Smart CSR: Alternatif Solusi Menumbuhkan Social Entrepreneur

Gaung corporate social responsibility sudah digembar-gemborkan sejak lima tahun lalu. Tapi, perdebatan bahkan regulasinya belum juga usai. Padahal, sebenarnya dari program tanggung jawab perusahaan dengan implementasi yang tepat bisa membantu mengentaskan Indonesia dari pengangguran dan kemiskinan.

taken from tutor2u.net

Kamis (1/7) lalu, di salah satu ballroom Ritz Carlton, Pacific Place Bank Mandiri menggelar Workshop Modul Wirausaha bagi para dosen dalam mengoptimalkan pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Workshop itu diikuti kurang lebih 300 orang dosen dari 84 perguruan tinggi di Jabodetabek, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Tak hanya workshop saja, di acara yang digelar selama dua hari itu, digelar juga expo para finalis Wirausaha Muda Mandiri.

Deretan stand diisi oleh para finalis dan pemenang Wirausaha Mandiri. Ada PT Dwikarsa Semestaguna, developer perumahan rumah sehat sederhana milik Elang Gumilang. Di sebelahnya stand HelloMotion Inc milik Wahyu Aditya yang memamerkan produk clothing dari distro KDRI miliknya. Bahkan, Hengky Eko Sriyantono – pemilik waralaba Bakso Malang Kota “Cak Eko” menggelar dagangannya dengan gerobak bakso betulan di ballroom itu. Terhitung total ada 15 booth mengikuti expo Wirausaha Muda Mandiri tersebut.

Riswinandi, wakil direktur utama PT Bank Mandiri (Persero) saat itu mengungkapkan program workshop Modul Wirausaha Mandiri untuk dosen ini merupakan bentuk komitmen Bank Mandiri dalam menciptakan wirusahawan secara sistematis. Ya, tahun ini adalah tahun keempat Bank Mandiri menggelar Program Wirausaha Mandiri. Program rutin ini merupakan salah satu bagian dari program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) sebagai corporate social responsibility Bank Mandiri. Bank Mandiri memang berniat menjadikan CSR sebagai corporate objective yang berkelanjutan (sustainable).

Payung Hukumnya Belum Jelas

Perbincangan tentang corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan sudah menggema sejak tiga tahun belakangan. Terlebih lagi, dengan terbitnya UU Perseroan Terbatas No 40 tahun 2007 pasal 74 ayat 1 yang mengatur tentang kewajiban bagi PT yang menjalankankan usaha di bidang sumber daya alam untuk memberikan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Tetapi, dalam UU PT ini tidak dijelaskan secara rinci mengenai besarnya presentase alokasi CSR serta sanksi bagi para pelanggar.

Lalu, dipertegas dalam UU No. 25 tahun 2007 pasal 15 b tentang Penanaman Modal yang mewajibkan setiap penanam modal untuk melakukan CSR. Dalam UUPM pasal 34 ini sudah diatur sanksi-sanksi terperinci terhadap perusahaan yang melalaikan CSR, tapi hanya untuk investor asing. Lalu, bagaimana dengan perusahaan nasional? Belum juga ada kejelasan mengenai regulasi CSR ini karena peraturan pemerintah yang mengatur tentang CSR pun belum lahir juga hingga detik ini. Untuk BUMN sendiri memang sudah ada payung hukumnya tentang besaran dana hingga tata cara pelaksanaan CSR. UU No. 19 tahun 2003 tentang BUMN yang dijabarkan lagi dalam Peraturan Menteri Negara BUMN No. 05 tahun 2007 tentang program kemitraan BUMN dengan usaha kecil dan program bina lingkungan.

Perdebatan panjang tentang CSR memang tak ada habisnya. Haneman Samuel, pengamat corporate social responsibility dari Universitas Indonesia justru pesimis akan pergerakan CSR di Indonesia. “Rasanya berat untuk menggerakkan CSR,” kata Hanneman. Ada dua hal yang menyebabkan lambannya pergerakan CSR. Pertama, korporasi bergerak di ranah menghasilkan keuntungan ekonomis untuk shareholders mereka. “Apalagi di era liberalisasi ekonomi seperti sekarang ini – ketidakpastian mendapatkan keuntungan,” imbuhnya. Yang kedua, pemerintah sendiri tidak memberikan insentif bagi korporasi yg melaksanakan program CSR. “Kalau saja ada tax insentif, mungkin akan merangsang korporasi untuk melaksanakan CSR,” jelas pria kelahiran 3 Agustus 1959 ini.

Meskipun demikian, tak berarti CSR tidak dijalankan. Banyak pula korporasi yang sudah menjalankan program CSR atas kesadaran pribadi. Tetapi, Hanneman menambahkan umumnya korporasi yang ‘diganggu’ oleh komunitas tertentu yang menjalankan CSR-nya. BUMN pun disebut sangat berpotensi menjalankan CSR. Maklum saja, mereka terikat akan Peraturan Menteri Negara BUMN No.05 tahun 2007 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. “Tapi itu pun agak langka. Dan terkesan sebagai kegiatan ad-hoc (tanpa road-map),” kata staf pengajar Pasca Sarjana Ilmu Sosiologi Universitas Indonesia ini.

Alasan bahwa kesadaran sosial korporasi yang rendah terhadap konsep triple bottom line masih rendah tak sepenuhnya benar. Saat ini korporasi dituntut tak hanya berorientasi pada profit (keuntungan), tetapi juga pada people (masyarakat) dan planet (lingkungan). Dan O’Brien, dalam papernya yang berjudul Integrating Corporate Social Responsibility with Competitive Strategy menyebut bahwa sejatinya korporasi bisa mereguk keuntungan dari CSR yang dilakukannya.

Hakikat CSR yang sesungguhnya adalah merepresentasikan evolusi yang menarik dan penggabungan yang apik antara filantropi dan etika bisnis. CSR memusatkan diri pada hubungan antara bisnis dan masyarakat dan bagaimana perilaku perusahaan pada stakeholder kunci seperti karyawan, pelanggan, investor, supplier, komunitas dan grup tertentu (C.W.L. Hill, International Business: Competing in the Global Marketplace). Sementara itu The World Business Council for Sustainable Development mendefinisikan CSR sebagai komitmen yang berlanjut melalui perilaku yang etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi sembari meningkatkan kekuatan pekerja yang berkualitas dan terhadap keluarga, demikian pula dengan komunitas lokal dan masyarakat secara luas.

Artinya, keberadaan perusahaan seharusnya memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang terkait baik bagi korporasi – masyarakat – dan juga bagi lingkungan sekitar termasuk di dalamnya lingkungan hidup. Ambil contoh korporasi yang sukses menjalankan smart CSR. Starbucks berhasil dengan menggunakan strategi aliansi dengan organisasi lingkungan yang kredibel dalam upaya untuk mensertifikasi produknya. Starbucks berpartner dengan TransFair USA, sebuah organisasi non profit yang memberikan sertifikasi independen untuk produk-produk pekan raya perdagangan (Trade Fair). Untuk mendapatkan sertifikasi, kopi harus berasa dari petani kopi yang mendaftar dalam program fair trade itu.

Program ini membantu mengorganisasikan petani dalam jaringan yang kooperatif pada eksportir kopi yang menyediakan kredit yang terjangkau dan jaminan harga pasar internasional. Hasilnya, program fair trade itu meningkat sejalan dengan pendapatan petani kopi. Sejalan dengan itu, pendapatan program tersebut memungkinkan mereka untuk membangun fasilitas kesehatan dasar, perumahan dan pendidikan untuk anak-anak mereka. selain itu, dengan label atau pendaftaran petani kopi ini menghindari dari yang penindasan harga seperti yang biasa dilakukan oleh tengkulak. Dengan demikian, Starbucks turut memberdayakan dengan mengangkat posisi tawar petani kopi. Starbucks memberikan contoh praktik smart CSR atau CSR yang cerdas dan tepat sasaran.

Hubungan Mutual Benefit Korporasi – Masyarakat

Tapi sebenarnya, beberapa korporasi telah menjalankan CSR dengan penuh kesadaran. Ambil contoh Bank Mandiri yang mengandalkan program Wirausaha Muda Mandiri sebagai bagian dari program CSR-nya.  Wirusaha Mandiri yang telah menginjak tahun ke empat ini telah berkembang dengan berbagai pola. Termasuk yang belum lama ini digelar oleh PT Bank Mandiri Tbk. yang mengadakan workshop Modul Wirausaha bagi para dosen. Mengapa program CSR ini menarik? Karena Bank Mandiri benar-benar mempersiapkan atau involve dalam pengembangan entrepreneur dari hulu ke hilir. Sejak dibangku kuliah, para calon wirausahawan dibekali dengan persiapan menjadi seorang entrepreneur lewat Workshop Wirausaha Mandiri. Dalam workshop ini terjadi pula transfer of knowledge dan sharing pengalaman dari pemenang maupun finalis Wirausaha Mandiri yang sudah memiliki usaha.

Kini, ada pula Modul Kewirausahaan bagi para dosen yang memadukan antara teori dan praktiknya dalam berwirausaha. Modul ini nantinya menjadi panduan bagi para calon entrepreneur. Berisikan kiat-kiat berwirausaha di bidang boga, manufaktur dan industri kreatif, serta hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan praktis, manajemen usaha, rencana usaha sederhana dan perencanaan bisnis serta praktek memulai usaha. Untuk penyusunan modul ini, Bank Mandiri berkolaborasi dengan enam perguruan tinggi di Indonesia dan Prof. Rhenald Kasali.

Para finalis maupun pemenang Wirausaha Mandiri ini pun berhak mendapatkan fasilitas berupa bantuan kredit dari Bank Mandiri dan berbagai kesempatan pameran yang digelar di dalam dan di luar negeri. Hendi Setiono, pemilik brand Kebab Turki Baba Rafi sekaligus pemenang pertama Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2007 “Banyak benefit yang didapat dari WMM dan salah satunya adalah kemudahan untuk mendapatkan kredit,” kata Hendi, presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia.

Disinilah simbiosis mutualisma atau kerjasama yang saling menguntungkan antara para wirausaha yang menjadi target sasaran CSR dengan korporasi, dalam hal ini Bank Mandiri. Bank Mandiri juga turut diuntungkan dengan CSR-nya karena korporasi menjadi lebih mudah dalam memberikan bantuan kredit (lending) karena calon debiturnya sudah dikenali dari sisi resiko maupun kemampuan pembayaran kreditnya. Saat ini, sudah ada total sekitar 11.000 orang mahasiswa peserta workshop WMM ini.

Tak cukup sampai disitu, Bank Mandiri juga memiliki program Kemitraan dengan social entrepreneur. Salah satu diantaranya kerjasama dengan Saung Angklung Mang Udjo di Bandung. Bank Mandiri membina dan memberdayakan industri kecil dengan memberikan bantuan permodalan pada pengrajin angklung dan petani bamboo di sekitar Saung Angklung Udjo, kelurahan Pasir Layung Bandung. Bantuan ini diberikan pada dua kelompok pengrajin dengan 32 orang pemuda Karang Taruna dan dua petani bamboo yang menghasilkan 10 set angklung baru perminggu dan omset sebesar Rp6 juta per minggu.

Budi Gunadi Sadikin, direktur retail dan micro banking Bank Mandiri menyebut program Wirausaha Mandiri dan pola kemitraan ini sebagai corporate social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial perusahaan. Mengapa demikian? Ya, dengan program WMM ini tentunya memberikan efek domino yang cukup signifikan baik bagi masyarakat maupun bagi perusahaan sendiri. Bank Mandiri juga memiliki program kemitraan yang fokus pada mempersiapkan dan meningkatkan kompetensi usaha kecil dalam bidang produksi, pemasaran dan pembinaan.

Penyaluran program ini dibagi menjadi dua yaitu one by one program dan linkage program. Skema linkage ini disalurkan dengan pola inti-plasma yang menggandeng perusahaan besar yang memiliki kemampuan dan komitmen untuk melakukan pembinaan usaha kecil yang menjadi mitra usahanya. Sedangkan one by one program, pinjaman disalurkan langsung kepada masyarakat yang belum bankable secara perorangan melalui cabang-cabang Bank Mandiri. Di tahun 2009, Bank Mandiri berhasil menggelontorkan Rp124,9 miliar untuk pinjaman kemitraan yang terdiri dari pinjaman dengan pola linkage sebesar Rp114,1 miliar dan sisanya sebesar Rp10,8 miliar untuk pinjaman dengan pola one by one.

Menumbuhkan Social Entrepreneur

Selain Bank Mandiri dengan program Wirausaha Muda Mandiri, ada pula Bank Danamon yang mengandalkan Danamon Award sejak tahun 2006. Danamon Award ini sebagai bentuk penghargaan bagi individu, kelompok, organisasi baik bisnis maupun nirlaba yang mampu menjadi problem solver bagi lingkungan. Ada lima kategori utama peraih Danamon Award ini, diantaranya kategori individu, organisasi, usaha skala kecil, usaha skala menengah dan usaha skala besar. Sejatinya, dari ajang itu menjadi sarana memancing bermunculannya para pengusaha sosial. Iya, karena beberapa peserta dari Danamon Award tahun 2008 adalah para social entrepreneur. Sebut saja, Slamet Riyadhi, pemenang Danamon Award 2007 kategori usaha mikro dengan produk andalannya tas dengan brand Lumintu. Slamet yang pada awalnya mendirikan usaha produk daur ulang alumunium foil bekas bungkus pasta gigi karena terdorong oleh situasi sosial dan ekonomi disekitarnya. Niat berbisnis justru berawal dari keinginannya untuk membantu para lansia di sekitar rumahnya di Tangerang. Perpaduan yang sungguh menarik antara memberdayakan lingkungan dengan pemanfaatan limbah bahan baku. Pada akhirnya, berkat bisnisnya ada tujuh orang lansia yang berhasil menjadi pengrajin. Slamet berhasil menyeimbangkan antara misi sosial yang ingin memberdayakan masyarakat lansia. Tapi bisnisnya sendiri tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Lalu, Phaerly Maviec Musadi, pemilik CV Merylina Agung yang juga jebolan Danamon Award 2008. Phei, demikian Phaerly kerap disapa meletakkan bisnisnya sejalan dengan misi sosial yang melekat dalam dirinya. Melalui distro khusus baby yang bernama Parental Advisory Baby Clothing, Phei membangun kerajaan bisnisnya sebagai mesin pengumpul uang. Bisnis yang hanya bermodal cekak sebesar Rp225 ribu kini sudah berhasil membukukan omset sekitar Rp400 juta di tahun 2008. Kesuksesan ini diikuti dengan aliran dana yang kian lancar ke Yayasan Adikaka yang didirikannya pada tahun 2006. Phei juga memiliki misi sosial bersama Yayasan Adikaka – sebuah yayasan yang mendidik komunitas underground untuk berperilaku baik  (meninggalkan kesan yang kasar dan keras yang melekat pada stereotip komunitas underground) dan produktif. Di bawah yayasan ini tercetus dua program yaitu kampanye bermain untuk orangtua dan tempat bermain gratis buat anak-anak ekonomi lemah. Kini, Lebih jauh lagi, Phei mengaku punya mimpi untuk membeli sebuah ambulance yang akan dipergunakan untuk membantu komunitasnya. Atas perannya dalam memberdayakan masyarakat itulah Phei dinobatkan meraih Danamon Award 2008.

Meskipun keduanya merupakan jebolan Danamon Award dan berhak menggondol hadiah Rp290 juta, tapi tak lantas membuat mereka mendapatkan fasilitas kredit secara otomatis. Padahal, bila bicara benefit, tentunya korporasi bisa saja memetik keuntungan dari adanya Danamon Award ini dengan memberikan bantuan kredit. Namun, bukan hanya benefit secara financial saja yang menjadi orientasi perusahaan dalam melakukan CSR. Bisa jadi, branding image perusahaan terdongkrak akibat aktivitas CSR yang dilakukannya.

Shell, sebuah perusahaan yang berkecimpung di bidang energi dan petrokimia asal Belanda dan Inggris juga punya program serupa. Melalui Shell LiveWIRE, Shell melakukan investasi sosial dengan mendukung tumbuhnya kewirausahaan di kalangan muda. Program Shell LiveWIRE ini merupakan bagian dari program Shell Internasional yang pertama kali diluncurkan di Shell Skotlandia tahun 1982. Program CSR Shell ini menarik karena hingga tahun 2009 berhasil membantu mengembangkan 2.800 bisnis baru serta merangkul 8.900 tenaga kerja di seluruh dunia.

Sedangkan di Indonesia program ini sudah berjalan tujuh tahun atau sejak tahun 2003. Shell meskipun bergerak di bidang energi dan petrokimia tapi memang menaruh concern pada pengembangan kewirausahaan di Indonesia. “Kami memang punya harapan dengan program Shell LiveWIRE ini semakin berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kaum muda di Indonesia. Ini sejalan dengan komitmen kami untuk mendorong lebih banyak lagi anak muda menjadi wirausaha yang berkualitas,” kata Darwin Silalahi, presiden direktur & country chairman PT Shell Indonesia.

Program Shell LiveWIRE ini terdiri dari empat kegiatan yaitu workshop motivasi menggali ide bisnis (bright ideas workshop), konsultasi bisnis (business coaching and mentoring), dan layanan info dan diskusi bisnis. Kaum muda usia 18-32 tahun memang menjadi target utama Shell LiveWIRE ini. Shell pun menggandeng DEG Germany sebagai funding partner melalui public private partnership project dan UKM Center FEUI menjadi implementing partner.

Adalah Pandu W. Sastrowardoyo, marketing director Shirtalks – creative media company yang berinovasi dalam produksi viral shirts sebagai media promosi. Gampangnya, Shirtalks adalah clothing company yang menjual kekuatan berekspresi sebagai cerminan keberanian untuk berpendapat dengan berbagai tema baru. Pandu awalnya bergerak dari komunitas sejak tahun 2004 melalui viral shirt yang mengangkat isu-isu tertentu. Kemampuan Pandu untuk melakukan inovasi bisnis (dengan viral marketingnya) dan mengembangkan komunitas bisnis yang memberikan benefit bagi masyarakat maupun lingkungan itulah membuatnya terpilih sebagai Shell LiveWIRE Business Start-Up Awards 2008.

Dji Sam Soe – sebagai bagian dari PT HM Sampoerna Tbk. juga menaruh perhatian pada pengembangan entrepreneur. Setiap tahunnya, Dji Sam Soe rutin menggelar Dji Sam Soe Award – ajang apresiasi bagi para pebisnis UKM. Dalam award ini memiliki parameter penilaian seperti penyerapan tenaga kerja, kemampuan melihat peluang (melalui inovasi, networking, cost cutting, differentiation) dan daya saing. Para pemenang award ini berhak mendapatkan uang tunai dan mengikuti berbagai program pelatihan manajemen dan kepemimpinan untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing.

Para social entrepreneur ini harusnya makin ditumbuhkan di Indonesia. Karena di tangan merekalah yang mampu melihat situasi sosial yang berada di lingkungan terdekatnya dan memberikan alternative solusi bahkan menjadikannya sebagai sebuah peluang bisnis baru. Untuk itu, mengapa CSR korporasi yang bisa ‘membangunkan’ atau memberikan kesempatan para pengusaha sosial itu untuk tampil dan memberikan manfaat bagi komunitas maupun masyarakat secara luas dan korporasi. Jadi, korporasi tak hanya berperan sebagai pemberi bantuan saja tetapi juga membantu memunculkan social entrepreneur sebagai problem solver atas persoalan yang dihadapi oleh masyarakat atau komunitas.

John Pepin, director JPA Consulting London mengatakan bahwa social entrepreneur memang berangkat dari misi sosial yang diembannya. Tetapi, patut digarisbawahi bahwa social entrepreneur menjalankan  misi sosialnya tanpa melupakan bisnisnya. John bertutur tren yang berkembang di UK bahwa sektor korporasi memberikan donasi korporasi kepada berbagai lembaga sosial (social fund) yang muaranya adalah membangun atau men-develop social entrepreneur baru.

Kalau di Inggris saja bisa tumbuh sebanyak 62 ribu social enterprise yang memperkerjakan lebih dari 600 ribu orang dengan turn over mencapai 30 milyar poundsterling. Belum lagi social enterprise level SME mencapai 232 ribu. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pepin menyebut Indonesia memiliki peluang besar untuk menumbuhkan wirausahawan sosial lewat CSR karena Indonesia punya keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki negara lain. “Indonesia memiliki perusahaan-perusahaan yang diberi mandat oleh pemerintah untuk mengalokasikan sejumlah uang untuk CSR. Di Inggris ataupun di negara lain tidak ada mandatory itu,” kata Pepin yang pernah menjabat sebagai chief executive pada The Mentor Foundation, Genewa.

Mungkin, perusahaan di Indonesia bisa mengadopsi pola smart CSR yang diterapkan oleh korporasi di Inggris. Korporasi atau perusahaan bisa melakukan investasi sosial melalui pendanaan usaha sosial. Perusahaan menaruh dana sosial untuk investasi social enterprise. Sistemnya sendiri bisa sebagai equity dari korporasi atau model bagi hasil. Dengan demikian, perusahaan melakukan investasi sosial dengan mendukung perkembangan dan pertumbuhan dari social enterprise.

Andai saja pemerintah memiliki kemauan untuk membuat cetak biru peta (roadmap) pembiayaan social venture di Indonesia. Termasuk keterlibatan korporasi dalam mendukung pengembangan dana social venture sebagai CSR. Mengapa CSR? “Aspek lain dari CSR yang menarik adalah semakin banyak orang yang terlibat, semakin banyak social enterprise, semakin banyak social entrepreneur, maka komunitas menjadi semakin stabil, dan perbedaan pendapatan dapat mulai dikurangi,” kata Pepin. Kalau sudah begitu, rasanya tak akan ada lagi CSR yang salah sasaran atau tak tepat guna. Bayangkan kalau nantinya muncul 100 saja Phei, Slamet, Udjo baru yang mampu menggerakkan minimal 100 orang pekerja, maka akan ada 10 ribu orang yang tertampung secara pekerjaan dan ekonomi. Makin banyak korporasi mendonasikan untuk CSR-nya, makin banyak social enterprise, makin banyak social entrepreneur, maka komunitas menjadi semakin stabil, gap pendapatan mulai berkurang dan kemiskinan pun bisa dikurangi. Untuk Indonesia lebih baik, rasanya harapan itu tidak berlebihan.

One response to “Smart CSR: Alternatif Solusi Menumbuhkan Social Entrepreneur

  1. Saya senang dan setuju dengan pendapat Bapak Haneman, insya Allah kita dapat ketemu membicarakan lebih jauh lagi
    Maswir ( Politeknik Negeri Jakarta )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s