ACAH (Atraktor Cephalopoda Harian): Alat Penangkap Gurita Nan Atraktif

Agus Cahyadi, seorang peneliti akustik kelautan dari Balai Riset Kelautan dan Perikanan berhasil menciptakan alat pancing gurita yang memanfaatkan sinyal frekuensi rendah (subsonic). Selain relatif lebih aman, ramah lingkungan, alat ini juga lebih efektif dan efisien dibanding cara tangkap tradisional biasanya.

Laut Indonesia memang menyimpan kekayaan yang luar biasa melimpah. Perkiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai US$149,94 miliar atau sekitar Rp14.994 triliun. Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai US$31,94 miliar, wilayah pesisir lestari US$56 miliar, bioteknologi laut total US$40 miliar,  wisata bahari US$2 miliar, minyak bumi sebesar US$6,64 miliar dan transportasi laut sebesar US$20 miliar.

Betapa potensi yang sangat gurih untuk digarap. Namun demikian, gurita nyaris tak pernah dianggap sebagai produk unggulan perikanan di Indonesia. Selain karena masyarakat awam yang jarang mengkonsumsi gurita, terdapat kecenderungan untuk diekspor ke luar negeri. Harga jualnya pun cukup tinggi, meskipun untuk menangkap gurita sebanding dengan resiko yang dikeluarkan oleh nelayan. Resiko tuli, bahkan lumpuh harus siap ditempuh oleh nelayan gurita. Hal itu yang menginspirasi Agus Cahyadi, peneliti akustik laut untuk menciptakan alat pancing gurita elektronik yang diberi nama ACAH (atraktor cephalopoda harian).

Memanfaatkan Gelombang Frekuensi Rendah

Agus menggagas alat temuannya ini sejak tahun 2006. Profesi Agus sebagai peneliti akustik kelautan (marine acoustic) memang mengharuskan Agus berkecimpung dibidang biota laut khususnya dolphin atau lumba-lumba dan paus. Bidang ini memang sangat langka di Indonesia. Namun, dalam perjalanannya Agus tertarik pada bidang lain yaitu octopus sejak sepuluh tahun silam. Octopus memang bukan bidang popular di Indonesia, padahal Indonesia kaya akan potensi binatang ini. Tetapi dalam kenyataannya, negara pengekspor terbesar gurita di dunia justru di klaim oleh Malaysia dan Vietnam. Mengingat potensi kelautan Indonesia yang sangat besar dan didominasi oleh karang yang menjadi habitat gurita, Agus pun mempelajari seluk beluk binatang berkaki delapan ini. “Kalau di Jepang octopus adalah ikan yang paling mahal,” ujar Agus. Hal inilah yang membuat Agus tertarik membuat alat pancing gurita.

Bila selama ini masyarakat nelayan gurita menangkap gurita dengan cara tradisional menggunakan tombak dan kubus. Namun, penggunaan tombak dan kubus ini benar-benar tidak efisien. “Tetapi alat itu tidak banyak digunakan karena ribet dan alatnya berat. Jadi, effort sangat besar tapi hasilnya tidak seberapa,” jelas Agus. Sementara dengan penggunaan tombak, mau tidak mau si nelayan harus menyelam menombak gurita yang hidup di karang dan akibatnya merusak terumbu karang. Hingga tahun 2007, sebanyak 65% nelayan menggunakan tombak untuk menangkap gurita.

Keterbatasan inilah yang membuat Agus menciptakan alat pancing gurita dengan menggunakan teknik elektronik dan pendekatan fisiologis yang mengadopsi karakteristik gurita itu sendiri. Gurita memiliki karakter gemar hidup berkoloni. Agus memanfaatkan betul karakter ini dengan membuat desain ACAH yang serupa dengan gurita. ACAH berbentuk seperti tangan manusia dengan dua buah kait di atas dan beberapa hook dari logam yang akan memancarkan kilau saat diterpa sinar matahari dan berwarna dasar coklat tanah atau abu-abu dengan totol warna-warni di atasnya. Agus memang mendesain bentuknya sedemikian rupa karena karakter gurita yang cenderung untuk menghampiri ACAH yang dianggap musuh di daerah kekuasaannya.

Yang kedua, gurita cenderung menyukai saat diberikan treatment suara khususnya gelombang berfrekuensi rendah (subsonik). Di dalam alat ini terdapat komponen elektronik yang secara otomatis akan memancarkan frekuensi saat menyentuh air laut yang mengandung garam sebagai pengantar electron. “Karena kecepatan suara di air lima kalinya lebih cepat daripada cahaya, jadi mengakibatkan ketika dicelupkan ke air, ada transmitter suara yang berpendar dan ditangkap oleh gurita,” jelas Agus. Perpaduan desain ACAH yang berwarna-warni dan gelombang frekuensi rendah membuat gurita tertarik untuk mendekat dan happpp…. Gurita pun tertangkap! Harapannya, dengan penggunaan alat ini, nelayan tak perlu lagi menyelam dan merusak terumbu karang. Jadi prinsipnya dibalik, bukan nelayan yang menghampiri gurita tetapi gurita yang menghampiri ACAH.

Metode penangkapan ini jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan cara tradisional. Dengan alat ini, gurita yang tertangkap kualitasnya lebih baik tanpa harus merusak daging gurita. Kondisi daging gurita yang masih bagus bisa mendongkrak harga gurita di pasaran terutama di pasar ekspor. Adanya isu makanan sehat di negara pengkonsumsi gurita membuat harga produk yang ditangkap dengan baik akan menjadi tinggi. Dengan demikian tentu akan turut berpengaruh pada terdongkraknya pendapatan para nelayan gurita. Agus memperkirakan dengan ACAH ini per harinya bisa menangkap delapan ekor gurita. Dengan estimasi per ekornya memiliki berat mencapai 1 kilogram dan harga per kilonya Rp25.000 maka penghasilan nelayan per harinya akan mencapai Rp200.000.

Siap Dikomersilkan

Saat ini ACAH masih dalam proses pengenalan produk di tiga perairan Indonesia diantaranya perairan Wakatobi, Sorong dan Padang. Prospek bisnisnya cukup menarik mengingat tinggi permintaan ekspor ke negara Jepang, Korea dan beberapa negara di Eropa seperti Venice, Spanyol, Italia. Agus juga mengakui masih memiliki ACAH ini masih memiliki kekurangan diantaranya alat ini belum bisa memisahkan antara bayi gurita dan gurita dewasa. “Saya masih berpikir bagaimana untuk bisa memisahkan gurita yang sudah layak tangkap atau belum. Alternatif lainnya adalah dengan melakukan konservasi/pembibitan gurita,” jelas sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor ini.

Meski begitu, Agus boleh tersenyum bangga. Berkat alat temuannya ini, Agus dinobatkan sebagai salah satu “101 Inovasi Indonesia” paling prospektif pada 2009 oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta Business Innovation Center. Pasca terpilihnya Agus sebagai salah satu kompetisi di bidang inovasi teknologi ini, peluang Agus untuk mengkomersilkan ACAH ini kian terbuka lebar.

Sejak Agustus 2009, Agus digandeng oleh RAMP Indonesia untuk pengembangan ACAH ini. RAMP Indonesia adalah sebuah program kerjasama antara Institut Pertanian Bogor (IPB), The Lemelson Foundation dan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) yang diketuai oleh Sandiaga S. Uno, presiden direktur PT Saratoga Investama Sedaya. Kerjasama ini meliputi kerjasama finansial dan non finansial. RAMP mensupport dalam bentuk dana untuk pengembangan teknologi. Sementara non-finansial dalam bentuk bantuan berbagai kegiatan promosi, publikasi dan persebaran informasi produk. Dan kerjasama ini membuahkan pada rencana pembuatan dan pabriknya sedang direncanakan di daerah Cibinong. Nantinya pabrik ini memiliki kapasitas produksi mencapai 10 ribu buah per tahunnya.

Andi Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi (INOTEK) menyebut ACAH ini memiliki prospek bisnis yang cukup baik. Demand ekspor gurita masih sangat tinggi. Belum lagi harga gurita di pasar lokal bisa menembus Rp28.000 per kilonya. Tak heran bila hidangan gurita ini masih sangat mewah di Indonesia. Di sebuah restoran ternama hidangan gurita per tentakelnya bisa dijual dengan harga Rp150 ribu. Andi menilai inovasi yang dilakukan oleh Agus bisa diproduksi secara komersil untuk kepentingan masyarakat. Nantinya, ACAH ini akan dijual dengan harga yang terjangkau, tak lebih dari Rp500 ribu agar terjangkau oleh masyarakat nelayan. Selain itu, Agus pun berharap bisa merekrut karyawan yang lebih banyak lagi ketika ACAH siap jual sebagai salah satu cara untuk mengurangi pengangguran.

Profil Inovator

Nama                       : Agus Cahyadi

Jabatan                    : Peneliti pada Pusat Riset Teknologi Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan

Penghargaan yang diperoleh:

  1. Sertifikat dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta Business Innovation Center sebagai salah satu dari “101 Inovasi Indonesia” paling prospektif pada 2009.

***

Prospek Bisnis

ACAH ini dimata Andy Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) memiliki prospek yang cukup bagus. Potensi perikanan Indonesia memang sangat luar biasa mengingat Indonesia didominasi oleh perairan. Meskipun gurita belum populer di pasar domestik, namun justru memiliki target pasar ekspor seperti Jepang, Korea, Amerika dan Eropa. Untuk itu, ACAH ini bisa dibilang memiliki prospek bisnis yang cukup cerah ke depannya mengingat pasar ekspor gurita di Indonesia masih sangat tinggi. Namun demikian, Nana Suryana, program coordinator Yayasan INOTEK mengingatkan agar Agus tetap melakukan riset dan pengembangan produk yang lebih mendalam. Terutama disisi desain dan nilai frekuensi gelombang rendah secara detil yang bisa ditangkap oleh gurita.

***

Testimonial:

Andy Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK)

Ada dua alasan mengapa ACAH ini layak disebut sebagai inovasi. Yang pertama adalah Agus memperkenalkan sebuah teknologi baru dalam metode penangkapan gurita yaitu penggunaan sinyal frekuensi rendah (subsonik) yang cenderung lebih efektif dan efisien. Yang kedua, adalah prinsip pelestarian lingkungan khususnya terumbu karang. Hanya saja, saat ini ACAH masih dalam proses pengembangan sebagai persiapan masuk ke tahap komersialisasi.

###

15 responses to “ACAH (Atraktor Cephalopoda Harian): Alat Penangkap Gurita Nan Atraktif

  1. ASSALAMUALAIKUM.MAS,SAYA MO NANYA SEANDAINYA ALAT PENANGKAP GURITA dijual dipasaran,kira kira harganya berapa.terima kasih.

  2. Dear pak Gatot dan Pak Budi…
    terimakasih atas kunjungannya ke blog saya. Harga alat penangkap gurita ini dijual Rp300 ribu per alatnya. Apakah bapak berminat?

  3. dear pak Audit…
    terimakasih telah berkunjung… harga ACAH ini Rp300 per set… untuk mendapatkannya nanti saya sambungkan dengan narasumber saya. apakah bapak berminat?

  4. ass.dmna ya dapatin ACAH, saya tertarik mo beli…berapa harga nya per set ditambah ongkos kirim di Makassar ??? dan dimana saya mentrasfer uangnya.terima kasih.bls budiarto

  5. saya jg mau alat ini, dimana bisa pesan? dan harga per setnya berapa? apakah ada petunjuk penggunaannya?? atau ada no yg bs sy hubungi? trima kasih. mhn bls scpatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s