Bak Pisau Bermata Dua: Harus Ada Regulasi Ketat Yang Mengatur Praktek Bisnis MNC

Multiplier Effect Keberadaan MNC

Multinational company memang bukan fenomena baru di dunia bisnis. namun demikian, keberadaan perusahaan multinasional ini memang sangat dilematis. Disatu sisi, memberikan berbagai efek positif namun di sisi lain keberadaannya harus selalu dalam pengawasan pemerintah.

Multinasional company, bagaimanapun keberadaannya masih sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Keberadaan multinasional company ini adalah bukti dari adanya foreign direct investment yang masih bertahan di negara ini. walaupun memang tak banyak jumlah multinasional company yang ada Indonesia, tetapi sebagian besar MNC yang ada di Indonesia sudah sejak era Soeharto. Indonesia lagi-lagi merupakan pasar yang sangat potensial dimata mereka. “Alasan mereka berada di Indonesia tak lain karena market driven dan potensi sumber daya yang sangat besar yang dimiliki Indonesia,” kata A. Prasetyantoko, pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya ini. Jumlah penduduk yang hampir mencapai 250 juta jiwa merupakan potensi pasar  yang sangat gurih bila digarap dengan serius. Jadi, tak heran bila perusahaan multinasional tertarik untuk masuk dan investasi di pasar Indonesia dengan perhitungan resiko tentunya.

Perusahaan multinasional ini bercirikan memiliki kekuatan modal yang sangat modal di beberapa negara. Selain itu, MNC identik dengan memiliki pabrik atau kantor di negara yang berbeda dengan sebuah kantor pusat di mana berperan sebagai coordinator manajemen global dan biasanya berada di negara asal (home country). Oleh karena kekuatan modal yang sangat besar inilah, membuat keberadaan perusahaan multinasional ini memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam hubungan internasional maupun perekonomian lokal. MNC memegang peran penting dalam globalisasi. Bahkan ada argumentasi yang menyatakan bahwa bentuk baru MNC adalah evolusi dalam merespon globalisasi atau biasa disebut ‘perusahaan terintegrasi global’.

Tentunya dengan keberadaan MNC yang memiliki kekuatan modal yang sangat besar ini memiliki berbagai dampak terhadap negara tujuan investasi. Di satu sisi memang keberadaan MNC membuka lapangan pekerjaan serta kesejahteraan dan peningkatan teknologi di negara berkembang. Tapi di sisi lain, banyak pula yang beranggapan bahwa MNC memiliki pengaruh politik di atas pemerintah yang bisa mengeksploitasi negara berkembang sebaik menciptakan pengangguran di negara asal mereka. A. Prasentyantoko pun menyebut karena kekuatan modal yang besar, posisi tawar dari MNC juga menjadi sangat kuat. Efeknya, seringkali ketika MNC di Indonesia bermasalah maka hubungan bisnis yang tadinya B to B (business to business) bisa saja bergeser menjadi G to G (government to government) atau B to G (business to government). “Lobi politik menjadi suatu hal yang biasa,” imbuh ketua LPPM Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Perusahaan multinasional yang masih bertahan di Indonesia memang tak lain karena tiga hal. Pertama, karena perusahaan tersebut telah mengakar atau memiliki embeddedness yang sangat lekat kepada masyarakat lokal. Hal ini biasanya berkaitan dengan program kepedulian sosial (CSR) yang ditanamkan oleh perusahaan terhadap masyarakat lokal disekitar perusahaan. “Sehingga masyarakat sekitar merasakan manfaat dari adanya perusahaan tersebut,” kata Pras. Ambil contoh yang dilakukan oleh Sampoerna Agro yang memberikan usaha binaan kepada masyarakat disekitar pusat produksi atau biasa disebut plasma inti. Yang kedua adalah relasi supply chain yang sudah sangat mapan di Indonesia. Dan yang terakhir adalah relasi dengan civil society perusahaan multinasional sudah sangat terjalin dengan baik. Seringkali, MNC menggandeng organisasi lokal untuk mendukung bahkan mem-back up bisnisnya.

Efek Penyerapan Tenaga Kerja

Tak bisa dimungkiri, adanya MNC juga memiliki dampak bagi negara Indonesia. Pande Raja Silalahi, pengamat ekonomi dari CSIS menyebut dengan adanya praktek bisnis MNC di Indonesia membuat tatanan ekonomi pun berubah. Di Indonesia, ada beberapa MNC yang mendirikan pabrik-pabrik besar yang output-nya lebih banyak dipergunakan untuk konsumsi domestik. Dengan berdirinya pabrik-pabrik tersebut, maka tenaga kerja yang terserap dalam industri tersebut pun cukup tinggi. Bisa ditebak hasilnya? Angka pengangguran pun berkurang.

Meskipun harus diakui, untuk beberapa posisi penting di tingkat manajerial tak jarang diisi oleh warga negara asing (ekspatriat) dari negara asal MNC. Tapi di level staff maupun buruh biasanya diisi oleh warga negara asing. “Karena mereka juga tidak mungkin mendatangkan tenaga kerja untuk posisi ‘bawah’ dari negara asalnya. tak lain karena untuk meng-hire tenaga kerja dari negara asalnya akan membutuhkan cost yang mahal. Sementara tenaga kerja Indonesia terhitung murah dengan produktivitas yang tinggi,” jelas Pande.

Sejatinya, tenaga kerja Indonesia itu memiliki produktivitas yang tinggi. Hanya saja memang produktivitas yang tinggi ini tidak diimbangi dengan kualitas yang tinggi pula, sehingga tak mengherankan bila mereka dipekerjakan dengan murah. “Kalaupun belakangan disebut-sebut tinggi itu hanya move dari pihak-pihak tertentu saja,” kata Pande. Dan akibatnya, beberapa waktu belakangan beberapa MNC pun memindahkan pabriknya ke negara-negara tetangga dengan upah yang jauh lebih murah dari Indonesia. “Tetapi tak lama mereka juga akan melirik kembali ke Indonesia,” tandas Pande.

Bukan tanpa alasan, tenaga kerja Indonesia sudah terbiasa beradaptasi karena situasi yang memaksa bangsa Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi dan kemampuan bertahan yang sangat tinggi. Jadi, perkara kualitas sebenarnya tak kalah dengan negara lain. Hanya saja memang perlu menambah skill dan soft competency serta rasa percaya diri tak kalah pentingnya demi peningkatan posisi tawar pekerja.

Dan walaupun kemampuan penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan multinasional ini di sisi lain meningkatkan bargaining power (posisi tawar) perusahaan terhadap pemerintah suatu negara, karena bisa saja perusahaan tersebut dapat ‘mengancam’ pemerintah dengan relokasi produksi. Bisa ditebak kelanjutannya? Perusahaan bisa mencabut foreign direct investment dengan mudahnya. Dan alasan kekuatan perusahaan untuk mendikte inilah yang membuat perusahaan multinasional mau melakukan produksi internasional ke negara-negara lain.

Memperkenalkan Standar Baru

Sejalan dengan efek penyerapan tenaga kerja yang disebut di atas, ternyata keberadaan MNC di Indonesia justru memperkenalkan berbagai standar baru yang lebih baik. A. Prasentyantoko menyebut MNC selalu menerapkan standar produk dengan kualitas tinggi, dengan demikian secara otomatis pekerja berkenalan dengan standar-standar produk yang baru dengan kualitas yang terbaik. Penerapan standar produk tinggi ini biasanya disertai dengan penggunaan teknologi tinggi pula. Disinilah terjadi proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge) mengenai pemanfaatan teknologi dalam industri.

Selain itu, MNC yang biasanya perusahaan yang telah mapan (established) di negara asal maupun di Indonesia tentunya memiliki sistem manajemen yang jauh lebih baik. Kemapanan perusahaan inilah yang membuat MNC memiliki standar sistem manajemen yang berlaku dari kantor pusat (head office) hingga ke cabangnya (representative). Dengan adanya standar sistem manajemen yang jauh lebih baik inilah, maka sebenarnya telah terjadi transfer of knowledge dari perusahaan multinasional kepada karyawan lokal. “Tak heran, banyak dari CEO di Indonesia ini jebolan dari beberapa perusahaan multinasional. Mereka belajar banyak dari pengalamannya bekerja di MNC yang bisa diterapkan di perusahaan nasional,” imbuh ekonom yang kerap disapa Pras ini. Apa yang menjadi standar manajemen di MNC, mereka terapkan di perusahaan swasta lokal maupun BUMN untuk pembenahan agar kinerjanya semakin membaik.

Dan terbukti, beberapa perusahaan yang kinerjanya berbalik positif saat dipegang oleh CEO jebolan MNC. Sebut saja, keberhasilan Emirsyah Satar, CEO dan president director PT Garuda Indonesia dalam membenahi perusahaan penerbangan berpelat merah, Garuda Indonesia sejak 2005 silam. Emir yang mengawali karir sebagai akuntan di Pricewaterhouse Coopers ini berhasil mengantarkan Garuda Indonesia meraih laba bersih Rp1.009 triliun, meningkat dari pencapaian laba bersih 2008 sebesar Rp669 miliar. Emir pun mengakui bahwa pengalamannya bekerja sebagai assistant of vice president of Corporate Banking Group Citibank memberikan banyak pengetahuan baru termasuk di dalamnya mengenai sistem manajemen yang kelak bisa diterapkan saat membenahi manajemen Garuda.

Lalu, Rinaldi Firmansyah, CEO PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. yang juga sebelumnya berkarir di beberapa perusahaan multinasional ternama, diantaranya Siemens, Citibank dan Grup Tirtamas. Kini, Telkom kian cerah kinerjanya di tangan Rinaldi. Terlepas dari strategi mereka yang memang yahud, sedikit banyak kepemimpinan (leadership) yang diterapkan oleh mereka pasti dipengaruhi dari pengalamannya saat bekerja di perusahaan multinasional. Belum lagi pemimpin perusahaan lainnya yang hijrah dari perusahaan multinasional ke perusahaan swasta nasional maupun BUMN. Prasentyantoko yang juga analis kebijakan dari Center for Financial Policy Studies (CFPS), Jakarta ini pun menyambung dengan sistem manajemen yang jauh lebih baik secara otomatis sejalan dengan standar perburuhan yang lebih baik juga.

Masuknya perusahaan multinasional ke Indonesia selain membawa standar kualitas produk dan manajemen yang jauh lebih baik, tentunya menerapkan teknologi yang menjadi standar di negara asal. Biasanya negara asal perusahaan multinasional tersebut telah menerapkan standar teknologi tinggi (hi-tech) yang menunjang kinerja perusahaannya. Adanya teknologi tinggi itu, tentunya harus ditunjang oleh karyawan yang mumpuni untuk penggunaan teknologi tersebut. Oleh sebab itu, terjadilah transfer of knowledge tentang teknologi kepada karyawan lokal yang mungkin bisa diterapkan untuk perusahaan nasional. Tanpa disadari, dengan berbagai multiplier effect dari adanya perusahaan multinasional ini justru menumbuhkan manfaat kompetisi (competitive advantages) bagi pesaing utamanya baik perusahaan nasional maupun MNC lainnya.

Bak Pedang Bermata Dua

Hal ini sesuai dengan teori neoklasik yang menyebutkan bahwa dengan adanya foreign direct investment dapat meningkatkan kompetisi, penyediaan lapangan pekerjaan, dan mewujudkan pertumbuhan domestik. Bahkan menurut Harry Johnson, penulis buku A Life in Economics menyebut bahwa dengan adanya MNC ini akan memberikan berbagai efek positif bagi negara berkembang seperti teknologi canggih, kemampuan manajemen yang baik, pengetahuan superior tentang pasar luar negeri, cheap capital dan berbagai dampak positif lainnya. Meskipun begitu, keberadaan MNC ini menjadi pedang bermata dua, di satu sisi menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bagi kondisi perekonomian suatu negara.

Namun di sisi lain, adanya MNC ini menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran akan kemungkinan eksploitasi di negara penerima. Foreign direct investment memang bukan investasi yang murah. “Saat ini ada kecenderungan untuk asing berinvestasi di portofolio dibandingkan foreign direct investment,” kata Prasentyantoko. Investasi portofolio ini bisa berbentuk dalam surat utang negara (SUN), maupun instrument investasi lainnya. Hal ini masuk akal, karena investasi portofolio cenderung lebih aman, memiliki risk yang jauh lebih rendah dibandingkan FDI dan memberikan keuntungan yang sudah pasti.

Tapi memang FDI merupakan salah satu instrumen pemasukan modal luar negeri yang dibutuhkan oleh pemerintah. Untuk itulah, kembali peran pemerintah harus lebih dominan dan lebih cerdas dalam mengatur hubungan dengan perusahaan multinasional ini. Selain pemerintah harus ‘mengundang’ investor asing agar mau investasi langsung di Indonesia, pemerintah juga harus mengatur jalannya investasi melalui regulasi atau peraturan yang mengikat dan tegas, pemerintah juga harus mengontrol terhadap keberadaan MNC di Indonesia agar tidak lantas menjadi bumerang bagi negara Indonesia. Seperti kata Pande Raja Silalahi yang menyebut semuanya bergantung kepada peraturan lokalnya. Bila peraturan lokalnya sudah sangat jelas mengatur ketentuan berbisnis di Indonesia, tak perlu lagi takut dengan keberadaan MNC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s