Kaya Ditengah Krisis Berkat Opsi Saham

CEO Termahal 2009 Versi Wall Street Journal

taken from digitalsquared.com

Julukan ‘Billionaire Dropouts’ pantas disematkan pada sosok  Lawrence Joseph Ellison yang kerap disapa Larry Ellison. Dedengkot Oracle Corp. yang dilahirkan pada 17 Agustus tahun 1944 di New York City ini pernah terdaftar sebagai mahasiswa di University of Illinois tapi tak berlangsung lama. Kematian ibu angkatnya karena kanker yang dideritanya membuat Larry terpaksa memilih untuk mundur dari kuliahnya. Lalu, Larry menghabiskan musim panas di California Utara dan kembali mendaftar di University of Chicago melanjutkan studi Fisika dan Matematika yang sempat terputus. Sayangnya, Ellison drop out lagi ketika baru tiga bulan kuliah. Dua kali drop out sempat membuat ayahnya geram, sampai-sampai ayahnya meyakini bahwa Larry tak akan pernah menjadi orang penting.

Tapi, walaupun tak tamat kuliah, Larry sempat belajar pemrograman komputer saat kuliah. Akhirnya, Larry pun menjadi programmer freelance dan menikmatinya. Larry justru menemukan dunia serta passion-nya yang disukainya dibandingkan prestasi akademis semata. Di tahun 1966, Ellison pindah ke California hingga sebelas tahun kemudian Ellison bekerja untuk perusahaan yang bernama Ampex Corp. Proyek utamanya adalah membangun database untuk biro intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency) yang berkode Oracle. Keberhasilan proyek Oracle ini menjadi cikal bakal kesuksesannya di masa depan. Larry bersama rekannya Bob Miner dan Ed Oats berhasil membangun perusahaan software IT yang sangat berkembang di dunia di bawah bendera Oracle Corp.

Dan kini, pria pehobi kompetisi yacht ini menjadi CEO dengan bayaran termahal. Tahun 2009, Wall Street Journal menempatkan Larry sebagai CEO Termahal selama satu dekade yang menerima US$1,84 miliar atau setara dengan Rp16,7 triliun. Penerimaan opsi sahamnya menyumbang kontribusi terbesar dari komponen pendapatan Larry sebesar US$1,778.30 miliar atau sekitar 96,6 persen. Sementara itu, Barry Diller, si penguasa IAC/InterActive dan Expedia.com, situs travel online berada di peringkat dua dengan total penerimaan kompensasi sebesar US$1,142.90. Ray Irani, CEO Occidental Petroleum menyusul di peringkat tiga dengan US$857 juta. Dedengkot Apple Inc.’s, Steve Jobs hanya bercokol di posisi keempat dengan US$749 juta dan Richard Fairbank, CEO Capital One Financial dengan bayaran US$569 juta.

Gaji Nol, Tapi Opsi Saham Jutaan Dolar

Wall Street Journal tersebut merangking kompensasi yang meliputi gaji, bonus, insentif dan pendapatan dalam saham. Dari survey gaji itu, memang sebagian besar bahkan hampir seluruh CEO justru mendapatkan opsi saham yang sangat besar dibandingkan gajinya. Opsi saham yang diterima Ellison dan Diller memiliki kontribusi terbesar dalam komponen kompensasi mereka. dan ini dialami oleh nyaris seluruh CEO yang masuk dalam analisis kompensasi WSJ tersebut.

Yang menarik adalah Steve Jobs dan  Richard D. Fairbank, CEO Capital One Financial yang gajinya nol. Bahkan Fairbank pun meraih nol dolar bonus. Pendapatan Jobs yang terbesar disokong dari jatah saham yang dimilikinya sebesar US$646.60 atau sekitar 86,3 persen. Sementara Fairbank, komponen terbesar pendapatannya disokong dari opsi saham yang mencapai US$549.30 dari total pendapatannya sebesar US$568.50.

Sistem pembayaran ataupun kompensasi eksekutif ini sejatinya sudah ada sejak tahun 1980-an. Tujuannya agar kekayaan para eksekutif dan pemegang sahamnya tidak timpang. Konsekuensinya, gaji eksekutif pun dibatasi dan imbal baliknya CEO itu memperoleh bayaran dalam bentuk opsi saham. Opsi saham ini bernilai tinggi saat harga saham perusahaan naik.

Sebaliknya, kompensasi para CEO pun bisa saja terjun bebas saat pemimpin perusahaan itu mengeksekusi opsi sahamnya disaat harga sahamnya anjlok. Ellison, petinggi Oracle meraih US$700 juta saat mengeksekusi opsi sahamnya pada Januari 2001. Tapi di tahun berikutnya, Ellison tak mendapatkan bayaran sepeser pun.

Ambil contoh, pemegang saham Apple pernah mengalami lonjakan nilai sahamnya hampir 12 kali lipat. Tapi tak demikian dengan pemegang saham dari Dell Inc. yang justru nilai sahamnya turun hingga 66% dalam kurun waktu 10 tahun terakhirnya. Ironisnya, Michael Dell, sang dedengkot justru berhasil mengantongi US$454 juta atau sekitar Rp4,1 triliun di saat yang bersamaan. Tak hanya Dell. Inc saja, ada IAC/InterActive, Countrywide, Capital One dan Cendant Corp yang mengalami nasib serupa.

Barry Diller pun lebih dari 96% kompensasinya diperoleh dari eksekusi opsi saham di IAC/Expedia.com. Opsi saham ini diberikan tahun 1995 dan 1997 saat dirinya berhasil menghimpun IAC dari stasiun televisi, jaringan kabel dan situs internet. Diller mengeksekusi opsi saham tahun 1995-nya di tahun 2005 tepat sebelum kadaluwarsa. Dari eksekusi ini, Diller berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$463 juta. Tapi, dalam satu decade belakangan, seorang pemegang saham IAC kehilangan 18% uangnya termasuk nilai spin offs. Dan Mr. Diller mengatakan bahwa itu bukan perbandingan yang adil terhadap kompensasi totalnya dalam satu decade, karena kompensasi ditentukan oleh pendapatan opsi (saham) yang mencerminkan keuntungan besar dari periode sebelumnya.

Oleh sebab itu, persoalan model kompensasi ini masih menjadi perdebatan panas di Amerika Serikat dalam kurun waktu 10 tahun belakangan. Ditambah pula dengan peristiwa skandal akunting yang pernah terjadi di awal tahun 2000 dan hancurnya ekonomi global di tahun 2008. Rasanya, besarnya paket bayaran eksekutif ini menjadi tidak rasional dan memunculkan gap yang cukup besar antara kekayaan CEO dengan pemegang sahamnya.

Adanya gap kekayaan antara eksekutif dan pemegang saham ini cukup memprihatinkan. Bahkan sempat timbul dugaan adanya bayaran tanpa prestasi. Tapi, Steve Kaplan, professor University of Chicago’s Booth School of Business membantah dan justru menyebut bahwa para eksekutif berbayaran besar sebanding dengan prestasi yang dihasilkannya. Hal ini juga dibantah oleh Diller dan juru bicara David Fairbank. “Kompensasi ini merefleksikan keuntungan penuh bagi pemegang saham dari periode yang sebelumnya. Dan apa yang saya dapatkan sama besarnya dengan pemegang saham dalam periode penghitungan yang tepat sama” kata Barry Diller, CEO Interactive Corp/Expedia.Com dalam satu wawancara.

Ray Irani, CEO Occidental Petroleum juga tak lepas dari dugaan bayaran tanpa prestasi. Irani, disebut-sebut telah dibayar hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan eksekutif perusahaan minyak lainnya. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa jajaran direksi membayar terlalu tinggi dengan target prestasi yang terlalu rendah. Tapi juru bicara Occidental buru-buru membantahnya dan mengatakan bahwa jajaran direksi perusahaannya percaya pada prinsip ‘bayaran yang sangat baik untuk prestasi yang sangat baik’. Kompensasi yang dikantongi oleh Irani memang terkait erat dengan operasional perusahaan dan harga saham Occidental.

Demikian pula yang terjadi pada Michael S. Dell. Juru bicara Dell Inc., menyebut bahwa sebagian besar kompensasi yang diterima oleh Michael berasal dari kenaikan opsi yang diberikan pada tahun 1990-an saat harga saham Dell sedang tinggi-tingginya. Jubir Dell menambahkan kompensasi ini sebanding karena Dell sebelumnya tak menerima bonus selama empat tahun, dan tak mendapatkan saham maupun opsi saham dalam enam tahun terakhir.

Opsi Saham : Metode Kompensasi Paling Fair

Menurut Irham Dilmy, managing partner Amrop Hever Indonesia metode executive stock option plan (ESOP) ini merupakan long term compensation yang sangat fair. “Artinya, memberikan satu imbalan yang sifatnya jangka panjang dengan tujuan yang pertama untuk mempertahankan orang yang berkinerja baik dan mempertahankan value perusahaan supaya tetap baik kinerjanya,” kata Irham.

Dengan opsi saham yang diberikan pada eksekutif tidak akan membuat keuangan perusahaan bertambah maupun berkurang. Pasalnya, harga saham ini tentunya sesuai mekanisme pasar saham yang berjalan tanpa mengurangi kepemilikan saham perusahaan. Kepemilikan saham tetap berada di tangan perusahaan, bukan berpindah ke tangan eksekutif. Apa yang didapat eksekutif hanyalah margin dari harga jual dan harga beli saham perusahaannya. Untuk itu, eksekutif sendiri selalu dipacu untuk terus bekerja keras demi keuntungan perusahaan. Imbal baliknya, sang presiden direktur berhak menerima opsi saham sesuai dengan yang ditentukan oleh perusahaan.

Tapi, kompensasi opsi saham ini ternyata juga meraih banyak kritikan dari pengamat. Seringkali, demi mendongkrak nilai sahamnya para eksekutif mengambil langkah beresiko yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek saja. Irham tak setuju, justru sebaliknya. Para eksekutif ini dituntut untuk memberikan performance terbaiknya seandainya mereka ingin kompensasi yang diterima besar. Yang salah adalah ketika perusahaan justru memberikan stock grant plan kepada eksekutifnya.

Sejatinya, opsi saham ini punya dua tujuan utama yaitu memberikan hadiah atas kinerja masa lampau si eksekutif serta mengiming-imingi kinerja yang jauh lebih baik di masa depan. Eksekutif akan terus terpacu untuk memberikan kinerja terbaiknya demi mendapatkan margin harga saham yang tinggi. “Jadi, dengan opsi saham ini merupakan cara yang relatif murah dan berdampak sangat besar bagi perusahaan dalam memberikan kompensasi para eksekutifnya,” imbuh Irham yang pernah bekerja di ARCO Los Angeles selama 15 tahun ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Metode stock option compensation ini justru banyak digunakan oleh perusahaan multinasional. Pasalnya, perusahaan multinasional ini mengikuti standar yang sudah ditetapkan di headquarter-nya. Selain itu, masih banyaknya perusahaan di Indonesia yang belum terdaftar di bursa efek dan menjadi perusahaan terbuka. Dengan kondisi ini, tentu saja membuat valuasi perusahaan menjadi sulit. “Untuk melakukan penilaian berdasarkan stock option sesuai dengan mekanisme pasar tentunya harus valuasi pasar dilihat di pasar modal. Tapi, kalau perusahaan tersebut belum terbuka, bagaimana kita melakukan valuasi atas perusahaan tersebut?” jelas Irham. Yah, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk menerapkan metode ini di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s