When Women Became More Exist In Business

Wanita kini tak lagi menjadi warga negara kelas dua. Kini, wanita Indonesia telah mengalami metamorphosis luar biasa dari sekedar konco wingking menjadi wanita aktif yang memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan serta karir yang setinggi-tingginya tanpa melupakan kodratnya. Beberapa diantaranya bahkan muncul sebagai srikandi bisnis di bidangnya masing-masing. Dunia bisnis tak lagi menjadi dominasi pria karena wanita pun pantas memiliki jabatan yang setara dengan pria.

“For most of history, Anonymous was a woman.”

Kuotasi dari Virginia Woolf, novelis asal Inggris bukan sebuah omong kosong. Virginia dengan penanya seakan menunjukkan bahwa betapa tersembunyinya peran dan jasa perempuan dalam sejarah kehidupan manusia di Indonesia bahkan di dunia. Di Indonesia sendiri jejak wanita-wanita hebat tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa. Perjuangan terlepas dari penjajahan Jepang dan Belanda tak pernah lepas dari campur tangan kaum wanita.

Salah satu wanita perkasa itu terselip nama Keumala Malahayati atau yang lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati. Siapakah dia? Malahayati adalah Panglima Perang Armada Laut Wanita saat Aceh diperintah oleh Ali Riayat Shah (1586-1604), Alaudin Riayat Syah (1604-1607), dan Iskandar Muda (1607-1636) dan sekaligus laksamana wanita pertama di dunia. Marie van Zuchtelen dalam bukunya yang berjudul Vrouwelijke Admiral Malahayati menceritakan bahwa Malahayati memimpin armada yang terdiri atas 2.000 prajurit perempuan atau yang biasa disebut laskar Inong Balee. Lascar Inong Balee merupakan pasukan prajurit perempuan yang kesemuanya adalah janda.

Perjuangan Malahayati mengingatkan pada cerita Cut Nyak Dien, yang meneruskan perjuangan sang suami, Teuku Umar yang gugur di medan perang. Awal perjuangan Malahayati dimulai saat terjadinya pertempuran laut antara armada Portugis versus armada Kerajaan Aceh dibawah pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil di Teluk Faru. Pertarungan itu berakhir ditandai dengan hancurnya armada Portugis, sementara di pihak Aceh harus rela kehilangan dua orang laksamana dan seribu prajurit yang gugur dalam perang tersebut. Salah satu Laksamana yang gugur dalam peperangan tersebut adalah suami dari Malahayati yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia.

Meskipun kegembiraan atas kemenangan pihak Aceh terhadap Portugis melingkupi hati seluruh rakyat, perasaan geram sekaligus dendam merambat di hati Malahayati. Atas dasar itulah, Malahayati ingin menuntut balas atas kematian suaminya dan bersumpah akan terus melawan Portugis. Untuk memuluskan niatnya, Malahayati pun mengajukan permohonan pada Sultan Al Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang prajurit-prajuritnya para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran di Teluk Faru. Armada itu disebut Armada Inong Bale (Armada Wanita Janda) dengan Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya yang dilengkapi dengan Benteng Inong Balee yang terletak di perbukitan sekitar 100 meter dari permukaan air laut.

Dalam perkembangannya, armada yang tadinya terdiri dari seribu orang janda diperkuat menjadi dua ribu orang yang terdiri dari gadis remaja yang ingin bergabung dalam Laskar Inong Balee ini.

Kiprah Malahayati makin mengukuhkan bahwa peran wanita tidak bisa dikesampingkan. Wanita sesungguhnya memiliki kekuatan yang tak kalah dengan pria. Namun memang, implementasinya memang tidak bisa seperti zaman penjajahan dulu. Di zaman sekarang, kekuatan wanita ditunjukkan melalui perannya dalam masyarakat, terutama dalam menjalankan karir maupun usahanya. Wanita kini tak lagi hanya berkutat di dapur, kasur dan sumur atau berperan sebagai konco wingking belaka tetapi bisa menunjukkan performa terbaik di dalam pekerjaannya tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai istri sekaligus ibu.

Perubahan Paradigma

Emansipasi wanita rasanya bukan hal baru yang berkembang di Indonesia bahkan dunia. hal ini diawali dengan perubahan peran wanita dari passive women menjadi active women. Periode passive women ditandai dengan kehidupan rumah tangga sebagai satu-satunya kehidupan wanita, seakan-akan tujuan wanita hanya untuk menikah dan membangun rumah tangga tanpa sempat memiliki cita-cita. Tapi paradigma itu telah bergeser menjadi active women. Wanita kini berhak memiliki cita-cita yang dulu nyaris tak bisa dicapainya. Termasuk didalamnya memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya dan meraih puncak karir tanpa harus melupakan kodrat wanita itu dalam keluarga sebagai istri dan ibu. Wanita memiliki kemandirian dan hak untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupannya.

Inge Resdiano, managing director legal PT Rajawali bercerita betapa beruntungnya wanita yang dilahirkan di zaman ini. “Dulu, waktu saya berusia 25 tahun, selalu yang menjadi obyek pertanyaan utama adalah ‘Kapan menikah?’. Tapi kini berubah, obyek pertanyaan utama bagi perempuan usia 25 tahun adalah ‘Sekarang bekerja dimana?’” kata Inge. Hal ini tak lain akibat perubahan paradigma dari wanita sekedar konco winking atau warga negara kelas dua menjadi sejajar dengan pria. Meski memang tak bisa dipungkiri kodrat wanita memiliki peran ganda sebagai seorang istri dan ibu serta sebagai pekerja.

Tipikal Inge yang cenderung cuek terhadap ‘tuntutan menikah’ turut membantu mencapai karirnya saat ini. “Mungkin orang-orang sudah bosan kali ngomonginnya. Jadi ya, akhirnya keluarga pun bisa menerima keadaan saya saat ini. Yang terpenting adalah saya bahagia dengan apa yang saya kerjakan (dalam hal ini karir) dan apa yang telah saya raih dengan segala konsekuensinya,” ungkap wanita yang sebelumnya berkarir di Makarim & Taira S. Finance Law Firm ini.

“Beruntungnya saya lahir di keluarga yang sangat supportif. Keluarga dan teman sangat memahami kesibukan saya. Mungkin pengalaman karir saya sebelumnya di Makarim & Taira S Finance Law Firm dengan kesibukan yang sangat padat. Jadi mereka maklum, dan selama saya bisa membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan teman, ya why not?” tutur Inge yang telah menduduki  jabatannya sekarang selama empat tahun ini.

Demikian pula yang terjadi pada Noor SDK Devi, direktur utama PT Aplikanusa Lintasarta. Devi yang dilahirkan dari keluarga militer mendapatkan dukungan penuh selama menuntut ilmu di bangku sekolah. “Dari orang tua sendiri kami selalu dituntut untuk berprestasi semaksimal mungkin baik perempuan maupun laki-laki,” kenang Devi. Beruntungnya Devi karena keluarganya cenderung open minded, yang terbukti dari permintaan orang tuanya untuk mengambil jurusan teknik. “Bapak saya ingin perempuan tidak dikesankan begitu-begitu saja, karena selalu ada kesan perempuan itu jadinya sekretaris dan pekerja seni. Dan ia ingin melihat saya sebagai perempuan menjadi insinyur,” imbuh Devi. Walaupun memang bukan pilihannya sendiri, namun saat itu sudah menjadi jalan hidupnya, Devi menjalankannya secara maksimal. Namun kini hasilnya, rasanya tak sia-sia didikan orang tuanya yang berpikiran terbuka karena Devi kini menduduki jabatan orang nomor satu di Lintas Arta.

Perubahan budaya dan paradigma inilah yang turut mendongkrak wanita untuk tampil di berbagai ranah mulai politik, seni hingga dunia bisnis. Semenjak Kartini menuntut pendidikan bagi kaum wanita, peluang untuk meningkatkan kecerdasan individual dan mengangkat martabat wanita sejajar dengan pria makin terbuka terbuka lebar. Hal ini terbukti dari tingkat pendidikan wanita yang kian tinggi dan bermunculannya wanita-wanita di pentas nasional mulai dari kiprah Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan Republik Indonesia, Marie Elka Pangestu, menteri perdagangan RI, hingga Galaila Karen Agustiawan, direktur utama PT Pertamina, dan direksi wanita lainnya. Wanita kini tak malu lagi untuk menunjukkan performa kinerja dan prestasinya yang cemerlang serta tak lagi menjadi warga negara kelas dua yang berada di bawah superioritas pria. Hal ini dibuktikan dengan dengan hasil penelusuran Warta Ekonomi yang berhasil mengumpulkan 185 orang wanita yang menduduki posisi sebagai eksekutif wanita setingkat direktur (board of director) di Indonesia. Penelusuran ini berdasarkan data perusahaan public yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.

Belum Perlu Kuota Khusus

Selama 10-15 tahun terakhir hanya 3% CEO wanita di perusahaan yang termasuk dalam Fortune 500 dan kurang dari 15% menjadi eksekutif di berbagai perusahaan top dunia. Namun diperkirakan, angka ini akan semakin bergeser dengan makin banyaknya wanita yang berperan dalam manajemen. Wanita juga mewakili 40% tenaga kerja global dengan pertumbuhan double digit di beberapa negara. The Economist edisi Maret 2010 lalu pernah menulis tentang pemberlakuan kuota perempuan dalam jajaran direksi (board of directors) di beberapa perusahaan di negara-negara Eropa. Di Perancis, parlemen Perancis telah mengakui sebuah peraturan baru yang memaksa perusahaan untuk mengangkat proporsi perempuan di jajaran direksi menjadi 40% hingga tahun 2016. Peraturan ini mengharuskan 40 perusahaan terbesar di Perancis untuk menempatkan wanita dengan kuota 169 kursi yang sejajar dengan pria. Demikian pula dengan Spanyol yang mulai memperknalkan kuota 40% yang akan dicapai hingga tahun 2015. Sementara Italia dan Belanda sedang mempertimbangkan kuota yang sama. Dengan demikian, nantinya aka nada banyak permintaan direksi wanita di beberapa negara-negara di Eropa. Siapa berminat?

Dibandingkan dengan Amerika, dimana wanita menguasai 15% kursi direksi pada Fortune 500 companies pada tahun 2009, negara Eropa jauh lebih sedikit board members wanita. Di Inggris sendiri baru ada ada kuota 12% berdasaarkan survey 300 perusahaan terbesar Eropa oleh European Professional Women’s Network (EPWN). Alasan penempatan wanita sebagai board members perusahaan tak lain agar manajemen makin kreatif dan inovatif, berkurangnya kecenderungan kepada ‘groupthink’ dan menjadi lebih independen dari senior manajemen. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa tingginya proporsi direktur wanita bersamaan dengan peningkatan kinerja perusahaan. hal ini bisa jadi karena perusahaan membiarkan memahami isu sosial seperti perbedaan dalam dewan.

Tapi hal yang harus dihindari wanita untuk meraih jabatan sebagai board members adalah kurangnya pengalaman  memahami bisnis inti perusahaan. Banyaknya wanita yang terjun dalam peran fungsionalnya seperti akunting, marketing, atau human resources di awal karirnya daripada bertahan di mainstream yang menggerakkan profit. Namun demikian, untuk meningkatkan jumlah wanita di di dewan harus dipastikan bahwa semakin banyak wanita memperoleh pengalaman yang benar dan mendalam tentang hierarki perusahaan. Mekipun mungkin akan memakan waktu lebih lama, atau lebih lambat dalam meningkatkan kuota, tetapi dengan cara ini jauh lebih efektif dan berarti.

Bila negara-negara di Eropa sudah mulai menerapkan aturan baru kuota wanita di kursi direksi, bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini di Indonesia baru ada kuota perempuan untuk duduk di kursi legislatif sebesar 33%. Sementara untuk kuota wanita di dunia usaha, sepertinya belum ada arahan seperti yang sudah ditetapkan oleh Eropa. Menurut Suryo Danisworo, senior advisor GCG Consultant Sinergi Daya Prima peraturan adanya kuota perempuan di jajaran direksi tidak diperlukan di Indonesia. “Lho buat apa harus terpancang dengan peraturan bila wanitanya sendiri tidak mampu. Lebih baik biarkan saja wanita berkembang sesuai keinginannya karena yang terpenting adalah kualitasnya. Karena kalau dipaksakan tapi wanitanya gak mampu, kualitas jadi dipertaruhkan di sini. Jadi jangan pula dipaksakan,” kata Suryo.  Sementara untuk kursi legislatif, kata Suryo yang sudah berlaku kuota 33% apakah dari aspek kualitas bisa dipertanggungjawabkan?

Sementara Arvan Pradiansyah, managing director Institute for Leadership and Life Management (ILM) kuota perempuan di dunia usaha belum perlu bahkan tidak perlu. “Karena untuk dunia usaha, kita tidak bicara mengenai keterwakilan seperti yang ada di kursi parlementer. Untuk dunia usaha, yang terpenting adalah mencari profit setinggi-tingginya dan menjalankan bisnis secara sustainable, itu yang utama. Bukan lagi perkara keterwakilan,” tegas Arvan. Yang menjadi persoalan adalah memang kuantitas dari pekerja wanita memang jauh lebih sedikit jumlahnya di banding pria. Sehingga, bila ingin meningkatkan kuota perempuan di ranah bisnis harus meningkatkan dulu jumlah wanita yang berkecimpung di dunia bisnis.

Namun tak demikian dengan Avanti Fontana, staf pengajar FEUI. “Saya setuju bila ada pertimbangan khusus dan argumen khusus untuk melibatkan wanita dalam dewan direksi korporasi. Karena meningkatkan keberagaman dalam organisasi dan dewan direksi. Keberagaman menunjang proses kreatif dan inovasi organisasi. Banyak studi menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah wanita dalam dewan direksi semakin tinggi kinerja organisasi. Ada kaitan positif atau asosiasi positif, tetapi bukan hubungan sebab akibat,” jelas Avanti.

Kriteria sekaligus Tantangannya

Bila peran wanita sudah semakin besar di kancah bisnis, tentu bukan sembarang wanita yang bisa menunjukkan performa terbaiknya di perusahaan. Wanita-wanita itu harus memiliki kriteria yang layak menempatkannya di posisi puncak perusahaan. “Rumusnya adalah kompetensi dan karakter,” kata Arvan. Kompetensi ini mencakup  kemampuan untuk menentukan visi yang akan diraih ke depan bersama perusahaan, penguasaan terhadap core business ataupun bidang yang diambil serta kemampuan manajerial (baik dalam memaintain bisnis, hubungan antara karyawan dan share holder). Sementara karakter yang harus dimiliki oleh leader wanita menurut Arvan adalah jujur, memiliki integritas yang tinggi serta bisa menjadi role model bagi karyawannya maupun bagi masyarakat luas.

Sementara di mata Suryo Suwignjo, presiden direktur IBM Indonesia kriteria pemimpin wanita yang dibutuhkan oleh perusahaan khususnya perusahaan IT adalah kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dengan cepat mengenai sesuatu yang baru juga menjadi hal yang penting. Namun demikian, Suryo menilai bahwa dalam beberapa area wanita memiliki kelebihan. “Attention to detail-nya kuat. Determinasi mereka bahkan kadang-kadang lebih kuat dari lelaki. Contoh sederhana, ketika laki-laki pulang kerja dan beristirahat lalu istri akan membantu menyiapkan kepentingan suami. Tak lama, wanita juga harus menyiapkan hal lain untuk anak-anaknya. Setelah itu, esoknya pun wanita juga masih harus bekerja juga,” jelas Suryo. Karena tanggungjawab yang lebih besar daripada pria dengan tuntutan kinerja yang sama dengan pria, sebenarnya wanita lebih hebat daripada pria.

Tanpa mempermasalahkan gender, Suryo Danisworo menekankan bahwa baik pria maupun wanita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pria maupun wanita. Yang terpenting adalah memiliki jiwa leadership dengan tiga criteria utama. Yang pertama adalah berani berada di depan. Kedua memiliki sifat  mengayomi kepada bawahannya. Dan mencerahkan, dalam artian lebih dari sekedar memberikan direction atau arahan yang jelas, leader akan mampu mengoptimalkan keinginan berperan dari para anggotanya dan mampu membuat kelompok yang dipimpinnya eksis dan tumbuh terus. “Tiga hal tersebut menjadi prasyarat utama seorang leader baik wanita maupun pria selain kompetensi tentunya,” imbuh Suryo.

Avanti Fontana menambahkan bahwa harus terjadi pergeseran paradigma manajemen organisasi dan korporasi dari paradigma maskulin ke paradigma kombinasi maskulin feminine dengan kelebihan masing-masing. “Membangun korporasi bagaikan mengelola sistem organik dengan otak kiri dan kanan yang harus bekerja sama dan setiap bagian hemisfir berperan berbeda dan pada tahap berbeda dan pada tahap tertentu, bahkan dalam banyak tahap, harus bersama-sama. Di sinilah kreativitas sebagai pemicu inovasi dalam organisasi dan korporasi akan banyak lahir,” tegas Avanti. Organisasi dan korporasi perlu memfasilitasi proses emansipasi wanita dalam manajemen tak hanya dengan angka presentase tanpa karakter dan kompetensi. “Mengutip Mihaly Csikszentmihalyi dalam bukunya Creativity, kita memerlukan pengembangan tujuh elemen utama yang memungkinkan kontribusi kreatif terjadi: training (pendidikan dan pelatihan) yang sesuai, ekspektasi, sumber daya, recognition, harapan, peluang, dan imbal jasa finansial,” terang Avanti.

Pada akhirnya memang meningkatkan peran dan emansipasi wanita dalam manajemen membutuhkan peran serta dan dukungan dari semua pihak bahkan sistem sosial yang lebih luas. Bila keluarga, lingkungan, masyarakat bahkan sistem sosial sudah terbentuk dengan baik untuk menerima wanita berkecimpung di dunia usaha, bukan tidak mungkin bila nantinya makin banyak bermunculan kartini-kartini muda di ranah usaha.

Mulai Banyak Merambah ‘Dunia Pria’

Bila selama ini, wanita identik dengan posisi ‘nyaman’ atau peran fungsional seperti posisi human resources department (HRD), legal, corporate secretary. Tapi wanita-wanita ini berani mendobrak stigma tersebut. Galaila Karen Agustiawan, sesosok wanita kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 ini sempat menggugah perhatian public. Pasalnya, Karen menjadi wanita pertama yang ditunjuk oleh Menteri BUMN, Sofyan Djalil menjadi direktur utama PT Pertamina (Persero) dan dilantik pada Kamis, 5 Februari 2009 lalu. “Dari uji kompetensi maupun interview yang telah dilakukan terhadap beberapa calon dirut Pertamina, hanya Karen yang memenuhi criteria,” kata Sofyan Djalil saat itu. Selain itu, track record Karen yang bagus juga menjadi pertimbangan tersendiri yang mengantarkan Karen ke kursi Pertamina 1.

Pasca terpilihnya Karen saat itu menjadi babak baru kepemimpinan Pertamina yang berdiri sejak tahun 1968 selalu dipimpin oleh pria. Dimulai dari Ibnu Sutowo, Piet Haryono, Joedo Soembono, AR. Ramli, Faisal Abda’oe, Soegianto, Martiono Hadianto, Baihaki Hakim, Ariffi Nawawi, Widya Purnama hingga Ari Soemarno. Karen bisa dibilang sudah makan asam garam di dunia migas. Karen yang mengawali karir di perusahaan minyak multinasional MobilOil, lalu di CGG Petrosystems Indonesia, Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan hijrah ke perusahaan konsultan migas Halliburton Indonesia sebagai commercial manager for consulting and project management. Dan selanjutnya karir Karen terus merangkak naik menjadi staf ahli Menteri ESDM, lalu dipilih menjadi direktur Hulu Pertamina. Dan akhirnya belum setahun menjabat direktur hulu, Karen menduduki posisi puncak Pertamina.

Selain Karen Agustiawan yang namanya sudah popular di khalayak, ternyata terselip pula nama Dian Siswarini. Apa menariknya dari sosok Dian Siswarini? Dian yang menjabat sebagai direktur jaringan PT XL Axiata Tbk. ini menjadi sosok wanita satu-satunya di jajaran direksi PT XL Axiata Tbk. sebelumnya memang sudah ada Koesmarihati Sugondo, wanita yang menjabat sebagai direktur utama PT Telkomsel di era XXXX. Namun uniknya dari Dian adalah jabatannya sebagai direktur jaringan yang notabene masih menjadi lahan pria.

Sejatinya, Dian memang menyukai dunia telekomunikasi sejak di bangku sekolah. “Telekomunikasi merupakan sesuatu yang memang saya sukai dan dicita-citakan sejak di bangku sekolah,” kata Dian. Hal ini dibuktikan dengan mengambil jurusan teknik telekomunikasi ITB sebagai background pendidikannya. Selepas kuliah, Dian secara konsisten selalu bekerja di sektor telekomunikasi. Malang melintang di sektor telekomunikasi sejak tahun 1991, hingga akhirnya Dian mengabdikan diri ke PT Excelcomindo Pratama Axiata Tbk. pada tahun 1996 dengan jabatan sebagai manager network, design and engineering. Lalu di tahun 2005, wanita kelahiran 5 Mei 1968 ini diangkat menjadi vice president network XL. Dan tepat pada April 2007, Dian menjabat sebagai network director XL. Posisi ini adalah posisi istimewa untuk Dian. Selama ini ada anggapan bahwa tingkatan tertinggi di sektor telko adalah planning, operation dan barulah support division. bukan perkara mudah berada di posisi teknis ini. Naik tower tinggi, pergi ke daerah-daerah terpencil atau melakukan pengetesan peralatan di malam hari, bekerja dengan shift 24 jam dilakoni Dian dengan senang hati. “Tapi beruntung menjadi wanita Indonesia, karena karakter orang Indonesia yang siap membantu, dalam kondisi lapangan sulit, para pria berinisiatif menawarkan bantuan tanpa diminta,” jelas Dian.

Walaupun memang tak mudah, namun Dian mengakui tantangan terbesar dalam memegang jabatan tersebut adalah penyesuaian konsekuensi dari posisi yang dijabat dengan kebutuhan pribadi dan keluarga dengan mencari titik tengah atau berkompromi. Lagi-lagi, wanita dihadapkan pada peran ganda sebagai istri, ibu sekaligus pekerja. Untuk itulah kemampuan wanita untuk menerima konsekuensi dari posisi yang ingin dicapai ini harus dipersiapkan. “Sebenarnya kekuatan utama wanita selain mempunyai soft skill yang lebih solid, terutama dalam hal people relation dan people management,” jelas Dian. Selain itu, wanita juga lebih bisa mengendalikan stress sehingga performansi kerjanya tidak banyak terpengaruh walaupun dibawah tekanan-tekanan profesi.

Hasnul Suhaimi, direktur utama PT Excelcomindo Pratama Axiata Tbk. pun mengakui kehebatan seorang Dian. “Dian memiliki kekuatan utama yaitu pengetahuan teknisnya bagus, dan meskipun dia menduduki posisi direktur teknis, tapi Dian juga memiliki achievement terhadap arah dan tujuan pengembangan perusahaan,” jelas Hasnul. XL sendiri pun cukup akomodatif terhadap keberadaan wanita di perusahaan, tanpa harus membedakan gender yang menjadi pertimbangan utama adalah kompetensi.

Selain Dian Siswarini, terdapat pula sosok Herfini Haryono sebagai direksi wanita yang bekerja di sektor telekomunikasi. Herfini Haryono menjadi direktur planning and development PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) sejak 29 Januari 2009 lalu bersamaan dengan pelantikan Sarwoto Atmosutarno sebagai dirut PT Telkom Tbk. dua orang srikandi di sektor telko ini bisa menjadi indikasi bahwa sektor industri ini kini mulai ramah terhadap keberadaan wanita. Telkomsel pun demikian, dari sekitar 4.200 karyawan Telkomsel, 27%-nya adalah wanita yang berada di setiap level struktural. Sebagai gambaran, 2 dari 5 anggota dewan direksi Telkomsel adalah wanita dan memiliki 5 orang vice president wanita.

Rupanya, di beberapa perusahaan di Indonesia kini lebih terbuka terhadap keberadaan wanita di kursi direksi. Selain di sektor telekomunikasi, perusahaan IT yang selama ini menjadi dunia laki-laki juga beberapa kali menerima wanita sebagai direktur bahkan direktur utama. Sebut saja Betti Alisjahbana, mantan CEO IBM Indonesia. Lalu Noor SDK Devi yang menjabat sebagai direktur utama PT Aplikanusa Lintasarta.

Adapula Wiwiek D. Santoso sebagai direktur utama PT Marga Mandala Sakti (Anak perusahaan PT Astra International Tbk. penyelenggara Jalan Tol Tangerang – Merak). Wiwiek bisa jadi satu-satunya wanita yang berkiprah di sektor infrastruktur dalam hal ini jalan tol. Komposisi wanita dalam MMS sendiri terdapat dua orang wanita diantara lima kepala divisi dengan 30% pengumpul tol. Catherine Hadiman, vice president director PT CIMB Niaga Tbk. juga sosok wanita hebat di dunia perbankan. Jabatan Catherine sebagai wakil direktur utama dan membawahi divisi corporate banking yang biasanya di-handle oleh pria. Memang tak bisa dimungkiri, masih sangat dibutuhkan wanita-wanita yang bersedia menduduki posisi teknis atau daily operation dalam jajaran board of director. Tinggal bagaimana para wanita itu bisa memberdayakan dirinya sebaik mungkin.

Meskipun mereka perempuan dengan berbagai keterbatasannya, namun jangan pernah remehkan kinerjanya. Disadari atau tidak, wanita yang memikul beban ganda atau bertanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaan serta tuntutan kinerja yang sama dengan pria, merupakan wanita yang hebat. Merekalah srikandi bisnis Indonesia, yang mampu bekerja secara professional tanpa meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu yang baik sesuai dengan gagasan Kartini. Pada akhirnya, selamat Hari Kartini untuk para wanita di Indonesia.

5 responses to “When Women Became More Exist In Business

  1. Pingback: tentang karen agustiawanCamfrog | Camfrog

  2. Pingback: karen agustiawan fortuneCamfrog | Camfrog

  3. Pingback: cerita karen agustiawanCamfrog | Camfrog

  4. Pingback: karen agustiawan interviewCamfrog | Camfrog

  5. Pingback: karen agustiawan lahirCamfrog | Camfrog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s