Hati-Hati Dengan Nyawa Anda!

Kasus malpraktek ataupun salah diagnosis memang bukan hal baru di dunia kedokteran. Tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam, eksekutif pun tak luput dari kasus ini. Parahnya, salah diagnosis ini bisa mengakibatkan melayangnya nyawa.

Sore itu (6/8), Robusta Cafe di Grand Indonesia tampak lebih ramai dari biasanya. Ternyata A.B. Susanto, managing partner The Jakarta Consulting Group, melalui kuasa hukumnya, Didit Wijayanto Wijaya, tengah menggelar konferensi pers. Konferensi pers ini terkait dengan pelaporan gugatan perdata A.B. Susanto kepada pihak Rumah Sakit Siloam International, Lippo Karawaci, atas perbuatan melawan hukum.

Lagi-lagi kasus tindakan malpraktek dan salah diagnosis harus terjadi dan memperburuk citra pelayanan kesehatan di Indonesia. Dan naasnya, kejadian itu bisa menimpa  siapa saja. Tak hanya masyarakat awam, kalangan eksekutif pun bisa mengalami hal serupa. Mereka rela menggelontorkan uang lebih banyak dengan harapan mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik. Namun, apa yang mereka dapatkan? Bukannya kesembuhan, tetapi justru cacat fisik, bahkan kematian. Hal ini dialami oleh A.B. Susanto (managing partner The Jakarta Consulting Group), Madjdi Ali (mantan direktur utama Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912), dan Sita Dewati Darmoko (istri mantan direktur utama PT Aneka Tambang Tbk.).

Lalai yang Berujung Maut

Setelah mengajukan somasi selama 1,5 tahun dan hasilnya nihil, A.B. Susanto  pun  menggugat secara perdata Rumah Sakit Siloam International (RSSI), Lippo Karawaci. Kasus ini berawal saat Susanto melakukan injeksi cement pada bagian tulang belakangnya di rumah sakit tersebut, 8 Maret 2008 silam. Sesaat setelah tindakan injeksi, kondisinya bukannya membaik,  Susanto justru merasakan kaki kirinya lumpuh.

Dari situ, baru diketahui bahwa yang melakukan operasi ringan tersebut, yang sedianya dilakukan oleh Dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp. BS, ternyata digantikan oleh Dr. Julius July tanpa seizin dan sepengetahuan Susanto. Saat masuk RSSI, Susanto dalam keadaan mampu berjalan, tetapi keluar dari sana ia justru jadi bergantung pada kursi roda selama tiga bulan. Akhirnya, pada 17 Maret 2008, Susanto memutuskan untuk pindah konsultasi (second opinion) dengan Dr. Alvin Hong di Mount Elizabeth Singapura. Hasil pemeriksaan dokter di Singapura itu menyatakan bahwa kejadian tersebut diakibatkan oleh jarum injeksi yang masuk ke medulla spinalis yang sama sekali steril untuk disentuh. Terlebih lagi ada pendapat yang menyatakan bahwa injeksi cement tersebut sebenarnya sama sekali tidak diperlukan.

Susanto sesekali menyesali langkah injeksi cement yang seharusnya tidak perlu dilakukan setahun silam. “Kehidupan saya berubah total karena kecerobohan dokter,” sesalnya. Karena itulah, Susanto mengajukan ganti rugi materiil senilai Rp1,856 miliar, terdiri dari kerugian biaya konsultasi dan pengobatan sejak 2005 hingga Juli 2009 dan ganti rugi atas hilangnya peluang perolehan penghasilan. Susanto memperkarakan pihak RSSI tak lain sebagai upaya untuk menyuarakan pelanggaran hak konsumen. “Saya berharap bisa mewakili voicing the voiceless agar kejadian serupa tak lagi terjadi pada pasien berikutnya,” imbuh Susanto.

Kasus yang berbeda terjadi pada istri Darmoko, mantan direktur utama PT Aneka Tambang Tbk. Kelalaian administrasi pihak rumah sakit berakibat  melayangnya nyawa Sita Dewati Darmoko. Awalnya, pada 2005 Sita didiagnosis menderita penyakit tumor ovarium dan harus dilakukan operasi pengangkatan tumor. Operasi dilakukan pada 12 Februari 2005 oleh Prof. DR. Ichramsyah A. Rachman di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Usai operasi, berdasarkan data pemeriksaan pathology anatomy dinyatakan bahwa tumor yang bersarang di tubuh Sita tidak ganas. Masalah baru muncul setahun kemudian ketika Sita kembali merasakan sakit di tempat yang sama. Ternyata dari pemeriksaan ini barulah ditemukan hasil pathology anatomy yang menunjukkan bahwa tumor tersebut ganas. Selain itu, hasil pemeriksaan CT-scan menunjukkan tumornya telah berada pada stadium IV. “Akibat kelalaian administrasi RSPI, nyawa ibu kami seperti tak ada artinya,” ungkap Pitra Azmirla, putri Darmoko, geram.

Kondisinya yang kian memburuk memaksa Sita dan keluarganya berjuang melawan maut. Sita pun harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali di rumah sakit yang berbeda. Beruntung, pihak RSPI memberikan medical record Sita dan akhirnya pindahlah Sita ke RS Medistra, Gatot Subroto. Di rumah sakit ini, kembali dilakukan pemeriksaan terhadap jaringan tumor yang telah diangkat setahun silam. Selanjutnya, dokter mengonsultasikan dengan pihak Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura sebagai second opinion. Namun, apa daya, sel kanker berkembang lebih cepat menggerogoti tubuh Sita dan merenggut nyawanya. Demi mendapatkan perlindungan hak atas konsumen, Sita yang diwakili oleh kedua putrinya, Pitra Azmirla dan Damitra Almira, mengajukan tuntutan kepada pihak RSPI sebesar Rp2 miliar. Walaupun telah dinyatakan menang dalam sidang di Pengadilan Tinggi, pihak RSPI mengajukan kasasi setingkat MA. Hingga saat ini, Pitra masih berharap keadilan berpihak kepadanya.

Berbeda halnya yang pernah dialami oleh Madjdi Ali, mantan direktur utama Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, yang pernah mengalami pengalaman tidak mengenakkan di sebuah rumah sakit swasta. Putranya yang didiagnosis menderita penyakit diabetes mellitus. Setiap satu jam sekali, anaknya harus melakukan pemeriksaan darah yang artinya setiap jam melakukan pengambilan darah. Madjdi, yang merasakan kejanggalan tersebut, akhirnya memindahkan anaknya ke rumah sakit lain yang jauh lebih baik pelayanan maupun teknologinya di daerah Serpong.

Upaya menggugat ketidakprofesionalan dokter dan rumah sakit atas tindakan malpraktek dan salah diagnosis pun dilakukan oleh pasien. Termasuk juga, pengajuan tuntutan kerugian materiil dan nonmateriil, yang dirasa belum mampu memulihkan trauma dan kekecewaan pasien. Kejadian demi kejadian yang menimpa pasien tentu membuat orang bertanya-tanya, di manakah harus mendapatkan pelayanan kesehatan di dalam negeri? Pasalnya, pada akhirnya, pasien yang sedianya berobat di dalam negeri dengan alasan supaya lebih murah, pada akhirnya lari ke luar negeri dengan jaminan pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik. Dan akhirnya, second opinion menjadi cara yang cukup ampuh untuk menghindari terjadinya tindakan malpraktek, salah diagnosis, maupun pelayanan kesehatan yang buruk. Sembari berharap, pihak rumah sakit di Indonesia makin meningkatkan pelayanan serta mengembalikan moral attitude dokter di Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Warta Ekonomi No 17 tahun XXI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s