Pangkas Cost Recovery dengan Bakteri

Limbah, limbah dan limbah… Kata ini memang menjadi persoalan penting saat ini. Terlebih semenjak global warming mencuri perhatian publik. Pengolahan limbah yang ramah lingkungan menjadi sebuah kata kunci yang wajib hukumnya bagi berbagai perusahaan yang menghasilkan limbah. Demikian pula di industri minyak. Dwi Andreas Santosa pun menciptakan teknologi pengolah limbah minyak bumi berbasiskan bakteri.

Orang bilang tanah kita tanah surga…

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…

Orang bilang tanah kita tanah surga…

Tongkah kayu dan batu jadi tanaman…

Sebait lagu Kolam Susu dari Koesplus memang merepresentasikan keadaan bumi nusantara ini. Tak bisa dimungkiri, Indonesia memang negara yang kaya akan sumber daya alam (natural resources) mulai dari perikanan, hutan, minyak dan gas hingga perkebunan. Semuanya ada di Indonesia. Tapi memang, kalau dari berbagai kekayaan itu tidak bisa dikelola dengan baik, justru bisa menjadi bumerang bagi Indonesia.

Seperti halnya industri minyak dan gas di Indonesia. Bila selama ini, industri ini lebih banyak didominasi oleh asing dan Indonesia tidak berdaulat atas kekayaan minyak yang berada di perut bumi pertiwi ini. Dan yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa dari proses penambangan minyak bumi itu tak jarang menimbulkan kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah lumpur minyak yang merupakan limbah dari aktivitas penambangan minyak bumi, industri, dan otomotif misalnya ganti oli, dan berpotensi merusak ekosistem tanah dan air.

Untuk mengatasi kerusakan lingkungan itu, Dwi Andreas Santosa, seorang dosen senior Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor menciptakan teknologi bioremidiasi yang memanfaatkan mikroorganisme lokal dan mampu mengurangi polusi lingkungan khususnya tanah. Mengapa menggunakan mikroorganisme? Selain lebih hemat dan ekonomis, ternyata penggunaan mikroorganisme (bakteri) ini jauh lebih efektif. Tidak muluk-muluk, Andreas hanya berharap agar tanah yang tercemar bisa kembali dimanfaatkan. Selain itu, dengan teknologi bioremidiasi ini cost recovery bisa ditekan seminimal mungkin dengan hasil maksimal. Sudah bisa ditebak, bila cost recovery yang dikeluarkan bisa ditekan, tentunya pemerintah pun ikut senang.

Cukup Memanfaatkan Bakteri

Sejatinya, teknologi pembersihan limbah minyak bumi ini telah digagas oleh Andreas semenjak tahun 1999 silam. Tanah menjadi concern Andreas tak lain karena background-nya spesialisasi di jurusan ilmu tanah. Andreas menyebutnya teknologi pembersihan limbah minyak bumi ini dengan Microbial Enhanced Oil Recovery. “Teknologi penambangan primer biasanya menyisakan sekitar 70% minyak dalam reservoir,” jelas Andreas. Sisa minyak yang terjebak di pori-pori tanah atau batu berupa ‘minyak berat’ (heavy oil/viscous crude) yang sulit untuk ‘dicerna’ oleh tanah atau air.

Pada prinsipnya, bioremidiasi ala Andreas ini hanya memanfaatkan dua jenis bakteri lokal untuk memperbaiki kondisi tanah hasil penambangan. Bacillus papillae ICBB 7859 dan klebsiella sp ICBB 7866 menjadi senjata utama memerangi polutan tanah. Mengapa bakteri? “Mikroorganisme atau bakteri itu menghasilkan enzim, CO2, surfaktan dan lain-lain yang bisa melepaskan minyak dari celah-celah batuan atau tanah,” jelas Andreas. Nah, enzim yang dihasilkan oleh bakteri itu mampu memotong ‘minyak berat’. Satu molekul enzim dapat memotong 100.000 molekul hidrokarbon rantai panjang.  “Akibatnya, rantai hidrokarbon dari minyak berat menjadi lebih pendek atau viskositasnya menurun,” kata pria kelahiran Blora, 27 September 1962 ini.

Penggunaan enzyme ini pernah dilakukan pada sumur tua di USA, dan hasilnya mampu meningkatkan cost recovery hingga 100%. Sementara di Indonesia sendiri pernah melakukan percobaan terhadap tujuh sumur tua dan hasilnya bisa menekan cost recovery hingga 60%. “Tapi sayangnya, biaya yang digelontorkan mencapai Rp500 juta,” imbuh pria yang menjabat Kepala Program Magister Bioteknologi Tanah dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Lalu, di tahun 2004, Caltex (Chevron) Riau bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Institut Pertanian Bogor untuk field experiment penggunaan teknologi bioremidiasi ini. Dan hasilnya? Penggunaan bakteri dalam teknologi bioremidiasi ini empat kali lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional. Dari tabel disamping terlihat bahwa total petroleum hydrocarbons (TPH) dengan memanfaatkan bakteri terus menurun hanya dalam waktu 11 minggu. Total petroleum hydrocarbon (TPH) adalah ukuran konsentrasi atau massa dari unsur utama hydrocarbon minyak yang berpengaruh terhadap tanah atau air. Semakin turun kadar TPH artinya semakin besar limbah tersebut dapat terurai dan tanah tersebut bisa dimanfaatkan kembali.

Tapi sayangnya, Chevron tidak jadi memanfaatkan bioremidiasi ala Andreas ini karena terikat teknologi yang ditetapkan oleh negara asalnya. Selain Chevron yang pernah menggunakan temuan Dwi, Pertamina, VICO dan pantai di Tanjung Priok pun telah memanfaatkan teknologi ini. Penggunaannya pun sangat mudah. Untuk lahan satu hektar mampu mengolah sebanyak 2000 meter kubik limbah minyak bumi dengan perbandingan 1 liter bakteri plus 1 liter air dan pupuk (urea atau nitrogen) bila diperlukan. Artinya, pengolahan limbah pada tanah yang tercemar ini layaknya seperti melakukan pengolahan tanah di sawah.

Dengan teknologi ini, selain empat kali lebih cepat dari teknologi konvensional. Ternyata teknologi bioremidiasi bakteri Bacillus papillae sp. ini mampu menekan biaya hingga 20-50% dari teknologi konvensional. Perbandingannya, jika menggunakan cara konvensional dibutuhkan biaya antara US$25-30 per meter kubik tanah terkontaminasi. Sementara dengan menggunakan teknologi temuan Andreas ini hanya dibutuhkan US$15-20 per meter kubik. Irit bukan? Bayangkan bila setiap perusahaan perminyakan di Indonesia memanfaatkan teknologi ini, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk cost recovery tentunya bisa ditekan hingga 50%.

Siap Mengolah Limbah Tambang Mineral

Seakan tak pernah puas dengan temuannya ini, Andreas terus melakukan penelitian lanjutan untuk berbagai kegunaan. Karakteristik ilmuwan memang melekat dalam diri pria berkacamata ini. Ia masih melakukan penelitian tentang penggunaan teknologi bioremidiasi dengan enzim untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak. Kali ini memang menggunakan enzim tak lain karena enzim memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan bakteri. “Bakteri sangat sulit untuk dikontrol di alam bebas dan tidak tahan panas. Sementara untuk sumur minyak seringkali bersuhu di atas 60°C dan enzim mampu bertahan dengan suhu 80°-90°C,” jelas Andreas. Kalau saja teknologi ini bisa diterapkan, tentunya sumur-sumur minyak tua yang ada di Indonesia bisa semakin dimanfaatkan semaksimal mungkin. Efeknya, produksi minyak di Indonesia pun meningkat.

Selain itu, pria jebolan jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UGM ini sudah siap mengolah limbah tambang yang mengandung merkuri dan krom. Andreas menggunakan bakteri Pseudomonas pseudomallei dalam bioreactor dan mampu menurunkan kadar merkuri dalam limbah hingga 98,5% dalam waktu hanya 30 menit. “Biaya yang dibutuhkan hanya 1/400 dari teknologi detoksifikasi konvensional dengan resin,” katanya. Tak heran, sebenarnya pengolahan limbah untuk tambang mineral ini memiliki prospek bisnis yang sangat bagus. Chrome dan merkuri juga digunakan di industri logam, tekstil, minyak dan gas selain industri tambang emas. Belum lagi ada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup yang tertuang dalam Kep-51/MENLH/10/1995 menyebut bahwa konsentrasi maksimum dalam limbah industri hanya sebesar 0.5 ppm. Betapa peluang bisnis yang sangat bagus bukan?

Profil Inovator:

Nama                       : Dwi Andreas Santosa

Jabatan                    : Dosen Senior Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

***

Prospek Bisnis:

Menilik Indonesia yang memiliki lebih dari 10 operator minyak dan gas, teknologi ini menjadi sangat potensial untuk dikomersilkan. Terlebih lagi dengan kemampuan teknologi bioremidiasi dengan bakteri ini yang bisa menghemat 20-50% dibanding teknologi konvensional membuatnya sangat masuk akal. Belum lagi, multiplier effect yang bisa dipetik oleh negara karena bisa menekan pengeluaran negara untuk cost recovery. Untuk itu, seandainya pemerintah bersedia memberikan endorsement ataupun himbauan penggunaan teknologi ini pada perusahaan minyak maka bukan tidak mungkin alokasi APBN untuk cost recovery bisa dialihkan untuk hal lainnya yang lebih urgent.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s