Meraup Rupiah dari Kombinasi Pendidikan dan Bisnis Animasi

Selama ini orang umumnya berpikir dunia animasi hanya sebatas kartun.  Padahal cakupannya lebih luas dari itu. Animasi bisa menjadi pendukung di berbagai bidang kehidupan. Bahkan, di Indonesia, ia menjadi penopang industri konten. Wahyu Aditya adalah salah satu pelaku kreatif animasi. Bagaimana kiprahnya?

Bagi Anda pencinta musik, tentunya pernah mendengar lagu milik grup musik Padi yang berjudul “Bayangkanlah”. Video klip-nya pun unik karena berbentuk animasi serupa dengan video klip grup musik Gorillaz di Amerika Serikat. Kualitasnya hampir sepadan. Bisa jadi, video klip animasi itu menjadi gebrakan baru bagi dunia musik Indonesia. Sebutan “kreatif” dan “think out of the box” patut disematkan pada sang sutradara. Namun, tahukah Anda siapa pembuat video klip animasi itu?

Wahyu Aditya, atau kerap disapa Waditya, adalah the man behind the video clip. Karyanya tak terhitung lagi di dunia animasi. Sebanyak 6 video musik, 10 konten acara televisi komersial, 11 film pendek, dan 100 konten motion graphic menjadi portofolio Waditya. Maka tidak salah jika Waditya pun ditahbiskan sebagai World Winner International Young Creative Entrepreneur untuk kategori film oleh British Council pada 2007 silam.

Konsep Bisnis Terintegrasi

Nuansa kreatif begitu kental terasa ketika Warta Ekonomi melangkah masuk ke kantor HelloMotion Academy di bilangan Tebet Raya, Jakarta Selatan. Memasuki kantor yang didominasi warna merah ini, kita akan disambut dengan display kaus bergambar  yang diberi nama “Distro KDRI”. Di sebelahnya, sebuah lemari kaca yang di dalamnya terpampang berbagai action figure. Sembilan buah icon smiley dengan berbagai background menghiasi salah satu dinding. Sementara di sisi yang lain, terpampang berbagai penghargaan yang pernah diraih sang direktur sekaligus kepala sekolahnya, Wahyu Aditya. Di antaranya, The Hubert Bals Fund Award-Jiffest 2005, The 2nd Place Winner Festival Film Animasi Indonesia 2005, The 3rd Asiana International Short Film Festival 2005, dan berbagai pajangan lainnya.

Waditya, yang belum genap seminggu pulang dari Jepang, bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi cerita dengan Warta Ekonomi. Pria berkacamata ini menuturkan bahwa kunjungannya selama 43 hari di Negeri Matahari Terbit itu atas undangan beasiswa sekaligus riset animasi dari Japan Foundation. Di salah satu ruang kelas HelloMotion Academy, Waditya menceritakan seputar perjalanannya di Jepang serta HelloMotion Academy miliknya. Pria kelahiran 4 Maret 1980 ini terhitung beruntung karena terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa yang diperuntukkan bagi pelaku kreatif dan seniman di kawasan Asia Pasifik. Di Jepang, Waditya berkunjung ke empat institusi pendidikan yang berkutat tentang animasi. Dari sinilah, cakrawala Waditya terbuka mengenai hal-hal baru yang berkaitan dengan dunia animasi. “Banyak hal dari scholarship yang saya dapat yang bisa diimplementasikan pada HelloMotion ini,” ungkapnya.

Ihwal kecintaannya terhadap dunia gambar dan desain dimulai sedari kecil. Waditya yang sangat mengidolakan tokoh Tino Sidin ini pernah membuat majalah besutannya sendiri yang diberi titel Sinoe. Isinya, tak lain, berbagai cerita rekaan Waditya kecil seperti komik Doracemot, kisah Cinderlela, jadwal acara televisi, dan bahkan dilengkapi dengan berbagai kuis berhadiah ala majalah profesional. Kecintaannya itu berlanjut ketika ia duduk di bangku sekolah menengah. Waditya sering kali mendesain kaus-kaus di sekolahnya. Hingga akhirnya, selepas SMU, Waditya melanjutkan kuliah di jurusan multimedia di KvB Institute of Technology Sydney, Australia.

Selepas kuliah dan lulus dengan menyabet predikat cum laude, Waditya bergabung di Trans TV sebagai creative designer dan animator. Bekerja sebagai creative designer sekaligus animator di sebuah korporasi besar tidak lantas membuat hati Waditya tenang. Sebaliknya, rasa prihatin justru muncul akibat maraknya film animasi impor yang menyerbu Tanah Air. Hal ini tak lain karena terbatasnya profesi animator Indonesia. Selain itu, adakalanya beberapa teknik yang dilakukan di industri tidak sinkron dengan pengajaran di kampus.

Setelah dua tahun bekerja, untuk mengurangi keresahan yang dirasakannya, Waditya pun berinisiatif membuat sebuah pusat pelatihan yang bisa membantu munculnya animator-animator di Indonesia. Berbekal uang pinjaman dari bank melalui orang tuanya sebesar Rp400 juta, Waditya menyewa sebuah ruko tiga lantai di bilangan Tebet Raya. Dan, tepat pada 8 April 2004, Waditya meresmikan HelloMotion Academy.

Membangun sebuah pusat pelatihan bukanlah perkara mudah, apalagi saat itu animasi masih dipandang sebelah mata. Kurikulumnya mengadopsi dari pengalaman semasa Waditya mengenyam bangku kuliah. Waditya tak ingin pengalamannya dahulu terulang pada calon animator berikutnya. “Terlalu banyak waktu terbuang di bangku kuliah untuk mempelajari hal-hal yang sering kali tidak digunakan saat terjun ke industri,” jelasnya. Materi di bangku kuliah dan pengalaman semasa bekerja di stasiun televisi pun menjadi bahan pengajaran di HelloMotion. Dengan demikian, Waditya berharap ada sinkronisasi kurikulum antara kebutuhan industri dan karier muridnya. Media komunitas pun menjadi sarana promosi Waditya di awal berdirinya HelloMotion.

Demi totalitas dan keseriusannya di dunia animasi, Waditya pun secara rutin mengadakan acara HelloFest sebagai sebuah wadah apresiasi. “Jadi, tak hanya pendidikannya, tapi saya juga concern dengan event-event-nya,” jelas suami dari Arie Ocktaviani ini. Melalui HelloFest, semua ekspresi karya seni, mulai dari video musik, film pendek, animasi 2D, animasi 3D, stop motion, video art, hingga festival cosplay (costume player), tumpah ruah di acara tahunan ini. Gabungan antara HelloMotion dan HelloFest inilah yang menjadi keunikan dari HelloMotion Academy. “Konsep bisnisnya adalah institusi yang lengkap dan terintegrasi baik dari pendidikan dan wadah apresiasinya,” jelas penggemar sushi sashimi dan rawon ini.

HelloMotion kini membuka empat kelas yang masing-masing berdurasi tiga bulan, yakni kelas Motion Graphic, Digital Movie Making, Editing, dan Animation Making. Dan, kelas Motion Graphic menjadi kelas favorit yang paling cepat mengumpulkan murid di sana. Dengan kapasitas maksimum delapan siswa per kelas, Waditya mematok biaya Rp3,9 juta per siswa. Setiap siswa difasilitasi satu unit komputer, kurikulum yang sesuai, dan bimbingan dari mentor. Menurut Waditya, dari biaya kursus ini, ia telah memperoleh profit margin sebesar 40%. Namun sayang, Waditya enggan merinci perhitungannya.

Setiap  bulan HelloMotion mampu membukukan omzet Rp75 juta. Hingga saat ini HelloMotion telah memiliki 900 siswa yang terdiri dari berbagai latar belakang. Murid Waditya ada yang berprofesi sebagai dokter, akuntan, mahasiswa, ataupun karyawan televisi swasta.

Obsesi Menjadi Pixar Indonesia

Seolah tak pernah puas, Waditya pun mengembangkan divisi lainnya yaitu divisi Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI). KDRI ini adalah sebagai manifestasi kecintaan Waditya terhadap dunia desain dan semangat  nasionalismenya. Nasionalisme ini diwujudkan dalam bentuk desain yang sarat dengan nuansa lokal. Alhasil, tokoh-tokoh dalam pewayangan seperti Bima, Srikandi, dan Rahwana pun ikut masuk dalam karya desainnya. Desain ini pun diimplementasikan lagi menjadi kaus-kaus dan dijual melalui Distro KDRI. Waditya berharap, dengan KDRI ini, industri animasi Indonesia mampu menciptakan karakter yang dicintai oleh orang Indonesia. “Mampu menyebarkan ‘virus’ nasionalisme juga,” imbuhnya. KDRI yang berdiri pada 2006 ini baru membukukan omzet Rp15 juta per bulan.

Berbagai penghargaan telah diraihnya dan, sebagai konsekuensinya, namanya pun kian populer di kalangan industri kreatif Indonesia. Namun, Waditya tidak lantas berpuas diri. Ia masih memendam obsesi, yaitu  menjadikan HelloMotion seperti Pixar Animation Studios di Amerika Serikat. Keinginan tersebut rasanya tidak berlebihan, mengingat sedari sekarang Waditya sudah merintis jalan untuk mewujudkan impiannya itu dengan rutin mengadakan HelloFest. Tokyo Comiket 76 pun menjadi role model Waditya untuk mengembangkan dunia animasi. Tokyo Comiket 76 adalah ajang pameran komik terbesar di dunia yang secara rutin diadakan di Jepang sejak 1975 dan mampu menyedot hingga 560.000 pengunjung di tahun 2009. “Impiannya, HelloFest bisa menjadi Tokyo Comiket 76 di Indonesia,” kata putra pasangan Dr. Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini. Meskipun membutuhkan usaha dan waktu yang panjang untuk menjaring animo sebanyak Tokyo Comiket 76, Waditya selalu menyosialisasikan HelloFest agar masyarakat aware dan turut berpartisipasi. Hasilnya? Tiap tahun HelloFest selalu mengalami kenaikan jumlah pengunjung.

Waditya masih berharap industri animasi di Indonesia bisa naik tingkat seperti di Korea, India, dan Cina. Meskipun masih membutuhkan waktu untuk mewujudkan harapannya, Waditya ingin agar masyarakat menjadi terbiasa dengan budaya gambar dan komik seperti yang terjadi di Jepang. Menurut dia, Indonesia sudah memiliki modal untuk mengembangkan industri animasi ini.  Suasana kreatif serta potensi SDM yang besar dan kreatif menjadi modal besar bagi Indonesia. Seraya berharap, pemerintah memberikan dukungan kebijakan agar kuota animasi di Indonesia bisa seperti di Korea.

HelloMotion Academy

Jl. Tebet Raya 45 C

Jakarta 12820

Telepon       : +62 21 837 919 52

Faksimile     : +62 21 837 919 52

E-mail          : hellomotion@yahoo.com

Website       : www.hellomotion.blogspot.com

Testimonial      :

Yorris Sebastian Nisiho, chief creative officer OMG Creative Consulting

Waditya adalah sosok anak muda yang kreatif dengan spirit entrepreneurship yang tinggi. Meskipun berkiprah di bidang yang tidak begitu populer, tetapi secara idealis mampu sejalan secara komersial.

Rule of success ala Waditya:

  1. Konsisten
  2. Total mengembangkan industri animasi dengan mengadakan HelloFest secara rutin setiap tahun.
  3. Tidak pernah merasa puas dengan pencapaian-pencapaiannya, sehingga hasrat untuk memajukan bisnis serta prestasi terus terasah.
  4. Tidak pernah berhenti belajar.

Profil :

Wahyu Aditya

Tempat, tanggal lahir      : Malang, 4 Maret 1980

Status                             : Menikah

Jabatan                           :

–      Pendiri dan Kepala Sekolah HelloMotion Academy

Pendidikan                      :
– Advanced Diploma of Interactive Multimedia – KvB Institute of Tech. Sydney, Australia

Penghargaan yang diraih :

  • Best Short Movie – Jakarta International Film Festival (2004)
  • Finalist Short Shorts Film Festival – Tokyo, Japan (2004)
  • Finalist Asiana Film Festival – South Korea (2005)
  • Win 8 Awards in Indonesia Animation Festival (2005)
  • Best Concept for Future Film – Jakarta International Film Festival & Hubert Bals Foundation (2005)
  • Special Achievement Award – FAN / National Animation Festival (2007)
  • Finalist of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Design Category – Indonesia (2007)
  • Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category – Indonesia (2007)
  • World Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category (2007)
  • 30 Most Inspiring People under 30 – Award from Hard Rock FM Indonesia (2008)
  • First Winner – Blogging Competition British Council (2008)
  • First Winner – Wirausaha Muda Mandiri Jabotabek – Bank Mandiri (2008)

3 responses to “Meraup Rupiah dari Kombinasi Pendidikan dan Bisnis Animasi

  1. salut…majuterus Wahyu Aditya..saya sendiri pernah bergelut di bidang animasi.. tepatnya dulu di Asiana Wang Animaion spesial Backgrounder..namun karena perhatian pemerintah sangat kurang dirasaka hingga animasi seperti job musiman di indonesia..
    saya sendiri begitu cinta terhadap animasi namun saya tak bisa bertahan di animasi tuntutan ekonomi..hehhee buat wahyu aditya kren ,hebat maju terus kawan…

  2. uhm…terimakasih buat komentarnya…
    oiya, hebat ya pak Selian ternyata animator juga? sepertinya tulisan saya yang ‘Animasi oh Animasi’ benar adanya ya pak? Sebetulnya Indonesia kaya animator dengan karya yang gak kalah dengan animator luar. Tapi sayangnya memang animasi masih menjadi emerging industries sehingga environment-nya memang belum tercipta dengan baik. Semoga tulisan ini menginspirasi para animator muda Indonesia untuk tidak menyerah…

  3. hehe..yang hebat mas wahyu aditya telah terbukti…benar attalicious..artikel yang sampeantulis sudah tepat sekali…namun mari kita perjuangkan dunia animasi di indonesial layak untuk di perhitungkn…salm kenal buat Attalicious..kalu tak keberatan mampir ke blog kita dong…hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s