Sampoerna Agro Lirik Bisnis Si ‘Lem Hitam’

Sampoerna Agro mengendus potensi bisnis baru sagu. Meski tak popular, keputusan ini tentu diambil dengan perhitungan resiko yang matang. Produktivitas yang tinggi dan meningkatnya kebutuhan bahan pangan menjadi alasan utama terjunnya Sampoerna ke sektor pangan ini.

Sagu atau penganan serupa lem ini memang belum populer di konsumsi di Indonesia. Orang awam tahu sagu, namun tak semuanya bersedia untuk mengkonsumsinya. Terbukti, di tahun 2007 konsumsi sagu dalam negeri hanya sekitar 210 ton atau baru 4-5% dari potensi produksi yang sebesar lima juta ton per tahun. Tapi sejatinya, disitulah ceruk bisnis yang sangat gurih untuk dijamah para investor karena potensi pasarnya masih sangat lebar. Seperti yang sudah dilakukan oleh PT Sampoerna Agro Tbk. yang di tahun ini melakukan gebrakan baru memasuki bisnis sagu.

Hadi Fauzan, director corporate affairs PT Sampoerna Agro Tbk. menjelaskan masuknya Sampoerna ke industri sagu tak lain karena potensi bisnis yang sangat gurih di situ. Utamanya berkaitan dengan klaim bahwa sagu memiliki tingkat produktivitas paling tinggi dibandingkan dengan komoditi karbohidrat lainnya seperti tapioka, beras, kentang dan lainnya. “Potensi pasar sagu bisa disetarakan dengan tapioka yang saat ini banyak dipergunakan sebagai bahan baku industri makanan,” kata Hadi.

Ditambah lagi dengan terus meningkatkan kebutuhan bahan baku untuk carbohydrate based products diseluruh penjuru dunia seiring dengan pertumbuhan penduduk. Carbohydrate based products ini bisa dipakai untuk berbagai keperluan produk pangan, atau bahan baku industry seperti MSG, Vermicelli, Sorbitol, Modified starch (glue, coating, dan lain-lain) termasuk bisa diproses menjadi biofuel.

Demi meloloskan tujuan tersebut, pada awal Juni lalu lewat anak usahanya PT Sampoerna Bio Fuel (BSF) ini pun mengakuisisi PT National Sago Prima (NSP). Lewat akuisisi ini, perusahaan milik konglomerat Putera Sampoerna ini berhasil menguasai 75,5% saham NSP. Untuk itu, korporasi mengelontorkan dana investasi untuk proyek sagu ini sebesar US$12 juta atau sekitar Rp108 miliar. Nilai investasi ini akan bertambah karena korporasi sudah menyiapkan dana untuk tahapan berikutnya yaitu rehabilitasi dan penanaman kembali sekitar US$5 juta atau Rp45 miliar di tahun 2010 dan 2011.

Dengan penambahan modal ini, nantinya Sampoerna Bio akan menguasai 91,85% saham National Sago. Jadi total investasi yang telah disiapkan adalah US$25 juta atau sekitar Rp225 miliar yang semuanya berasal dari kas internal perusahaan. Tapi sayangnya, manajemen Sampoerna enggan merinci lebih jauh mengenai target return of investment dari akuisisi ini dan hanya menjawab secara normatif. “Kami yakin bahwa bisnis sagu dimasa depan akan mampu memberikan kontribusi pendapatan secara signifikan terhadap perusahaan,” jelas Hadi enggan merinci.

Perusahaan yang kebunnya berlokasi di Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau ini memiliki konsesi lahan perkebunan sagu seluas 21.600 hektar. Lima ribu hektar diantaranya sudah memasuki masa panen, sedangkan tiga ribu lainnya memerlukan rehabilitasi dan penyisipan tanaman (replanting). “Next plan-nya kita tinggal membangun pabrik tepung sagu dan melakukan rehabilitasi sekaligus perawatan kebunnya,” jelas Hadi. Proyeksinya, pabrik tepung sagu ini memiliki kapasitas produksi 100 ton per harinya. Skema pengelolaannya perkebunan sagu ini pun akan merujuk pada pengelolaan kebun kelapa sawit dengan skema inti dan plasma.

Menjadi Makanan Kultural atau Bio Fuel

Pilihan Sampoerna Agro untuk masuk ke bisnis sagu menurut Eka Budianta, direktur proyek Jababeka Botanic Gardens memerlukan perencanaan dan sosialisasi yang sangat matang. Karena sagu memiliki masa panen yang cukup lama dan kurang kompetitif dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya.

Untuk sagu budidaya, tambah Eka, dibutuhkan masa panen selama enam tahun. Hasil tepung dari satu pohon berkisar 200 kg, dan menurut teori dari satu hektar hutan sagu bisa dipanen sampai 86 batang pohon per tahun. Kalau Sampoerna menguasai konsesi lahan seluas 21.600 hektar maka akan menghasilkan 372 juta kilogram atau 372 ribu ton. “Jadi dengan hasil sekitar 20 ton sagu per hektar per tahun, jelas lebih bagus dari panen padi per satu hektar,” kata Eka. Akan tetapi, dalam waktu tercepat enam tahun untuk sekali panen sagu bisa jadi 12 kali panen padi.

Selain tak efisien, Eka juga menyebut persoalan bahwa masyarakat Indonesia terbiasa untuk mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. “Rasanya akan sulit untuk mengubah kebiasaan konsumsi beras menjadi sagu. Jadi butuh waktu dan tenaga untuk mensosialisasikan sagu sebagai bahan pangan utama selain beras,” kata Eka.

Eka justru melihat potensi sagu sebagai bahan pangan khususnya sebagai makanan kultural. Jepang, pantas menjadi acuan Sampoerna dalam bisnis sagu ini. Harga beras di Jepang yang cukup mahal karena terbatasnya lahan membuat makanan ini menjadi sesuatu yang mewah. Oleh karena budidaya sagu yang jauh lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan beras, Eka pun berharap agar sagu bisa menjadi something luxurious. Dengan demikian, sagu naik tingkat menjadi tanaman pangan yang langka dan mahal, tak sekedar pengganti nasi saja. Sedangkan Eka pesimis sagu untuk produksi bio-etanol, rasanya sulit mengingat FAO mensyaratkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dahulu dibandingkan kebutuhan energi.

Pendapat berbeda justru meluncur dari Catur Sugiyanto pengamat agribisnis dari Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM. Masuknya Putera Sampoerna ke industri agrobisnis khususnya untuk komoditas sagu ini prospek utamanya sebagai bahan baku bio fuel bukan untuk bahan pangan. Menurut Catur, sebagai bahan pangan sagu sangat kecil perannya bahkan di daerah konsumen utama seperti Papua dan Papua New Guniea. Walaupun tak menutup kemungkinan penggunaan tepung sagu untuk campuran mie atau makanan lainnya namun pangsanya sangat kecil. Sedangkan peluang pasar yang sudah terlihat adalah untuk memproduksi biofuel mengingat permintaan energi secara umum masih terus meningkat, sementara energi tak terbarukan akan habis.

“Namun demikian, prospek sagu sebagai bahan pangan berbeda dengan potensi pasar sagu untuk biofuel (seperti ethanol dari sagu),” kata Catur. Gejolak pasar bio fuel yang sudah dimulai sejak 10 tahun terakhir sempat menyebabkan melonjaknya harga pangan dunia. Terlebih saat Amerika sebagai pemasok utama jagung di pasar internasional mengalihkan ekspor jagungnya untuk produksi biofuel. Ditambah dengan tumpahnya minyak dari BP di Teluk Mexico belum lama ini yang secara otomatis mendesak pemerintah Amerika untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil menjadi bio fuel.

Jadi, bisa diprediksi permintaan terhadap biofuel akan semakin meningkat. “Negara pengimpor fossil fuel seperti Amerika dan Jepang akan segera beralih dari konsumen bio fuel akan menjadi importer utama tepung sagu apabila pabrik ethanolnya bisa memanfaatkan bahan baku sagu,” imbuh peraih doctor ekonomi agrikultur dari Universitas Illinois, Amerika Serikat ini.

Walaupun begitu, Sampoerna Agro tak lantas melupakan core business awalnya yaitu kelapa sawit. Sampoerna tetap focus dan memprioritaskan pada pengembangan bisnis kelapa sawit. “Perseroan akan fokus pada perluasan lahan tertanam melalui penanaman lahan yang belum ditanami (land bank) dengan proyeksi dalam 5 tahun ke depan akan menanam 50.000 hektar,” kata Hadi. Tak hanya itu, korporasi juga masih dalam tahap mengembangkan budidaya tanaman pangan secara bertahap di Indonesia Timur.

Yah, manajemen juga pasti telah memproyeksikan potensi dari bisnis sagu di masa depan. Selanjutnya, apakah Sampoerna Agro tetap akan membidik sektor agribisnis? Kita lihat nanti.

One response to “Sampoerna Agro Lirik Bisnis Si ‘Lem Hitam’

  1. Pada dasarnya, investasi dibidang agro tidak pernah ada matinya dan tidak ada bangkrutnya, jadi ini adalah ide yang bagus untuk semua investor.. agar agro di Indonesia bisa maksimal seperti di brazil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s