Membatik di Atas Lempengan Besi

G.S. Adeasmara

Pemilik Skala 6 Interior Design, Furniture, Art & Craft

Membatik di atas lembaran kain, itu biasa. Namun, Adeasmara justru membatik di atas lempengan besi. Tidak hanya itu, ia juga mampu menyulap filter oli bekas menjadi art lighting. Begitu indah.

Seandainya Thomas Alva Edison mendengarkan cercaan orang-orang di  sekelilingnya, mungkin sekarang ini dunia masih tetap gelap gulita. Mental pantang menyerah itu akhirnya mengantarkan Edison sebagai penemu lampu listrik pada 21 Oktober 1879. Hari itu menjadi hari yang bersejarah. Pasalnya, Edison membawa kemajuan besar dengan penemuannya yang menerangi umat manusia kala malam tiba. Dan kini, dunia pun menjadi terang benderang dengan adanya lampu. Bisa dibilang, sebuah lampu menjadi kebutuhan primer masyarakat.

Kini, G.S. Adeasmara menjadikan lampu sebagai ladang bisnis. Ia membuat art lighting alias lampu hias dari filter oli bekas dan lempengan besi-besi bekas. Oleh karena art lighting bukan merupakan prioritas utama interior rumah, Ade, sapaan akrab G.S. Adeasmara, mencoba bermain di segmen high end. Ia menawarkan art lighting berbahan baku besi bekas dengan sentuhan ukiran motif batik.

Membatik dengan Mesin Las

Kota Administratif Depok, yang baru resmi berdiri pada 1981 silam, menyimpan potensi yang luar biasa. Tidak hanya sebagai home base Universitas Indonesia, Depok juga menjadi home base bagi perajin ukiran lempengan besi bernama G.S. Adeasmara. Matahari pagi belum sepenggalah tingginya, tetapi teriknya telah menyengat ketika Warta Ekonomi menyambangi rumah yang merangkap galeri sekaligus bengkel kerja Skala 6, usaha rumahan milik Ade, di Pancoran Mas, Depok. Ternyata cukup mudah untuk mengenali galeri Skala 6 ini: ada lampu gantung berukir di beranda rumah.

Penampilan ala seniman tergambar pada diri Ade, yang waktu itu  mengenakan kaus polo warna abu-abu dipadu celana jins belel. Ia langsung mengajak Warta Ekonomi naik ke lantai 2, tempat galeri dan bengkel kerja usahanya berada. Ratusan produk art lighting terpajang rapi di sana. Pria berusia 34 tahun ini kemudian mengisahkan perjalanan bisnisnya.

Ceritanya, pada tahun 2000, Ade dan enam kawan semasa kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur di Universitas Pancasila, Jakarta, sepakat mendirikan usaha konsultan desain arsitektur dan konstruksi yang kemudian diberi nama PT Skala Enam Proyektama. Seiring berjalannya waktu, kongsi bisnis ini terpecah hingga hanya tersisa Ade dan istrinya, Nova M. Napitupulu. Namun, Ade bertekad meneruskan perusahaan tersebut. Tidak cuma itu, ia pun mendiversifikasi usaha di bidang elemen interior desain, khususnya art lighting, dengan nama usaha Skala 6 pada 2004. Menurut Ade, elemen interior sungguh penting bagi kalangan high end. Sebab, kata Ade, mereka gemar mempercantik rumah dan kantor untuk menunjukkan status sosialnya. Lalu, mengapa lampu? “Detail motif lebih kuat apabila diterapkan untuk lampu. Selain itu, lampu juga lebih fungsional,” jelas pria yang pernah menempuh pendidikan informal di Scuola Media Statale, Roma, Italia, ini.

Menariknya, Ade memberi ciri khas pada kerajinan pelat logam buatan Skala 6 dengan sentuhan motif batik tradisional Indonesia. Tentu saja, karena produknya berasal dari lempeng logam, termasuk menggunakan filter oli bekas, maka Ade membatik dengan menggunakan las. Sampai saat ini, Ade mengaku telah mengaplikasikan 300 motif batik, seperti dari Jawa,  Aceh, Betawi, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Kini, pria yang mahir berbahasa Italia ini tengah mengerjakan pesanan lampu jalanan bermotif batik Papua dari Pemerintah Daerah Papua.

Mengingat kekuatan desain dan motif pada produk Skala 6, maka 2007 silam Ade telah mendaftarkan paten atas  sepuluh desain produknya. Selain itu, Ade pun berencana melegalkan usahanya menjadi perseroan terbatas (PT), meski proses pengurusannya memakan waktu relatif lama.

Ade mengakui proses produksinya terbilang rumit. “Namun, itu sebanding dengan hasil akhirnya,” kata pria kelahiran 6 Oktober 1974 ini, tergelak. Ia lalu menceritakan tahapan dalam pembuatan art lighting-nya. Pertama, Ade mendesain motif, baik secara manual maupun dengan memanfaatkan program komputer. Kemudian, ia mencetak motif itu ke atas kertas dan menjadikannya sebagai pola yang bakal diaplikasikan di atas lempengan besi. Setelah Ade menggambar pola di atas lempeng besi, maka tiba waktunya untuk “membatik”. Tentu saja, proses membatiknya pun dengan memanfaatkan teknik las. “Proses ‘membatik’ ini membutuhkan ketelatenan dan sense of art yang tinggi,”  ujar bapak dua anak ini. Bahkan, Ade menyebut proses ini bisa memakan waktu tiga hingga lima jam.

Untuk menghilangkan karat yang menempel pada lempengan besi yang telah diukir itu, Ade mencelup lempengan tersebut ke dalam cairan kimia selama satu malam. Setelah lapisan karat  terkelupas, barulah proses pewarnaan ataupun pengecatan dilakukan. Tahap paling akhir adalah melapisi kap lampu dengan kain. Voila! Jadilah sebuah lampu meja yang cantik.

Dalam menyelesaikan art lighting dari filter oli bekas ini, Ade menggunakan peralatan sederhana. Beberapa di antaranya bahkan buatan Ade sendiri, seperti alat pres untuk mencetak lempengan besi hingga berbentuk bulat. “Itu berawal dari komplain para tetangga sekitar karena berisik saat proses membentuk lempengan besi menjadi bulat,” ungkapnya. Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, otak kreatifnya tak pernah berhenti bekerja, tetapi justru kian agresif mencari solusi. Maka akhirnya terciptalah alat yang prinsip kerjanya seperti mesin penggiling mi itu. Pria yang pernah menggarap proyek lighting interior Solaria Bar & Café Jakarta dan Bali ini tengah bereksperimen  membuat peralatan serupa untuk mencetak bentuk kotak.

Filter Oli Bekas

Selain berciri khas motif batik, Skala 6 juga memanfaatkan filter oli bekas untuk beberapa produknya. Soal stok bahan baku, Ade telah menjalin kerja sama dengan PT Astra International Tbk. Surabaya. Kerja sama itu terwujud berkat tayangan sebuah televisi swasta Ibu Kota yang meliput bisnis Ade. Hingga akhirnya, datang tawaran dari pihak Astra kepada ayah Rachel dan Mora ini untuk mengolah limbah filter oli bekas menjadi sebuah produk yang memiliki nilai tambah dan fungsional. Merasa tertantang oleh tawaran Astra, Ade pun meminta waktu untuk melakukan eksperimen dengan limbah tersebut. Otak kreatif Ade terus berputar, merangkai limbah filter oli menjadi sebuah lampu meja. Hasil eksperimen itu kemudian dikirim kembali ke Astra, yang kebetulan memiliki galeri untuk pameran. Singkat kata, sampel produk itu disetujui dan akhirnya PT Astra International secara kontinu mengirimkan filter oli bekas setiap bulan.

Ade tak menampik produk daur ulang (recycle) ini merupakan andalannya untuk pasar luar negeri. “Produk recycle di luar negeri memang sedang booming,” jelas pria yang juga berprofesi sebagai arsitek ini. Perkenalan Ade dengan pasar luar negeri berawal ketika ia mendapatkan pesanan dari Jeumpa Seramau Hotel Boutique, Malaysia, pada 2004. Saat itu Ade mendapatkan pesanan 30 unit lampu dari sana. Oleh karena itu merupakan pengalaman pertamanya mendapatkan order dari luar negeri, Ade mengakui masih banyak kekurangannya. Namun, justru dari situlah Ade mendapatkan banyak pelajaran baru mengenai pengepakan dan pengiriman. Sedari awal Ade memang membidik pasar internasional untuk produknya. Maka, tidak mengherankan jika sebagian besar produk Ade telah merambah negara-negara seperti Thailand, Jerman, dan Perancis. Bahkan, secara rutin Ade mengirimkan pesanan  dari  pelanggannya di Dubai.

Meski membidik pasar internasional, tetapi Ade tetap menggarap pasar lokal dengan serius. Selain membuka galeri di Depok, yang merangkap bengkel kerja, Ade juga membuka galeri di Bali. Langkah ini diambil untuk “mencegat” turis-turis asing sebagai pembeli potensial bagi produk Skala 6. Baru-baru ini, kantor pusat Carrefour yang berada di Paris, Perancis, mengorder penyangga buku yang terbuat dari limbah filter oli. Namun, sayangnya, Ade terpaksa menampik tawaran tersebut karena jumlah barang yang dipesan terlalu banyak. “Saya takut memproduksi barang dalam jumlah besar. Takut tak bisa menjaga kualitas,” dalihnya. Atas dasar itu, Ade memilih untuk memproduksi barang secara terbatas (limited edition) agar kualitas tetap terjaga. Begitu pula dengan model dan motif produknya, yang hanya dibuat sekali saja. “Kecuali jika konsumen menginginkan produk dengan model yang dimaksud, baru saya buat model tersebut,” ujar Ade, yang pernah bekerja sebagai head of maintenance di Gedung Arsip Nasional, Jakarta.

Skala 6 mematok harga jual produknya bervariasi. Tempat lilin sederhana, misalnya, dihargai Rp35.000 per buah, sedangkan lampu meja Rp175.000–525.000 per buah, dengan minimum order 10 buah. Sementara itu, untuk divider lamp, Ade memasang  harga Rp1,5 juta per buah. Selain memproduksi art lighting, Ade juga mengerjakan customer project sesuai dengan keinginan konsumen. Ia mengaku pernah mendesain gazebo berangka besi ukir seharga Rp3 juta dan dekorasi pelaminan putra seorang pejabat daerah di Lampung senilai Rp90 juta.

Saat ini Ade mempekerjakan tujuh karyawan dengan kapasitas produksi mencapai 400 unit per bulan. Pria yang lahir dan dibesarkan di Jakarta ini  mengakui persoalan sumber daya manusia sebagai kendala utama dari bisnisnya.  “Menemukan tenaga kerja yang punya ketelatenan, ketelitian, dan sense of art yang tinggi itu tidak mudah,” keluh dia. Ke depan, Ade berencana menggenapi tenaga kerja hingga sepuluh orang. Apa pasal? “Untuk mengajukan bantuan kredit modal kerja dari Departemen Perindustrian harus memiliki tenaga kerja sepuluh orang,” terangnya. Ia mengharapkan bantuan berupa peralatan kerja, bukan bantuan modal. Sebab, menurut Ade, karakter industri kreatif itu sarat ide dan segala keterbatasan justru membuat pelakunya menjadi lebih kreatif. Jadi, beri mereka kail, bukan ikan. ###

Tulisan ini pernah dimuat dalam Rubrik Smartpreneur Majalah Warta Ekonomi Edisi 07/XXI/2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s