Telkom: Go Green lewat Green Telco

Green company memang bukan sekedar slogan semata. Di industri telekomunikasi sendiri isu green telecommunication sudah membahana baik di level lokal maupun global. Telkom, sebagai perusahaan telekomunikasi pelat merah sudah mengimplementasikan green telecommunication melalui perangkat telekomunikasinya.

Spanduk ‘Telkom Go Green’ terbentang di kantor Telkom cabang Kebon Sirih, Jakarta. Tak hanya di cabang Kebon Sirih, spanduk “Telkom Go Green” menghiasi nyaris di seluruh kantor Telkom termasuk di kantor pusat Telkom di bilangan Gatot Subroto. Telkom nampaknya ingin mengambil bagian sebagai salah satu green company. Bukan hanya sekedar simbolis belaka lewat retorika, Telkom juga menerapkan konsep green ini dalam proses bisnisnya. Untuk Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi tentunya tak lepas dari isu green telecommunication. Green telecommunication sudah menjadi isu utama di sektor telekomunikasi dalam kurun waktu lima tahun belakangan, yang merujuk tak hanya proses bisnis tetapi termasuk ke dalam perangkat penunjang bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Yah maklum saja, kini bisnis tak hanya sekedar untuk kepentingan profit (profit oriented) semata. Tapi lebih dari itu, ada hal lain yang juga harus menjadi concern perusahaan yaitu people dan planet. Tuntutan akan isu ramah lingkungan bahkan sudah dipertegas dalam triple bottom line dimana bisnis harus memiliki tiga tujuan utama untuk membantu komunitas meraih hubungan yang harmonis antara kemakmuran ekonomi (profit), modal sosial (people) dan kelestarian lingkungan (planet). Inovasi menjadi sebuah hal yang penting dalam kaitannya dengan corporate value sebagai green company.

Telkom menginisiasi dengan membuat konsep Green Leadership Program. Dalam program ini, Telkom mengusung tagline ‘Telkom Go Green’ dan mengandalkan dua strategi utama untuk mewujudkan program itu. Penghematan energi baik di kantor maupun peralatan di site menjadi fokus pertama Telkom yang dilanjutkan dengan energi ‘hijau’ yang memiliki investasi yang lebih rendah dan perawatan yang murah untuk menghemat total cost ownership (TCO). Program Telkom Go Green ini diwujudkan dengan konsumsi listrik yang rendah, jangkauan terluas dengan site yang minimal, solusi hijau dengan ‘0’ polusi.

Outdoor BTS

Sejatinya, Telkom sudah menerapkan upaya go green ini sejak tahun 2003 silam yang ditandai dengan implementasi paperless office di semua kantor Telkom. “Tak ada dokumen fisik yang dipergunakan untuk meeting ataupun event kecuali untuk dokumen legal dan dokumen tertentu untuk tujuan perusahaan,” jelas Rinaldi Firmansyah, direktur utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Termasuk diantaranya, imbuh Rinaldi, penggunaan e-Auction sebagai proses procurement Telkom yang tentunya mereduksi penggunaan kertas.

Upaya untuk menjadi green company ini tak semata-mata hanya dengan konsep paperless saja. “Energy saving atau penghematan energi juga menjadi salah satu cara Telkom menjadi green company,” jelas pria yang pernah berkiprah di perbankan ini. Penghematan energi ini salah satunya ditempuh dengan pemindahan dan migrasi TDM switch yang sudah tua menjadi soft switch. Migrasi ini mampu mereduksi hingga 35.0 A dari existing switch sebesar 58.9 A menjadi 23.9 A.

Selain itu, Telkom juga melakukan revitalisasi sistem energi di gedung Gambir. Revitalisasi ini diimplementasikan dengan menggantikan Central VRV (Variable Refrigrant Volume) Air Conditioning dengan Standing air conditioning, overhaul DEG dan MDP contingency. Konsumsi diesel berkurang hingga 500 liter per jam saat power dari PLN mati. Dengan pergantian sistem pendingin ini sangat mendukung peralatan telekomunikasi Telkom.

Tak hanya itu, menurut Rinaldi, Telkom sudah mulai mengimplementasikan BTS TelkomFlexi untuk outdoor di semua site BTS Flexi sejak 2009 lalu. Ide awalnya penggunaan outdoor BTS ini karena tak membutuhkan kontrol kelembaban dan temperature dalam hal ini membutuhkan air conditioner (AC). Selain itu, kata Rinaldi, outdoor BTS memiliki desain yang rapat (compact) yang akibatnya tingkat konsumsi energinya lebih rendah. Keberadaan outdoor BTS ini tak lantas menghilangkan fungsi indoor BTS. Hanya saja, kini indoor BTS telah dipasangi trafo listrik yang baru.

Dan hasilnya, dalam jangka waktu satu tahun, Telkom berhasil melakukan penghematan energi hingga 90% di tahun 2010 atau sebesar 3,291.3 kVA.  Sementara dari sisi power cost bisa mereduksi dari dana yang dibutuhkan untuk indoor sebesar Rp5-7 juta per bulan menjadi hanya Rp500-600 ribu per bulan. Artinya penggunaan outdoor BTS ini bisa menghemat biaya hingga 90%. Hingga saat ini, sudah ada lima area yang menggunakan 100% outdoor BTS diantaranya area Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan dan kawasan timur Indonesia (KTI). Sementara untuk area Sumatera dan Jawa Tengah sebagian besar masih menggunakan indoor BTS.

Green Powered BTS

Telkomsel sebagai salah satu anak usaha Telkom juga telah  menerapkan konsep green company. Termasuk untuk persoalan di bagian vital dari operator telekomunikasi yaitu base transceiver station (BTS). Telkomsel pun tak mau kalah dengan membangun green powered BTS yang berbahan bakar energi alternatif. Konsep green powered BTS ini telah diterapkan di Telkomsel sejak tahun 2009 silam. Tak tersedianya commercial power dari jaringan PLN, kesulitan dalam pengisian bahan bakar generator dan sulitnya menjangkau site BTS, tak bisa diprediksinya bahan bakar fosil dan biaya energi di masa depan, dan kesadaran terhadap corporate value yang ramah lingkungan merupakan serangkaian alasan yang melatarbelakangi penerapan green BTS ini. Telkomsel memanfaatkan tiga energi alternative utama untuk green BTS ini diantaranya adalah tenaga matahari, mikrohidro dan hidrogen (fuel cell).

Dengan tenaga matahari (solar cell) ini hanya menghabiskan typical initial cost range sebesar $5 – $8 per Watt peak. Kapasitas total puncak yang dihasilkan mencapai 1,148 juta watt. Dengan penggunaan solar cell ini, memiliki kapasitas rata-rata 15% dan load listrik yang tersalurkan sebesar 1,342.7 MWh per tahun. Dari penggunaan solar cell ini bisa mereduksi emisi GHG sebesar 961.39 ton CO2 per tahunnya. Telkomsel sendiri sudah mengoperasikan 132 green BTS berbasiskan solar cell ini. 22 BTS ramah lingkungan Telkomsel berada di Jawa, 33 BTS Sumatera, 23 BTS Bali dan Nusa Tenggara, 18 BTS Kalimantan, Sulawesi, 36 BTS di Maluku dan Papua. Masih ada 38 green BTS yang sedang dalam proyek berjalan untuk tahun 2010 ini. Energi yang dipergunakan untuk keseluruhan BTS pun hanya sebesar 0,115 megawatt atau setara dengan 100 genset konvensional dengan kapasitas 20 kva.

Sementara untuk energi hydrogen (fuel cell) memiliki kapasitas terpasang 22 kW dengan waktu operasional 40 jam per bulan. Dengan kapasitas tersebut mampu mengalirkan listrik sebesar 10.56 MWh per tahun. karena kapasitas terpasang yang masih terhitung kecil, maka reduksi emisi GHG hanya sebesar 7,56 ton CO2 per tahun.

Telkomsel nampaknya sangat serius terhadap komitmen green telecommunication ini. Tak tanggung-tanggung, Telkomsel mengucurkan investasi sebesar Rp50 miliar untuk membangun sistem energi alternative berbasis tenaga matahari (solar cell). Komitmen dan keseriusan Telkomsel membuahkan hasil dan berhasil menobatkan Telkomsel sebagai operator seluler dengan BTS ramah lingkungan terbanyak di Asia.

Saving A Lot, Increase A Lot

Andrew Tani, chief technology advisor Andrew Tani & Co. mengungkapkan 60% eksekutif global melihat bahwa perubahan iklim menjadi sesuatu yang penting dan menjadi bagian dalam strategi perusahaan secara keseluruhan. Hal ini sejatinya tak hanya berlaku di level global saja, eksekutif nasional pun sudah banyak yang melihat bahwa kesadaran terhadap isu climate change menjadi bagian dari moda bisnis perusahaan. Tentunya, kata Andrew masuknya isu perubahan iklim sebagai bagian dari strategi perusahaan memiliki dampak positif terhadap keuntungan perusahaan bila dikelola dengan baik.

Demikian pula dengan Telkom yang telah menempatkan isu perubahan iklim sebagai bagian dari strategi perusahaan. Rinaldi mengakui bahwa sejak mengimplementasikan green strategy ini banyak benefit yang telah diperoleh Telkom. Seperti yang sudah dikemukakan di atas penghematan energi menjadi manfaat langsung. Dengan penghematan energi ini sudah bisa dipastikan bahwa biaya investasi juga menjadi lebih hemat. Biaya investasi ini meliputi biaya operasional dan perawatan. Namun, penghematan biaya investasi ini tak lantas membuat performa bisnis menurun. “Sebaliknya, kinerja bisnis kian meningkat termasuk reliability dari peralatan telekomunikasi dan produktivitas karyawan,” tegas Rinaldi.

Seperti layaknya sebuah perubahan yang terkonsep, selalu memunculkan efek domino. Dengan peningkatan performa bisnis tentunya kualitas pelayanan terhadap konsumen semakin membaik pula. Tak hanya di sisi profitabilitas perusahaan saja, tetapi juga pada lingkungan sekitar. Telkom mensupport program ‘one man one tree’ dan berpartisipasi dalam program bike to work. Bila program tersebut telah menyatu dalam perjalanan bisnis perusahaan bisa ditebak perusahaan menjadi lebih sehat dan ‘hijau’. “Ini sebagai bentuk support kita terhadap perubahan iklim nasional maupun global,” pungkas Rinaldi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s