaca patri.

Keunggulan lainnya adalah inovasi penggunaan bahan baku maupun desain dan seni pelapisan kaca. EGA memperkenalkan sistem triple on (triplon) glass atau unit triple glazed yang merupakan pelapisan panil kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Kelebihannya? “Hemat energi!” sebut Brian yang karyanya pernah masuk majalah Stained Glass Amerika tahun 1997 ini. Mengapa hemat energi? Hal ini disebabkan Kaca akan memblokir tiga sinar (infra red, ultraviolet dan visible light) yang masuk. Selain bermanfaat menghemat energi, triplon glass juga bisa berfungsi sebagai peredam suara. Selain itu, Brian memopulerkan pula seni pelumeran kaca dari Italia yang lebih dikenal dengan melton glass (pelumeran kaca float) dan moons glass (pelumeran art glass warna-warni).

Brian boleh tersenyum lega, usaha yang dirintisnya 28 tahun silam ini telah menunjukkan hasil. Meskipun proyeknya telah bertebaran di berbagai lokasi di Indonesia bahkan di kancah internasional, Brian tak berhenti berkreasi. Hard Rock Café, Hilton Hotel Bali, Ritz Carlton Wedding Chapel Bali, apartemen Belezza, masjid At Tiin TMII, dan masjid Dian Al-Mahri Cinere adalah beberapa deret proyek Brian di tingkat local. Sementara di tingkat internasional, tujuh gereja di Hong Kong, Disneyland Hongkong, Istana Bukit Kahyangan Brunei Darussalam, Holiday Inn Crowne Plaza Qingdao RRC, masjid di Cape Town, Afrika Selatan. Belum lagi pesanan individu dari pejabat-pejabat terkemuka di Indonesia dan negara tetangga.

Mengenai harga, tanpa mau merinci Brian menyebut angka Rp5 juta hingga Rp1 miliar untuk setiap  proyek. Meskipun tak bisa disebut murah, namun order yang datang padanya tak pernah putus. Saat ini, Brian tengah menggarap proyek monumental Da Vinci Kuang Co di RRC. “Kebetulan mereka memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengerjakannya,” kata suami dari Flora Wijaya tanpa bermaksud sombong. Tanpa ragu, Brian pun berbagi kunci keberhasilannya dalam berbisnis. “Pantang menipu konsumen dan selalu menjaga kualitas,” tandas Brian. Bekerja dengan hati, mengutamakan kualitas, totalitas dalam berkarya dan pantang menipu konsumen mengantarkan Brian menjadi master kaca patri di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Salut!

Marthapuri Dwi Utari

Eztu Glass Art

Jl  S. Parman Raya 6B, Slipi

Jakarta, 11480

Tel               : +62 21 5493385

Faksimile      : +62 21 5493395

Email            : yaputra@eztuglass.com

Website        : www.eztuglass.com

Testimonial      :

Rudhy A. Lontoh, Lawyers – Lontoh & Partners Law Office

High profile, high profit adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Brian. Sentuhan seni yang kental membuat produk Brian sangat delicate, halus dan indah. Tak heran karena Brian memang sangat professional dan layak disebut sebagai expert di bidangnya.

Rule of succes ala Brian :

  1. Menomorsatukan kualitas dan pantang menipu konsumen.
  2. Selalu focus dan konsisten.
  3. Mengkolaborasikan antara bekerja dengan hati dan otak.
  4. Memanfaatkan jejaring di skala global.
  5. Menggandalkan pendekatan personal dalam mengerjakan proyek individu, sehingga bisa menyesuaikan antara keinginan konsumen dengan desain kaca patri.

Profil :

Brian Yaputra

Tempat, tanggal lahir        : Semarang, 12 Agustus 1947

Status                              : Menikah dikaruniai tiga orang anak

Jabatan                           : Owner dan founder PT Eztu Adimore

Pendidikan                       :
– Akademi Bahasa Asing Indonesia, Jakarta, lulus 1971

– Chinese English School, Semarang, lulus 1966

Karya                               :

–      Istana Bukit Kayangan, Brunei Darussalam

–      State Secretarial Building, Kuching, Sarawak

–      Sultans’ Palaces in Malaysia

–      Disneyland Hong Kong

–      Hard Rock Café, E.X. Indonesia

–      Restorasi Museum Bank Indonesia, Kota Tua

–      Johar Shopping Center, Semarang

–      48 gereja, 24 masjid, 40 gedung, dan 22 hotel di Indonesia

One response to “Brian Yaputra: Mematri Kaca, Mematri Prestasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s