Panen Dolar di Negeri Obama Berkat Brand Design

Yolanda Santosa

Principal & Creative Director of Ferroconcrete – Los Angeles


Belakangan, frozen yoghurt (fro-yo) menjadi sebuah fenomena di kalangan penikmat lifestyle Indonesia. Sajian kuliner jenis dessert yang berbahan yoghurt beku dengan taburan berbagai toping diatasnya kini memang sedang booming. Mulai dari lisensi asing hingga lokal pun turut meramaikan bisnis fro-yo. Sebut saja mulai dari Sour Sally, Heavenly Blush, BluBerry, Tutti Frutti, Red Mango hingga J.Co dengan J.Cool andalannya.

Padahal di negeri nun jauh di sana – Amerika Serikat, fro-yo ini sudah marak dibicarakan sejak lima tahun lalu. Adalah Pinkberry – salah satu pemain di industri kuliner fro-yo yang mendapat suntikan modal US$27,5 juta dari firma ventura capital milik dedengkot Starbucks – Howard Schultz. Sedemikian lezatkah fro-yo milik duo pengusaha Korea Shelly Hwang dan Young Lee ini hingga Schultz tertarik untuk investasi di dalamnya.

Persoalannya, fro-yo ini bukan sekedar fro-yo. Brand Pinkberry turut mendongkrak penjualan fro-yo ini. Lihat, bagaimana dengan cerdiknya Pinkberry menarik perhatian pengunjungnya dengan tampilan desain toko yang menawan. Dalam website Pinkberry tertulis ‘People don’t eat frozen yogurt anymore. They eat Pinkberry. And that’s a brand, personified.

Siapakah orang dibalik kesuksesan Pinkberry ini? Dialah Yolanda Santosa, orang Indonesia yang berhasil menelurkan ide kreatifnya di Amerika Serikat. Pinkberry bukanlah karya pertama Yolanda. Tetapi memang, Pinkberry ini debut pertamanya sebagai seorang brand designer & motion graphics entrepreneur. Simak kisahnya…

Ditakdirkan Menjadi ‘Seniman’

Dunia seni dan desain sepertinya memang sudah menjadi jalan hidup seorang Yolanda Santosa. Yo yang lahir di Jakarta, 24 Februari 1978 memang dianugerahi talenta seni yang kental dalam dirinya. Seni menjadi mata pelajaran yang paling Yo gandrungi saat mengenyam bangku sekolah dasar Don Bosco Jakarta. “Saya sangat suka menggambar, desain dan seni…  Itu adalah hint awal akan seperti apa karir saya kelak,” kenang Yo menerawang.

Setamat sekolah dasar, Yo harus pindah ke Singapura mengikuti kedua orangtuanya. Sejak itu, hasrat Yo untuk terjun di bidang seni makin mantap. Klimaksnya saat duduk di bangku sekolah menengah di Opera Estate Primary School dan Katong Convent Secondary School, Singapura nilai Yo buruk nyaris di semua bidang mata pelajaran kecuali seni.

“Sejak itu, sepertinya masa depan saya sebagai desainer (seniman) semakin jelas dan seperti sudah tertulis di batu,” ujarnya sambil terkekeh. Yo juga mengakui bahwa dirinya beruntung memiliki orang tua yang mensupport penuh keinginan anaknya walaupun sepertinya tak menguntungkan. Tapi siapa sangka, 12 tahun kemudian kesuksesan Yo sebagai seorang desainer brand dan grafis membanggakan orang tuanya.

Selepas SMU, Yo pun memilih desain grafis gerak (motion graphic design) dan branding sebagai spesialisasinya di Art Center of Design, Pasadena. Setelah mentas kuliah dan menyandang gelar Bachelor of Fine Arts (BFA) dari Art Center College of Design, Pasadena di tahun 2000, Yo mulai terjun ke industri grafis yang sesungguhnya.

Yo bergabung dengan yU+co, sebuah rumah produksi yang menggarap serial Desperate Housewives, Ugly Betty dan The Triangle. Ya, Desperate Housewives – serial drama televisi yang ditonton oleh 21,3 juta orang di Amerika Serikat ini adalah proyek pertama Yo sebagai seorang desainer grafis sekaligus art director. Peran Yo sebagai pembuat rangkaian main title serial itu. Gaya pop-up book yang merupakan sambungan dan kaitan beragam aliran dan gaya visual menjadi sesuatu yang kohesif menjadi kunci kemenangan Yo dalam tender tersebut.  Dan hebatnya, dari proyek itu, Yo berhasil menyabet nominasi Emmy Outstanding main title design Desperate Housewives.

Filosofi Konstruksi Bangunan

Setelah enam tahun mengerjakan berbagai proyek pembuatan main title film Yo memutuskan mundur dari yU+co dan memilih untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Tepat di bulan September tahun 2006 – Ferroconcrete berdiri. Menurut Yo, Ferroconcrete berdiri karena hasrat Yo yang meluap untuk mengeksplorasi dunia brand.

Embrio kecintaannya terhadap brand tak lain karena Apple. Yo memang terobsesi dengan Apple – produk fenomenal besutan Steve Jobs.  Dan obsesi itulah mengantarkan Yo pada karir impiannya sebagai brand designer. “Setiap hari saya bangun pagi, dan menyadari hidup kita dikelilingi oleh brand. Mulai dari saat bangun (Colgate, Oral-B) sampai waktunya tidur lagi (Samsung),” kata Yo. Ditambah lagi, Yo menyadari dirinya lahir di tanggal yang sama dengan Steve Jobs yaitu tanggal 24 Februari.  Agak konyol memang, tapi karena kesamaan itu makin menguatkan rasa cintanya terhadap profesi pilihannya.

“Saya percaya bahwa brand bisa menghibur kita bahkan membuat kita jatuh cinta pada mereka. Dan di bisnis ini, kami ‘menyuntikkan’ personality dan storytelling pada seluruh brand klien kami,” terang putri pasangan Fatah Santosa dan Christina Santosa ini. Dan akhirnya, jadilah firma desain yang fokus pada branding, desain grafis, motion graphic, website, print, signage dan produk kreatif lainnya bertitel Ferroconcrete.

Pemilihan nama Ferroconcrete ini bukan tanpa maksud. Kata Ferroconcrete merujuk pada proses konstruksi dimana menggabungkan baja menjadi kolom-kolom, lalu menuangkan semen dan akhirnya menjadi beton. Konstruksi beton inilah yang membuat kokoh fondasi dan akhirnya berdirilah jembatan dan berbagai bangunan yang ada di dunia ini. Metafora konstruksi gedung inilah menjadi dasar Yo untuk dalam mengkonstruksi image sebuah brand (branding).

Namanya juga bisnis kreatif, bisa dipastikan minim modal karena lebih mengedepankan ide kreatif. Yo pun mengamininya. “Modal awalnya sangat minimal,” kata penggemar Tadao Ando ini. Yo merogoh kocek pribadinya sebanyak US$3.000 atau sekitar Rp27 juta. Uang itu dipergunakannya untuk membeli seperangkat komputer McIntosh sebagai ‘senjata perang’. Sangat minim bukan untuk bisnis di negara kapitalis seperti Amerika?

Saking minimalisnya, home office pun menjadi andalan Yo. Ya! Yo pun terpaksa bekerja dari apartemennya karena belum mampu menyewa kantor. Yah, maklum saja, bisnis di dunia kreatif tentunya berbeda bisnis konvensional. Kantor bukan lagi menjadi syarat utama agar sebuah bisnis diakui. Di dunia kreatif, justru berlaku mobile office. Jadi bekerja tak lagi terikat tempat dan waktu.

Yo menjadi pejuang tunggal (single fighter) untuk membangun Ferroconcrete pada sembilan bulan pertama. Yo mulai keteteran karena proyek yang kian menggunung. Akhirnya Yo merekrut karyawan pertama sebagai web developer di bulan kesembilan. Selanjutnya, karyawan kedua pun direkrut sebagai desainer tepat di tahun pertama. Bertiga mereka bekerja dan berkantor di apartemen Yo. Dalam kurun waktu satu tahun tiga bulan, akhirnya Ferroconcrete pindah ke sebuah kantor kecil di Los Angeles.

Proyek pertama Ferroconcrete adalah brand Pinkberry. Pinkberry adalah sebuah toko frozen yogurt ternama di Amerika Serikat. Proyek Pinkberry ini mencakup mulai dari strategi branding yang komprehensif, art direction of photography, membangun brand lines, retail packaging, point of purchase displays, website, marketing collaterals, newsletters, environmental graphics,  signage, konsep event bahkan termasuk untuk store environment hingga kendaraan.

Sejatinya, proyek ini berawal dari kecintaan Yo terhadap frozen yogurt. Ajaibnya, sejak Pinkberry dipegang oleh Yo, dua tahun kemudian Pinkberry berkembang menjadi 70 outlet di berbagai negara bagian Amerika. Bahkan sekarang sudah mencapai 83 outlet. Mengapa bisa demikian? Strategi branding Yo yang melatarbelakangi. “What makes Pinkberry, Pinkberry? If you said the yogurt, you’re only half right. Customers stand in line for a taste of the yogurt, but they get in that line because of the brand.” Slogan inilah yang membuat Pinkberry berkembang pesat.

Kesuksesan Yo bersama Pinkberry pada akhirnya menjadikan Ferroconcrete memiliki segmentasi market tersendiri. Bisnis ritel, lifestyle dan entertainment pun menjadi pilihannya. Kenapa memilih tiga bidang itu? Menurut Yo, karena untuk bidang itu melibatkan banyak sekali komponen, mulai dari toko, kemasan, website dan berbagai pengalaman berbelanja. “Proyek itu biasanya (menuntut) sangat kreatif,” tandasnya. Proses kreatifnya sendiri biasanya berdasarkan sasaran project. “Kami membiarkan cerita mendikte konsep. Minat kita mendikte tim. Dan brand’s personality mendikte gaya visual,” beber wanita yang mengidolakan Kenya Hara ini.

Belum Tertarik Kembali ke Indonesia

Kini, nama Ferroconcrete makin berkibar sebagai desainer branding & motion graphic di negara asal Kolonel Sanders. Bisnis minimalis yang tadinya hanya dihandle Yo sendirian, kini berkembang dengan enam karyawan tetap dan 1-4 karyawan freelance disaat project tertentu. Yo pun pasang target tahun ini agar Ferroconcrete makin mantap terjun ke motion graphic sebaik membangun brand ritelnya sendiri.

Kesuksesan Yo di tanah seberang ini, apakah menarik minat Yo untuk mengepakkan sayapnya dan kembali ke Indonesia? Yo pun menjawab bijak. “Tidak untuk saat ini. But tomorrow, who knows. I go where opportunities take me,” jawab perempuan yang memanfaatkan waktu luangnya dengan bermain I-Phone ini. Tapi sepertinya Yo sudah sangat menikmati kehidupan di Los Angeles.

Yang artinya, kemungkinan Yo untuk kembali ke Indonesia sangat kecil. Yah, sangat disayangkan, asset bangsa yang berharga ini lebih memilih untuk berkarya di negeri orang dibanding di tanah kelahirannya sendiri. Mungkin memang lebih baik begitu, talentanya akan lebih baik dan dihargai di luar negeri baik dari pemuasan hobi dan sisi materi.


Ferroconcrete

1050 S Flower St Suite 835

Los Angeles, CA 90015

Telp                : 213 741 1378

Email             : hello@ferro-concrete.com

Website         : www.ferro-concrete.com

Boks :

Rule of succes ala Yo :

1. Loving what you do!

2. Yo memberikan ‘nyawa’ pada karyanya (terutama untuk brand) dengan menginjeksikan gabungan kepribadian (personality) dan storytelling.

3. You want to design something that you yourself is in love with.

4.  Team work yang solid. Yolanda mengaku semua pencapaian ini karena kerja tim. It was a team effort! (pengakuan Yolanda dalam salah satu jejaring sosialnya).

BOKS Profil :

Yolanda Santosa

Tanggal lahir                       : Jakarta, 24 Februari 1978

Status                                                : Single

Jabatan                                  :

–      Principal & creative director Ferroconcrete

Pendidikan                           :

–      BFA (Bachelor of Fine Arts), majoring in Graphic Design – Pasadena, USA.

Project                                   :

–      Pinkberry

–      First Blush

–      Echo

–      Mptv

–      Eple

–      Citycenter on6th

–      TFO Architecture

–      Strenrep

–      Hustler Toys

Awards yang diraih           :

2007   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design for “Ugly Betty”

2006   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design for “The Triangle”

2005   Nominasi Emmy Outstanding Main Title Design “Desperate Housewives”

Advertisements

Johansen Samsoedin: SocioEntrepreneur Architect Nan Brilian

Johansen Samsoedin

Principal Aboday Design


Industri kreatif memang tengah bergaung di tahun ini. salah satu penopangnya adalah industri desain. Desain arsitektur termasuk salah satu industri yang digadang-gadang akan mendongkrak perekonomian Indonesia. Diantara jutaan arsitek di Indonesia, terselip nama Johansen Samsoedin. Seperti apakah kiprahnya?

Kawasan Kemang memang identik dengan pusat bisnis, utamanya di sektor konsumsi seperti butik, café dan mall. Persoalan perubahan tata guna lahan Kemang dari fungsi perumahan menjadi kawasan bisnis pun belum terselesaikan. Tapi, di salah satu wilayah Kemang, tepatnya kawasan Kemang Selatan terselip sebuah kantor firma arsitektur Aboday Design yang ditilik dari sisi prestasi cukup menawan. Penampakan luar memang mirip dengan ruko-ruko biasa, namun kantor bercat putih dengan dua lantai ini telah sanggup mempekerjakan 23 orang karyawan dan pernah menyabet Winner of Young Creative Entrepreneur Award dari British Council tahun 2009 silam. Puncaknya kala Johansen Samsoedin, sang principal Aboday Design ditahbiskan sebagai 2nd Winner of British Council International Young Design Entrepreneur Award di London pada tahun yang sama.

Kemenangan Jo, demikian Johansen kerap disapa dalam ajang itu menjadi symbol kemenangan Indonesia ke empat kalinya di ajang penghargaan entrepreneur muda dan kreatif yang dihelat oleh British Council ini. Konsep paddy box, yang menempatkan petak sawah berukuran 3 x 15 meter di atap serangkaian villa di Jimbaran, Bali menjadi andalan Jo dan menghantarkan pada kemenangan di ajang pengusaha muda kreatif bergengsi di London. Paddy box hanyalah salah satu portofolio desain besutan pria kelahiran 7 Mei 1975 ini.

Dari Kewajiban Menjadi Passion

Di satu pagi yang sangat cerah, Jo yang turun dari mobil BMW berwarna putih baru saja tiba di kantor Aboday Design yang didominasi warna putih dan menjadi kebangaannya. “Hai… Apa kabar?” tanyanya kepada Warta Ekonomi. Dengan bergaya kasual, berbalutkan kemeja putih dan jeans hitam, Jo berbagi seputar perjalanan usahanya bersama Aboday Design.

Awalnya, Jo memang tidak pernah menyangka akan mencintai arsitektur dan desain sebagai bagian dari hidupnya. Perkenalan Jo dengan dunia seni desain adalah kala dirinya mengambil jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tarumagara, Jakarta. Di tengah perjalanannya, Jo sempat mengalami kejenuhan luar biasa bahkan nyaris menyerah. Beruntungnya Jo memiliki saudara yang terus mengingatkan agar pantang mundur dengan rintangan yang menghadang. “Karena ternyata apa yang saya rasakan saat itu, jamak terjadi pada mahasiswa arsitektur lainnya,” kata Jo. Semangat Jo kembali membara dan akhirnya Jo malah menemukan bahwa desain dan arsitektur adalah passion dalam hidupnya. Selepas kuliah, Jo pernah mencicipi profesi sebagai asisten dosen di almamaternya itu. Namun, dalam perjalanannya, pria jangkung berkacamata ini tergoda ajakan temannya bertaruh nasib di Singapura. Dilemma pun sempat hinggap dalam diri pehobi fotografi ini, pilihan antara mengambil beasiswa atau menjadi arsitek professional di Singapura.

Jo pun memutuskan untuk mengambil jalur professional dengan mengadu nasib sebagai arsitek di Singapura. Baginya, ilmu yang dimilikinya tak akan ada artinya tanpa terjun ke usaha yang sesungguhnya. Pria langsing ini pun mengawali karirnya di ACI Architects Singapore sebagai Architect Assistant selama setahun. Perjalanan karirnya di Singapura terus berlanjut di beberapa firma arsitektur hingga akhirnya tahun 2005 Jo memutuskan pulang ke Indonesia. Sepulang dari tanah air Jo ingin berbisnis di luar profesi yang digelutinya selama ini. Bahkan penggemar J.R.R Tolkein ini pun sempat melirik bisnis di bidang food and beverages. Namun ternyata, takdir menentukan lain. Jo yang saat itu masih bolak-balik Jakarta –Singapura justru mendapatkan job desain dari rekannya di Bali. Dan pada akhir tahun 2005, Jo bersama Ari Indra dan Rafael David, rekan semasa bekerja di Axis Architects & Planners Singapore bersepakat mendirikan Aboday. “Nilai filosofisnya adalah bahwa Aboday ini menjadi rumah (abode) bagi David, Ari dan Jo,”  terang pecinta film Lord Of The Ring ini. Dalam perjalanannya, background karir ketiganya yang pernah bekerja di Singapura menjadi salah satu kekuatan Aboday. Sehingga dalam perjalanannya, Aboday bekerja di tiga ranah yaitu Singapura, Jakarta dan Bali.

Bukan persoalan yang gampang untuk menjalankan sebuah bisnis keroyokan. Demikian pula dengan Aboday yang dalam satu perusahaan memiliki tiga nakhoda. Dan biasanya yang kerap terjadi adalah rawan konflik kepentingan dan idealisme. Namun tak demikian dengan Aboday. Lagi-lagi Jo justru mematahkan anggapan tersebut dan menyebut dengan adanya tiga nakhoda dalam satu kapal menjadi sebuah keuntungan tersendiri. “Justru ada pembagian tugas dari kami dan saling memikul tanggung jawab serta saling melengkapi satu sama lain” jelas penggemar film bergenre science fiction ini. termasuk saat proses desain proyek. “Saat satu dari kami mengalami kebuntuan, yang lainnya akan melengkapi kekurangan kami. Dan itulah memang fungsi dari brainstorming yang kami lakukan,” jelasnya.

Tak Melulu Perkara Profit

Kini di tahun ke empatnya Aboday masih terus agresif mengembangkan lini bisnisnya. Hasilnya pun kian kentara saat bisnis yang bermodalkan Rp54 juta telah berkembang berlipat-lipat. Aboday yang concern dalam hal pelestarian lingkungan mengimplemetasikan pada setiap desain buatannya. Salah satunya adalah konsep Paddy Box dimana 29 unit villa dan atapnya ditumbuhi padi di Jimbaran, Bali. “Dengan konsep Paddy Box membuat vila ini memiliki competitiveness yang cukup tinggi dibandingkan pesaingnya,” jelas Jo. Menurut Jo, ada tiga elemen yang diperhitungkan dari konsep ini, yaitu lingkungan yang berupa panggung. Lalu kawasan Jimbaran yang identik dengan kawasan kering dapat menopang produksi berasnya dengan konsep Paddy Box tersebut. Di sisi lain, turis pun dapat belajar menanam padi dan output-nya (padi) dapat menyumbang perekonomian petani di Jimbaran.

Per tahunnya, Aboday menggarap sekitar enam proyek desain arsitektur. Sayangnya, Jo enggan berbagi mengenai besaran nilai proyek yang kerap diterimanya. “Tak melulu dihitung dengan uang. Artinya bisa saja satu desain bernilai sangat mahal karena ide yang kami buat. Tapi di sisi lain, harga desain kita bisa juga menjadi lebih murah. Jadi sifatnya relatif,” imbuh Jo. Jo pun tak mematok harga pasti per desainnya, semuanya bergantung pada nilai dan skala proyek. Tapi yang utama menurut Jo adalah kepuasan batin yang tak melulu diukur dari sisi uang.

Perspektifnya dalam menjalankan bisnis inilah membuat Aboday memiliki program corporate social responsibility di tahun ketiganya. Bukti kepedulian sosialnya ini diwujudkan dalam bentuk rancangan grafis untuk sebuah panti asuhan di Mega Mendung. Berkaitan dengan intellectual property, industri berbasis ide ini memang rawan terhadap pembajakan. Namun, Jo tak kalah akal dengan menyiasati setiap penawaran desain proyek disertai dengan surat perlindungan atas desain hasil karyanya. “Setiap calon klien kami harus bertanda tangan dalam sebuah surat perjanjian bahwa jadi atau tidaknya sebuah proyek, desain ciptaan kami tetap menjadi hak kami,” kata pria yang pernah menjabat sebagai managing editor jurnal Arsitektur di kampusnya. Dan kini, Jo boleh bangga. Bila dahulu Jo tak menekuni profesi ini, belum tentu keberhasilan demi keberhasilan saat ini bisa diraihnya. Jo yang nyaris menyerah di tengah perjalanan pendidikannya, kini justru sangat mencintai profesinya sebagai perancang bangun ini.

Marthapuri Dwi Utari

Aboday Design

Kemang Selatan I No. 16 C

Jakarta Selatan 12730

Telp                 : +62 21 7193 664

Faksimile         : +62 21 7191 430

Email               : office@aboday.com

Website           : www.aboday.com

Testimonial          :

Razie Abdullah, director PT. Mahkota Asiana Grha (Senopati Suites)

Johansen adalah arsitek yang unik. Satu kualitas yang saya kagumi darinya adalah kemampuannya untuk memberi “terjemahan” arsitektural yang sangat baik dan unik terhadap visi kliennya. Selain kemampuan teknis, juga diperlukan kemampuan penyelaman dan komunikasi yang intens. Kedua kualitas utama tersebut ada pada diri Johansen dan saya kira banyak membedakannya dengan arsitek lainnya. Saya sangat menyukai kerjasama dengannya karena dapat memenuhi tuntutan keekonomian sekaligus menciptakan desain yang sesuai dengan visi kami. Semua karyanya unik dan bagus

Profil :

Johansen Samsoedin

Tempat, tanggal lahir    : Jakarta, 7 May 1975

Jabatan                                    :

–      Founder and Principal Aboday Design

Pendidikan                              :
–   Teknik Arsitektur – Universitas Tarumanegara Jakarta

Awards yang diraih                :

-2nd Winner of British Council International Young Design Entrepreneur Award 2009, London

–      Winner of British Council Indonesia Young Creative Entrepreneur Award 2009, Jakarta

Karya yang telah dihasilkan:

  • Nirvana Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Lembah Kemang Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • SOHO @ Ampera, Jakarta, Indonesia
  • Nirvana Villa, Bali, Indonesia
  • Kemang Medical Care Hospital, Jakarta, Indonesia
  • Ulujami Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • Nirvana 2 Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Indoconsult Office Interior, Jakarta, Indonesia
  • Alea Cilandak Townhouse, Jakarta, Indonesia
  • Morocco House, Jakarta, Indonesia
  • The Stupa Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Senopati Suites Apartment, Jakarta, Indonesia
  • Bungalow @ 38F Jervois Road, Singapore
  • Extension of Office Building, Beijing, China
  • Terrace House @ 26 Emerald Hill Proposal, Singapore
  • Terrace House @ 22 Elite Park Avenue, Singapore
  • Landscape design of Kranji Army Camp, Singapore
  • Interior design of The Chevron Clubhouse, Singapore

Kewirausahaan Sosial: Dari Komunitas Untuk Komunitas

Isu wirausaha memang tak akan pernah ada habisnya. Mulai dari tips menjadi wirausahawan sukses hingga berbagai kendala yang melibat di dalam menjalankan wirausaha. Salah satu isu yang sedang menghangat adalah kewirausahaan sosial. Wirausaha sosial adalah  salah satu jenis kewirausahaan yang memiliki tujuan utama untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan lingkungan hidup dengan memberdayakan komunitas melalui kegiatan yang bernilai ekonomi.

Di Inggris, perkembangan kewirausahaan sosial sudah mencapai 60.000 organisasi yang melakukan kegiatan kewirausahaan dan membukukan kontribusi terhadap pereknomian Inggris mencapai 8,4 miliar poundsterling per tahunnya. Diantaranya adalah BELU yang merupakan organisasi wirausaha sosial yang bertujuan pada penyediaan air bersih dan Coin Street Builders yang berbasis komunitas dan berhasil mentransformasi 13 hektar pemukiman di daerah South Bank, London menjadi pemukiman yang ramah lingkungan.

Fadjar Anugerah, project manager British Council menyebut bahwa kewirausahaan sosial diawali dengan keprihatinan terhadap keadaan sosial yang berujung menjadi sebuah model bisnis baru. “Starting business-nya adalah karena keprihatinan sosial,” kata Fadjar. Contohnya adalah Rumah Zakat yang menciptakan Kornet SuperQurban Rumah Zakat sebagai akibat keprihatinan pembagian kornet yang seringkali tidak merata dan terbatas masanya. Selain itu, Saung Angklung Udjo dan Telapak adalah dua contoh pelaku kewirausahaan sosial di lndonesia.

Saung Angklung Udjo yang didirikan oleh Udjo Ngalagena banyak memberikan kontribusi kepada bisnis kerajinan angklung dan kesenian tradisional Sunda. Berkat pertunjukan regulernya, Saung ini mampu meraup omset kotor mencapai Rp10 miliar pada tahun 2009 silam. Semua itu bisa diraihnya berkat operasi lokakarya dan tur promosi yang dilakukannya ke berbagai negara.

Sementara itu, Telapak adalah koperasi komunitas yang didirikan oleh Silverius Oscar Unggul (Onte) di Sulawesi Tenggara. Telapak berhasil mendapatkan label SmartWood yang meningkatkan penghasilan anggota koperasi sampai empat kali lipat serta menyumbang pendapatan asli daerah dengan penerapan prinsip penebangan ramah lingkungan yaitu menanam 10 bibit untuk setiap pohon yang ditebang.

British Council ingin menghubungkan pengalaman perkembangan Kewirausahaan Sosial di Inggris dengan yang sudah berkembang di Indonesia. Dalam rangka menumbuhkan wirausahawan sosial berbasiskan pemberdayaan komunitas, British Council dan Arthur Guiness Fund (AGF) membuka kompetisi Community Entrepreneurs Challenge (CEC) yang boleh diikuti oleh para wirausahawan pemula maupun setengah mapan. Program ini akan membangun jaringan di 30 komunitas untuk mendukung sekitar 120 wirausahawan sosial. Selain pelatihan, jaringan ini akan menyusun parameter-parameter yang akan dipakai ke depan untuk program Dana Investasi Kewirausahaan Sosial (Social Investment Trust Fund) yang akan dikelola bersama dengan pemerintah daerah, BUMN maupun perusahaan swasta. “Kesuksesan wirausahawan sosial akan diukur dari social return on investment indicators-nya,” pungkas Fadjar.

Meraup Rupiah dari Kombinasi Pendidikan dan Bisnis Animasi

Selama ini orang umumnya berpikir dunia animasi hanya sebatas kartun.  Padahal cakupannya lebih luas dari itu. Animasi bisa menjadi pendukung di berbagai bidang kehidupan. Bahkan, di Indonesia, ia menjadi penopang industri konten. Wahyu Aditya adalah salah satu pelaku kreatif animasi. Bagaimana kiprahnya?

Bagi Anda pencinta musik, tentunya pernah mendengar lagu milik grup musik Padi yang berjudul “Bayangkanlah”. Video klip-nya pun unik karena berbentuk animasi serupa dengan video klip grup musik Gorillaz di Amerika Serikat. Kualitasnya hampir sepadan. Bisa jadi, video klip animasi itu menjadi gebrakan baru bagi dunia musik Indonesia. Sebutan “kreatif” dan “think out of the box” patut disematkan pada sang sutradara. Namun, tahukah Anda siapa pembuat video klip animasi itu?

Wahyu Aditya, atau kerap disapa Waditya, adalah the man behind the video clip. Karyanya tak terhitung lagi di dunia animasi. Sebanyak 6 video musik, 10 konten acara televisi komersial, 11 film pendek, dan 100 konten motion graphic menjadi portofolio Waditya. Maka tidak salah jika Waditya pun ditahbiskan sebagai World Winner International Young Creative Entrepreneur untuk kategori film oleh British Council pada 2007 silam.

Konsep Bisnis Terintegrasi

Nuansa kreatif begitu kental terasa ketika Warta Ekonomi melangkah masuk ke kantor HelloMotion Academy di bilangan Tebet Raya, Jakarta Selatan. Memasuki kantor yang didominasi warna merah ini, kita akan disambut dengan display kaus bergambar  yang diberi nama “Distro KDRI”. Di sebelahnya, sebuah lemari kaca yang di dalamnya terpampang berbagai action figure. Sembilan buah icon smiley dengan berbagai background menghiasi salah satu dinding. Sementara di sisi yang lain, terpampang berbagai penghargaan yang pernah diraih sang direktur sekaligus kepala sekolahnya, Wahyu Aditya. Di antaranya, The Hubert Bals Fund Award-Jiffest 2005, The 2nd Place Winner Festival Film Animasi Indonesia 2005, The 3rd Asiana International Short Film Festival 2005, dan berbagai pajangan lainnya.

Waditya, yang belum genap seminggu pulang dari Jepang, bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi cerita dengan Warta Ekonomi. Pria berkacamata ini menuturkan bahwa kunjungannya selama 43 hari di Negeri Matahari Terbit itu atas undangan beasiswa sekaligus riset animasi dari Japan Foundation. Di salah satu ruang kelas HelloMotion Academy, Waditya menceritakan seputar perjalanannya di Jepang serta HelloMotion Academy miliknya. Pria kelahiran 4 Maret 1980 ini terhitung beruntung karena terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa yang diperuntukkan bagi pelaku kreatif dan seniman di kawasan Asia Pasifik. Di Jepang, Waditya berkunjung ke empat institusi pendidikan yang berkutat tentang animasi. Dari sinilah, cakrawala Waditya terbuka mengenai hal-hal baru yang berkaitan dengan dunia animasi. “Banyak hal dari scholarship yang saya dapat yang bisa diimplementasikan pada HelloMotion ini,” ungkapnya.

Ihwal kecintaannya terhadap dunia gambar dan desain dimulai sedari kecil. Waditya yang sangat mengidolakan tokoh Tino Sidin ini pernah membuat majalah besutannya sendiri yang diberi titel Sinoe. Isinya, tak lain, berbagai cerita rekaan Waditya kecil seperti komik Doracemot, kisah Cinderlela, jadwal acara televisi, dan bahkan dilengkapi dengan berbagai kuis berhadiah ala majalah profesional. Kecintaannya itu berlanjut ketika ia duduk di bangku sekolah menengah. Waditya sering kali mendesain kaus-kaus di sekolahnya. Hingga akhirnya, selepas SMU, Waditya melanjutkan kuliah di jurusan multimedia di KvB Institute of Technology Sydney, Australia.

Selepas kuliah dan lulus dengan menyabet predikat cum laude, Waditya bergabung di Trans TV sebagai creative designer dan animator. Bekerja sebagai creative designer sekaligus animator di sebuah korporasi besar tidak lantas membuat hati Waditya tenang. Sebaliknya, rasa prihatin justru muncul akibat maraknya film animasi impor yang menyerbu Tanah Air. Hal ini tak lain karena terbatasnya profesi animator Indonesia. Selain itu, adakalanya beberapa teknik yang dilakukan di industri tidak sinkron dengan pengajaran di kampus.

Setelah dua tahun bekerja, untuk mengurangi keresahan yang dirasakannya, Waditya pun berinisiatif membuat sebuah pusat pelatihan yang bisa membantu munculnya animator-animator di Indonesia. Berbekal uang pinjaman dari bank melalui orang tuanya sebesar Rp400 juta, Waditya menyewa sebuah ruko tiga lantai di bilangan Tebet Raya. Dan, tepat pada 8 April 2004, Waditya meresmikan HelloMotion Academy.

Membangun sebuah pusat pelatihan bukanlah perkara mudah, apalagi saat itu animasi masih dipandang sebelah mata. Kurikulumnya mengadopsi dari pengalaman semasa Waditya mengenyam bangku kuliah. Waditya tak ingin pengalamannya dahulu terulang pada calon animator berikutnya. “Terlalu banyak waktu terbuang di bangku kuliah untuk mempelajari hal-hal yang sering kali tidak digunakan saat terjun ke industri,” jelasnya. Materi di bangku kuliah dan pengalaman semasa bekerja di stasiun televisi pun menjadi bahan pengajaran di HelloMotion. Dengan demikian, Waditya berharap ada sinkronisasi kurikulum antara kebutuhan industri dan karier muridnya. Media komunitas pun menjadi sarana promosi Waditya di awal berdirinya HelloMotion.

Demi totalitas dan keseriusannya di dunia animasi, Waditya pun secara rutin mengadakan acara HelloFest sebagai sebuah wadah apresiasi. “Jadi, tak hanya pendidikannya, tapi saya juga concern dengan event-event-nya,” jelas suami dari Arie Ocktaviani ini. Melalui HelloFest, semua ekspresi karya seni, mulai dari video musik, film pendek, animasi 2D, animasi 3D, stop motion, video art, hingga festival cosplay (costume player), tumpah ruah di acara tahunan ini. Gabungan antara HelloMotion dan HelloFest inilah yang menjadi keunikan dari HelloMotion Academy. “Konsep bisnisnya adalah institusi yang lengkap dan terintegrasi baik dari pendidikan dan wadah apresiasinya,” jelas penggemar sushi sashimi dan rawon ini.

HelloMotion kini membuka empat kelas yang masing-masing berdurasi tiga bulan, yakni kelas Motion Graphic, Digital Movie Making, Editing, dan Animation Making. Dan, kelas Motion Graphic menjadi kelas favorit yang paling cepat mengumpulkan murid di sana. Dengan kapasitas maksimum delapan siswa per kelas, Waditya mematok biaya Rp3,9 juta per siswa. Setiap siswa difasilitasi satu unit komputer, kurikulum yang sesuai, dan bimbingan dari mentor. Menurut Waditya, dari biaya kursus ini, ia telah memperoleh profit margin sebesar 40%. Namun sayang, Waditya enggan merinci perhitungannya.

Setiap  bulan HelloMotion mampu membukukan omzet Rp75 juta. Hingga saat ini HelloMotion telah memiliki 900 siswa yang terdiri dari berbagai latar belakang. Murid Waditya ada yang berprofesi sebagai dokter, akuntan, mahasiswa, ataupun karyawan televisi swasta.

Obsesi Menjadi Pixar Indonesia

Seolah tak pernah puas, Waditya pun mengembangkan divisi lainnya yaitu divisi Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI). KDRI ini adalah sebagai manifestasi kecintaan Waditya terhadap dunia desain dan semangat  nasionalismenya. Nasionalisme ini diwujudkan dalam bentuk desain yang sarat dengan nuansa lokal. Alhasil, tokoh-tokoh dalam pewayangan seperti Bima, Srikandi, dan Rahwana pun ikut masuk dalam karya desainnya. Desain ini pun diimplementasikan lagi menjadi kaus-kaus dan dijual melalui Distro KDRI. Waditya berharap, dengan KDRI ini, industri animasi Indonesia mampu menciptakan karakter yang dicintai oleh orang Indonesia. “Mampu menyebarkan ‘virus’ nasionalisme juga,” imbuhnya. KDRI yang berdiri pada 2006 ini baru membukukan omzet Rp15 juta per bulan.

Berbagai penghargaan telah diraihnya dan, sebagai konsekuensinya, namanya pun kian populer di kalangan industri kreatif Indonesia. Namun, Waditya tidak lantas berpuas diri. Ia masih memendam obsesi, yaitu  menjadikan HelloMotion seperti Pixar Animation Studios di Amerika Serikat. Keinginan tersebut rasanya tidak berlebihan, mengingat sedari sekarang Waditya sudah merintis jalan untuk mewujudkan impiannya itu dengan rutin mengadakan HelloFest. Tokyo Comiket 76 pun menjadi role model Waditya untuk mengembangkan dunia animasi. Tokyo Comiket 76 adalah ajang pameran komik terbesar di dunia yang secara rutin diadakan di Jepang sejak 1975 dan mampu menyedot hingga 560.000 pengunjung di tahun 2009. “Impiannya, HelloFest bisa menjadi Tokyo Comiket 76 di Indonesia,” kata putra pasangan Dr. Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini. Meskipun membutuhkan usaha dan waktu yang panjang untuk menjaring animo sebanyak Tokyo Comiket 76, Waditya selalu menyosialisasikan HelloFest agar masyarakat aware dan turut berpartisipasi. Hasilnya? Tiap tahun HelloFest selalu mengalami kenaikan jumlah pengunjung.

Waditya masih berharap industri animasi di Indonesia bisa naik tingkat seperti di Korea, India, dan Cina. Meskipun masih membutuhkan waktu untuk mewujudkan harapannya, Waditya ingin agar masyarakat menjadi terbiasa dengan budaya gambar dan komik seperti yang terjadi di Jepang. Menurut dia, Indonesia sudah memiliki modal untuk mengembangkan industri animasi ini.  Suasana kreatif serta potensi SDM yang besar dan kreatif menjadi modal besar bagi Indonesia. Seraya berharap, pemerintah memberikan dukungan kebijakan agar kuota animasi di Indonesia bisa seperti di Korea.

HelloMotion Academy

Jl. Tebet Raya 45 C

Jakarta 12820

Telepon       : +62 21 837 919 52

Faksimile     : +62 21 837 919 52

E-mail          : hellomotion@yahoo.com

Website       : www.hellomotion.blogspot.com

Testimonial      :

Yorris Sebastian Nisiho, chief creative officer OMG Creative Consulting

Waditya adalah sosok anak muda yang kreatif dengan spirit entrepreneurship yang tinggi. Meskipun berkiprah di bidang yang tidak begitu populer, tetapi secara idealis mampu sejalan secara komersial.

Rule of success ala Waditya:

  1. Konsisten
  2. Total mengembangkan industri animasi dengan mengadakan HelloFest secara rutin setiap tahun.
  3. Tidak pernah merasa puas dengan pencapaian-pencapaiannya, sehingga hasrat untuk memajukan bisnis serta prestasi terus terasah.
  4. Tidak pernah berhenti belajar.

Profil :

Wahyu Aditya

Tempat, tanggal lahir      : Malang, 4 Maret 1980

Status                             : Menikah

Jabatan                           :

–      Pendiri dan Kepala Sekolah HelloMotion Academy

Pendidikan                      :
– Advanced Diploma of Interactive Multimedia – KvB Institute of Tech. Sydney, Australia

Penghargaan yang diraih :

  • Best Short Movie – Jakarta International Film Festival (2004)
  • Finalist Short Shorts Film Festival – Tokyo, Japan (2004)
  • Finalist Asiana Film Festival – South Korea (2005)
  • Win 8 Awards in Indonesia Animation Festival (2005)
  • Best Concept for Future Film – Jakarta International Film Festival & Hubert Bals Foundation (2005)
  • Special Achievement Award – FAN / National Animation Festival (2007)
  • Finalist of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Design Category – Indonesia (2007)
  • Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category – Indonesia (2007)
  • World Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category (2007)
  • 30 Most Inspiring People under 30 – Award from Hard Rock FM Indonesia (2008)
  • First Winner – Blogging Competition British Council (2008)
  • First Winner – Wirausaha Muda Mandiri Jabotabek – Bank Mandiri (2008)

Menganyam Rezeki dari Bungkus Pasta Gigi

Slamet Riyadhi

Pemilik Lumintu Product

Krisis moneter 1998 memunculkan banyak “pengusaha kecelakaan”. Slamet Riyadhi salah satunya. Bermodalkan sisa pesangon PHK, Slamet memulai usaha berbahan baku sampah aluminium foil.

Di pasaran terdapat beragam merek pasta gigi dengan kandungan yang hampir sama, seperti fluoride yang berguna mencegah gigi berlubang. Jika setiap orang rutin menggosok gigi dua kali sehari, per bulan akan ada satu eks tube pasta gigi yang meluncur ke tempat sampah. Nah, soal sampah ini, termasuk sampah tube bekas pasta gigi, masih menjadi masalah serius. Apalagi sampah dari eks tube pasta gigi ini tak mudah terurai.

Nah, masalah itulah yang diretas Slamet Riyadhi dengan menyulap eks tube tersebut menjadi tas cantik. Ini paling tidak bisa sedikit mengurangi tumpukan sampah anorganik di tempat pembuangan sampah. Kini, selain memanfaatkan tube bekas, setiap tiga bulan Slamet menerima 1,5 ton tube reject dari sebuah pabrikan untuk ia olah menjadi tas. Menariknya, sebagian besar karyawan Slamet adalah ibu rumah tangga yang sudah lanjut usia.

Kisah Curhat Nenek Alminah

Tak ada awan menggantung ketika pagi itu Warta Ekonomi menyambangi kediaman Slamet Riyadhi di kawasan Ciledug, Tangerang. Di rumah yang sekaligus workshop dan galeri itulah Slamet, pemilik usaha rumahan Lumintu, menyulap limbah aluminium foil menjadi produk-produk cantik. Di teras rumah, teronggok potongan aluminium foil siap pakai. Selain itu, Slamet juga memajang berbagai produk berbahan baku limbah di teras rumahnya. Ada kapal pinisi dari botol bekas, boneka ondel-ondel dari styrofoam bungkus Pop Mie, hingga kupu-kupu dari bungkus permen. Rasanya tak salah jika julukan “Dokter Sampah” disematkan pada Slamet. Ia bisa menyulap limbah anorganik menjadi sebuah kerajinan cantik hanya dengan sentuhan sederhana.

Slamet “beruntung” tinggal di Tangerang, kota dengan seribu industri. Sebab, hal itu memudahkannya untuk mendapatkan bahan baku. Sembari duduk santai di tengah area workshop, pria kelahiran 21 September 1951 ini bercerita mengenai usahanya.

Blessing in disguise. Itulah yang mengantarkan Slamet menjadi entrepreneur. Pada 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia, Slamet terkena PHK dari tempat kerjanya, sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Padahal, dia sudah bekerja selama 18 tahun. Saat itu, Slamet mendapatkan pesangon Rp17 juta yang ia gunakan untuk membeli sebidang tanah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. “Sisanya, saya gunakan sebagai modal usaha,” kata Slamet.

Pertemuan dengan seorang rekan yang menjadi pengepul limbah memberi inspirasi bagi Slamet. Waktu itu, pria yang tak lulus SMA ini terinspirasi menjadi pengepul limbah. “Saya membayangkan keuntungan di bisnis ini,” akunya. Namun, Slamet segera sadar bahwa ia tak punya lahan yang cukup luas untuk menjadi pengepul. Maka, dia lalu melirik pembuatan kerajinan yang memanfaatkan limbah anorganik. Awalnya, ayah empat anak ini membuat berbagai kerajinan tangan, seperti bunga, perahu, dan sebagainya, dari bungkus makanan ringan, permen, atau rokok. Produk hasil kerajinan itu dijualnya di area Senayan setiap Minggu.

Alkisah, suatu hari tetangga Slamet yang bernama nenek Alminah datang kepadanya sambil berkeluh kesah. Si nenek merasa sedih karena  kehilangan pekerjaannya menganyam tikar pandan. Memang, banyak warga lanjut usia (lansia) di sekitar rumah Slamet yang menjadi penganyam tikar pandan. Namun, sayangnya, hutan pandan di seputar wilayah itu beralih fungsi. Alhasil, “Bahan baku pandan berkurang, dan banyak lansia yang kehilangan pekerjaan,” kenang Slamet.

Curahan hati sang nenek menimbulkan inspirasi di benak Slamet:   bagaimana kalau bahan anyaman tidak lagi dari pandan, tetapi dari limbah? Pilihannya jatuh pada aluminium foil bekas tube pasta gigi. Maka, mulailah Slamet melakukan uji coba. Tidak mudah, karena aluminium foil lebih licin dibandingkan pandan. “Setelah dicoba berkali-kali, akhirnya jadilah hasil anyaman sesuai keinginan saya,” urai suami dari Mussi ini.

Keberhasilan itu mengukuhkan niat Slamet. Maka, pada 2000, dua tahun pasca-PHK, Slamet mendirikan Lumintu, yang mengolah limbah aluminium foil. Slamet bercerita, jika semula ia menggunakan tube bekas pasta gigi, kini ia memakai tube pasta gigi reject dari sebuah pabrik. Setiap tiga bulan ia mendapatkan kiriman 1,5 ton tube reject dari PT Delident Chemical Industry, produsen pasta gigi merek Delident yang berbasis di kawasan Daan Mogot, Tangerang. Kata Slamet, ini merupakan salah satu program CSR Delident. Adapun pasta gigi Delident sendiri banyak diekspor ke Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa Timur.

Setelah masalah bahan baku selesai, Slamet masih dihadapkan pada masalah alat pemotong. Maka, ia lalu menciptakan alat potong manual yang memanfaatkan beberapa bilah cutter dan meja. Kata Slamet, modal pembuatan alat potong itu Rp100.000. “Kalau saya beli di toko, harganya bisa Rp3 juta-an,” kata dia.

Kini beralih ke proses pembuatan kerajinan. Setelah bahan baku dipotong, Slamet meminta para tetangga untuk menganyamnya. Mereka mengerjakannya di rumah masing-masing. Setiap orang rata-rata menghasilkan 8–12 lembar anyaman aluminium foil per hari. Selanjutnya, dari lembaran anyaman itu, Slamet membuat tas, sajadah, tikar, dan bahkan pohon terang. Saat ini Slamet tengah mengerjakan pesanan satu set dekorasi interior yang terdiri dari meja dan sarung bantal anyaman aluminium foil, dari sebuah hotel di Bali.

Mulanya, Slamet mengaku kesulitan memasarkan produknya. Masyarakat belum mengenal produk anyaman aluminium foil Lumintu. Pehobi kerajinan tangan ini bahkan rela berjualan di tempat-tempat strategis, seperti di Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, atau Senayan. “Saya pernah diusir petugas tramtib saat berdagang di depan Gereja Katedral,” akunya, tergelak. Namun, beruntung, seorang pastor menolongnya. “Setelah itu, justru setiap hari besar tertentu saya diundang mengisi bazar di gereja tersebut. Pengalaman yang tak terlupakan,” imbuhnya.

Kini, Slamet tak lagi menjajakan produknya di kaki lima. Konsumen-lah yang justru mendatangi workshop atau bertransaksi via internet. Apalagi ia cukup rajin mengikuti pameran kerajinan, yang membuatnya lebih mudah menggaet pesanan dari beberapa negara. Di antaranya, Brunei Darussalam, Malaysia, Abu Dhabi, Arab Saudi, Nigeria, Italia, Norwegia, Belanda, Kanada, Inggris, dan Australia. “Dari negara muslim semacam Brunei, Malaysia, atau Abu Dhabi, banyak yang memesan sajadah anyaman, sedangkan dari negara lain banyak yang memesan lembaran anyaman yang belum dibentuk rupa-rupa,” terang Slamet.

Produk-produk Lumintu memiliki kisaran harga yang beragam. Slamet membaginya dalam tiga kategori berdasarkan model dan kualitas bahan, yakni produk dengan kisaran harga Rp40.000–100.000 (sederhana), Rp120.000–150.000 (menengah), dan Rp250.000–300.000 (eksklusif). “Untuk produk tas eksklusif, saya menggabungkan anyaman aluminium foil dengan bahan kulit. Jadi, terlihat lebih mewah dan elegan,” kata Slamet. Saat ini, Slamet membukukan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Sarat Misi Sosial

Meski kiprah Lumintu sudah mendunia, ternyata Slamet belum mendirikan badan hukum untuk melegalkan bisnisnya. Rumitnya birokrasi dan lamanya proses pengurusan membuat Slamet enggan, termasuk untuk  mendaftarkan merek produknya. Slamet mengaku tak khawatir produknya ditiru orang lain. “Tidak masalah. Justru saya senang jika banyak orang yang mengikuti jejak saya. Artinya, akan makin banyak orang yang memanfaatkan limbah anorganik menjadi barang bernilai ekonomi,” ujarnya, santai.

Bisnis yang digeluti peraih Danamon Awards 2007 untuk kategori usaha kecil ini sangatlah menarik. Selain produknya berbahan dasar limbah aluminium foil, Slamet mempekerjakan para lansia. Saat ini Slamet memiliki 64 karyawan, terdiri dari 32 orang lansia dan sisanya remaja serta ibu rumah tangga. Sejak awal berdiri, selain berbisnis, memang Lumintu Product  juga mengusung misi sosial. “Misinya memberdayakan lansia,” tegas Slamet. Pemilihan nama “Lumintu” pun bukan tanpa alasan. Menurut Slamet, Lumintu adalah singkatan dari Lumayan itung-itung nunggu tutupnya umur, sesuai dengan usia sebagian besar pekerjanya.

Slamet berharap bisa mempekerjakan 136 lansia di lingkungannya. Selain itu, ia pun giat memberikan pelatihan maupun workshop kewirausahaan, khususnya yang berbahan baku sampah, baik yang diadakan oleh LSM maupun instansi pemerintahan. Pria yang besar di Cirebon ini sangat peduli dengan produk daur ulang (recycle). “Saya ingin mewariskan usaha ini kepada anak-anak saya, agar saya bisa konsentrasi memberikan pelatihan bagaimana mengolah produk-produk daur ulang,” pungkasnya.

FYI:

Kisah Tas dari Bungkus Indomie

Produk daur ulang (recycle) tengah naik daun. Namun, Slamet tak ingin latah meniru produk-produk yang ada di pasaran. Pria yang tahun ini genap berusia 58 tahun itu menciptakan ciri khas produknya, yaitu memadukan anyaman dengan memanfaatkan bekas bungkus mi instan Indomie. Hasilnya? Wow, sebuah tas tangan cantik!

Berbeda dengan model tas yang telah banyak beredar, tutur Slamet, kreasi tersebut adalah bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Ceritanya, Slamet ditantang oleh produsen makanan instan itu untuk mengolah limbah bungkus produknya. Maka, ia pun bereksperimen membuat tas tangan itu tanpa meninggalkan ciri khasnya, yaitu anyaman. Saat Warta Ekonomi berkunjung, tas itu belum jadi, masih perlu sentuhan akhir.

Ihwal kerja samanya dengan Indofood, Slamet membaginya dalam dua program. Pertama, memproduksi berbagai aksesori atau tas untuk tujuan komersial, dan Indofood membantu pemasarannya. Kedua, memberikan pelatihan bagi murid SD. Orang kreatif memang tak pernah habis akalnya. Sampah pun naik kelas menjadi barang bernilai ekonomi.

Lumintu Product

Jl. K.H. Hasyim Ashari Gg. Kemuning No. 17

RT 01/RW 05, Sudimara Pinang

Tangerang 15145

Telepon     : (021) 94706621, 91743546

Testimonial:

Zsa Zsa Yusharyahya

Executive vice president Public Affairs Division Bank Danamon

Very inspiring person! Ada dua hal yang menarik dari usaha Slamet, yaitu pemberdayaan lingkungan, khususnya lansia di sekitarnya, dan terjaganya kelangsungan usaha (sustainability) hingga saat ini. Selain itu, Slamet juga memiliki local knowledge dalam mengenali potensi daerahnya untuk menunjang usahanya.

Meraup Berkah dari Sampah

M. Baedowy

Pemilik CV Majestic Buana Group

Pekerjaan sebagai auditor di sebuah bank asing dia tinggalkan untuk menjadi entrepreneur di bidang pengolahan sampah. Ia memproduksi mesin pencacah sampah plastik dan mengolah sampah plastik menjadi biji plastik serta lakop sapu.

Persoalan sampah memang menjadi masalah krusial saat ini. Seiring jumlah penduduk Indonesia yang kian membengkak, sampah pun kian menggunung dan tidak terkelola dengan baik. Bahkan, empat tahun silam terjadi tragedi longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang menelan korban hingga puluhan orang tewas akibat tertimbun sampah. Nah, daur ulang sampah bisa menjadi solusi yang tepat bagi pengelolaan sampah anorganik. Bahkan, produk daur ulang (recycle) sampah ini telah menjadi bagian dari gaya hidup di beberapa negara maju.

Di Indonesia, pengusaha seperti M. Baedowy pun memiliki bisnis di bidang daur ulang sampah anorganik. Selain memproduksi mesin pencacah sampah plastik, Baedowy juga memproduksi lakop sapu yang dibuatnya dari botol minuman mineral. Berkat sampah, ia berhasil meraih sejumlah prestasi, di antaranya menjadi jawara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009.

Pekerjaan sebagai auditor di sebuah bank asing dia tinggalkan untuk menjadi entrepreneur di bidang pengolahan sampah. Ia memproduksi mesin pencacah sampah plastik dan mengolah sampah plastik menjadi biji plastik serta lakop sapu.

Persoalan sampah memang menjadi masalah krusial saat ini. Seiring jumlah penduduk Indonesia yang kian membengkak, sampah pun kian menggunung dan tidak terkelola dengan baik. Bahkan, empat tahun silam terjadi tragedi longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang menelan korban hingga puluhan orang tewas akibat tertimbun sampah. Nah, daur ulang sampah bisa menjadi solusi yang tepat bagi pengelolaan sampah anorganik. Bahkan, produk daur ulang (recycle) sampah ini telah menjadi bagian dari gaya hidup di beberapa negara maju.

Di Indonesia, pengusaha seperti M. Baedowy pun memiliki bisnis di bidang daur ulang sampah anorganik. Selain memproduksi mesin pencacah sampah plastik, Baedowy juga memproduksi lakop sapu yang dibuatnya dari botol minuman mineral. Berkat sampah, ia berhasil meraih sejumlah prestasi, di antaranya menjadi jawara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009.

Berkah Mesin Rusak

Akhir April silam, Warta Ekonomi menyambangi bengkel kerja Baedowy di bilangan Bekasi Timur, Jawa Barat. Setiba di sana, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Ibu Kota, bengkel kerjanya terlihat cukup luas dan para pekerjanya tampak sedang sibuk melakukan kegiatan produksi. Sebagian pekerja merakit mesin cacah sampah. Sementara itu, pekerja yang lain melakukan serangkaian proses pencacahan sampah, yakni mulai dari mencuci botol plastik, memasukkannya ke dalam mesin, hingga menjemur hasil cacahan. Di pojok ruangan, tampak ibu-ibu sedang sibuk menyortir plastik cacahan.

Kisah Baedowy menjadi entrepreneur ternyata melalui beberapa tahap. Semula, suami Ririn Sari Yuniar ini adalah auditor Royal Bank of Scotland (RBS) yang berkantor di gedung World Trade Center, Jakarta. Namun, akibat situasi kerja yang terancam terpuruk akibat krisis moneter yang melanda Asia sepuluh tahun silam, Baedowy memutuskan untuk mengundurkan diri, pada 1999. “Saya ingin tetap berpenghasilan, bukan sekadar berpenghasilan tetap,” dalih pria berkacamata ini. Untuk menyambung hidup, ayah tiga anak ini sempat bekerja di sebuah perusahaan batik di Pekalongan, sebagai manajer keuangan. Selain mengurus dan menata keuangan pabrik, ia juga bertugas mengatur kegiatan pameran produksi batiknya.

Ternyata, justru di Pekalongan Baedowy mencapai keputusan bulat untuk menjadi entrepreneur, yakni saat ia bertemu dengan seorang pimpinan bank pemerintah. Singkat cerita, keduanya sepakat mendirikan bisnis di bidang  sampah. Mengapa sampah? Menurut pria 36 tahun ini, sampah adalah produk tak bernyawa, tak berumur alias tak mudah basi, serta sulit. “Sulit di sini artinya tak banyak orang yang bersedia menggeluti bisnis ini,” kata dia. Sayangnya, usaha kongsian ini hanya bertahan delapan bulan saja. Mereka pecah kongsi karena perbedaan gaya kepemimpinan.

Oleh karena sudah kepalang basah di bisnis sampah, Baedowy memutuskan untuk merintis usaha sejenis. Ia merintis bisnis dengan modal Rp50 juta, hasil tabungan ketika masih bekerja. Uang itu digunakan untuk menyewa sepetak sawah di kawasan Mustika Jaya, Bekasi, yang waktu itu bak tempat jin buang anak, membangun bengkel kerja, membeli mesin penggiling sampah, serta sebuah mobil pikap keluaran 1992.

Namun, ternyata tak mudah untuk merintis bisnis baru. Tiap bakda Isya, dengan mengendarai pikap bututnya, pria asli Balikpapan ini berkeliling ke lapak-lapak pemulung untuk mendapatkan sampah plastik. Radius pencariannya menembus hingga Cikampek, Rawamangun, dan Pulogadung. Keesokan harinya sampah tersebut digiling oleh karyawan borongan yang berasal dari lingkungan di sekitar tempat usahanya.

Selama enam bulan Baedowy menjalankan rutinitas tersebut. Kendala demi kendala yang menghadang, di samping ketatnya kompetisi antar-pengusaha limbah serta minimnya pengalaman mengenai bisnis sampah, nyaris membawanya pada kebangkrutan. Itu masih ditambah lagi dengan persoalan mesin pencacah (crusher) plastik kepunyaannya yang kerap kali ngadat, yang  berujung pada terhambatnya proses produksi. “Sambil jalan, saya belajar betulin mesin itu. Saya bongkar, kemudian pasang lagi. Pokoknya sampai hafal betul isi perut mesin itu,” kata dia. Pehobi travelling ini pun sempat berpikir untuk menjual usahanya. Namun, hingga setahun berjalan, pabrik pengolahan sampah milik Baedowy tak kunjung mendapatkan pembeli. “Saat bisnis suram, saya sempat berpikir untuk menjadi PNS saja,” kenangnya.

Akan tetapi, dalam kondisi terjepit itulah naluri bisnis Baedowy kembali muncul. “Sambil menunggu pabrik laku, saya mulai mengotak-atik mesin pencacah,” ungkapnya. Penyandang gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Merdeka, Malang, ini pun memodifikasi mesin pencacah plastik miliknya. Untuk mencegah terjadinya penyumbatan oleh sampah yang sedang diproses, dinding tabung ia buat miring sekitar 30 derajat. “Ini agar sampah yang masuk tidak ada yang bersembunyi di dalam tabung,” terang dia. Lalu, di ujung mesin yang berada di bagian bawah, Baedowy memasang pintu berengsel. Alhasil, ia melihat adanya peluang bisnis baru di luar pengolahan sampah, yakni memproduksi mesin pencacah. Di kemudian hari, Baedowy pun memproduksi mesin penghasil pelet plastik dan mesin pengolah sampah lainnya. Bahkan, putra pasangan Supomo dan Zubaidah ini pernah membangun mesin pesanan Departemen Kelautan dan Perikanan serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pria kelahiran Balikpapan, 2 Mei 1973 ini pun menerapkan sistem kemitraan untuk penjualan mesin giling sampahnya. Baedowy melatih dan membina relasi bisnis yang membeli produk mesin gilingnya. Bahkan, ia menampung hasil cacahan  plastik mitra kerjanya. Hingga saat ini Baedowy telah memiliki 60 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk mesin cacah sampah plastiknya, Baedowy mematok harga Rp29–45 juta per unit, sudah termasuk pelatihan di lokasi mitra.

Tidak hanya memproduksi mesin giling sampah saja, pria yang dibesarkan di Balikpapan ini juga mengolah biji plastik dari sampah plastik seperti botol minuman dan oli menjadi lakop sapu. Lakop sapu buatannya itu dijual kepada produsen sapu ijuk seharga Rp500 per buah. Produk tersebut memiliki ciri khas yaitu adanya huruf “MB” di bagian atas lakop. “Trademark kami adalah tanda ‘MB’ itu,” ujarnya. Sayangnya, meskipun Baedowy memproduksi mesin cacah sampah plastik, dia tidak mendaftarkan paten pada produknya. “Kalau saya patenkan, malah akan banyak yang meniru karena detail produk justru terekspose,” dalihnya. Alhasil, penggemar musik Beatles ini pun membiarkan kalau ada pihak yang menjiplak produknya.

Baedowy pun menampung limbah botol minuman mineral berjenis PET (polyethylene terethylene) dan kemudian mencacahnya menjadi biji plastik. Nantinya biji plastik tersebut digunakan sebagai bahan baku bermacam produk seperti benang poliester, keset, bola plastik, dan lain-lain. Ia juga menjual biji plastik ke pabrik-pabrik pengolahan plastik sebagai bahan bakunya. Sayangnya, Baedowy terkena imbas krisis global dan terpaksa menghentikan ekspor biji plastiknya ke Cina tahun ini. “Terpaksa kami berhenti mengekspor biji plastik ke Cina tahun ini karena kondisi klien kami yang kurang baik akibat krisis global,” jelasnya.

Terobsesi Pensiun Dini

Naluri  bisnis Baedowy memang telah terbentuk sejak ia masih di bangku kuliah. Sewaktu di semester ketiga, Baedowy menggunakan uang yang seharusnya untuk mudik ke Balikpapan justru untuk berdagang baju bersama pacar yang kini menjadi istrinya. Selanjutnya, bermodalkan nekat dan berguru pada sejumlah pedagang, Baedowy memutuskan untuk berjualan pisang molen. “Momoh Molen”, demikian Baedowy memberikan nama pada bisnis barunya. Nama tersebut diilhami oleh nama kecilnya. Saat itu Baedowy sempat memiliki tiga gerobak. Dari situlah mental entrepreneur-nya kian kuat terbentuk. “Pengalaman itu membangun jiwa saya untuk tidak gengsi,” ungkapnya. Misalnya, ketika Baedowy harus menanggalkan kebiasaan berjas dan berdasi ketika bekerja di kawasan Sudirman, lalu berbalik 180 derajat ke bisnis sampah.

Di awal bisnis sampah ini, Baedowy sempat ditentang oleh kedua orang tuanya, yang menginginkan sang putra menjadi pegawai BUMN seperti mereka. Namun, Baedowy kukuh dengan keinginannya menjadi pengusaha. Dan kini, Baedowy boleh tersenyum lega. Bisnis yang awalnya ditentang oleh kedua orang tuanya itu telah membuahkan hasil. Selain berhasil meraih juara I Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2006, Baedowy baru saja menyabet juara I Wira UKM Dji Sam Soe Award 2009. Saat ini, Baedowy mampu membukukan omzet sebesar Rp100–200 juta per bulan, serta mempekerjakan 40 karyawan, tujuh di antaranya staf tetap dan sisanya karyawan borongan.

Meskipun bisa dibilang telah menuai kesuksesan, Baedowy masih memiliki obsesi terpendam. “Saya ingin pensiun dini di usia 40 tahun,” ujarnya. Itu artinya tinggal empat tahun lagi Baedowy menjalankan bisnis ini. Lantas, akan dikemanakan bisnis sampahnya ini? Menurut pria yang bercita-cita menjadi seorang arsitek ini, perusahaannya kelak akan dibagikan kepada karyawan serta adiknya yang telah membantu dalam membesarkan bisnisnya. Hanya saja bentuknya berupa penyertaan modal tanpa setor uang, sehingga 51% saham masih menjadi milik Baedowy sedangkan sisanya dibagi secara proporsional untuk karyawan dan sang adik. ###

MARTHAPURI DWI UTARI

CV Majestic Buana Group

Jl. Cimuning No. 35 Kota Legenda

Mustika Jaya, Bekasi 17310

Telp  : 021 7020 1859

Fax   : 021 8265 0584

Email : majesticbuana@yahoo.com

Testimonial:

Sandiaga Salahuddin Uno, ketua Komite Tetap Bidang UKM Kadin (Juri Kehormatan Dji Sam Soe Award 2009)

Baedowy itu kreatif banget! Ia mewakili generasi abad ke-21 yang diperlukan oleh bangsa Indonesia karena kemampuan mengolah sampah menjadi peluang. Ia adalah sosok entrepreneur yang mampu bertahan,  ulet, jujur, dan inovatif. ###

Brian Yaputra: Mematri Kaca, Mematri Prestasi

Brian Yaputra

Presiden Direktur PT Eztu Adimore (Eztu Glass Art)


Ingat kaca patri, ingat Brian Yaputra! Idiom yang tepat untuk menggambarkan bahwa nama Brian Yaputra memang lekat sebagai maestro kaca patri. Tak hanya bualan belaka, di dunia arsitektur dan properti nama Brian sudah tak asing lagi. Disneyland, Hong Kong adalah salah satu masterpiece-nya.

Pernahkah Anda singgah ke Johar Shopping Center (JSC) di Semarang? Di sana Anda akan disuguhi oleh sebuah karya seni kaca patri bernilai tinggi. Pada bagian depan JSC Anda akan terpukau oleh kaca patri berukuran 30X12 meter dengan motif gunungan yang dikitari sulur-sulur flora nusantara. Sangat indah! Pendaran matahari di atas gunungan dan burung phoenix di bagian bawahnya menyempurnakan karya ini. Tak cukup memberikan keindahan, karya ini pun ditahbiskan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai seni kaca patri terbesar di Indonesia.

Siapakah pembuat kaca patri yang sarat dengan budaya Jawa nan indah itu? Brian Yaputra, demikian nama si pembuat kaca patri bercita rasa seni tinggi itu. Di kalangan property maupun arsitek, nama Brian sudah tak asing lagi. JSC adalah salah satu dari deretan karya Brian yang telah melanglang buana hingga ke Afrika.

Menemukan Habitatnya

Teriknya matahari yang menggantung di bulan Ramadan tak menyurutkan niat Warta Ekonomi untuk mewawancarai Brian Yaputra, pionir bisnis kaca patri di Indonesia. Di bilangan Tomang, berdiri tegak sebuah rumah megah berpintu gerbang kayu kokoh yang setiap kaca jendelanya terdapat kaca-kaca patri dengan desain yang simple minimalis kotak-kotak kecil bergaris. Memasuki ke dalam halamDi bagian belakang, terdapat sebuah gazebo yang beratapkan kaca patri berwarna-warni nan indah. Tak hanya itu saja, beberapa hiasan berbahan kaca berbentuk kupu-kupu dari kaca menggantung di pepohonan, cicak-cicak dan kepik dari kaca pun menempel di salah satu dinding luar. Bergaya smart kasual Brian menyambut Warta Ekonomi dengan hangat. Cerita seputar perjalanan bisnis PT Eztu Adimore mengalir lancar dari mulut pria kelahiran Semarang, 12 Agustus 1947 ini.

Ihwal perkenalannya dengan dunia kaca patri adalah saat dirinya berkesempatan melancong ke kota Byzantium, Turki di tahun 1980. Brian saat itu terpesona dengan keindahan kota Byzantium yang sarat dengan kaca-kaca patri nan indah. Mengamati indahnya seni kaca itu membuat hati Brian bergejolak. Brian yang sebelumnya berkecimpung di bisnis peralatan elektronik rumah tangga merk Orbit milik keluarganya ini pun merasa menemukan passion yang selama ini dicarinya. “Saya merasa habitat saya ada disini (kaca patri),” ujar ayah dari Mounty Augusta, Ken Binsar, dan Dien Moontly ini.

Terdorong sense of art yang kental dan rasa penasaran akhirnya menarik Brian untuk mempelajari kaca patri lebih jauh. Majalah dan buku impor mengenai kaca patri pun dilalapnya demi memuaskan rasa ingin tahunya. Brian pun rela menggelontorkan uang yang tak sedikit demi mempelajari seni kaca yang berasal dari Eropa ini. Saat itu, Brian tak segan mengirimkan rekannya Freddy Sudjadi untuk mempelajari tentang kaca patri hingga ke North Carolina, Amerika Serikat. Hingga akhirnya pada tahun 1981, Brian memutuskan banting setir menekuni bisnis kaca patri. Pada awalnya, klien-klien Brian adalah teman-teman dan relasi yang memesan kaca patri yang berproduksi di garasi rumahnya.  Terhitung masih usaha yang sangat muda, Brian pun harus turun tangan sendiri untuk mematri produknya. Sampai-sampai tangan Brian pun terbakar solder patri saat mematri kaca produksinya.

Pengalaman menggarap proyek internasional Brian memang tak terhitung lagi jumlahnya, khususnya di Asia. Salah satunya didapat Brian saat melakukan perjalanan bisnis dari Shanghai-Hong Kong. Dalam pesawat Cathay Pacific itu, Brian tak sengaja bersebelahan dengan Dr. Tao Ho yang sedang menderita batuk. Brian pun menawarkan permen sebagai bentuk perhatiannya, dan terjadilah dialog antara Brian dengan Tao yang ternyata adalah Ketua Asosiasi Arsitek Hong Kong (Hong Kong Architect Association) dan akhirnya berujung pada beberapa informasi proyek di Hong Kong. Tak lama setelah pertemuan pertamanya, Brian ditelpon Tao Ho yang akan datang ke Indonesia. Ternyata, Brian mendapatkan proyek plafon Gereja Wingwong Pantecoastal Church di Hong Kong dari relasinya itu. Proyek pertama berjalan dengan sukses, kemudian diikuti dengan enam proyek gereja lainnya di Hong Kong. Hingga akhirnya, Brian mendapatkan proyek desain fantasyland di Disneyland Hong Kong senilai US$200 ribu.

Booming property dan real estate di tahun 1981 pun turut mendongkrak bisnis Brian. Order demi order terus mengalir berdatangan. Bisnis yang berawal dari garasi rumah dengan tiga orang karyawan, perlahan pun menanjak hingga akhirnya tahun 1986 memindahkan lokasi produksinya di Cikupa, Tangerang dengan luas lahan dua hektar. Brian pun akhirnya membuka show room di Jalan S. Parman dan Jalan Biak Jakarta untuk mendongkrak penjualan produknya. Dan akhirnya, bisnis keluarganya pun ditinggalkan demi passion yang telah berhasil ditemukannya.

Si Perfeksionis Yang Mengutamakan Kualitas

Saat mendatangi pabriknya yang berada di Cikupa, Tangerang nampak jelas bahwa proses produksinya dilakukan secara professional dengan ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Di atas lahan seluas dua hectare itu PT Eztu Glass Art berdiri dengan dua bangunan utama. Proses menggambar atau mendesain, proses pemotongan, proses perakitan serta proses mengkilaukan kaca dilakukan di gedung satu. Sementara untuk proses finishing touch dan pengepakan di gedung dua.

Brian mengakui bahwa dirinya sangat perfeksionis. Hal ini pun terlihat saat melakukan inspeksi di pabriknya di Cikupa. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawannya di cek satu demi satu. Bahkan memberikan catatan kecil di atas kertas proyek. Walaupun terkadang Brian menjadi lebih rewel saat tidak puas dengan hasil kerja karyawannya, namun kolektor benda antic ini pun tak segan memuji karyawannya bila hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Brian memang sangat mengutamakan kualitas produknya, bahwa harga menjadi mahal tak bersoal. “Saya tidak ingin menurunkan harga, tapi kualitas jadi menurun,” ujar pehobi traveling dan fotografi ini. Baginya, menjaga kualitas serta reputasi menjadi harga mati untuk bertahan bahkan menjadi nomor wahid di Asia Tenggara.

Demi mempertahankan kualitas, Brian selalu menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik yang diimpor dari Jerman, dan Amerika Serikat. Brian pun mengaku tidak neko-neko dalam menjalankan bisnis ini. Tak ada strategi khusus termasuk dalam hal pemasaran produknya. “Mengandalkan word of mouth dan networking yang telah terjalin luas,” tandas pria yang mempekerjakan 380 orang karyawan ini.

Meskipun bisnis serupa telah menjamur, Brian tak takut bersaing. Keunikannya terletak pada desainnya yang limited edition. Pria yang aktif di Rotary Club ini hanya membuat satu desain untuk tiap pesanan. “Saya tidak membuat desain yang sama, kecuali atas permintaan konsumen itu sendiri,” ujarnya. Untuk itulah, daya kreasi dan imajinasi sangat diperlukan demi penciptaan desain kaca patri. Dari mana Brian mendapat inspirasi? Travelling menjadi sarana ampuh untuk menumbuhkan daya imajinasi. Kakek enam cucu ini bahkan menyebut alam sebagai sumber inspirasi terdahsyat karena setiap hal yang ada di alam sangat menarik untuk diterapkan dalam kaca patri.

Keunggulan lainnya adalah inovasi penggunaan bahan baku maupun desain dan seni pelapisan kaca. EGA memperkenalkan sistem triple on (triplon) glass atau unit triple glazed yang merupakan pelapisan panil kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Kelebihannya? “Hemat energi!” sebut Brian yang karyanya pernah masuk majalah Stained Glass Amerika tahun 1997 ini. Mengapa hemat energi? Hal ini disebabkan Kaca akan memblokir tiga sinar (infra red, ultraviolet dan visible light) yang masuk. Selain bermanfaat menghemat energi, triplon glass juga bisa berfungsi sebagai peredam suara. Selain itu, Brian memopulerkan pula seni pelumeran kaca dari Italia yang lebih dikenal dengan melton glass (pelumeran kaca float) dan moons glass (pelumeran art glass warna-warni).

Brian boleh tersenyum lega, usaha yang dirintisnya 28 tahun silam ini telah menunjukkan hasil. Meskipun proyeknya telah bertebaran di berbagai lokasi di Indonesia bahkan di kancah internasional, Brian tak berhenti berkreasi. Hard Rock Café, Hilton Hotel Bali, Ritz Carlton Wedding Chapel Bali, apartemen Belezza, masjid At Tiin TMII, dan masjid Dian Al-Mahri Cinere adalah beberapa deret proyek Brian di tingkat local. Sementara di tingkat internasional, tujuh gereja di Hong Kong, Disneyland Hongkong, Istana Bukit Kahyangan Brunei Darussalam, Holiday Inn Crowne Plaza Qingdao RRC, masjid di Cape Town, Afrika Selatan. Belum lagi pesanan individu dari pejabat-pejabat terkemuka di Indonesia dan negara tetangga.

Mengenai harga, tanpa mau merinci Brian menyebut angka Rp5 juta hingga Rp1 miliar untuk setiap  proyek. Meskipun tak bisa disebut murah, namun order yang datang padanya tak pernah putus. Saat ini, Brian tengah menggarap proyek monumental Da Vinci Kuang Co di RRC. “Kebetulan mereka memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengerjakannya,” kata suami dari Flora Wijaya tanpa bermaksud sombong. Tanpa ragu, Brian pun berbagi kunci keberhasilannya dalam berbisnis. “Pantang menipu konsumen dan selalu menjaga kualitas,” tandas Brian. Bekerja dengan hati, mengutamakan kualitas, totalitas dalam berkarya dan pantang menipu konsumen mengantarkan Brian menjadi master kaca patri di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Salut!

Marthapuri Dwi Utari

Eztu Glass Art

Jl  S. Parman Raya 6B, Slipi

Jakarta, 11480

Tel               : +62 21 5493385

Faksimile      : +62 21 5493395

Email            : yaputra@eztuglass.com

Website        : www.eztuglass.com

Testimonial      :

Rudhy A. Lontoh, Lawyers – Lontoh & Partners Law Office

High profile, high profit adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Brian. Sentuhan seni yang kental membuat produk Brian sangat delicate, halus dan indah. Tak heran karena Brian memang sangat professional dan layak disebut sebagai expert di bidangnya.

Rule of succes ala Brian :

  1. Menomorsatukan kualitas dan pantang menipu konsumen.
  2. Selalu focus dan konsisten.
  3. Mengkolaborasikan antara bekerja dengan hati dan otak.
  4. Memanfaatkan jejaring di skala global.
  5. Menggandalkan pendekatan personal dalam mengerjakan proyek individu, sehingga bisa menyesuaikan antara keinginan konsumen dengan desain kaca patri.

Profil :

Brian Yaputra

Tempat, tanggal lahir        : Semarang, 12 Agustus 1947

Status                              : Menikah dikaruniai tiga orang anak

Jabatan                           : Owner dan founder PT Eztu Adimore

Pendidikan                       :
– Akademi Bahasa Asing Indonesia, Jakarta, lulus 1971

– Chinese English School, Semarang, lulus 1966

Karya                               :

–      Istana Bukit Kayangan, Brunei Darussalam

–      State Secretarial Building, Kuching, Sarawak

–      Sultans’ Palaces in Malaysia

–      Disneyland Hong Kong

–      Hard Rock Café, E.X. Indonesia

–      Restorasi Museum Bank Indonesia, Kota Tua

–      Johar Shopping Center, Semarang

–      48 gereja, 24 masjid, 40 gedung, dan 22 hotel di Indonesia