Mendandani Bayi ala Distro

Phaerlymaviec Musadi

Pemilik CV Merlyna Agung (Parental Advisory Baby Clothing)

Selama ini user distro didominasi kawula muda. Namun, apa jadinya jika bayi dan anak-anak yang lucu dan polos didandani dengan gaya distro? Phaerlymaviec Musadi pun membuat distro khusus bayi dan anak-anak agar mereka memiliki penampilan yang tidak biasa.

Kehadiran seorang anak ternyata mampu mengubah hidup seseorang, bahkan bisa memberikan inspirasi untuk menjadikannya sebagai sebuah peluang bisnis. Betapa tidak? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2005, jumlah penduduk dengan kelompok umur 0–9 tahun mencapai 41 juta jiwa. Maka, tidak mengherankan jika bisnis di ranah anak-anak ini sangat renyah untuk dijamah. Dan, Phaerlymaviec Musadi adalah salah satu yang membidik segmen anak-anak untuk menjadi lahan bisnisnya.

Kota Bandung sangat identik dengan industri clothing-nya. Bahkan julukan Bandung sebagai kota distro (distribution outlet) itu sudah meluas ke mana-mana. Menurut catatan Departemen Perindustrian, pada 2006 pasar industri clothing ini mampu meraup penjualan Rp22 miliar per bulan. Hanya, sebagian besar pasar ini ternyata didominasi oleh distro-distro yang menyasar segmen remaja (teenagers). Pei, panggilan akrab Phaerlymaviec Musadi, mendiferensiasi bisnisnya dengan memproduksi kaus dan berbagai produk lainnya dengan segmen anak-anak dari usia 6 bulan hingga 12 tahun. Bahkan, Pei bisa disebut sebagai pionir distro anak-anak di kotanya.

Sarat Pesan Moral

Di Kota Kembang, Bandung, Warta Ekonomi berkesempatan berbincang-bincang dengan Pei yang tengah mengikuti sebuah ekshibisi UKM. Produk Pei sontak menarik perhatian pengunjung. Pasalnya, mereka melihat kalimat-kalimat yang tergolong “kasar” tertera di baju untuk anak-anak, seperti “Where’s My Fuckin’ Milk?”, “Your Nicotine is Killing Me!”,  “Fight Your Fantasy”, atau “Turn Off Your TV!”. Kendati terkesan kasar, jangan terburu-buru menuding  produk tersebut tidak mendidik. “Padahal yang terjadi justru sebaliknya,” tegas Pei.

Lalu Pei pun membagi kisah. Ia mengungkapkan pendirian distro bayi ini yang bermula dari kelahiran putra pertamanya, Nabil, yang kini usianya belum genap lima tahun. Kala itu Pei dan istrinya, Ashya Musadi, merasa jenuh dengan model baju bayi yang, menurut mereka, monoton dan membosankan. “Awalnya, ini karena kami ingin anak kami mempunyai gaya yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Paling tidak, dia bisa menyesuaikan dengan style orang tuanya,” ujar Pei sambil terkekeh. Naluri bisnisnya mengisyaratkan bahwa bisnis distro anak-anak memiliki ceruk pasar yang masih sangat besar. Maka, akhirnya, pada 2006 Pei pun resmi membangun bisnis distro bayi yang ia namai Parental Advisory Baby Store. Pemilihan nama Parental Advisory ini juga bukan tanpa alasan. Menurut dia, nama ini berarti sensor. Artinya, kalimat-kalimat kasar tersebut harus disensor sesuai dengan bimbingan orang tua.

Pei bukan hanya menjual pakaian berlabel independen versi anak-anak,  ia juga memanfaatkan kekuatan kata-kata sebagai pelaris produknya. Seperti telah disebutkan di muka, pria kelahiran 1 Januari 1976 ini membubuhkan kalimat yang tidak biasa pada desain kausnya. Penggunaan kalimat-kalimat demikian pun bukannya tanpa alasan. Penggemar musik underground ini mengaku bahwa di balik kalimat-kalimat tersebut tersimpan sebuah pesan moral bagi para orang tua. Kalimat “Where’s My Fuckin’ Milk?”, misalnya,   adalah ungkapan kemarahan sang bayi karena ibunya enggan menyusuinya. Hal ini lebih kepada ungkapan keprihatinan terhadap penurunan jumlah ibu yang bersedia memberikan ASI (air susu ibu) untuk anak-anaknya. “Kampanye pentingnya ASI adalah pesan moral yang ingin saya sampaikan lewat kalimat tersebut,” jelas pria yang fasih berbahasa Jerman, Perancis, dan Inggris ini. Pei mengklaim selalu menyimpan pesan-pesan moral di balik desain kausnya.

Contoh lainnya adalah kaus bertuliskan “Your Nicotine is Killing Me!”. Kalimat ini juga mengetuk kepedulian orang tua terhadap kesehatan dirinya sendiri, dan tentu saja kesehatan anak-anaknya. Jadi, dengan tulisan tersebut diharapkan para ayah ataupun ibu yang selama ini menjadi perokok aktif tersadar akan bahaya rokok, terutama bagi kesehatan sang buah hati. “Ini semacam kampanye bahaya merokok bagi para perokok pasif,” imbuh Pei, sambil tersenyum simpul. Walaupun image ekstrem sangat terasa pada desain kausnya, tetapi itu justru menjadikan produk Pei memiliki ciri khas dibandingkan  produk para kompetitornya. Maklum saja, Pei mengusung tagline “bukan buat dikonsumsi oleh orang dewasa” untuk clothing-nya.

Selain menjual produk-produk clothing seperti kaus, jaket, baju monyet, dan celana yang berukuran mini, pria yang menghabiskan masa kanak-kanaknya di Jerman ini juga menjual berbagai perlengkapan bayi lainnya. Di antaranya, sepatu, tas, dan alat untuk menggendong bayi. Semua produk tersebut memiliki desain yang unik. Pei mematok harga jual produknya mulai dari Rp25.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Mengingat desainnya yang unik dan terkesan sedikit ekstrem, lantas siapakah yang menjadi target market-nya? “Biasanya konsumen kami adalah para orang tua muda dengan kisaran usia 25–35 tahun,” ujar ayah satu anak ini. Hal itu wajar saja mengingat untuk industri clothing pada umumnya memiliki target market usia muda. Hingga saat ini, Parental Advisory baru mencatatkan omzet Rp30 juta per bulan.

Pengalaman Pahit Masa Kecil

Sesuai dengan karakteristik industri kreatif, yang mampu tumbuh dan berkembang dengan modal minim, bahkan nyaris nol, Pei pun memulai usahanya hanya dengan modal Rp225.000. Modal itu ia gunakan untuk membeli kaus oblong dan pernak-pernik underground. Awalnya, Pei dengan seorang rekannya mendirikan sebuah clothing company yang bernama United Moron Inc., pada tahun 2000. Namun, sayangnya, karena perbedaan visi dan prinsip membuat mereka harus pecah kongsi. Tidak mau disebut stagnan, di samping hasrat bisnisnya yang meluap-luap, akhirnya pria yang tak lulus kuliah ini pun mendirikan Distribute Merchandising, yang kemudian melebarkan lini bisnisnya dengan produk distro anak-anak bermerek Parental Advisory. Bisnis keduanya ini memang tak jauh dari rintisan awalnya, yakni masih berkutat dengan clothing band underground beserta merchandise-nya.

Untuk memulai bisnis barunya itu, Pei kembali menggelontorkan modal sebesar Rp5 juta, yang ia peroleh dari pinjaman saudaranya. Uang itu pun tak bisa ia gunakan seluruhnya untuk modal bisnisnya. Pei masih harus membaginya untuk biaya kuliah saat itu, dan biaya hidup setelah menikah. Pria berusia 33 tahun ini mengawali bisnisnya dengan memproduksi dua lusin baju. Prinsip “Do It Yourself” sangat dipegang teguh oleh Pei. Alhasil, dengan dalih minimnya permodalan, Pei justru mampu menciptakan sebuah mesin cetak (plastisol) untuk mendukung produksi bisnisnya. Di pasaran, harga mesin cetak ini mencapai Rp70–100 juta per unit.

Pelan tapi pasti, bisnis Pei kian berkembang. Kualitas produk dari Distribute Merchandising ini ternyata tidak bisa dianggap remeh. Order demi order didapatkannya berkat jejaring Pei dengan komunitas musik di Bandung yang sangat luas. Band-band besar di Bandung pun menjadi pelanggannya. Hingga akhirnya, bisnis Pei kian naik kelas dan mulai menembus pasar internasional. Tercatat, misalnya, baju hasil produksinya digunakan dalam ajang Grand Prix Formula Satu (F1) di Sepang, Malaysia, dan juga untuk kostum latihan tim sepak bola Bahrain.

Meskipun penampilannya terkesan garang dan cenderung tak acuh, ternyata Pei memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pehobi skateboard ini memiliki yayasan untuk anggota komunitas underground yang didirikannya bersama teman-temannya sejak 1999. Yayasan itu diberinya nama Yayasan Adikaka. Kehidupan masa kecilnya yang pernah mengalami kekerasan melatarbelakangi pendirian yayasan tersebut. Semasa kecil, Pei kerap mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang tuanya, walau itu dilakukan dengan dalih untuk menegakkan disiplin. Maka, ia tak ingin anak-anaknya merasakan apa yang pernah ia rasakan semasa kecil dulu.

Pei melengkapi Yayasan Adikaka dengan fasilitas taman bermain untuk akan-anak, lengkap dengan papan skateboard-nya. Hanya, Pei mengajukan tiga syarat bagi anak-anak yang hendak bermain di halaman rumahnya itu. “Saya selalu mengatakan ‘jagalah kebersihan, jaga antrean, dan jangan ngomong anjing’,” tegas Pei.

Selain itu, kini Pei tengah giat menggalakkan kampanye Never Grow Up dengan slogannya “An encouragement to play more with children”. Kampanye ini adalah imbauan kepada para orang tua untuk bersedia meluangkan waktu bermain bersama sang buah hati paling tidak selama 15 menit saja setiap harinya. “Pentingnya adalah agar sejak dini jangan sampai terjadi kesenjangan antara orang tua dan anak-anaknya,” ungkap Pei.

Kini, meski memiliki latar belakang sebagai anggota komunitas underground, yang sering kali dicap negatif oleh masyarakat, Pei mampu menunjukkan kiprah bisnisnya. Ayah dua anak ini juga mampu membuktikan bahwa bisnis dan misi sosialnya ternyata bisa seiring sejalan. Bahkan, ia berencana mengepakkan sayap bisnisnya hingga ke Jerman, tempat tinggal keluarga besarnya.###

Tulisan  ini pernah dimuat dalam Rubrik Smartpreneur Majalah Warta Ekonomi Edisi 04/XXI/2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s