Panen Dolar di Negeri Obama Berkat Brand Design

Yolanda Santosa

Principal & Creative Director of Ferroconcrete – Los Angeles


Belakangan, frozen yoghurt (fro-yo) menjadi sebuah fenomena di kalangan penikmat lifestyle Indonesia. Sajian kuliner jenis dessert yang berbahan yoghurt beku dengan taburan berbagai toping diatasnya kini memang sedang booming. Mulai dari lisensi asing hingga lokal pun turut meramaikan bisnis fro-yo. Sebut saja mulai dari Sour Sally, Heavenly Blush, BluBerry, Tutti Frutti, Red Mango hingga J.Co dengan J.Cool andalannya.

Padahal di negeri nun jauh di sana – Amerika Serikat, fro-yo ini sudah marak dibicarakan sejak lima tahun lalu. Adalah Pinkberry – salah satu pemain di industri kuliner fro-yo yang mendapat suntikan modal US$27,5 juta dari firma ventura capital milik dedengkot Starbucks – Howard Schultz. Sedemikian lezatkah fro-yo milik duo pengusaha Korea Shelly Hwang dan Young Lee ini hingga Schultz tertarik untuk investasi di dalamnya.

Persoalannya, fro-yo ini bukan sekedar fro-yo. Brand Pinkberry turut mendongkrak penjualan fro-yo ini. Lihat, bagaimana dengan cerdiknya Pinkberry menarik perhatian pengunjungnya dengan tampilan desain toko yang menawan. Dalam website Pinkberry tertulis ‘People don’t eat frozen yogurt anymore. They eat Pinkberry. And that’s a brand, personified.

Siapakah orang dibalik kesuksesan Pinkberry ini? Dialah Yolanda Santosa, orang Indonesia yang berhasil menelurkan ide kreatifnya di Amerika Serikat. Pinkberry bukanlah karya pertama Yolanda. Tetapi memang, Pinkberry ini debut pertamanya sebagai seorang brand designer & motion graphics entrepreneur. Simak kisahnya…

Ditakdirkan Menjadi ‘Seniman’

Dunia seni dan desain sepertinya memang sudah menjadi jalan hidup seorang Yolanda Santosa. Yo yang lahir di Jakarta, 24 Februari 1978 memang dianugerahi talenta seni yang kental dalam dirinya. Seni menjadi mata pelajaran yang paling Yo gandrungi saat mengenyam bangku sekolah dasar Don Bosco Jakarta. “Saya sangat suka menggambar, desain dan seni…  Itu adalah hint awal akan seperti apa karir saya kelak,” kenang Yo menerawang.

Setamat sekolah dasar, Yo harus pindah ke Singapura mengikuti kedua orangtuanya. Sejak itu, hasrat Yo untuk terjun di bidang seni makin mantap. Klimaksnya saat duduk di bangku sekolah menengah di Opera Estate Primary School dan Katong Convent Secondary School, Singapura nilai Yo buruk nyaris di semua bidang mata pelajaran kecuali seni.

“Sejak itu, sepertinya masa depan saya sebagai desainer (seniman) semakin jelas dan seperti sudah tertulis di batu,” ujarnya sambil terkekeh. Yo juga mengakui bahwa dirinya beruntung memiliki orang tua yang mensupport penuh keinginan anaknya walaupun sepertinya tak menguntungkan. Tapi siapa sangka, 12 tahun kemudian kesuksesan Yo sebagai seorang desainer brand dan grafis membanggakan orang tuanya.

Selepas SMU, Yo pun memilih desain grafis gerak (motion graphic design) dan branding sebagai spesialisasinya di Art Center of Design, Pasadena. Setelah mentas kuliah dan menyandang gelar Bachelor of Fine Arts (BFA) dari Art Center College of Design, Pasadena di tahun 2000, Yo mulai terjun ke industri grafis yang sesungguhnya.

Yo bergabung dengan yU+co, sebuah rumah produksi yang menggarap serial Desperate Housewives, Ugly Betty dan The Triangle. Ya, Desperate Housewives – serial drama televisi yang ditonton oleh 21,3 juta orang di Amerika Serikat ini adalah proyek pertama Yo sebagai seorang desainer grafis sekaligus art director. Peran Yo sebagai pembuat rangkaian main title serial itu. Gaya pop-up book yang merupakan sambungan dan kaitan beragam aliran dan gaya visual menjadi sesuatu yang kohesif menjadi kunci kemenangan Yo dalam tender tersebut.  Dan hebatnya, dari proyek itu, Yo berhasil menyabet nominasi Emmy Outstanding main title design Desperate Housewives.

Filosofi Konstruksi Bangunan

Setelah enam tahun mengerjakan berbagai proyek pembuatan main title film Yo memutuskan mundur dari yU+co dan memilih untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Tepat di bulan September tahun 2006 – Ferroconcrete berdiri. Menurut Yo, Ferroconcrete berdiri karena hasrat Yo yang meluap untuk mengeksplorasi dunia brand.

Embrio kecintaannya terhadap brand tak lain karena Apple. Yo memang terobsesi dengan Apple – produk fenomenal besutan Steve Jobs.  Dan obsesi itulah mengantarkan Yo pada karir impiannya sebagai brand designer. “Setiap hari saya bangun pagi, dan menyadari hidup kita dikelilingi oleh brand. Mulai dari saat bangun (Colgate, Oral-B) sampai waktunya tidur lagi (Samsung),” kata Yo. Ditambah lagi, Yo menyadari dirinya lahir di tanggal yang sama dengan Steve Jobs yaitu tanggal 24 Februari.  Agak konyol memang, tapi karena kesamaan itu makin menguatkan rasa cintanya terhadap profesi pilihannya.

“Saya percaya bahwa brand bisa menghibur kita bahkan membuat kita jatuh cinta pada mereka. Dan di bisnis ini, kami ‘menyuntikkan’ personality dan storytelling pada seluruh brand klien kami,” terang putri pasangan Fatah Santosa dan Christina Santosa ini. Dan akhirnya, jadilah firma desain yang fokus pada branding, desain grafis, motion graphic, website, print, signage dan produk kreatif lainnya bertitel Ferroconcrete.

Pemilihan nama Ferroconcrete ini bukan tanpa maksud. Kata Ferroconcrete merujuk pada proses konstruksi dimana menggabungkan baja menjadi kolom-kolom, lalu menuangkan semen dan akhirnya menjadi beton. Konstruksi beton inilah yang membuat kokoh fondasi dan akhirnya berdirilah jembatan dan berbagai bangunan yang ada di dunia ini. Metafora konstruksi gedung inilah menjadi dasar Yo untuk dalam mengkonstruksi image sebuah brand (branding).

Namanya juga bisnis kreatif, bisa dipastikan minim modal karena lebih mengedepankan ide kreatif. Yo pun mengamininya. “Modal awalnya sangat minimal,” kata penggemar Tadao Ando ini. Yo merogoh kocek pribadinya sebanyak US$3.000 atau sekitar Rp27 juta. Uang itu dipergunakannya untuk membeli seperangkat komputer McIntosh sebagai ‘senjata perang’. Sangat minim bukan untuk bisnis di negara kapitalis seperti Amerika?

Saking minimalisnya, home office pun menjadi andalan Yo. Ya! Yo pun terpaksa bekerja dari apartemennya karena belum mampu menyewa kantor. Yah, maklum saja, bisnis di dunia kreatif tentunya berbeda bisnis konvensional. Kantor bukan lagi menjadi syarat utama agar sebuah bisnis diakui. Di dunia kreatif, justru berlaku mobile office. Jadi bekerja tak lagi terikat tempat dan waktu.

Yo menjadi pejuang tunggal (single fighter) untuk membangun Ferroconcrete pada sembilan bulan pertama. Yo mulai keteteran karena proyek yang kian menggunung. Akhirnya Yo merekrut karyawan pertama sebagai web developer di bulan kesembilan. Selanjutnya, karyawan kedua pun direkrut sebagai desainer tepat di tahun pertama. Bertiga mereka bekerja dan berkantor di apartemen Yo. Dalam kurun waktu satu tahun tiga bulan, akhirnya Ferroconcrete pindah ke sebuah kantor kecil di Los Angeles.

Proyek pertama Ferroconcrete adalah brand Pinkberry. Pinkberry adalah sebuah toko frozen yogurt ternama di Amerika Serikat. Proyek Pinkberry ini mencakup mulai dari strategi branding yang komprehensif, art direction of photography, membangun brand lines, retail packaging, point of purchase displays, website, marketing collaterals, newsletters, environmental graphics,  signage, konsep event bahkan termasuk untuk store environment hingga kendaraan.

Sejatinya, proyek ini berawal dari kecintaan Yo terhadap frozen yogurt. Ajaibnya, sejak Pinkberry dipegang oleh Yo, dua tahun kemudian Pinkberry berkembang menjadi 70 outlet di berbagai negara bagian Amerika. Bahkan sekarang sudah mencapai 83 outlet. Mengapa bisa demikian? Strategi branding Yo yang melatarbelakangi. “What makes Pinkberry, Pinkberry? If you said the yogurt, you’re only half right. Customers stand in line for a taste of the yogurt, but they get in that line because of the brand.” Slogan inilah yang membuat Pinkberry berkembang pesat.

Kesuksesan Yo bersama Pinkberry pada akhirnya menjadikan Ferroconcrete memiliki segmentasi market tersendiri. Bisnis ritel, lifestyle dan entertainment pun menjadi pilihannya. Kenapa memilih tiga bidang itu? Menurut Yo, karena untuk bidang itu melibatkan banyak sekali komponen, mulai dari toko, kemasan, website dan berbagai pengalaman berbelanja. “Proyek itu biasanya (menuntut) sangat kreatif,” tandasnya. Proses kreatifnya sendiri biasanya berdasarkan sasaran project. “Kami membiarkan cerita mendikte konsep. Minat kita mendikte tim. Dan brand’s personality mendikte gaya visual,” beber wanita yang mengidolakan Kenya Hara ini.

Belum Tertarik Kembali ke Indonesia

Kini, nama Ferroconcrete makin berkibar sebagai desainer branding & motion graphic di negara asal Kolonel Sanders. Bisnis minimalis yang tadinya hanya dihandle Yo sendirian, kini berkembang dengan enam karyawan tetap dan 1-4 karyawan freelance disaat project tertentu. Yo pun pasang target tahun ini agar Ferroconcrete makin mantap terjun ke motion graphic sebaik membangun brand ritelnya sendiri.

Kesuksesan Yo di tanah seberang ini, apakah menarik minat Yo untuk mengepakkan sayapnya dan kembali ke Indonesia? Yo pun menjawab bijak. “Tidak untuk saat ini. But tomorrow, who knows. I go where opportunities take me,” jawab perempuan yang memanfaatkan waktu luangnya dengan bermain I-Phone ini. Tapi sepertinya Yo sudah sangat menikmati kehidupan di Los Angeles.

Yang artinya, kemungkinan Yo untuk kembali ke Indonesia sangat kecil. Yah, sangat disayangkan, asset bangsa yang berharga ini lebih memilih untuk berkarya di negeri orang dibanding di tanah kelahirannya sendiri. Mungkin memang lebih baik begitu, talentanya akan lebih baik dan dihargai di luar negeri baik dari pemuasan hobi dan sisi materi.


Ferroconcrete

1050 S Flower St Suite 835

Los Angeles, CA 90015

Telp                : 213 741 1378

Email             : hello@ferro-concrete.com

Website         : www.ferro-concrete.com

Boks :

Rule of succes ala Yo :

1. Loving what you do!

2. Yo memberikan ‘nyawa’ pada karyanya (terutama untuk brand) dengan menginjeksikan gabungan kepribadian (personality) dan storytelling.

3. You want to design something that you yourself is in love with.

4.  Team work yang solid. Yolanda mengaku semua pencapaian ini karena kerja tim. It was a team effort! (pengakuan Yolanda dalam salah satu jejaring sosialnya).

BOKS Profil :

Yolanda Santosa

Tanggal lahir                       : Jakarta, 24 Februari 1978

Status                                                : Single

Jabatan                                  :

–      Principal & creative director Ferroconcrete

Pendidikan                           :

–      BFA (Bachelor of Fine Arts), majoring in Graphic Design – Pasadena, USA.

Project                                   :

–      Pinkberry

–      First Blush

–      Echo

–      Mptv

–      Eple

–      Citycenter on6th

–      TFO Architecture

–      Strenrep

–      Hustler Toys

Awards yang diraih           :

2007   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design for “Ugly Betty”

2006   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design for “The Triangle”

2005   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design “Desperate Housewives”

3 responses to “Panen Dolar di Negeri Obama Berkat Brand Design

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s