Xirka Chipset: Chipset Lokal Prestasi Global

“Aduh internetnya lambat sekali,” keluh Diva. Di sisi lain, “Bayarnya mahal tapi kok tetap lambat ya,” Ega berkeluh kesah. Koneksi internet yang lambat dan tarifnya yang tak bisa dibilang murah merupakan masalah yang jamak dihadapi oleh masyarakat. Bagaimana tidak? Selama ini, teknologi yang digunakan masih berupa Wi-Fi dengan jangkauan (base station) sejauh 5 km. Sementara, di negara Paman Sam telah dikembangkan teknologi WiMax telah berkembang pesat. WiMax adalah solusi teknologi informasi dengan jangkauan rata-rata 40 km dan kecepatan hingga 10 Mb.

PT Xirka Dama Persada menangkap peluang berkembangnya teknologi WiMax di Indonesia dengan menciptakan microchip pendukung WiMax bernama Xirka chipset. Dari ilmuwan lokal, dengan dominasi komponen lokal untuk pasar lokal adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan Xirka Chipset ini. Namun demikian, prestasinya telah mengglobal di kancah internasional.

Berbasiskan Teknologi Broadband Wireless Access

Di tengah terik matahari, berlokasi di sebuah gedung eks mess Angkatan Laut yang telah direnovasi menjadi Gedung CM berlantai 4 di bilangan Matraman, Sylvia berbagi cerita tentang inovasi teknologi telekomunikasi Indonesia, Xirka chipset. Ihwal penemuan Xirka ini adalah kolaborasi antara tim peneliti Indonesia dengan Sylvia W. Sumarlin, presiden direktur PT Dama Persada dan Rudi Hari, komisaris utama PT Dama Persada. Adalah Trio Adiono dan Eko Fajar Nurprasetyo, ilmuwan asal Indonesia yang berkarir di laboratorium korporasi di Jepang yang kerapkali memenangkan berbagai lomba desain aplikasi dan microchip di Jepang. Trio Adiono, bukan orang baru di dunia teknologi informasi. Portofolionya dibidang pembuatan beberapa microchip untuk video processing application dan perannya dalam kegiatan IC Design Training oleh VLSI for Education (VDEC) Japan, Synopsys Inc. Japan, dan sebuah perusahaan dari Silicon Valley.

Sementara itu, Eko Fajar Nurprasetyo sejak tahun 2001 sudah malang melintang berkarir di SONY LSI Jepang hingga tahun 2006. Track record keduanya yang cemerlang ini membuat Richard Mengko, Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi menyatukan kedua ahli microprocessor ini untuk melakukan penelitian tentang microprocessor untuk aplikasi teknologi telekomunikasi khususnya broadband wireless access atau WIMAX. Sekedar mengingatkan kembali, WIMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access/BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi (sampai 70 MBps) dengan jangkauan yang lebih luas dibandingkan teknologi Wi-Fi hingga mencapai 40 km. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik.

“Dengan sponsor Dirjen Postel serta Ristek jadilah processor WIMAX ini,” jelas Richard. Sayangnya, penemuan processor WIMAX ini harus menggandeng pihak swasta agar bisa menjadi produk komersial (mass product). Sylvia W. Sumarlin, presiden direktur PT Dama Persada yang sebelumnya berkecimpung di bidang internet service protocol (ISP) tertarik bergabung dan berinvestasi pada pengembangan processor WIMAX ini. “Saya punya idealisme kalau bisa hak paten ini tidak lari dari Indonesia,” kata Sylvia. Impiannya, Indonesia memiliki industry teknologi informasi yang tak kalah bersaing dengan negara lain di dunia, tak hanya sebagai ‘tukang jahit’ namun sebagai desainer.

Bergabungnya Sylvia menjadi investor riset prosesor WIMAX ini bukannya tanpa perhitungan. Sebelumnya Sylvia telah melakukan riset seberapa prospektif inovasi processor untuk teknologi telekomunikasi yang terbilang masih langka di Indonesia ini. Ternyata dari risetnya, pelahap buku tentang filosofi ini menemukan bahwa saat itu hanya terdapat enam desainer chipset untuk BWA di dunia. “Akhirnya saya pikir bagus juga bila dikembangkan karena di Asia Tenggara belum ada,” imbuhnya. Hal inilah yang menjadi motivasi terbesar bagi tim inovasi Xirka untuk mengembangkan chipset berstandar internasional. “Saat itu tipenya masih tipe d (IEEE 802.16d-2004) yang statis atau fixed BWA,” tambah Sylvia. Tipe fixed BWA ini bisa diaplikasikan pada WiMax indoor modem dan outdoor modem (CPE). Untuk itulah, fixed BWA lebih tepat digunakan untuk rumah ataupun industry skala kecil dan menengah. Xirka pun dipilih menjadi brand chipset ini karena filosofinya seperti circle atau lingkaran, dimana pengembangan teknologi itu tak pernah berhenti.

Penemuan chipset fixed BWA ini dirasa belum cukup kompetitif untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar. Untuk itulah, proses pengembangan terus berjalan hingga akhirnya tahun kedua berhasil mengembangkan microprocessor untuk mobile BWA dengan tipe IEEE 802.16e-2005. Tipe ini bekerja pada channel bandwidth 5 dan 10 MHz. chipset ini ditanamkan pada personal computer (PC) atau notebook yang telah tertanamkan fitur WIMAX. Sedangkan untuk jenis notebook yang belum menjangkau fitur WIMAX ini bisa menggunakan Xirka sebagai USB modem sehingga bisa dipergunakan di manapun. Dalam proses pengembangan Xirka ini memang tak mudah, termasuk dalam hal pendanaan. Sylvia mengakui bahwa investasi yang digelontorkan mulai dari riset hingga proses produksi masal Xirka ini tak sedikit. “Hampir Rp25 miliar,” ujarnya tanpa ragu. Hal ini tak lain karena biaya riset dan uji coba yang dilakukan di laboratorium di Jepang tentu tak murah. Untuk sebuah ujicoba microchip saja membutuhkan 12-13 mesin. Dengan demikian, Sylvia menggunakan alternative lain agar lebih efisien dengan system pola sewa.

Dari Lokal Untuk Indonesia

Semangat innovator muda Indonesia ini akhirnya menuai hasil ketika tahun 2008 silam, Xirka mendapatkan pengakuan dari WIMAX Forum dan menjadi principal member of WIMAX Forum. Masuknya Xirka melalui PT Dama Persada menjadi principal member of WIMAX Forum ini menempatkannya menjadi produsen chipset ke delapan di dunia. Principal member ini adalah perusahaan-perusahaan atau vendor yang berkecimpung dibidang manufacturing WIMAX ataupun menjadi distributor WIMAX. Xirka yang merupakan plesetan dari kata circle atau lingkaran kini boleh bangga karena menjadi pionir chipset BWA di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Selain itu, Xirka juga meraih juara dalam Asia Pacific Information Communication Technology Award (APICTA) 2008 karena kemampuannya untuk menggabungkan antara inovasi teknologi dengan business plan serta potensi pasar di pasaran.

Xirka tipe IEEE 802.16e-2005 ini telah diluncurkan pada Agustus 2009 dan akan diproduksi secara masal pada kuartal satu tahun 2010. Target awalnya adalah satu juta chipset untuk produksi pertama dan 200-300 ribu diantaranya untuk pasar Eropa Timur dan Timur Tengah melalui agen di Jepang. Sedangkan untuk tipe fixed BWA justru telah diproduksi secara masal pada kuartal satu tahun 2009 ini.

Kendati 90% bahan Xirka adalah produk lokal, tetapi harganya masih kompetitif dengan produk serupa di dunia. Untuk sebuah chipset BWA harga standar internasional mencapai US$80 atau mencapai Rp800 ribu. Menurut Sylvia, dengan harga US$80 untuk sebuah chipset BWA, harga notebook ataupun PC menjadi lebih tinggi dan ditakutkan tak terjangkau untuk masyarakat Indonesia. Untuk itulah, Xirka hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan teknologi informasi. Sayangnya, Sylvia belum bisa menyebut harga Xirka yang akan dipasarkan, namun bisa dipastikan bahwa harganya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan chipset BWA lainnya dengan kualitas yang tak kalah dengan chipset buatan vendor lain. “Walaupun tidak bisa dibilang murah mengingat teknologi tinggi. Namun harga Xirka masih affordable,” kata Richard Kartawijaya, juri Asia Pacific Information Communication Technology Award (APICTA) 2008.

Mengingat penggunaannya ditanamkan pada PC ataupun notebook, produsen notebook pun menjadi sasaran pasar Xirka. “Pastinya kita akan mengarah kesana. Namun, kita cenderung untuk bermitra dengan vendor lokal seperti Zyrex dan lainnya,” jelas pehobi tap dance ini. Tak hanya itu sebagai perangkat pendukung WIMAX saja, Xirka bisa dipergunakan sebagai digital TV bahkan GPS. “Tergantung pada Xirka ini diprogram untuk apa?” ungkap Sylvia. Ternyata, di sisi teknologi informasi Indonesia kini boleh berbangga dengan penemuan Xirka Chipset BWA ini. Semoga saja, dengan inovasi chipset BWA ini akan memicu munculnya inovasi-inovasi baru di bidang teknologi informasi. Sylvia pun berharap agar pemerintah mendukung munculnya inovasi-inovasi teknologi dengan penyediaan laboratorium testing (uji coba). “Dengan demikian, tak perlu terbang ke Jepang hanya untuk uji coba,” pungkasnya.

Profil Inovator

Nama                       : Sylvia W. Sumarlin

Jabatan                    : Chief Executive Officer PT Xirka Dama Persada

Penghargaan yang diperoleh:

  1. APICTA : Asia Pacific Information Communication Technology Award Desember 2008
  2. Principal member of WIMAX Forum

Prospek Bisnis

Meluasnya solusi teknologi telekomunikasi yang lebih murah dalam bentuk Broadband Wireless Access (BWA) atau WIMAX menciptakan peluang ekonomi terutama penciptaan perangkat pendukung WIMAX. Richard Kartawijaya, chief executive officer PT Informatika Solusi Bisnis pun menyebut bahwa WIMAX akan menjadi sebuah solusi teknologi yang jelas dibutuhkan di masa depan. Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 230 juta, mau tidak mau penggunaan WIMAX pun akan meluas di Indonesia. “Dan Xirka ini menjadi pionir vendor chipset untuk WIMAX,” jelasnya. Dengan jumlah internet user di Indonesia yang baru mencapai 40 juta user serta potensi pasar seluler sebesar 130 juta user bila dibandingkan dengan total penduduk yang mencapai 230 juta. Potensi pasar yang luar biasa gurih untuk digarap. Sylvia pun memiliki ambisi mengambil posisi atas market potential yang tersedia meskipun tak terlalu besar. Jelas Sylvia, “Cukup 10% dari pasar internet dan pasar selular.”


Testimonial :

Richard Kartawijaya, Chief Executive Officer PT. Informatika Solusi Bisnis (Juri Internasional APICTA 2008)

Xirka adalah salah satu peluang dari penggunaan WIMAX di masa depan. Selama ini, Indonesia selalu tertinggal di bandingkan negara lain dalam bidang teknologi telekomunikasi. Xirka menempatkan dirinya sebagai pionir dari WIMAX solution technology di Indonesia dan Xirka sebagai the only vendor yang memproduksi chipset membuat positioning-nya sangat kuat di industri. Sayangnya, Indonesia bukan negara yang mengenal teknologi tinggi dengan baik sehingga tak mudah untuk mengembangkan dengan lokal SDM.

*****

3 responses to “Xirka Chipset: Chipset Lokal Prestasi Global

  1. Pingback: Xirka Chipset: Chipset Lokal Prestasi Global « electrical engineering Blog

  2. Selamat semoga terus maju dan semoga Allah SWT selalu melindungi Pak Eko & Pak Trio & Ibu Sylvia serta selalu menuntun untuk menemukan hal-2 yang baru sehingga kita bisa sejajar dengan bangsa-2 lain.
    Kalau pemerintah tidak mendukung untuk reset kami boleh usul “biaya risetnya bisa dijual kepada para donatur & pengusaha yang masih perduli bangsa ini harus maju” dikembalikan kalau berhasil insya Allah dimudahkan Allah SWT amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s