Pangkas Cost Recovery dengan Bakteri

Limbah, limbah dan limbah… Kata ini memang menjadi persoalan penting saat ini. Terlebih semenjak global warming mencuri perhatian publik. Pengolahan limbah yang ramah lingkungan menjadi sebuah kata kunci yang wajib hukumnya bagi berbagai perusahaan yang menghasilkan limbah. Demikian pula di industri minyak. Dwi Andreas Santosa pun menciptakan teknologi pengolah limbah minyak bumi berbasiskan bakteri.

Orang bilang tanah kita tanah surga…

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…

Orang bilang tanah kita tanah surga…

Tongkah kayu dan batu jadi tanaman…

Sebait lagu Kolam Susu dari Koesplus memang merepresentasikan keadaan bumi nusantara ini. Tak bisa dimungkiri, Indonesia memang negara yang kaya akan sumber daya alam (natural resources) mulai dari perikanan, hutan, minyak dan gas hingga perkebunan. Semuanya ada di Indonesia. Tapi memang, kalau dari berbagai kekayaan itu tidak bisa dikelola dengan baik, justru bisa menjadi bumerang bagi Indonesia.

Seperti halnya industri minyak dan gas di Indonesia. Bila selama ini, industri ini lebih banyak didominasi oleh asing dan Indonesia tidak berdaulat atas kekayaan minyak yang berada di perut bumi pertiwi ini. Dan yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa dari proses penambangan minyak bumi itu tak jarang menimbulkan kerusakan lingkungan. Salah satunya adalah lumpur minyak yang merupakan limbah dari aktivitas penambangan minyak bumi, industri, dan otomotif misalnya ganti oli, dan berpotensi merusak ekosistem tanah dan air.

Untuk mengatasi kerusakan lingkungan itu, Dwi Andreas Santosa, seorang dosen senior Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor menciptakan teknologi bioremidiasi yang memanfaatkan mikroorganisme lokal dan mampu mengurangi polusi lingkungan khususnya tanah. Mengapa menggunakan mikroorganisme? Selain lebih hemat dan ekonomis, ternyata penggunaan mikroorganisme (bakteri) ini jauh lebih efektif. Tidak muluk-muluk, Andreas hanya berharap agar tanah yang tercemar bisa kembali dimanfaatkan. Selain itu, dengan teknologi bioremidiasi ini cost recovery bisa ditekan seminimal mungkin dengan hasil maksimal. Sudah bisa ditebak, bila cost recovery yang dikeluarkan bisa ditekan, tentunya pemerintah pun ikut senang.

Cukup Memanfaatkan Bakteri

Sejatinya, teknologi pembersihan limbah minyak bumi ini telah digagas oleh Andreas semenjak tahun 1999 silam. Tanah menjadi concern Andreas tak lain karena background-nya spesialisasi di jurusan ilmu tanah. Andreas menyebutnya teknologi pembersihan limbah minyak bumi ini dengan Microbial Enhanced Oil Recovery. “Teknologi penambangan primer biasanya menyisakan sekitar 70% minyak dalam reservoir,” jelas Andreas. Sisa minyak yang terjebak di pori-pori tanah atau batu berupa ‘minyak berat’ (heavy oil/viscous crude) yang sulit untuk ‘dicerna’ oleh tanah atau air.

Pada prinsipnya, bioremidiasi ala Andreas ini hanya memanfaatkan dua jenis bakteri lokal untuk memperbaiki kondisi tanah hasil penambangan. Bacillus papillae ICBB 7859 dan klebsiella sp ICBB 7866 menjadi senjata utama memerangi polutan tanah. Mengapa bakteri? “Mikroorganisme atau bakteri itu menghasilkan enzim, CO2, surfaktan dan lain-lain yang bisa melepaskan minyak dari celah-celah batuan atau tanah,” jelas Andreas. Nah, enzim yang dihasilkan oleh bakteri itu mampu memotong ‘minyak berat’. Satu molekul enzim dapat memotong 100.000 molekul hidrokarbon rantai panjang.  “Akibatnya, rantai hidrokarbon dari minyak berat menjadi lebih pendek atau viskositasnya menurun,” kata pria kelahiran Blora, 27 September 1962 ini.

Penggunaan enzyme ini pernah dilakukan pada sumur tua di USA, dan hasilnya mampu meningkatkan cost recovery hingga 100%. Sementara di Indonesia sendiri pernah melakukan percobaan terhadap tujuh sumur tua dan hasilnya bisa menekan cost recovery hingga 60%. “Tapi sayangnya, biaya yang digelontorkan mencapai Rp500 juta,” imbuh pria yang menjabat Kepala Program Magister Bioteknologi Tanah dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Lalu, di tahun 2004, Caltex (Chevron) Riau bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Institut Pertanian Bogor untuk field experiment penggunaan teknologi bioremidiasi ini. Dan hasilnya? Penggunaan bakteri dalam teknologi bioremidiasi ini empat kali lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional. Dari tabel disamping terlihat bahwa total petroleum hydrocarbons (TPH) dengan memanfaatkan bakteri terus menurun hanya dalam waktu 11 minggu. Total petroleum hydrocarbon (TPH) adalah ukuran konsentrasi atau massa dari unsur utama hydrocarbon minyak yang berpengaruh terhadap tanah atau air. Semakin turun kadar TPH artinya semakin besar limbah tersebut dapat terurai dan tanah tersebut bisa dimanfaatkan kembali.

Tapi sayangnya, Chevron tidak jadi memanfaatkan bioremidiasi ala Andreas ini karena terikat teknologi yang ditetapkan oleh negara asalnya. Selain Chevron yang pernah menggunakan temuan Dwi, Pertamina, VICO dan pantai di Tanjung Priok pun telah memanfaatkan teknologi ini. Penggunaannya pun sangat mudah. Untuk lahan satu hektar mampu mengolah sebanyak 2000 meter kubik limbah minyak bumi dengan perbandingan 1 liter bakteri plus 1 liter air dan pupuk (urea atau nitrogen) bila diperlukan. Artinya, pengolahan limbah pada tanah yang tercemar ini layaknya seperti melakukan pengolahan tanah di sawah.

Dengan teknologi ini, selain empat kali lebih cepat dari teknologi konvensional. Ternyata teknologi bioremidiasi bakteri Bacillus papillae sp. ini mampu menekan biaya hingga 20-50% dari teknologi konvensional. Perbandingannya, jika menggunakan cara konvensional dibutuhkan biaya antara US$25-30 per meter kubik tanah terkontaminasi. Sementara dengan menggunakan teknologi temuan Andreas ini hanya dibutuhkan US$15-20 per meter kubik. Irit bukan? Bayangkan bila setiap perusahaan perminyakan di Indonesia memanfaatkan teknologi ini, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk cost recovery tentunya bisa ditekan hingga 50%.

Siap Mengolah Limbah Tambang Mineral

Seakan tak pernah puas dengan temuannya ini, Andreas terus melakukan penelitian lanjutan untuk berbagai kegunaan. Karakteristik ilmuwan memang melekat dalam diri pria berkacamata ini. Ia masih melakukan penelitian tentang penggunaan teknologi bioremidiasi dengan enzim untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak. Kali ini memang menggunakan enzim tak lain karena enzim memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan bakteri. “Bakteri sangat sulit untuk dikontrol di alam bebas dan tidak tahan panas. Sementara untuk sumur minyak seringkali bersuhu di atas 60°C dan enzim mampu bertahan dengan suhu 80°-90°C,” jelas Andreas. Kalau saja teknologi ini bisa diterapkan, tentunya sumur-sumur minyak tua yang ada di Indonesia bisa semakin dimanfaatkan semaksimal mungkin. Efeknya, produksi minyak di Indonesia pun meningkat.

Selain itu, pria jebolan jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UGM ini sudah siap mengolah limbah tambang yang mengandung merkuri dan krom. Andreas menggunakan bakteri Pseudomonas pseudomallei dalam bioreactor dan mampu menurunkan kadar merkuri dalam limbah hingga 98,5% dalam waktu hanya 30 menit. “Biaya yang dibutuhkan hanya 1/400 dari teknologi detoksifikasi konvensional dengan resin,” katanya. Tak heran, sebenarnya pengolahan limbah untuk tambang mineral ini memiliki prospek bisnis yang sangat bagus. Chrome dan merkuri juga digunakan di industri logam, tekstil, minyak dan gas selain industri tambang emas. Belum lagi ada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup yang tertuang dalam Kep-51/MENLH/10/1995 menyebut bahwa konsentrasi maksimum dalam limbah industri hanya sebesar 0.5 ppm. Betapa peluang bisnis yang sangat bagus bukan?

Profil Inovator:

Nama                       : Dwi Andreas Santosa

Jabatan                    : Dosen Senior Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

***

Prospek Bisnis:

Menilik Indonesia yang memiliki lebih dari 10 operator minyak dan gas, teknologi ini menjadi sangat potensial untuk dikomersilkan. Terlebih lagi dengan kemampuan teknologi bioremidiasi dengan bakteri ini yang bisa menghemat 20-50% dibanding teknologi konvensional membuatnya sangat masuk akal. Belum lagi, multiplier effect yang bisa dipetik oleh negara karena bisa menekan pengeluaran negara untuk cost recovery. Untuk itu, seandainya pemerintah bersedia memberikan endorsement ataupun himbauan penggunaan teknologi ini pada perusahaan minyak maka bukan tidak mungkin alokasi APBN untuk cost recovery bisa dialihkan untuk hal lainnya yang lebih urgent.

Advertisements

ACAH (Atraktor Cephalopoda Harian): Alat Penangkap Gurita Nan Atraktif

Agus Cahyadi, seorang peneliti akustik kelautan dari Balai Riset Kelautan dan Perikanan berhasil menciptakan alat pancing gurita yang memanfaatkan sinyal frekuensi rendah (subsonic). Selain relatif lebih aman, ramah lingkungan, alat ini juga lebih efektif dan efisien dibanding cara tangkap tradisional biasanya.

Laut Indonesia memang menyimpan kekayaan yang luar biasa melimpah. Perkiraan nilai ekonomi potensi dan kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait dalam setahun mencapai US$149,94 miliar atau sekitar Rp14.994 triliun. Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai US$31,94 miliar, wilayah pesisir lestari US$56 miliar, bioteknologi laut total US$40 miliar,  wisata bahari US$2 miliar, minyak bumi sebesar US$6,64 miliar dan transportasi laut sebesar US$20 miliar.

Betapa potensi yang sangat gurih untuk digarap. Namun demikian, gurita nyaris tak pernah dianggap sebagai produk unggulan perikanan di Indonesia. Selain karena masyarakat awam yang jarang mengkonsumsi gurita, terdapat kecenderungan untuk diekspor ke luar negeri. Harga jualnya pun cukup tinggi, meskipun untuk menangkap gurita sebanding dengan resiko yang dikeluarkan oleh nelayan. Resiko tuli, bahkan lumpuh harus siap ditempuh oleh nelayan gurita. Hal itu yang menginspirasi Agus Cahyadi, peneliti akustik laut untuk menciptakan alat pancing gurita elektronik yang diberi nama ACAH (atraktor cephalopoda harian).

Memanfaatkan Gelombang Frekuensi Rendah

Agus menggagas alat temuannya ini sejak tahun 2006. Profesi Agus sebagai peneliti akustik kelautan (marine acoustic) memang mengharuskan Agus berkecimpung dibidang biota laut khususnya dolphin atau lumba-lumba dan paus. Bidang ini memang sangat langka di Indonesia. Namun, dalam perjalanannya Agus tertarik pada bidang lain yaitu octopus sejak sepuluh tahun silam. Octopus memang bukan bidang popular di Indonesia, padahal Indonesia kaya akan potensi binatang ini. Tetapi dalam kenyataannya, negara pengekspor terbesar gurita di dunia justru di klaim oleh Malaysia dan Vietnam. Mengingat potensi kelautan Indonesia yang sangat besar dan didominasi oleh karang yang menjadi habitat gurita, Agus pun mempelajari seluk beluk binatang berkaki delapan ini. “Kalau di Jepang octopus adalah ikan yang paling mahal,” ujar Agus. Hal inilah yang membuat Agus tertarik membuat alat pancing gurita.

Bila selama ini masyarakat nelayan gurita menangkap gurita dengan cara tradisional menggunakan tombak dan kubus. Namun, penggunaan tombak dan kubus ini benar-benar tidak efisien. “Tetapi alat itu tidak banyak digunakan karena ribet dan alatnya berat. Jadi, effort sangat besar tapi hasilnya tidak seberapa,” jelas Agus. Sementara dengan penggunaan tombak, mau tidak mau si nelayan harus menyelam menombak gurita yang hidup di karang dan akibatnya merusak terumbu karang. Hingga tahun 2007, sebanyak 65% nelayan menggunakan tombak untuk menangkap gurita.

Keterbatasan inilah yang membuat Agus menciptakan alat pancing gurita dengan menggunakan teknik elektronik dan pendekatan fisiologis yang mengadopsi karakteristik gurita itu sendiri. Gurita memiliki karakter gemar hidup berkoloni. Agus memanfaatkan betul karakter ini dengan membuat desain ACAH yang serupa dengan gurita. ACAH berbentuk seperti tangan manusia dengan dua buah kait di atas dan beberapa hook dari logam yang akan memancarkan kilau saat diterpa sinar matahari dan berwarna dasar coklat tanah atau abu-abu dengan totol warna-warni di atasnya. Agus memang mendesain bentuknya sedemikian rupa karena karakter gurita yang cenderung untuk menghampiri ACAH yang dianggap musuh di daerah kekuasaannya.

Yang kedua, gurita cenderung menyukai saat diberikan treatment suara khususnya gelombang berfrekuensi rendah (subsonik). Di dalam alat ini terdapat komponen elektronik yang secara otomatis akan memancarkan frekuensi saat menyentuh air laut yang mengandung garam sebagai pengantar electron. “Karena kecepatan suara di air lima kalinya lebih cepat daripada cahaya, jadi mengakibatkan ketika dicelupkan ke air, ada transmitter suara yang berpendar dan ditangkap oleh gurita,” jelas Agus. Perpaduan desain ACAH yang berwarna-warni dan gelombang frekuensi rendah membuat gurita tertarik untuk mendekat dan happpp…. Gurita pun tertangkap! Harapannya, dengan penggunaan alat ini, nelayan tak perlu lagi menyelam dan merusak terumbu karang. Jadi prinsipnya dibalik, bukan nelayan yang menghampiri gurita tetapi gurita yang menghampiri ACAH.

Metode penangkapan ini jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan cara tradisional. Dengan alat ini, gurita yang tertangkap kualitasnya lebih baik tanpa harus merusak daging gurita. Kondisi daging gurita yang masih bagus bisa mendongkrak harga gurita di pasaran terutama di pasar ekspor. Adanya isu makanan sehat di negara pengkonsumsi gurita membuat harga produk yang ditangkap dengan baik akan menjadi tinggi. Dengan demikian tentu akan turut berpengaruh pada terdongkraknya pendapatan para nelayan gurita. Agus memperkirakan dengan ACAH ini per harinya bisa menangkap delapan ekor gurita. Dengan estimasi per ekornya memiliki berat mencapai 1 kilogram dan harga per kilonya Rp25.000 maka penghasilan nelayan per harinya akan mencapai Rp200.000.

Siap Dikomersilkan

Saat ini ACAH masih dalam proses pengenalan produk di tiga perairan Indonesia diantaranya perairan Wakatobi, Sorong dan Padang. Prospek bisnisnya cukup menarik mengingat tinggi permintaan ekspor ke negara Jepang, Korea dan beberapa negara di Eropa seperti Venice, Spanyol, Italia. Agus juga mengakui masih memiliki ACAH ini masih memiliki kekurangan diantaranya alat ini belum bisa memisahkan antara bayi gurita dan gurita dewasa. “Saya masih berpikir bagaimana untuk bisa memisahkan gurita yang sudah layak tangkap atau belum. Alternatif lainnya adalah dengan melakukan konservasi/pembibitan gurita,” jelas sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor ini.

Meski begitu, Agus boleh tersenyum bangga. Berkat alat temuannya ini, Agus dinobatkan sebagai salah satu “101 Inovasi Indonesia” paling prospektif pada 2009 oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta Business Innovation Center. Pasca terpilihnya Agus sebagai salah satu kompetisi di bidang inovasi teknologi ini, peluang Agus untuk mengkomersilkan ACAH ini kian terbuka lebar.

Sejak Agustus 2009, Agus digandeng oleh RAMP Indonesia untuk pengembangan ACAH ini. RAMP Indonesia adalah sebuah program kerjasama antara Institut Pertanian Bogor (IPB), The Lemelson Foundation dan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) yang diketuai oleh Sandiaga S. Uno, presiden direktur PT Saratoga Investama Sedaya. Kerjasama ini meliputi kerjasama finansial dan non finansial. RAMP mensupport dalam bentuk dana untuk pengembangan teknologi. Sementara non-finansial dalam bentuk bantuan berbagai kegiatan promosi, publikasi dan persebaran informasi produk. Dan kerjasama ini membuahkan pada rencana pembuatan dan pabriknya sedang direncanakan di daerah Cibinong. Nantinya pabrik ini memiliki kapasitas produksi mencapai 10 ribu buah per tahunnya.

Andi Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi (INOTEK) menyebut ACAH ini memiliki prospek bisnis yang cukup baik. Demand ekspor gurita masih sangat tinggi. Belum lagi harga gurita di pasar lokal bisa menembus Rp28.000 per kilonya. Tak heran bila hidangan gurita ini masih sangat mewah di Indonesia. Di sebuah restoran ternama hidangan gurita per tentakelnya bisa dijual dengan harga Rp150 ribu. Andi menilai inovasi yang dilakukan oleh Agus bisa diproduksi secara komersil untuk kepentingan masyarakat. Nantinya, ACAH ini akan dijual dengan harga yang terjangkau, tak lebih dari Rp500 ribu agar terjangkau oleh masyarakat nelayan. Selain itu, Agus pun berharap bisa merekrut karyawan yang lebih banyak lagi ketika ACAH siap jual sebagai salah satu cara untuk mengurangi pengangguran.

Profil Inovator

Nama                       : Agus Cahyadi

Jabatan                    : Peneliti pada Pusat Riset Teknologi Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan

Penghargaan yang diperoleh:

  1. Sertifikat dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta Business Innovation Center sebagai salah satu dari “101 Inovasi Indonesia” paling prospektif pada 2009.

***

Prospek Bisnis

ACAH ini dimata Andy Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) memiliki prospek yang cukup bagus. Potensi perikanan Indonesia memang sangat luar biasa mengingat Indonesia didominasi oleh perairan. Meskipun gurita belum populer di pasar domestik, namun justru memiliki target pasar ekspor seperti Jepang, Korea, Amerika dan Eropa. Untuk itu, ACAH ini bisa dibilang memiliki prospek bisnis yang cukup cerah ke depannya mengingat pasar ekspor gurita di Indonesia masih sangat tinggi. Namun demikian, Nana Suryana, program coordinator Yayasan INOTEK mengingatkan agar Agus tetap melakukan riset dan pengembangan produk yang lebih mendalam. Terutama disisi desain dan nilai frekuensi gelombang rendah secara detil yang bisa ditangkap oleh gurita.

***

Testimonial:

Andy Pradjaputra, direktur eksekutif Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK)

Ada dua alasan mengapa ACAH ini layak disebut sebagai inovasi. Yang pertama adalah Agus memperkenalkan sebuah teknologi baru dalam metode penangkapan gurita yaitu penggunaan sinyal frekuensi rendah (subsonik) yang cenderung lebih efektif dan efisien. Yang kedua, adalah prinsip pelestarian lingkungan khususnya terumbu karang. Hanya saja, saat ini ACAH masih dalam proses pengembangan sebagai persiapan masuk ke tahap komersialisasi.

###

Suritech: Mesin Pemisah Daging dan Tulang Ikan

Kini para pengusaha industri nugget dan bakso ikan tak perlu risau lagi. Berkat mesin Suritech, proses pemisahan daging dan tulang ikan bisa dilakukan dengan mudah, murah dan efisien. Seperti apakah cara kerjanya?

Di suatu pelabuhan di kepulauan Arafuru, puluhan kapal penangkap pukat udang berburu udang dengan menebarkan jala. Tak berapa lama kemudian, jala menjadi berat, puluhan kilogram udang dan ikap pun terperangkap dalam jala. Tanda bahwa jala sudah harus diangkat dari laut. Terhitung kurang lebih dalam sehari, kapal ini mampu menjaring sebanyak delapan kali berturut-turut.

Awak kapal secara sigap memisahkan antara udang dengan ikan-ikan yang ikut terperangkap (ikan ini disebut dengan hasil tangkapan sampingan/HTS). Udang yang menjadi tangkapan utama dimasukkan ke palka kapal. Sementara sisanya, ikan-ikan selain udang disisihkan bahkan dibuang lagi ke laut. Padahal, ikan yang dibuang lagi jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan udang yang mendarat ke pelabuhan. Bahkan komposisinya bisa mencapai 1:20, dari satu kilogram udang yang dijaring, akan membuang 20 kilogram ikan yang turut terjaring. Data tahun 2004 menyatakan hasil kegiatan perikanan pukat udang bisa menghasilkan hasil tangkapan sampingan (bycatch) mencapai 332.186 ton per tahun.

Mengandalkan Teknologi Kompresi Mekanis

Realita diatas itulah yang membuat Prof. Dr. Ari Purbayanto, Eddi Husni, Beni Pramono dan M. Riyanto dari tim Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB untuk melakukan riset pengolahan pangan khususnya HTS. Akhirnya tahun 2004, empat sekawan itu melakukan riset demi mewujudkan teknologi pengolahan ikan HTS agar memiliki nilai tambah dan bisa dijual dengan harga tinggi. Serangkaian penelitian pengelolaan by-catch pukat udang di Laut Arafura dilakukan dengan kerjasama Diskanlut Papua dan PT. Sucofindo dengan tim FPIK sebagai Tenaga Ahli. Hingga akhirnya tepat pada tahun 2005, teknologi pengolahan yang diberi nama ‘Arius Fish Meat Bone Separator’ diterapkan pada pilot project Pemerintah Daerah Papua dan PT Sucofindo di Propinsi Papua.

Seiring berjalannya waktu, demand atas mesin ini meningkat secara signifikan dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam perkembangannya, tak hanya pemanfaatan ikan-ikan bycatch saja tapi juga permintaan untuk peningkatan nilai tambah ikan yang memiliki nilai ekonomis yang rendah diantaranya ikan kurisi, kuniran dan gulamah. Dari ikan berpotensi ekonomi rendah itu sesungguhnya bisa menjadi bahan baku surimi yang sangat potensial. Sebagai informasi, surimi adalah suatu produk antara (intermediate product) berupa lumatan daging ikan (hasil pemisahan daging dengan tulang ikan) yang telah mengalami proses pencucian dengan air dingin (leaching) dan penghilangan sebagian kadar air (dewatering). Surimi nantinya bisa diolah menjadi berbagai produk turunan seperti bakso ikan, nugget ikan, kerupuk, otak-otak maupun sosis ikan yang dengan nilai gizi tinggi.

Ari bersama timnya terus melakukan improvisasi dan penyempurnaan tiada henti hingga lahirlah nama ’Suritech’ di tahun 2006. ”Nama yang sebelumnya agak ribet dalam pengucapan. Sedangkan Suritech adalah akronim dari Surimi Technology dan memang lebih simpel dalam pengucapan,” jelas pria kelahiran Lampung, 21 Januari 1966 ini. Selama ini, penggunaan mesin pemisah daging dan tulang ikan lebih banyak didominasi oleh industri besar dan menggunakan mesin impor dari Cina atau Jerman. Bisa dibayangkan harga dan sulitnya pencarian onderdil.

Dalam mesin berbahan stainless steel dan pelat baja itu juga terdapat silinder berpori berdiameter 5 mm, screw driver, belt setebal 13 cm dan lebar 25 cm yang terbuat dari karet dan roda gigi. Screw driver yang berbentuk spiral dipasang dalam silinder berpori yang dipasang tepat diatas belt tebal. Cara kerja alat ini sangat mudah. Ikan yang telah dibersihkan isi perut dan dipotong kepalanya dimasukkan ke dalam corong input. Selanjutnya, ikan tersebut akan mengalami tekanan antara belt dan silinder berpori. Daging ikan yang masuk ke dalam silinder berpori akan dikeluarkan ke corong output. Dengan kata lain, ikan tersebut memanfaatkan tekanan antara belt dan silinder berpori.

Dengan mengandalkan teknologi kompresi mekanis yaitu sistem pereduksian putaran tinggi menjadi putaran rendah pada bidang pengepresan yang dihasilkan dari sumber tenaga penggerak motor listrik atau motor bakar. Mesin ini digerakkan dengan motor listrik ½ hp 1420 rpm. Lalu, secara otomatis, mesin akan menggiling secara perlahan sehingga bagian daging dan tulang akan terpisah dengan sendirinya. Hasil akhirnya, ikan akan berbentuk seperti semacam bubur dicuci dengan air dingin dan barulah dapat diolah menjadi jenis makanan lain.

Pro Usaha Kecil Menengah (UKM)

Sesuai dengan komitmen perusahaan yang pro UKM, demikian pula dengan daya listrik yang diperlukan oleh mesin ini. Mesin ini  memakan daya listrik yang sedikit agar mudah diimplementasikan oleh masyarakat pada umumnya dengan daya 400 watt bertegangan 220 volt. Dengan bobot 200 kilogram dan berdimensi 75 cm x 78 cm x 90 cm Suritech ini berkapasitas produksi 80 kilogram per jam bahan baku ikan segar. Dari bahan baku itu akan dihasilkan 72 kilogram daging lumat. Efisiensi pemisahan mencapai 94,18%. Sementara bila cara manual, per jamnya hanya bisa mengolah 10 kilogram ikan segar menjadi 5 kilogram daging lumat. Efisien bukan?

Kini, mesin Suritech generasi ke enam ini memang telah siap dipasarkan. Per mesinnya dibanderol harga Rp20 juta. Dengan harga yang sangat affordable, tak heran bila pesanan demi pesanan mengalir deras ke perusahaan Ari. Produk Suritech ini telah beredar di beberapa daerah di Indonesia, antara lain Aceh Medan, Jambi, Bengkulu, Aceh, Lampung, Tegal, Pelabuhan Ratu, NTB, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara dan Papua. Sebagian besar kliennya memang berasal dari domestik. “Memang saya berkonsentrasi dulu untuk pasar dalam negeri karena potensinya sangat tinggi,” ujarnya.

Ari-pun tak berpuas diri. Bersama timnya, Ari masih melakukan riset untuk otomatisasi Suritech tanpa bergantung pada manusia. Seperti proses penuangan ikan pada mesin. Ari juga sedang mendesain mesin yang lebih ringkas dan bisa digunakan di kapal tradisional.

Meskipun produk ini tak kalah kompetitif dengan produk impornya. Ada beberapa hal yang memang perlu diperbaiki demi kemajuan produk. Diantaranya, menurut Aji Hermawan, desainnya untuk produksi masal, standarisasi suku cadang dan penyiapan model bisnisnya termasuk didalamnya persiapan after sales servicenya. “Sampai tahapan start-up business, ini merupakan inovasi yang sukses.  Sedangkan untuk tahapan berikutnya, belum dapat dinilai karena masih dalam proses,” pungkas Aji.

Marthapuri Dwi Utari

Boks 1:

Profil Inovator

Nama                       : Prof. Dr. Ari Purbayanto

Jabatan                    : Ketua Tim Ahli PT. Samudera Teknik Mandiri

***

PT Samudera Teknik Mandiri

Workshop for Innovative Technology Manufacturing

Sindang Barang Pilar I RT. 05 RW.06 Desa Sindang Barang

Kecamatan Bogor – Bogor

Website          : www.samuderateknik.com

Email              : samudera_tm@yahoo.co.id

Telp/faks       : 0251 862 59 61

***

Prospek Bisnis

Dengan tingginya potensi hasil tangkapan sampingan di laut Arafuru menjadi peluang bisnis yang sangat gurih untuk Suritech. Dengan harga yang affordable sekitar Rp20 juta dan berkemungkinan mengalami penurunan harga lagi, Ari mengestimasikan penjualan per bulan sekitar enam unit atau 66 unit per tahun. Aji Hermawan, direktur program RAMP IPB pun menyebut peluang pasar Suritech ini cukup bagus karena produk turunan surimi sudah banyak dikenal masyarakat. Namun demikian, untuk bisa bertahan diperlukan variasi produk untuk memperluas pasar. Dari sisi bisnis, inovasi tidak boleh berhenti hanya menghasilkan alat pemisah daging  dan ikan, akan tetapi perlu pengembangan kompetensi inti perusahaan untuk menghasilkan produk-produk lainnya seperti peralatan untuk industri yang lebih hilir.

***

Testimonial:

Dr. Aji Hermawan, direktur program RAMP Institut Pertanian Bogor (IPB)

Suritech adalah teknologi tepat guna yang mencoba menjawab masalah riil di masyarakat, yaitu tak termanfaatkannya ikan-ikan runcah (by-catch) pada satu sisi dan kebutuhan

masyarakat akan produk ikan dan protein pada umumnya. Dengan Suritech bisa memperbaiki  proses konvensional dengan pengerokan termasuk proses crushing, atau penghancuran yang tidak memisahkan tulang dan daging ikan.

Solusi Alternatif untuk Kebutuhan Minyak Goreng – Fermentasi dengan Ragi Tempe

Para peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI berhasil membuat minyak kelapa dengan teknik fermentasi ragi tempe. Selain bisa sebagai minyak goreng yang lebih sehat dibanding minyak goreng dari kelapa sawit, minyak ini juga baik untuk bahan baku industri kosmetik.

Indonesia yang beriklim tropis dan berbentuk kepulauan memang kaya dengan berbagai tumbuhan khasnya. Salah satunya adalah pohon kelapa. Bahkan, Indonesia memiliki kebun kelapa terluas di dunia, mencapai 3.745.000 hektare. Kelapa pun menjadi komoditas ekspor yang menyumbang devisa bagi Indonesia, kendati untuk ekspor minyak kelapa Indonesia porsinya hanya sekitar 20%, sedangkan 80% sisanya untuk konsumsi domestik. Hal ini berkebalikan dengan Filipina yang ekspor minyak kelapanya sebesar 80% dan konsumsi domestik hanya 20%.

Memang sungguh disayangkan potensi kelapa yang sangat besar ini masih dianggap sebagai komoditas “nomor dua” jika dibandingkan dengan sawit atau minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Oleh karena itu, perlu dikembangkan lagi inovasi produk-produk berbasiskan kelapa yang memiliki nilai tambah. Salah satunya adalah minyak kelapa “organik” yang dikembangkan oleh tim yang terdiri dari Tami Indiyanti, Leonardus Broto S. Kardono, Lindajati Tanuwidjaja, dan Roy Heru Trisnamurti. Memang banyak produk serupa di pasaran, tetapi produk besutan tim empat sekawan ini memiliki perbedaan sekaligus keunggulan, yaitu mampu menciptakan proses pembuatan minyak kelapa berbasiskan fermentasi dengan ragi tempe.

Para peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI itu berhasil melakukan inovasi proses pembuatan minyak kelapa. Empat sekawan itu mampu menciptakan proses bioproduksi dengan memanfaatkan ragi (inokulum) tempe untuk proses pembuatan minyak kelapa. Kalau selama ini proses pembuatan minyak kelapa (virgin coconut oil/VCO) dilakukan dengan cara fermentasi, maka, tak berbeda jauh, minyak kelapa “organik” ini dibuat dengan teknik fermentasi ragi tempe.

Mengapa ragi tempe? “Kami sudah melakukan percobaan dengan berbagai macam ragi ataupun inokulum. Namun, kami berkesimpulan memang ragi tempe sebagai perombak santan yang lebih aman sehingga bisa menghasilkan minyak kelapa yang sangat baik,” jelas Leonardus Broto S. Kardono. Tidak hanya itu kelebihannya, ragi tempe ini juga mudah ditemukan di pasaran dengan harga yang terjangkau sehingga bisa diproduksi oleh industri UMKM.

Cara kerjanya cukup sederhana dan mudah. Langkah awalnya adalah memilih kelapa tua berusia 10–12 bulan, lalu dibuatlah santan. Kemudian santan tersebut ditaburi dengan inokulum tempe tanpa diaduk. Lalu, santan diinkubasi selama kurang lebih 16 jam dalam suhu kamar (30°–37°). Pada akhir proses fermentasi ini akan didapat tiga lapisan terpisah hasil fermentasi yang terdiri dari air, minyak kelapa “organik” atau VCO, dan lapisan solid protein. Proses pemisahannya pun terhitung mudah karena di dalam boks plastik terdapat empat buah keran yang berfungsi untuk memisahkan lapisan air dengan VCO tersebut. Perhitungannya, untuk satu boks plastik santan kelapa ukuran 100–120 liter diperlukan 200 gram ragi tempe dan akan menghasilkan 8–10 liter VCO.

Manfaat

Minyak kelapa hasil fermentasi ragi tempe itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, baik sebagai bahan baku industri kosmetik maupun minyak goreng. Hanya saja, proses pembuatan minyak kelapa hasil fermentasi ragi tempe untuk bahan baku kosmetik dan untuk minyak goreng berbeda. Untuk minyak goreng, santan kelapa harus diinkubasi selama 24 jam lagi hingga endapannya sesuai dengan yang disyaratkan. “Minyak goreng berbahan baku kelapa jauh lebih baik bagi kesehatan bila dibandingkan dengan minyak sawit,” ungkap pria yang akrab dipanggil Broto ini. Minyak kelapa memiliki asam lemak jenuh menengah (medium chain fatty acid/MCFA) dengan rantai pendek yakni 12–16 rantai karbon. Sifat dari MCFA ini mudah diserap sampai mitokondria dan berefek pada peningkatan metabolisme tubuh. Selain itu, kelebihan dari rantai karbon pendek ini adalah memiliki sifat antimikrobial dan menunjang sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menjaga tubuh dari virus, jamur, dan bakteri patogen lainnya. Rantai karbon pendek ini mampu menguraikan karbon menjadi energi sehingga tidak disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak ataupun kolesterol. Berbeda halnya dengan minyak kelapa sawit ataupun minyak dari lemak hewani yang memiliki struktur rantai karbon yang lebih panjang. “Itulah yang membedakan antara minyak sawit dengan minyak kelapa. Tidak heran mengapa minyak kelapa lebih menyehatkan dibanding minyak sawit,” terang Broto.

Perlunya Coconut Authority

Menimbang faktor kedekatan dengan pasokan bahan baku, minyak kelapa “organik” ini memang tepat diterapkan di daerah pedesaan yang memiliki potensi banyak pohon kelapa. Bahkan, pihak LIPI bekerja sama dengan Forum Kelapa Indonesia (Fokpi) mendirikan pilot plant minyak kelapa di Kabupaten Ciamis. Kabupaten ini memiliki lahan kebun kelapa seluas 92.000 hektare dan menghasilkan 300 juta butir kelapa per tahun. Proses produksi minyak kelapa dilakukan di tempat tersebut dan selanjutnya dipasarkan dengan menggandeng beberapa industri untuk diolah menjadi produk turunan minyak kelapa. “Misalnya, dengan industri kosmetik untuk dibuat produk seperti sabun, body lotion, dan beberapa produk lainnya,” jelas pria kelahiran Yogyakarta, 12 November 1956 itu.

Sayangnya, di Indonesia, pengembangan industri kelapa ini masih terbilang minim. Tidak seperti di Filipina yang telah menghasilkan 125 produk turunan kelapa, Indonesia baru mampu menghasilkan 25 produk turunan kelapa. Salah satunya adalah minyak kelapa “organik” ini. Kontribusi minyak kelapa “organik” masih sangat kecil jika dibandingkan dengan produk turunan kelapa lainnya seperti arang batok kelapa yang telah diekspor ke Timur Tengah.

Broto menyebut sosialisasi dan awareness tentang besarnya potensi industri kelapa ke masyarakat dan pemerintah memang masih kurang. Namun, LIPI berusaha terus mengembangkan teknologi maupun produk berbasiskan kelapa ini. Untuk itulah, LIPI menggandeng Fokpi dalam rangka pengembangan komoditas kelapa. LIPI bekerja di ranah riset dan eksperimentasi, sedangkan Fokpi bekerja di ranah sosialisasi dan pengembangan pasar.

Dalam sebuah pertemuan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pusat Penelitian Kimia LIPI dan Fokpi, Selasa (23/6) silam, di Jakarta, keduanya berharap didirikannya Coconut Authority seperti yang ada di Filipina. Coconut Authority ini nantinya berperan sebagai representasi dari petani kelapa, pedagang, penghasil minyak kelapa, dan para pelaku industri berbasiskan kelapa. Dengan demikian, kelapa tidak hanya digunakan sebagai minyak kelapa ataupun VCO saja, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk produk yang lain.

BioCeramics: Septic Tank Alternatif

Persoalan sanitasi dan limbah tak henti-hentinya diperbincangkan khalayak. Untuk mengatasinya, Andreas Susanto menciptakan Bioceramic sebagai septic tank alternative yang ramah lingkungan serta hemat tempat maupun biaya.

Banjir agaknya menjadi kata yang akrab terjadi di ibukota. Hampir setiap tahunnya Jakarta dilanda banjir. Tak mengherankan memang bila banjir kerap menyambangi Jakarta karena system drainase yang tak cukup baik. Belum lagi bicara mengenai sanitasi masyarakat di Indonesia yang ternyata belum tertata dengan baik pula. Berbicara sanitasi yang tak teratur selalu berkaitan dengan pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air.

Berdasarkan data Susenas yang dikutip dari www.sanitasi.or.id menyebut bahwa pada tahun 2007 terdapat 50,86% dari total penduduk Indonesia yang belum memiliki septic tank. Kenyataan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi persoalan limbah yang belum terselesaikan. Masalah pembuangan limbah manusia (septic tank) yang berakibat pada pencemaran air tanah bila tidak terkelola dengan baik. Septic tank biasanya membutuhkan bak penampung yang cukup besar dan memakan tempat. Sementara untuk kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan, septic tank menjadi sebuah persoalan tersendiri. Belum lagi persoalan rutinitas kuras WC, bau dan belum lagi kala banjir melanda menjadi persoalan yang melingkupi sanitasi lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut Andreas Susanto menciptakan sebuah alat pengganti septic tank yang bernama Bioceramic. Bioceramic adalah alat yang berfungsi sebagai penghancur tinja sekaligus sebagai filter pengolah limbah. Bebas kuras, hemat tempat dan hemat biaya diklaim menjadi kelebihan dari Bioceramic ini.

Kisi-Kisi Keramik Penghancur Tinja

Andre mengawali riset tentang produk ini pada tahun 2001. Saat itu, bersama dengan rekannya yang baru saja kembali dari Jerman memiliki konsep membuat bisnis yang ramah lingkungan. Pencemaran air tanah dan air sumur khususnya pencemaran septic tank menjadi perhatian utama bagi Andre. “Pencemaran dari septic tank itu pada resapannya, sehingga air tanah dan air sumur tidak bisa diminum,” ujar Andre.

Atas dasar itulah, Andre menciptakan alat pengganti septic tank yang ramah lingkungan. Prinsip kerjanya sangat sederhana, karena tanpa menggunakan listrik, mesin ataupun peralatan teknis lainnya. Septic tank alternative ini terdiri dari dua kompartemen yang berbahan dasar beton atau fiberglass yang memiliki fungsi berbeda. Mengapa beton ataupun fiberglass? Hal ini tak lain karena konstruksi yang lebih kuat bila ditanam di dalam tanah dan kedap air. “Sehingga kotoran yang belum terolah tidak mencemari air tanah atau air sumur,” jelas Andre.

Kotak pertama adalah kotak yang berfungsi sebagai filter WC dan terdapat filter kontrol diatas permukaannya. Dan kompartemen kedua adalah filter penyaring limbah (PL). Tinja dan kotoran yang berasal dari kloset akan masuk ke kompartemen pertama ini. Di dalam kompartemen pertama inilah baik kotoran padat maupun cair akan diolah kembali menjadi cair. Kotoran padat yang berupa tinja yang telah masuk akan diuraikan dan dihancurkan melalui kisi-kisi keramik yang ada di dalamnya. Proses penghancurannya pun hanya memakan waktu sekitar 20 menit hingga menjadi kotoran cair. Di dalam filter WC ini terdiri dari dua lapis kisi-kisi keramik dengan ukuran yang berbeda. Kisi-kisi ini berasal dari keramik yang didatangkan dari Jerman dan mengandung bakteri alamiah khusus yang mampu mengurai tinja.

Selanjutnya, kotoran yang telah diolah dalam filter WC akan masuk ke filter PL. Di dalam kompartemen kedua inilah maka air limbah dari filter WC akan dinetralisir dengan air sabun. Tak hanya limbah yang berasal dari filter WC saja, limbah wastafel, dapur maupun tempat cuci piring pun akan ditampung dalam filter PL ini. Limbah tersebut bercampur dengan air sabun dan menetralisir dari bakteri Escherichia Coli, bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Andre pun mengklaim dengan campuran air sabun dengan limbah akan membunuh bakteri E Coli tersebut. Sayangnya, Andre belum melakukan riset lebih lanjut mengenai kandungan bakteri E Coli pada limbah olahannya.

Hasilnya? Air dapat disalurkan ke parit ataupun got bahkan bisa dipergunakan untuk menyiram tanaman karena bisa diserap oleh tanah. Sayangnya, air tersebut belum bisa dikonsumsi oleh manusia sebagai mestinya. “Kita belum ada penelitian lebih lanjut agar hasil uraian limbah ini layak dikonsumsi,” ujar pria kelahiran Purwokerto, 17 November 1958 ini.

Tak Melulu Permukiman

Andre membagi tiga tipe produknya berdasarkan kapasitas penggunanya. Untuk produk tipe A berkapasitas sebanyak 10 orang, tipe B berkapasitas 20 orang, dan tipe C dengan kapasitas hingga 75 orang. Klien Andre tak melulu kawasan permukiman saja. Baru-baru ini Andre justru mendapatkan order dari hotel Aston Papua yang ingin menggunakan produknya sebagai pengganti septic tank. Bila kapasitas terbesar hanya 75 orang, bagaimana dengan penggunaan di hotel, apartemen maupun perkantoran? “Cukup pasang dengan pola parallel,” tandasnya mantap. maksud parallel disini adalah misalnya sebuah hotel dengan kapasitas 300 orang maka akan membutuhkan empat buah BioCeramics dengan tipe C. Harga jual per produk pun cukup reasonable dan terjangkau. Untuk produk Bioceramic berbahan beton tipe A dengan kapasitas 10 orang seharga Rp3,5 juta, tipe B seharga Rp5 juta dan tipe C seharga Rp7,5 juta. Sedangkan Bioceramic berbahan fiberglass lebih mahal Rp1 juta dibanding yang berbahan beton.

Walaupun relative mudah dalam pemasangan maupun penggunaan, Andre mengisyaratkan beberapa hal yang harus diikuti oleh konsumennya. Bapak tiga anak ini pun menegaskan dalam hal pemasangannya bisa ditanam ataupun diletakkan di atas permukaan tanah selama posisinya lebih rendah daripada kloset. Kedua, mengenai pipa sambungan sebaiknya menghindari pipa yang berbentuk T dan menyarankan untuk menggunakan pipa bersudut 45˚atau berbentuk Y. Hal ini masuk akal mengingat untuk menghindari aliran air yang tersumbat. Selebihnya, perawatan standar dengan menghindari masuknya benda-benda asing seperti plastic, pembalut yang bisa menyumbat aliran air limbah.

Andre yang sebelumnya berprofesi sebagai wirausaha di bidang jual beli mobil ini memang banting setir ke bisnis yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini tak lepas dari keprihatinannya terhadap pencemaran khususnya pencemaran air. Kini, di tahun ke delapan, kapasitas produksinya telah mencapai 1.000 buah per bulannya. Namun Andre masih belum merasa puas dengan pencapaiannya ini. pencemaran lingkungan masih menjadi concern utamanya sambil terus melakukan perbaikan terhadap Bioceramic.

Profil Inovator

Nama                    : Andreas Susanto

Jabatan                 : Direktur PT Andre San’t Tunggal Jaya

Prospek Bisnis

Sanitasi di Indonesia masih menjadi masalah yang belum banyak teratasi. Berdasarkan data Economic Impacts of Sanitation in Southeast Asia yang dilakukan oleh Water and Sanitation Program (WSP) Bank Dunia pada tahun 2007, 43% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 94 juta jiwa penduduk Indonesia belum memiliki jamban. Bahkan hanya terdapat 2% dari jaringan air limbah di perkotaan yang diolah. Ini artinya potensi pasar produk BioCeramics sebagai septic tank alternative masih sangat luas. Barita menambahkan terlebih lagi berbicara mengenai keterbatasan lahan untuk septic tank serta penyediaan alat yang ramah lingkungan, praktis dan efisien, Bioceramic bisa menjadi jawaban alternative dari persoalan tersebut.

Testimonial

Barita,

Bio Ceramic cukup efektif dan efisien secara waktu dan maintenance. Selain itu harganya cukup reasonable dan mampu mengurangi masalah bau dalam septic tank. Dalam tiga tahun penggunaannya, kami belum ada keluhan apa pun.

Xirka Chipset: Chipset Lokal Prestasi Global

“Aduh internetnya lambat sekali,” keluh Diva. Di sisi lain, “Bayarnya mahal tapi kok tetap lambat ya,” Ega berkeluh kesah. Koneksi internet yang lambat dan tarifnya yang tak bisa dibilang murah merupakan masalah yang jamak dihadapi oleh masyarakat. Bagaimana tidak? Selama ini, teknologi yang digunakan masih berupa Wi-Fi dengan jangkauan (base station) sejauh 5 km. Sementara, di negara Paman Sam telah dikembangkan teknologi WiMax telah berkembang pesat. WiMax adalah solusi teknologi informasi dengan jangkauan rata-rata 40 km dan kecepatan hingga 10 Mb.

PT Xirka Dama Persada menangkap peluang berkembangnya teknologi WiMax di Indonesia dengan menciptakan microchip pendukung WiMax bernama Xirka chipset. Dari ilmuwan lokal, dengan dominasi komponen lokal untuk pasar lokal adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan Xirka Chipset ini. Namun demikian, prestasinya telah mengglobal di kancah internasional.

Berbasiskan Teknologi Broadband Wireless Access

Di tengah terik matahari, berlokasi di sebuah gedung eks mess Angkatan Laut yang telah direnovasi menjadi Gedung CM berlantai 4 di bilangan Matraman, Sylvia berbagi cerita tentang inovasi teknologi telekomunikasi Indonesia, Xirka chipset. Ihwal penemuan Xirka ini adalah kolaborasi antara tim peneliti Indonesia dengan Sylvia W. Sumarlin, presiden direktur PT Dama Persada dan Rudi Hari, komisaris utama PT Dama Persada. Adalah Trio Adiono dan Eko Fajar Nurprasetyo, ilmuwan asal Indonesia yang berkarir di laboratorium korporasi di Jepang yang kerapkali memenangkan berbagai lomba desain aplikasi dan microchip di Jepang. Trio Adiono, bukan orang baru di dunia teknologi informasi. Portofolionya dibidang pembuatan beberapa microchip untuk video processing application dan perannya dalam kegiatan IC Design Training oleh VLSI for Education (VDEC) Japan, Synopsys Inc. Japan, dan sebuah perusahaan dari Silicon Valley.

Sementara itu, Eko Fajar Nurprasetyo sejak tahun 2001 sudah malang melintang berkarir di SONY LSI Jepang hingga tahun 2006. Track record keduanya yang cemerlang ini membuat Richard Mengko, Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi menyatukan kedua ahli microprocessor ini untuk melakukan penelitian tentang microprocessor untuk aplikasi teknologi telekomunikasi khususnya broadband wireless access atau WIMAX. Sekedar mengingatkan kembali, WIMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access/BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi (sampai 70 MBps) dengan jangkauan yang lebih luas dibandingkan teknologi Wi-Fi hingga mencapai 40 km. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik.

“Dengan sponsor Dirjen Postel serta Ristek jadilah processor WIMAX ini,” jelas Richard. Sayangnya, penemuan processor WIMAX ini harus menggandeng pihak swasta agar bisa menjadi produk komersial (mass product). Sylvia W. Sumarlin, presiden direktur PT Dama Persada yang sebelumnya berkecimpung di bidang internet service protocol (ISP) tertarik bergabung dan berinvestasi pada pengembangan processor WIMAX ini. “Saya punya idealisme kalau bisa hak paten ini tidak lari dari Indonesia,” kata Sylvia. Impiannya, Indonesia memiliki industry teknologi informasi yang tak kalah bersaing dengan negara lain di dunia, tak hanya sebagai ‘tukang jahit’ namun sebagai desainer.

Bergabungnya Sylvia menjadi investor riset prosesor WIMAX ini bukannya tanpa perhitungan. Sebelumnya Sylvia telah melakukan riset seberapa prospektif inovasi processor untuk teknologi telekomunikasi yang terbilang masih langka di Indonesia ini. Ternyata dari risetnya, pelahap buku tentang filosofi ini menemukan bahwa saat itu hanya terdapat enam desainer chipset untuk BWA di dunia. “Akhirnya saya pikir bagus juga bila dikembangkan karena di Asia Tenggara belum ada,” imbuhnya. Hal inilah yang menjadi motivasi terbesar bagi tim inovasi Xirka untuk mengembangkan chipset berstandar internasional. “Saat itu tipenya masih tipe d (IEEE 802.16d-2004) yang statis atau fixed BWA,” tambah Sylvia. Tipe fixed BWA ini bisa diaplikasikan pada WiMax indoor modem dan outdoor modem (CPE). Untuk itulah, fixed BWA lebih tepat digunakan untuk rumah ataupun industry skala kecil dan menengah. Xirka pun dipilih menjadi brand chipset ini karena filosofinya seperti circle atau lingkaran, dimana pengembangan teknologi itu tak pernah berhenti.

Penemuan chipset fixed BWA ini dirasa belum cukup kompetitif untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar. Untuk itulah, proses pengembangan terus berjalan hingga akhirnya tahun kedua berhasil mengembangkan microprocessor untuk mobile BWA dengan tipe IEEE 802.16e-2005. Tipe ini bekerja pada channel bandwidth 5 dan 10 MHz. chipset ini ditanamkan pada personal computer (PC) atau notebook yang telah tertanamkan fitur WIMAX. Sedangkan untuk jenis notebook yang belum menjangkau fitur WIMAX ini bisa menggunakan Xirka sebagai USB modem sehingga bisa dipergunakan di manapun. Dalam proses pengembangan Xirka ini memang tak mudah, termasuk dalam hal pendanaan. Sylvia mengakui bahwa investasi yang digelontorkan mulai dari riset hingga proses produksi masal Xirka ini tak sedikit. “Hampir Rp25 miliar,” ujarnya tanpa ragu. Hal ini tak lain karena biaya riset dan uji coba yang dilakukan di laboratorium di Jepang tentu tak murah. Untuk sebuah ujicoba microchip saja membutuhkan 12-13 mesin. Dengan demikian, Sylvia menggunakan alternative lain agar lebih efisien dengan system pola sewa.

Dari Lokal Untuk Indonesia

Semangat innovator muda Indonesia ini akhirnya menuai hasil ketika tahun 2008 silam, Xirka mendapatkan pengakuan dari WIMAX Forum dan menjadi principal member of WIMAX Forum. Masuknya Xirka melalui PT Dama Persada menjadi principal member of WIMAX Forum ini menempatkannya menjadi produsen chipset ke delapan di dunia. Principal member ini adalah perusahaan-perusahaan atau vendor yang berkecimpung dibidang manufacturing WIMAX ataupun menjadi distributor WIMAX. Xirka yang merupakan plesetan dari kata circle atau lingkaran kini boleh bangga karena menjadi pionir chipset BWA di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Selain itu, Xirka juga meraih juara dalam Asia Pacific Information Communication Technology Award (APICTA) 2008 karena kemampuannya untuk menggabungkan antara inovasi teknologi dengan business plan serta potensi pasar di pasaran.

Xirka tipe IEEE 802.16e-2005 ini telah diluncurkan pada Agustus 2009 dan akan diproduksi secara masal pada kuartal satu tahun 2010. Target awalnya adalah satu juta chipset untuk produksi pertama dan 200-300 ribu diantaranya untuk pasar Eropa Timur dan Timur Tengah melalui agen di Jepang. Sedangkan untuk tipe fixed BWA justru telah diproduksi secara masal pada kuartal satu tahun 2009 ini.

Kendati 90% bahan Xirka adalah produk lokal, tetapi harganya masih kompetitif dengan produk serupa di dunia. Untuk sebuah chipset BWA harga standar internasional mencapai US$80 atau mencapai Rp800 ribu. Menurut Sylvia, dengan harga US$80 untuk sebuah chipset BWA, harga notebook ataupun PC menjadi lebih tinggi dan ditakutkan tak terjangkau untuk masyarakat Indonesia. Untuk itulah, Xirka hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan teknologi informasi. Sayangnya, Sylvia belum bisa menyebut harga Xirka yang akan dipasarkan, namun bisa dipastikan bahwa harganya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan chipset BWA lainnya dengan kualitas yang tak kalah dengan chipset buatan vendor lain. “Walaupun tidak bisa dibilang murah mengingat teknologi tinggi. Namun harga Xirka masih affordable,” kata Richard Kartawijaya, juri Asia Pacific Information Communication Technology Award (APICTA) 2008.

Mengingat penggunaannya ditanamkan pada PC ataupun notebook, produsen notebook pun menjadi sasaran pasar Xirka. “Pastinya kita akan mengarah kesana. Namun, kita cenderung untuk bermitra dengan vendor lokal seperti Zyrex dan lainnya,” jelas pehobi tap dance ini. Tak hanya itu sebagai perangkat pendukung WIMAX saja, Xirka bisa dipergunakan sebagai digital TV bahkan GPS. “Tergantung pada Xirka ini diprogram untuk apa?” ungkap Sylvia. Ternyata, di sisi teknologi informasi Indonesia kini boleh berbangga dengan penemuan Xirka Chipset BWA ini. Semoga saja, dengan inovasi chipset BWA ini akan memicu munculnya inovasi-inovasi baru di bidang teknologi informasi. Sylvia pun berharap agar pemerintah mendukung munculnya inovasi-inovasi teknologi dengan penyediaan laboratorium testing (uji coba). “Dengan demikian, tak perlu terbang ke Jepang hanya untuk uji coba,” pungkasnya.

Profil Inovator

Nama                       : Sylvia W. Sumarlin

Jabatan                    : Chief Executive Officer PT Xirka Dama Persada

Penghargaan yang diperoleh:

  1. APICTA : Asia Pacific Information Communication Technology Award Desember 2008
  2. Principal member of WIMAX Forum

Prospek Bisnis

Meluasnya solusi teknologi telekomunikasi yang lebih murah dalam bentuk Broadband Wireless Access (BWA) atau WIMAX menciptakan peluang ekonomi terutama penciptaan perangkat pendukung WIMAX. Richard Kartawijaya, chief executive officer PT Informatika Solusi Bisnis pun menyebut bahwa WIMAX akan menjadi sebuah solusi teknologi yang jelas dibutuhkan di masa depan. Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 230 juta, mau tidak mau penggunaan WIMAX pun akan meluas di Indonesia. “Dan Xirka ini menjadi pionir vendor chipset untuk WIMAX,” jelasnya. Dengan jumlah internet user di Indonesia yang baru mencapai 40 juta user serta potensi pasar seluler sebesar 130 juta user bila dibandingkan dengan total penduduk yang mencapai 230 juta. Potensi pasar yang luar biasa gurih untuk digarap. Sylvia pun memiliki ambisi mengambil posisi atas market potential yang tersedia meskipun tak terlalu besar. Jelas Sylvia, “Cukup 10% dari pasar internet dan pasar selular.”


Testimonial :

Richard Kartawijaya, Chief Executive Officer PT. Informatika Solusi Bisnis (Juri Internasional APICTA 2008)

Xirka adalah salah satu peluang dari penggunaan WIMAX di masa depan. Selama ini, Indonesia selalu tertinggal di bandingkan negara lain dalam bidang teknologi telekomunikasi. Xirka menempatkan dirinya sebagai pionir dari WIMAX solution technology di Indonesia dan Xirka sebagai the only vendor yang memproduksi chipset membuat positioning-nya sangat kuat di industri. Sayangnya, Indonesia bukan negara yang mengenal teknologi tinggi dengan baik sehingga tak mudah untuk mengembangkan dengan lokal SDM.

*****

Menyulap Air Limbah Menjadi Air Bersih – Teknologi Oksidasi Lanjutan

Limbah menjadi persoalan besar negara ini. Tak terhitung lagi besarnya pencemaran lingkungan akibat limbah, baik yang berasal dari rumah tangga maupun industri. Anto Tri Sugiharto menciptakan alat pengolah air limbah dengan reaktor ozon yang mampu menghasilkan air daur ulang ramah lingkungan.

Masalah pencemaran lingkungan berupa limbah kian mengemuka dalam hidup manusia dewasa ini. Persoalan limbah akan terus menghantui kehidupan manusia jika kita tidak mampu mengolah dan mengelolanya dengan baik.  Pesatnya pertumbuhan berbagai sektor industri di Indonesia memang meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Namun, industri juga membawa pengaruh buruk terhadap lingkungan. Pasalnya, industri-industri tersebut akan menghasilkan limbah dalam berbagai bentuk,  termasuk limbah cair. Limbah cair, baik yang bersumber dari  rumah tangga, rumah sakit, maupun industri, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan lingkungan. Limbah cair pada umumnya mengandung biochemical oxygen demand (BOD), partikel tercampur, dan organisme patogen yang berbahaya bagi lingkungan.

Untunglah, peneliti seperti Anto Tri Sugiharto mampu memberikan alternatif solusi baru dalam mengelola dan mengolah limbah, khususnya limbah cair. Lewat penemuannya tentang alat pengolah limbah berbasis teknologi plasma, masalah limbah cair kini mulai bisa diatasi. Dengan alat ini, berbagai partikel baik organik maupun kimia mampu terurai dan menghasilkan air bersih yang bisa diterima oleh lingkungan. Bahkan, air tersebut dapat digunakan sebagai air daur ulang oleh industri yang memanfaatkan alat ini.

Teknologi Oksidasi Lanjutan
Anto Tri Sugiharto bisa dibilang sebagai pelopor dari penelitian penerapan teknologi plasma cair di Indonesia. Riset mengenai penerapan teknologi plasma yang ada selama ini masih terbatas pada plasma gas dan padat. Anto melakukan riset mengenai penggunaan teknologi plasma cair sejak 1998, tepatnya ketika ia masih menuntut ilmu untuk tingkat doktor di bidang biokimia di GunmaUniversity, Jepang.

Saat itu, berbagai penelitian mengenai teknologi plasma untuk lingkungan, khususnya pencemaran udara, marak dilakukan di Jepang. Anto pun berinisiatif  melakukan riset mengenai plasma lingkungan untuk pencemaran air. “Kemudian kami punya ide untuk mengembangkan riset mengenai pencemaran air,” ungkap Anto. Selama kurun waktu lima tahun, Anto mengadakan riset seputar teknologi yang akan digunakan untuk mengatasi pencemaran air. Sepulangnya dari Jepang, 2003, Anto mendapatkan dana Program Insentif Kementerian Riset dan Teknologi – Katalis Teknologi sebesar Rp120 juta. Dana tersebut direalisasikan menjadi sebuah alat pengolah limbah cair berbasis plasma.

Konsep dasarnya adalah memanfaatkan teknologi advanced oxidation process, atau proses oksidasi lanjutan, yang mengombinasikan teknologi plasma dari radiasi sinar ultraviolet, ozon, dan plasma. Dalam reaktor plasma yang disebut reaktor ozonized water, terjadi proses pelarutan gas ozon dalam air. Gas ozon memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri serta mengurai bakteri. Hasilnya? Selain air menjadi jernih, semua polutan yang terkandung dalam air limbah akan terurai bebas endapan.

Cara kerjanya adalah sebagai berikut. Air limbah yang akan diolah diserap melalui pompa air yang terpasang di luar alat. Selanjutnya, air limbah tersebut akan terserap dan kemudian masuk ke dalam reaktor plasma. Dalam reaktor plasma ini terdapat dua jalur aliran, yaitu jalur aliran gas dan aliran air. Untuk proses pengolahan ini, dibutuhkan aliran gas oksigen sehingga air akan terionisasi dan akan menghasilkan radikal bebas. Ion radikal inilah yang akan menguraikan polutan yang terkandung dalam air limbah.

Untuk konsumsi rumah tangga ataupun industri skala kecil, cukup dibutuhkan alat pengolah limbah yang lebih ringkas. Untuk segmen ini, air limbah cukup diolah dengan satu tabung pengolah reaktor plasma, tanpa perlu proses pengendapan dan tanpa melalui tabung filter karbon. Adapun untuk industri besar atau industri yang menghasilkan limbah dengan kandungan polutan organik tinggi, alat pengolahnya perlu proses yang lebih panjang dan mungkin juga ukuran alat yang lebih besar. Air limbah masuk ke dalam tabung reaktor plasma dan setelah itu air akan mengalir ke tabung pengendapan. Tabung pengendapan ini berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan polutan yang berbahan logam atau non-organik. Tahap selanjutnya, apabila dalam limbah  terkandung gas tertentu, gas tersebut akan dikeluarkan melalui exhausting fan yang prinsip kerjanya mirip dengan cerobong asap. Dan, tahap terakhir adalah air masuk ke dalam tabung filter. Setelah itu, barulah hasil daur ulang air limbah tersebut bisa dibuang lagi ke sungai ataupun digunakan lagi untuk proses produksi industri tersebut selanjutnya. “Sebenarnya sangat simpel dan mudah sekali dalam pengoperasiannya,” jelas Anto.

Sterilisasi Sayur dan Buah

Aplikasi teknologi ozonized water ini bisa untuk berbagai kepentingan, tidak hanya untuk pengolah limbah cair dirumah tangga, industri, ataupun rumah sakit saja.  Teknologi ini juga bisa diaplikasikan untuk mencuci buah dan sayuran, sterilisasi peralatan medis, sterilisasi peralatan industri, dan sebagainya.

Kini Anto tengah mengembangkan teknologi air berozon untuk sterilisasi buah dan sayuran. Bedanya, untuk aplikasi ini digunakan metode pelarutan langsung. Teknologi ini mampu membunuh virus, bakteri, serta menghilangkan berbagai bahan kimia atau pestisida yang menempel pada buah dan sayur-sayuran. Hasilnya, sayur-mayur dan buah-buahan menjadi lebih segar dan tahan lama.

Saat ini beberapa korporasi besar telah menjadi klien produk pengolah limbah cair temuan Anto. Sebuah perusahaan kilang minyak asal Amerika Serikat pun menyewa peralatan pengolah limbah karya Anto. Peralatan itu ditempatkan di tiga kilang minyak milik perusahaan tersebut. Kapasitas untuk perusahaan minyak ini mencapai 1.000 barel per hari. Sayangnya, Anto enggan mengungkapkan besaran harga sewanya. “Yang pasti, perhitungannya dalam dolar AS per barel,” katanya. Beberapa pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia juga telah memanfaatkan alat pengolah air limbah dan penghasil water re-use kreasi Anto untuk memenuhi kebutuhan air di gedungnya. Anto tidak hanya melayani korporasi besar saja, tetapi juga industri berskala UMKM, seperti industri tekstil di Bali.

Anto pun optimistis dengan prospek bisnis dari produknya mengingat besarnya produksi limbah baik dari rumah tangga, rumah sakit, maupun industri. Ke depan, pria kelahiran Yogyakarta ini pun telah menyiapkan sejumlah rencana. “Saya berharap dapat menemukan teknologi plasma untuk limbah logam,” tandasnya. Tepatnya, dengan memisahkan dan menguraikan limbah padat industri yang menghasilkan logam kobalt. Anto berharap upaya penemuan terbarunya ini makin mampu mengurangi limbah yang menjadi masalah besar di Indonesia.

MARTHAPURI DWI UTARI