Johansen Samsoedin: SocioEntrepreneur Architect Nan Brilian

Johansen Samsoedin

Principal Aboday Design


Industri kreatif memang tengah bergaung di tahun ini. salah satu penopangnya adalah industri desain. Desain arsitektur termasuk salah satu industri yang digadang-gadang akan mendongkrak perekonomian Indonesia. Diantara jutaan arsitek di Indonesia, terselip nama Johansen Samsoedin. Seperti apakah kiprahnya?

Kawasan Kemang memang identik dengan pusat bisnis, utamanya di sektor konsumsi seperti butik, café dan mall. Persoalan perubahan tata guna lahan Kemang dari fungsi perumahan menjadi kawasan bisnis pun belum terselesaikan. Tapi, di salah satu wilayah Kemang, tepatnya kawasan Kemang Selatan terselip sebuah kantor firma arsitektur Aboday Design yang ditilik dari sisi prestasi cukup menawan. Penampakan luar memang mirip dengan ruko-ruko biasa, namun kantor bercat putih dengan dua lantai ini telah sanggup mempekerjakan 23 orang karyawan dan pernah menyabet Winner of Young Creative Entrepreneur Award dari British Council tahun 2009 silam. Puncaknya kala Johansen Samsoedin, sang principal Aboday Design ditahbiskan sebagai 2nd Winner of British Council International Young Design Entrepreneur Award di London pada tahun yang sama.

Kemenangan Jo, demikian Johansen kerap disapa dalam ajang itu menjadi symbol kemenangan Indonesia ke empat kalinya di ajang penghargaan entrepreneur muda dan kreatif yang dihelat oleh British Council ini. Konsep paddy box, yang menempatkan petak sawah berukuran 3 x 15 meter di atap serangkaian villa di Jimbaran, Bali menjadi andalan Jo dan menghantarkan pada kemenangan di ajang pengusaha muda kreatif bergengsi di London. Paddy box hanyalah salah satu portofolio desain besutan pria kelahiran 7 Mei 1975 ini.

Dari Kewajiban Menjadi Passion

Di satu pagi yang sangat cerah, Jo yang turun dari mobil BMW berwarna putih baru saja tiba di kantor Aboday Design yang didominasi warna putih dan menjadi kebangaannya. “Hai… Apa kabar?” tanyanya kepada Warta Ekonomi. Dengan bergaya kasual, berbalutkan kemeja putih dan jeans hitam, Jo berbagi seputar perjalanan usahanya bersama Aboday Design.

Awalnya, Jo memang tidak pernah menyangka akan mencintai arsitektur dan desain sebagai bagian dari hidupnya. Perkenalan Jo dengan dunia seni desain adalah kala dirinya mengambil jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tarumagara, Jakarta. Di tengah perjalanannya, Jo sempat mengalami kejenuhan luar biasa bahkan nyaris menyerah. Beruntungnya Jo memiliki saudara yang terus mengingatkan agar pantang mundur dengan rintangan yang menghadang. “Karena ternyata apa yang saya rasakan saat itu, jamak terjadi pada mahasiswa arsitektur lainnya,” kata Jo. Semangat Jo kembali membara dan akhirnya Jo malah menemukan bahwa desain dan arsitektur adalah passion dalam hidupnya. Selepas kuliah, Jo pernah mencicipi profesi sebagai asisten dosen di almamaternya itu. Namun, dalam perjalanannya, pria jangkung berkacamata ini tergoda ajakan temannya bertaruh nasib di Singapura. Dilemma pun sempat hinggap dalam diri pehobi fotografi ini, pilihan antara mengambil beasiswa atau menjadi arsitek professional di Singapura.

Jo pun memutuskan untuk mengambil jalur professional dengan mengadu nasib sebagai arsitek di Singapura. Baginya, ilmu yang dimilikinya tak akan ada artinya tanpa terjun ke usaha yang sesungguhnya. Pria langsing ini pun mengawali karirnya di ACI Architects Singapore sebagai Architect Assistant selama setahun. Perjalanan karirnya di Singapura terus berlanjut di beberapa firma arsitektur hingga akhirnya tahun 2005 Jo memutuskan pulang ke Indonesia. Sepulang dari tanah air Jo ingin berbisnis di luar profesi yang digelutinya selama ini. Bahkan penggemar J.R.R Tolkein ini pun sempat melirik bisnis di bidang food and beverages. Namun ternyata, takdir menentukan lain. Jo yang saat itu masih bolak-balik Jakarta –Singapura justru mendapatkan job desain dari rekannya di Bali. Dan pada akhir tahun 2005, Jo bersama Ari Indra dan Rafael David, rekan semasa bekerja di Axis Architects & Planners Singapore bersepakat mendirikan Aboday. “Nilai filosofisnya adalah bahwa Aboday ini menjadi rumah (abode) bagi David, Ari dan Jo,”  terang pecinta film Lord Of The Ring ini. Dalam perjalanannya, background karir ketiganya yang pernah bekerja di Singapura menjadi salah satu kekuatan Aboday. Sehingga dalam perjalanannya, Aboday bekerja di tiga ranah yaitu Singapura, Jakarta dan Bali.

Bukan persoalan yang gampang untuk menjalankan sebuah bisnis keroyokan. Demikian pula dengan Aboday yang dalam satu perusahaan memiliki tiga nakhoda. Dan biasanya yang kerap terjadi adalah rawan konflik kepentingan dan idealisme. Namun tak demikian dengan Aboday. Lagi-lagi Jo justru mematahkan anggapan tersebut dan menyebut dengan adanya tiga nakhoda dalam satu kapal menjadi sebuah keuntungan tersendiri. “Justru ada pembagian tugas dari kami dan saling memikul tanggung jawab serta saling melengkapi satu sama lain” jelas penggemar film bergenre science fiction ini. termasuk saat proses desain proyek. “Saat satu dari kami mengalami kebuntuan, yang lainnya akan melengkapi kekurangan kami. Dan itulah memang fungsi dari brainstorming yang kami lakukan,” jelasnya.

Tak Melulu Perkara Profit

Kini di tahun ke empatnya Aboday masih terus agresif mengembangkan lini bisnisnya. Hasilnya pun kian kentara saat bisnis yang bermodalkan Rp54 juta telah berkembang berlipat-lipat. Aboday yang concern dalam hal pelestarian lingkungan mengimplemetasikan pada setiap desain buatannya. Salah satunya adalah konsep Paddy Box dimana 29 unit villa dan atapnya ditumbuhi padi di Jimbaran, Bali. “Dengan konsep Paddy Box membuat vila ini memiliki competitiveness yang cukup tinggi dibandingkan pesaingnya,” jelas Jo. Menurut Jo, ada tiga elemen yang diperhitungkan dari konsep ini, yaitu lingkungan yang berupa panggung. Lalu kawasan Jimbaran yang identik dengan kawasan kering dapat menopang produksi berasnya dengan konsep Paddy Box tersebut. Di sisi lain, turis pun dapat belajar menanam padi dan output-nya (padi) dapat menyumbang perekonomian petani di Jimbaran.

Per tahunnya, Aboday menggarap sekitar enam proyek desain arsitektur. Sayangnya, Jo enggan berbagi mengenai besaran nilai proyek yang kerap diterimanya. “Tak melulu dihitung dengan uang. Artinya bisa saja satu desain bernilai sangat mahal karena ide yang kami buat. Tapi di sisi lain, harga desain kita bisa juga menjadi lebih murah. Jadi sifatnya relatif,” imbuh Jo. Jo pun tak mematok harga pasti per desainnya, semuanya bergantung pada nilai dan skala proyek. Tapi yang utama menurut Jo adalah kepuasan batin yang tak melulu diukur dari sisi uang.

Perspektifnya dalam menjalankan bisnis inilah membuat Aboday memiliki program corporate social responsibility di tahun ketiganya. Bukti kepedulian sosialnya ini diwujudkan dalam bentuk rancangan grafis untuk sebuah panti asuhan di Mega Mendung. Berkaitan dengan intellectual property, industri berbasis ide ini memang rawan terhadap pembajakan. Namun, Jo tak kalah akal dengan menyiasati setiap penawaran desain proyek disertai dengan surat perlindungan atas desain hasil karyanya. “Setiap calon klien kami harus bertanda tangan dalam sebuah surat perjanjian bahwa jadi atau tidaknya sebuah proyek, desain ciptaan kami tetap menjadi hak kami,” kata pria yang pernah menjabat sebagai managing editor jurnal Arsitektur di kampusnya. Dan kini, Jo boleh bangga. Bila dahulu Jo tak menekuni profesi ini, belum tentu keberhasilan demi keberhasilan saat ini bisa diraihnya. Jo yang nyaris menyerah di tengah perjalanan pendidikannya, kini justru sangat mencintai profesinya sebagai perancang bangun ini.

Marthapuri Dwi Utari

Aboday Design

Kemang Selatan I No. 16 C

Jakarta Selatan 12730

Telp                 : +62 21 7193 664

Faksimile         : +62 21 7191 430

Email               : office@aboday.com

Website           : www.aboday.com

Testimonial          :

Razie Abdullah, director PT. Mahkota Asiana Grha (Senopati Suites)

Johansen adalah arsitek yang unik. Satu kualitas yang saya kagumi darinya adalah kemampuannya untuk memberi “terjemahan” arsitektural yang sangat baik dan unik terhadap visi kliennya. Selain kemampuan teknis, juga diperlukan kemampuan penyelaman dan komunikasi yang intens. Kedua kualitas utama tersebut ada pada diri Johansen dan saya kira banyak membedakannya dengan arsitek lainnya. Saya sangat menyukai kerjasama dengannya karena dapat memenuhi tuntutan keekonomian sekaligus menciptakan desain yang sesuai dengan visi kami. Semua karyanya unik dan bagus

Profil :

Johansen Samsoedin

Tempat, tanggal lahir    : Jakarta, 7 May 1975

Jabatan                                    :

–      Founder and Principal Aboday Design

Pendidikan                              :
–   Teknik Arsitektur – Universitas Tarumanegara Jakarta

Awards yang diraih                :

-2nd Winner of British Council International Young Design Entrepreneur Award 2009, London

–      Winner of British Council Indonesia Young Creative Entrepreneur Award 2009, Jakarta

Karya yang telah dihasilkan:

  • Nirvana Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Lembah Kemang Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • SOHO @ Ampera, Jakarta, Indonesia
  • Nirvana Villa, Bali, Indonesia
  • Kemang Medical Care Hospital, Jakarta, Indonesia
  • Ulujami Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • Nirvana 2 Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Indoconsult Office Interior, Jakarta, Indonesia
  • Alea Cilandak Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • Morocco House, Jakarta, Indonesia
  • The Stupa Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Senopati Suites Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Bungalow @ 38F Jervois Road, Singapore
  • Extension of Office Building, Beijing, China
  • Terrace House @ 26 Emerald Hill Proposal, Singapore
  • Terrace House @ 22 Elite Park Avenue, Singapore
  • Landscape design of Kranji Army Camp, Singapore
  • Interior design of The Chevron Clubhouse, Singapore

2 responses to “Johansen Samsoedin: SocioEntrepreneur Architect Nan Brilian

  1. Terimakasih….Semoga bisa memberikan inspirasi bagi Anda, sesuai tujuan adanya blog ini. thx sudah mampir…Regards;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s