Food Estate: Berebut Kue Baru di Bumi Cendrawasih

Program food estate di Merauke (Merauke Integrated Food & Energy Estate/MIFEE) memang gencar digembar-gemborkan oleh pemerintah. Idealnya bila program ini berjalan, akan menumbuhkan perekonomian di Merauke. Selain industri pupuk, benih sudah pasti melibatkan industri penunjang lainnya seperti transportasi dan distribusi. Peluang bisnis ataupun ekspansi terbuka luas disini. Dapat ditebak, multiplier effect secara otomatis akan bergulir baik bagi investor maupun masyarakat lokal.

Di suatu pagi yang sangat cerah, tepat tanggal 8 Oktober tahun lalu, Bank Mandiri punya hajatan besar. Saat itu, bank dengan asset Rp375,2 triliun di tahun 2009 ini tengah menggelar acara ‘Papua Investment Day’ di Hotel Four Seasons yang dihadiri oleh Gubernur Propinsi Papua, Barnabas Suebu, Gubernur Propinsi Papua Barat Abraham Octavianus Atururi, Bupati Merauke John Gluba Gebze dan Arifin Panigoro, founder dari Medco Group. Di acara itu, Bank Mandiri mempertemukan korporasi besar dengan stoke holder di Papua dan Papua Barat dengan tujuan optimalisasi potensi ekonomi di dua propinsi tersebut.
Dalam acara itu, Agus Martowardojo menyebut bahwa di sektor perkebunan, kelapa sawit dan kakao merupakan komoditas yang dominan di Papua baik dari segi produksi maupun luas lahan. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. “Bahkan Jepang juga telah memberikan dukungan untuk menjadikan Papua sebagai lumbung pangan Asia, karena salah satu wilayahnya, Merauke dinyatakan tepat sebagai lahan baru pengembangan pertanian pangan dengan luas awal 500.000 hektar,” kata Agus yang mengenakan jas hitam berdasi kuning dalam memberikan keynote speech-nya.

Nampaknya, Bank Mandiri memang sangat serius. Bahkan Agus menyatakan dengan pertemuan ini untuk mensinergikan antara korporasi sebagai investor dengan pemerintah dan perbankan. “Nilai portofolio kredit Bank Mandiri di Papua mencapai Rp883 miliar per Juni 2009,” cetus Agus bangga. Tak tanggung-tanggung, Agus bahkan pasang target portofolio kredit mencapai Rp1,2 triliun di tahun 2009 lalu.

Arifin Panigoro, founder of Medco Group yang hadir dalam acara itu pun tak segan berbagi cerita tentang kiprah Medco di Merauke. Medco melalui Medco Foundation & Conservation International memprakarsai penerapan studi tata ruang (spatial planning) melalui identifikasi keanekaragaman hayati (biodiversity), sosial, ekonomi dan budaya warga lokal dan berlangsung di lahan konsesi Medco 350.000 hektar. Medco yang telah masuk ke Merauke sejak tahun 2007 ini mengawali dengan riset pada 20 hektar lahan pertanian di Desa Serapu, Distrik Semangga Kabupaten Merauke dengan komoditas jagung, kedelai, sorgum manis, padi dan tebu. Berdasar sumber Warta Ekonomi yang enggan disebut namanya, investasi yang telah digelontorkan untuk riset ini sebesar Rp12 miliar untuk lima tahun masa penelitian. Bukti keseriusan Medco untuk menggarap lahan di Bumi Manokwari ini.

Peluang Bisnis Baru
Tak bisa dimungkiri, adanya program food estate ini sudah pasti mendatangkan sebuah peluang bisnis baru bagi beberapa industri yang terlibat di dalamnya. Hal ini tak lain karena program food estate ini tak bisa berjalan tanpa dukungan industri lainnya. Mulai dari industri benih, pupuk hingga sektor transportasi dan distribusi sebagai penunjang produksi.

Industri pupuk menjadi salah satu industri yang menuai berkah dari adanya program food estate ini. Bahkan belum lama ini, PT Pangan Energi Nusantara menjalin kerjasama dengan Pemda Merauke yang ditandai dengan penandatanganan MoU terkait pengembangan Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMP) dan pembangunan pabrik pupuk NPK bulk blending di sentra produksi. PT Pangan Energi Nusantara merupakan sinergi sembilan BUMN bidang pertanian diantaranya Bulog, PT Sang Hyang Seri, Pertani, PT Pusri, PT Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Kaltim, Pupuk Kujang, Jasa Tirta I dan Jasa Tirta II.

Sementara itu, Dadang Heru Kodri, direktur utama Pusri Holding masih enggan berkomentar apakah perusahaannya akan masuk dalam program ini. “Belum ada (investasi-red) baru kunjungan oleh direktur pemasaran,” demikian pesan singkat yang Warta Ekonomi terima dari Dadang, Kamis (25/2) silam. Dadang juga menjelaskan Pusri bersama produsen anggota holding sudah berkunjung ke Merauke. Sementara untuk masuk ke program memang masih harus ada perhitungan yang lebih mendetail. “Kalau harus impor lebih baik bangun di Indonesia yang berarti program membangun pabrik baru,” tegas Dadang.

Tak hanya industri pupuk nasional yang memandang food estate sebagai sebuah peluang bisnis. Industri benih nasional sudah dapat dipastikan akan menuai keuntungan dari program ini. Seperti PT Sang Hyang Seri (SHS) yang pada pertengahan Februari yang lalu turut menandatangani MoU dengan Pemda Merauke dalam upaya pengembangan industri benih. Dalam rangka mendukung program ini, per Mei 2010 PT SHS akan memproduksi benih padi di Merauke dan siap dikomersilkan pada November 2010. Produksi benih dilakukan dengan bekerjasama dengan petani lokal dengan jenis varietas benih yang menjadi prioritas adalah Ciherang dan IR-64. ”Petani memproduksi benih sesuai arahan teknis kami, lalu benih dijual kepada SHS,” kata Eddy seperti dikutip dalam media online nasional.

Dengan demikian, bisa dipastikan Merauke tidak lagi bergantung pada pasokan benih dari Sulawesi Selatan yang akibatnya harga benih menjadi lebih murah. Eddy Budiono, direktur utama PT Sang Hyang Seri dalam sebuah media online menyebut produksi benih akan dilakukan di Distrik Kurik dengan memanfaatkan 100 hektar lahan dari 500 hektar lahan produksi yang telah disiapkan. Besaran investasinya pun relatif kecil, kata Eddy dalam media online mengingat setiap hektarnya hanya membutuhkan investasi Rp5-6 juta dengan produktivitas benih 4 ton per hektar. Saat ini, kebutuhan benih di Merauke mencapai 500 ton dengan biaya produksi benih padi Rp 5.000 per kilogram.

Memerlukan Kehati-Hatian

Tak hanya di sektor pertanian saja, sektor transportasi sebagai sarana penunjang distribusi hasil produksi food estate ini pun turut menuai berkah. Namun demikian, bukan berarti dengan terbukanya peluang bisnis baru serta merta membuat investor berlomba-lomba terjun ke dalam bisnis ini. Salah satunya adalah PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. Antonius Widyatma Sumarlin, direktur utama PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk secara pribadi sangat mendukung program ini. “Hanya saja karena saya memegang dan memimpin industri perkapalan, saya dalam sisi ini harus berhati-hati dalam penjajakan sisi bisnisnya,” jelas Antonius.

Untuk industri yang sudah investasi di Merauke seperti Medco secara otomatis sudah mengerti situasi dan kondisi sehingga kalkulasi resiko sudah bisa diperhitungkan olehnya. Sementara Antony mengakui bahwa dirinya belum mengkalkulasi investasi dan resiko yang harus dihadapinya untuk memasuki bisnis ini. Dan dirinya menyebut akan melirik program ini seandainya mendapat perlakuan yang sama bagi semua investor. “Apakah kita akan masuk dalam program food estate ini, kita lihat ada atau tidak insentif dari pemerintah yang memungkinkan kita untuk masuk dalam food estate ini. Karena sebagai bisnis, secara otomatis kita harus memperhitungkan return dari investasi yang akan kita ambil,” kata Antony saat dihubungi via telepon.

“Produk pertanian itu berbeda dengan produk-produk lainnya karena terikat dengan musim, hama dan lain sebagainya,” jelas Antony. Selama ini sebagian besar klien dari Humpuss Intermoda Tranportasi Tbk. adalah perusahaan minyak dan gas serta produk kimia, sehingga tak mudah bagi HITS untuk masuk dalam program ini. Artinya untuk ikut serta dalam bisnis ini, mau tidak mau HITS harus menggelontorkan lagi investasi dana untuk pembelian kapal angkut untuk produk pertanian. Dan investasinya untuk pengadaan kapal baru ini memang tidak murah. Antony mengilustrasikan untuk satu buah kapal bekas jenis Handymax dengan kapasitas angkut 40 ribu ton HITS harus menggelontorkan investasi sebesar US$18-20 juta. Bukan investasi yang murah memang. Untuk itulah, lanjut Antony, pihaknya masih mempertanyakan apakah perbankan nasional siap untuk menggelontorkan bantuan permodalan pada sektor transportasi.

Tak hanya itu, Antony pun berharap agar pemerintah memberikan kemudahan industri perkapalan untuk berpartisipasi dalam program ini melalui keringanan insentif berbentuk tax diverment. “Saya tidak minta tax avoidance. Namun saya mengharapkan sesuatu yang memungkinkan kita untuk balik modal,” ujar Antony. Pada akhirnya bila memang program food estate ini berjalan sesuai dengan harapan, tak sedikit industri yang mendapatkan berkah peluang bisnis baru di belahan timur Indonesia. Dan bisa dipastikan, bila para investor tertarik masuk ke food estate ini, otomatis perekonomian Merauke pada khususnya dan Papua pada umumnya akan bertumbuh. Bumi Manokwari tak lagi terbelakang dan siap bersaing dengan propinsi lainnya di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s