Party With Far*East Movement

 

Far*East Movement – electro hop quartet asal Los Angeles berhasil menyulap Istora Senayan, Jakarta sebagai panggung dance floor. Selasa (15/3/2011) menjadi malam milik party goers Jakarta.

Sekitar dua ribuan clubbers memenuhi stadion dengan kapasitas 5.000 orang dan siap berpesta. Konser dibuka dengan penampilan Maia Estianty yang dikenal sebagai vokalis, pencipta lagu dan produser musik, yang tampil menjadi disc jockey. Sejumlah lagu electro dance seperti Only Girl (Rihanna), Fireworks (Katy Perry), Please Don’t Go (Mike Posner), Some One Like You (Adele) dan Time of My Life (Black Eyed Peas) mengalun dari balik turn table Maia dan DJ Devina. Berbusana catsuit berwarna putih, biru dan pink Maia berkolaborasi dengan Mey Chan, Leeya dan Angel Percussions menyuguhkan remix lagu Pengkhianat Cinta dan Yang Penting Happy.

Selanjutnya, audience dimanjakan dengan penampilan DJ Mikey Moran asal San Fransisco yang me-remix beberapa lagu diantaranya California Girls (Katy Perry) dan, Empire State of Mind (Alicia Keys). Lalu disusul dengan performa penyanyi R&B pendatang baru asal Amerika Serikat, Jay Smoove. Smoove bersama dua penari latarnya tampil sangat energik menyanyikan lagu hits-nya Let Me Be Your DJ. Suasana sempat memanas saat DJ Twist feat DJ Rad/Bot akan naik ke panggung. Pasalnya, ribuan penonton sudah tidak sabar menantikan aksi Far*East Movement.

Pukul 22.30 suasana sedikit ricuh karena penonton menginginkan penampilan idola mereka beraksi. Sepuluh menit kemudian, DJ Virman (Virman Coquia)– salah satu personil Far*East Movement yang mengenakan setelah kemeja warna abu-abu dan dasi lengkap dengan kaca mata hitam yang menjadi ciri  khas group hip hop keturunan Asia ini mengisi kekosongan karena persiapan performance dengan unjuk kebolehan memainkan turn table miliknya.

Pukul 23.00, Kev Nish (Kevin Nishimura), Prohgress (James Roh) dan J-Splif (Jae Choung) menggebrak panggung dengan penampilannya yang ‘like nylon guys‘.  Berkemeja, dasi dan berjas tidak ketinggalan kacamata hitam lagu Girls on the Dance Floor dan If I Was You membuka performance konser Far*East Movement di Indonesia.  Penampilan yang energik dan atraktif dengan musik up beat membuat penonton ikut bergoyang. Terlebih saat lagu Like A G6 yang menjadi soundtrack film The Fast and the Furious: Tokyo Drift kian memanaskan suasana.

Beberapa kali penonton histeris dan dengan kompak mengangkat tangan mereka ke atas sambil menikmati dentuman musik elektro hop. Satu jam Far*East Movement beraksi. Dan single kedua dari album Free Wired yang berjudul Go Ape menjadi lagu yang menandai berakhirnya konser Far*East Movement. Two thumbs up for Far*East Movement dan Sentralive! yang berhasil menyulap Istora menjadi party spot dan memuaskan party goers Jakarta!

 

Advertisements

Saat Si Raksasa CPO Berpaling Pada Si Manis

Rasanya intuisi dan insting yang tajam terhadap bisnis yang menjanjikan wajib dimiliki setiap pengusaha. Demikian pula dengan naluri yang dimiliki oleh konglomerat CPO pemilik Wilmar Group – Martua Sitorus yang justru membidik industri gula di tahun 2010 ini. Martua tak cukup puas dengan bisnis CPO-nya dan justru melirik untuk investasi baru di bidang yang sama yaitu agribisnis tapi berbeda komoditas. Bagaimanakah potensi serta prospek dari percobaan bisnis Wilmar ini?

Mencaplok Pabrik Gula Terbesar di Australia

Raja kelapa sawit (crude palm oil) – Wilmar Corp. kini siap menjadi juragan gula. Alasannya, “Kami percaya bahwa situasi ekonomi yang kuat dan kondisi demografis mendorong tumbuhnya permintaan akan gula di negara Asia. Dan kami mengidentifikasi Indonesia, karena mengalami deficit produksi gula serta masih ada ketersediaan lahan untuk produksi gula,” kata Au Kah Soon, corporate communications Wilmar International Ltd.

Keseriusan ini ditunjukkan dengan mengakuisisi Sucrogen Limited, pabrik gula mentah di New South Wales, Australia lewat Wilmar International Ltd. Sucrogen Limited ini tadinya bernama CSR Limited yang dimiliki oleh CSR Limited – sebuah perusahaan manufaktur ternama yang beroperasi di Asia dan New Zealand. Akuisisi senilai A$1,750 juta atau setara dengan US$1,472 juta (diluar bunga minoritas) atau sekitar Rp14 miliar ini dilakukan pada 1 April 2010 lalu. Dari kesepakatan ini terdiri dari US$1,133 juta sebagai ekuitas, dan US$339 juta sebagai hutang bersih.

Proses penyelesaian kesepakatan ini akan berakhir sekitar tanggal 30 September 2010 setelah disetujui oleh Badan Penanaman Modal Australia (Australia’s Foreign Investment Review Board) dan Kantor Penanaman Investasi Luar Negeri New Zealand (New Zealand’s Overseas Investment Office). Sementaranya, dana akuisisi ini berasal dari kas internal dan pinjaman bank seperti diungkapkan oleh Kah Soon.

Seberapa strategiskah Sucrogen Limited ini hingga korporasi milik tycoon Martua Sitorus dan Tan Sri Robert Kuok kepincut pada Sucrogen? “Kami membeli Sucrogen karena kami percaya ini investasi yang sangat menguntungkan dan mereka memiliki tim manajemen yang bagus sehingga membantu kami dalam membangun perkebunan di Indonesia,” ujar Kah Soon.

Wajar saja mengingat Sucrogen ini mengoperasikan tak hanya gula tapi juga bergerak dibidang energi terbarukan dengan rantai nilai mulai dari perkebunan, bahan pemanis (sweeteners) tapi juga bioethanol. Industri gula yang berbasis di Sydney Utara, New South Wales Australia ini punya segudang potensi. Pertama, pabrik ini merupakan produsen raw sugar terbesar di Australia sekaligus eksportir raw sugar terbesar kedua di dunia setelah Queensland Sugar Limited (QSL).

Selain itu, Sucrogen memiliki tujuh penggilingan di Queensland dengan kapasitas produksinya mencapai 2,1 juta metrik ton per tahun. Pabrik ini masih ditunjang dengan generator dengan bahan bakar energi terbarukan (renewable energy) terbesar yaitu biomassa yang memanfaatkan sisa hasil buangan produksi perkebunan gulanya dengan kapasitas mencapai 171 megawatt. Menurut sumber penulis, korporasi dalam hal ini Wilmar diuntungkan karena Sucrogen sudah sangat mapan.

Bagaimana dengan pemasarannya? Apakah untuk kebutuhan domestik di Indonesia yang artinya cost distribution-nya akan sangat mahal ataukah untuk ekspor? Lagi-lagi si sumber menyatakan bahwa Sucrogen sudah punya pasar sendiri. “Kita tinggal nerusin aja,” kata sumber itu. Selain memenuhi kebutuhan gula di Australia dan New Zealand, Sucrogen juga mengekspor gula putih dan raw sugar ke Singapura, Indonesia, Hong Kong, Fiji, Papua Nugini, Guam/Saipan dan Kiribati/Tuvalu.

Demikian pula untuk produk berbasiskan gula yang digunakan untuk industri makanan di Asia Pasifik dan Jepang menjadi sasaran Sucrogen. Bahkan mereka memiliki kapal “MW Pioneer’ dengan kapasitas 20 ribu ton dan mampu berhenti untuk membongkar 500 ton per jamnya atau memasukan gula tiga ribu ton per hari. Rasanya, tak heran kalau Wilmar lantas berani jor-joran untuk investasi di bidang gula ini karena sasaran tembaknya memang memiliki potensi yang sangat menjanjikan.

Bangun Pabrik Gula Terintegrasi di Papua

Di dalam negeri, Wilmar Group lewat PT Papua Resource Indonesia juga berniat membangun industri gula terpadu. Perusahaan yang berasal dari Singapura ini turut meramaikan program Merauke Integrated Food and Energy Estate yang digelar oleh pemerintah dengan berfokus pada perkebunan tebu dan pabrik gula. Perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis ini berhasil mengantongi izin konsesi lahan 20 ribu hektar dari izin yang diajukan seluas 100 ribu hektar dengan kapasitas pabrik penggilingan gula delapan ribu TCD.

Untuk investasi megaproyek di Papua ini, Wilmar sudah siap menggelontorkan uang sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp18 triliun. saat ini, perusahaan sedang memperhitungkan mengenai akses infrastruktur yang masih sangat minim. Untuk itulah, perusahaan sedang mengkaji lewat feasibility study yang memakan waktu enam bulan. Dengan demikian, proyeksinya proyek ini benar-benar bisa berjalan di tahun depan. Kendala infrastruktur ini, kata MP Tumanggor, komisaris PT Wilmar Nabati Utama, perusahaan bersedia untuk membangun berbagai fasilitas infrastruktur  yang dibutuhkan perusahaan. “Asalkan pemerintah memberikan insentif,” kata Tumanggor dalam media harian nasional.

Namun, informasi lain justru didapat dari Mirza Adityaswara, chief economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Mirza mengungkapkan dari hasil Papua Investment Day yang digelar Oktober tahun lalu, ada beberapa perusahaan yang telah berinvestasi secara kongkrit di Papua. Salah satunya adalah Wilmar Group dibawah bendera PT Papua Resource Indonesia. Kabarnya, perusahaan sudah mendapatkan dukungan tax holiday, fasilitas bunga subsidi, pengurangan PPh untuk rencana pembangunan pabrik gula terintegrasi dengan lahan 20.000 hektar dan kapasitas pabrik 8.000 TCD.

Meramaikan Upaya Swasembada Gula

Masuknya Wilmar ke sektor gula ini rasanya bukan pilihan salah. Terlebih lagi pemerintah memiliki target swasembada gula di tahun 2014. Dan salah satu cara yang ditempuh adalah revitalisasi industri gula nasional terhadap pabrik-pabrik gula baik milik negara maupun swasta. Revitalisasi mesin menjadi agenda utama yang akan menelan anggaran Rp1 triliun. Kapasitas produksi gula konsumsi nasional di tahun 2009 baru mencapai 3,25 juta ton. sementara kapasitas produksi gula rafinasi mencapai 2,18 juta ton di tahun 2009. Padahal total konsumsi gula mencapai 4,85 juta ton per tahun.

Selama ini industri gula sulit berkembang karena banyak persoalan yang melingkupi industri ini. Mulai dari kemampuan mesin produksi yang sudah tua. Untuk itu dicanangkan program revitalisasi industri gula nasional yang memang sasarannya untuk merevitalisasi mesin pabrik gula. Selain terkendala kapasitas produksi, masalah distribusi juga menjadi hambatan utama industri manis ini.

Demikian juga yang menjadi persoalan utama Wilmar Group. Dengan pusat produksi di Papua, bisa dipastikan ongkos distribusi akan sangat mahal bila dipasarkan ke daerah luar Papua. Untuk itulah pihak Wilmar berharap pemerintah menunjukkan sikap dan kejelasan mengenai persoalan infrastruktur. “Kalau pabrik sudah dibangun, tapi tak jelas soal infrastruktur bisa ditebak harga gula yang dikirim ke Jawa akan semakin mahal,” kata M. P. Tumanggor. Walaupun belum ada kepastian kapasitas produksi dan persoalan distribusi dari pabrik gula yang dimilikinya, setidaknya Wilmar sudah ikut meramaikan usaha pemerintah untuk swasembada gula nasional. Semoga saja kiprah Wilmar ini seberuntung bisnisnya di CPO.

Kaya Ditengah Krisis Berkat Opsi Saham

CEO Termahal 2009 Versi Wall Street Journal

taken from digitalsquared.com

Julukan ‘Billionaire Dropouts’ pantas disematkan pada sosok  Lawrence Joseph Ellison yang kerap disapa Larry Ellison. Dedengkot Oracle Corp. yang dilahirkan pada 17 Agustus tahun 1944 di New York City ini pernah terdaftar sebagai mahasiswa di University of Illinois tapi tak berlangsung lama. Kematian ibu angkatnya karena kanker yang dideritanya membuat Larry terpaksa memilih untuk mundur dari kuliahnya. Lalu, Larry menghabiskan musim panas di California Utara dan kembali mendaftar di University of Chicago melanjutkan studi Fisika dan Matematika yang sempat terputus. Sayangnya, Ellison drop out lagi ketika baru tiga bulan kuliah. Dua kali drop out sempat membuat ayahnya geram, sampai-sampai ayahnya meyakini bahwa Larry tak akan pernah menjadi orang penting.

Tapi, walaupun tak tamat kuliah, Larry sempat belajar pemrograman komputer saat kuliah. Akhirnya, Larry pun menjadi programmer freelance dan menikmatinya. Larry justru menemukan dunia serta passion-nya yang disukainya dibandingkan prestasi akademis semata. Di tahun 1966, Ellison pindah ke California hingga sebelas tahun kemudian Ellison bekerja untuk perusahaan yang bernama Ampex Corp. Proyek utamanya adalah membangun database untuk biro intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency) yang berkode Oracle. Keberhasilan proyek Oracle ini menjadi cikal bakal kesuksesannya di masa depan. Larry bersama rekannya Bob Miner dan Ed Oats berhasil membangun perusahaan software IT yang sangat berkembang di dunia di bawah bendera Oracle Corp.

Dan kini, pria pehobi kompetisi yacht ini menjadi CEO dengan bayaran termahal. Tahun 2009, Wall Street Journal menempatkan Larry sebagai CEO Termahal selama satu dekade yang menerima US$1,84 miliar atau setara dengan Rp16,7 triliun. Penerimaan opsi sahamnya menyumbang kontribusi terbesar dari komponen pendapatan Larry sebesar US$1,778.30 miliar atau sekitar 96,6 persen. Sementara itu, Barry Diller, si penguasa IAC/InterActive dan Expedia.com, situs travel online berada di peringkat dua dengan total penerimaan kompensasi sebesar US$1,142.90. Ray Irani, CEO Occidental Petroleum menyusul di peringkat tiga dengan US$857 juta. Dedengkot Apple Inc.’s, Steve Jobs hanya bercokol di posisi keempat dengan US$749 juta dan Richard Fairbank, CEO Capital One Financial dengan bayaran US$569 juta.

Gaji Nol, Tapi Opsi Saham Jutaan Dolar

Wall Street Journal tersebut merangking kompensasi yang meliputi gaji, bonus, insentif dan pendapatan dalam saham. Dari survey gaji itu, memang sebagian besar bahkan hampir seluruh CEO justru mendapatkan opsi saham yang sangat besar dibandingkan gajinya. Opsi saham yang diterima Ellison dan Diller memiliki kontribusi terbesar dalam komponen kompensasi mereka. dan ini dialami oleh nyaris seluruh CEO yang masuk dalam analisis kompensasi WSJ tersebut.

Yang menarik adalah Steve Jobs dan  Richard D. Fairbank, CEO Capital One Financial yang gajinya nol. Bahkan Fairbank pun meraih nol dolar bonus. Pendapatan Jobs yang terbesar disokong dari jatah saham yang dimilikinya sebesar US$646.60 atau sekitar 86,3 persen. Sementara Fairbank, komponen terbesar pendapatannya disokong dari opsi saham yang mencapai US$549.30 dari total pendapatannya sebesar US$568.50.

Sistem pembayaran ataupun kompensasi eksekutif ini sejatinya sudah ada sejak tahun 1980-an. Tujuannya agar kekayaan para eksekutif dan pemegang sahamnya tidak timpang. Konsekuensinya, gaji eksekutif pun dibatasi dan imbal baliknya CEO itu memperoleh bayaran dalam bentuk opsi saham. Opsi saham ini bernilai tinggi saat harga saham perusahaan naik.

Sebaliknya, kompensasi para CEO pun bisa saja terjun bebas saat pemimpin perusahaan itu mengeksekusi opsi sahamnya disaat harga sahamnya anjlok. Ellison, petinggi Oracle meraih US$700 juta saat mengeksekusi opsi sahamnya pada Januari 2001. Tapi di tahun berikutnya, Ellison tak mendapatkan bayaran sepeser pun.

Ambil contoh, pemegang saham Apple pernah mengalami lonjakan nilai sahamnya hampir 12 kali lipat. Tapi tak demikian dengan pemegang saham dari Dell Inc. yang justru nilai sahamnya turun hingga 66% dalam kurun waktu 10 tahun terakhirnya. Ironisnya, Michael Dell, sang dedengkot justru berhasil mengantongi US$454 juta atau sekitar Rp4,1 triliun di saat yang bersamaan. Tak hanya Dell. Inc saja, ada IAC/InterActive, Countrywide, Capital One dan Cendant Corp yang mengalami nasib serupa.

Barry Diller pun lebih dari 96% kompensasinya diperoleh dari eksekusi opsi saham di IAC/Expedia.com. Opsi saham ini diberikan tahun 1995 dan 1997 saat dirinya berhasil menghimpun IAC dari stasiun televisi, jaringan kabel dan situs internet. Diller mengeksekusi opsi saham tahun 1995-nya di tahun 2005 tepat sebelum kadaluwarsa. Dari eksekusi ini, Diller berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$463 juta. Tapi, dalam satu decade belakangan, seorang pemegang saham IAC kehilangan 18% uangnya termasuk nilai spin offs. Dan Mr. Diller mengatakan bahwa itu bukan perbandingan yang adil terhadap kompensasi totalnya dalam satu decade, karena kompensasi ditentukan oleh pendapatan opsi (saham) yang mencerminkan keuntungan besar dari periode sebelumnya.

Oleh sebab itu, persoalan model kompensasi ini masih menjadi perdebatan panas di Amerika Serikat dalam kurun waktu 10 tahun belakangan. Ditambah pula dengan peristiwa skandal akunting yang pernah terjadi di awal tahun 2000 dan hancurnya ekonomi global di tahun 2008. Rasanya, besarnya paket bayaran eksekutif ini menjadi tidak rasional dan memunculkan gap yang cukup besar antara kekayaan CEO dengan pemegang sahamnya.

Adanya gap kekayaan antara eksekutif dan pemegang saham ini cukup memprihatinkan. Bahkan sempat timbul dugaan adanya bayaran tanpa prestasi. Tapi, Steve Kaplan, professor University of Chicago’s Booth School of Business membantah dan justru menyebut bahwa para eksekutif berbayaran besar sebanding dengan prestasi yang dihasilkannya. Hal ini juga dibantah oleh Diller dan juru bicara David Fairbank. “Kompensasi ini merefleksikan keuntungan penuh bagi pemegang saham dari periode yang sebelumnya. Dan apa yang saya dapatkan sama besarnya dengan pemegang saham dalam periode penghitungan yang tepat sama” kata Barry Diller, CEO Interactive Corp/Expedia.Com dalam satu wawancara.

Ray Irani, CEO Occidental Petroleum juga tak lepas dari dugaan bayaran tanpa prestasi. Irani, disebut-sebut telah dibayar hingga tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan eksekutif perusahaan minyak lainnya. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa jajaran direksi membayar terlalu tinggi dengan target prestasi yang terlalu rendah. Tapi juru bicara Occidental buru-buru membantahnya dan mengatakan bahwa jajaran direksi perusahaannya percaya pada prinsip ‘bayaran yang sangat baik untuk prestasi yang sangat baik’. Kompensasi yang dikantongi oleh Irani memang terkait erat dengan operasional perusahaan dan harga saham Occidental.

Demikian pula yang terjadi pada Michael S. Dell. Juru bicara Dell Inc., menyebut bahwa sebagian besar kompensasi yang diterima oleh Michael berasal dari kenaikan opsi yang diberikan pada tahun 1990-an saat harga saham Dell sedang tinggi-tingginya. Jubir Dell menambahkan kompensasi ini sebanding karena Dell sebelumnya tak menerima bonus selama empat tahun, dan tak mendapatkan saham maupun opsi saham dalam enam tahun terakhir.

Opsi Saham : Metode Kompensasi Paling Fair

Menurut Irham Dilmy, managing partner Amrop Hever Indonesia metode executive stock option plan (ESOP) ini merupakan long term compensation yang sangat fair. “Artinya, memberikan satu imbalan yang sifatnya jangka panjang dengan tujuan yang pertama untuk mempertahankan orang yang berkinerja baik dan mempertahankan value perusahaan supaya tetap baik kinerjanya,” kata Irham.

Dengan opsi saham yang diberikan pada eksekutif tidak akan membuat keuangan perusahaan bertambah maupun berkurang. Pasalnya, harga saham ini tentunya sesuai mekanisme pasar saham yang berjalan tanpa mengurangi kepemilikan saham perusahaan. Kepemilikan saham tetap berada di tangan perusahaan, bukan berpindah ke tangan eksekutif. Apa yang didapat eksekutif hanyalah margin dari harga jual dan harga beli saham perusahaannya. Untuk itu, eksekutif sendiri selalu dipacu untuk terus bekerja keras demi keuntungan perusahaan. Imbal baliknya, sang presiden direktur berhak menerima opsi saham sesuai dengan yang ditentukan oleh perusahaan.

Tapi, kompensasi opsi saham ini ternyata juga meraih banyak kritikan dari pengamat. Seringkali, demi mendongkrak nilai sahamnya para eksekutif mengambil langkah beresiko yang hanya menguntungkan dalam jangka pendek saja. Irham tak setuju, justru sebaliknya. Para eksekutif ini dituntut untuk memberikan performance terbaiknya seandainya mereka ingin kompensasi yang diterima besar. Yang salah adalah ketika perusahaan justru memberikan stock grant plan kepada eksekutifnya.

Sejatinya, opsi saham ini punya dua tujuan utama yaitu memberikan hadiah atas kinerja masa lampau si eksekutif serta mengiming-imingi kinerja yang jauh lebih baik di masa depan. Eksekutif akan terus terpacu untuk memberikan kinerja terbaiknya demi mendapatkan margin harga saham yang tinggi. “Jadi, dengan opsi saham ini merupakan cara yang relatif murah dan berdampak sangat besar bagi perusahaan dalam memberikan kompensasi para eksekutifnya,” imbuh Irham yang pernah bekerja di ARCO Los Angeles selama 15 tahun ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Metode stock option compensation ini justru banyak digunakan oleh perusahaan multinasional. Pasalnya, perusahaan multinasional ini mengikuti standar yang sudah ditetapkan di headquarter-nya. Selain itu, masih banyaknya perusahaan di Indonesia yang belum terdaftar di bursa efek dan menjadi perusahaan terbuka. Dengan kondisi ini, tentu saja membuat valuasi perusahaan menjadi sulit. “Untuk melakukan penilaian berdasarkan stock option sesuai dengan mekanisme pasar tentunya harus valuasi pasar dilihat di pasar modal. Tapi, kalau perusahaan tersebut belum terbuka, bagaimana kita melakukan valuasi atas perusahaan tersebut?” jelas Irham. Yah, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk menerapkan metode ini di Indonesia.

Inspirasi Baru

Selasa (6/4) pagi, dalam perjalanan ke kantor, tanpa sengaja I-Radio memutarkan lagu ini untuk telingaku tercinta. Dan bersyukur bahwa lagu yang diputar bisa menjadi inspirasi bagi hidupku selanjutnya.

Check this one out….Sang Penghibur – PADI

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi ku cerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati

Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
tuk merubah nasibnya…

oh.. bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya

ku gerakkan langkah kaki
di mana CINTA akan bertumbuh
ku layangkan jauh mata memadang
tuk melanjutkan mimpi yang terutuh
masih ku coba mengejar rinduku
meski peluh membasahi tangan
lalah penat tak menghalangiku
menemukan bahagia

o… o…
bukankah ku pernah melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya
yang lelah jiwanya
yang sedih hatinya

yang lelah jiwanya
oo..
bukankah ku bisa melihat bintang
senyum menghiasi sang malam
yang berkilau bagai permata
menghibur yang lelah jiwanya

bukankah hidup ada PERHENTIAN
tak harus kencang terus berlari
ku helakan nafas panjang
tuk siap berlari kembali…
berlari kembali..
melangkahkan kaki
menuju cahaya

bagai bintang yang bersinar
menghibur yang lelah jiwanya
bagai bintang yang berpijar
menghibur yang sedih hatinya

Animasi oh Animasi…

Belum adanya cerita dan karakter yang kuat membuat industri animasi kesulitan berkembang

“Yang penting itu ciptakan dulu budaya kreatif. Jangan dulu ngomong soal ekonomi kreatif. Kalau sudah terbentuk budaya kreatif, tumbuh industrinya baru bisa bilang soal ekonomi kreatif.”

Sepenggal kalimat itu adalah curahan hati (curhat) yang meluncur dari mulut seorang Peni Cameron, penggiat industri kreatif khususnya industri animasi. Di suatu siang yang sangat cerah, Sabtu (30/1), saya sangat beruntung bisa bertemu sekaligus mendengar banyak cerita dari sang Marketing Animasi ini di rumahnya yang sangat asri dan cozy di Pamulang. Ungkapan tadi cuman sebagian kecil ungkapan kegeramannya pada pemerintah yang hanya menuntut industri kreatif untuk menghasilkan nilai ekonomi, tanpa mau memberikan investasi bahkan perhatian secuil pun. Kalau tulisan tentang Peni Cameron, ada di bagian yang berbeda (cek di Folder Smartpreneur yah). Tapi inti dari dua jam perbincangan adalah betapa beratnya industri animasi untuk berkembang di Indonesia ditengah minimnya dukungan dari pemerintah.

Ada beberapa kendala yang membuat industri ini terkesan ‘seperti kura-kura’ berjalan dengan sangat lambat. Satu, Indonesia masih kekurangan penulis script (scriptwriter) dengan ide cerita yang sangat kuat. “Terutama scriptwriter yang mengerti animasi ya. Karena menulis script animasi itu berbeda dengan script sinetron atau script film biasanya. Film animasi yang ditonjolkan adalah visualisasinya,” jelas Peni. Lihat saja kalau Nobita menangis memohon bantuan ke Doraemon, bisa dibayangkan berapa ember air mata yang keluar dari si ‘mata empat’ itu. Tanpa perlu banyak dialog, penonton sudah bisa menebak bahwa Nobita sedang sedih. Tapi memang pengemasannya berbeda dengan sinetron. Cerita animasi tentu lebih lucu visualisasinya dibandingkan film lainnya. Itulah mengapa, kata Peni, jangan sampai menulis animasi seperti menulis script sinetron.

Belum lagi, menemukan sebuah karakter animasi yang sangat kuat itu bukan perkara mudah. Indonesia yang multietnik, multibahasa, multikultur tetapi animator masih kesulitan untuk menciptakan satu karakter yang kuat. Seperti animasi Amerika dengan ciri khas cerita binatang seperti karakter Mickey Mouse, Donald Duck, dan animasi lainnya. Atau karakter super hero yang cirinya berpakaian ketat, bersayap, bertopeng, memakai pakaian dalam diluar (kalau tak semuanya, karakter itu bercirikan salah satu dari yang saya sebut). Di Indonesia memang sudah ada yang membuat karakter animasi yaitu Marlin Sugama dan Andi Martin dengan tokoh ‘HEBRING’nya. Hebring adalah superhero versi Indonesia yang berasal dari Jawa Barat dengan ciri khas baju biru bersayapnya dan diambil dari bahasa sunda yang berarti hebat. Ide awalnya adalah karena pasangan suami istri ini geregetan (bukan judul lagunya Sherina yah) di Indonesia nyaris tidak ada icon superhero, jadi pehobi game ini menciptakan karakter Hebring.

Masih berkaitan dengan dua hal di atas yaitu berkaitan dengan Intellectual Property Right. Di Indonesia, paten karakter belum ada. Di negara ini, para animator harus mendaftarkan satu persatu karakter. Contoh gampangnya, icon Mickey Mouse yang sudah dipatenkan di Amerika. Paten ini mencakup semuanya, termasuk Mickey Mouse berbaju biru, merah, kuning, hijau, ketawa, nangis (in a short, patennya mencakup in any condition). Kalau di Indonesia itu harus patenin satu per satu, walaupun karakternya sama tetapi atribut berbeda patennya berbeda pula. Jadi pasti akan ada banyak paten dalam satu karakter. Padahal, biaya patennya Rp400.000 per karakter. Seandainya, ada 30 karakter, maka animator harus mengeluarkan uang Rp400.000×30= Rp12.000.000. Bayangkan, berapa besar investasi yang harus dia keluarkan? Bisa saja dengan anggaran Rp12.000.000 itu dipergunakan untuk pengembangan karakter baru, atau pengembangan bisnis lainnya. Hal inilah yang dikeluhkan oleh Peni, betapa tidak pro bisnisnya pemerintah terhadap industri animasi.

Bila tadi sudah berpanjang lebar tentang kendala yang dihadapi oleh industri animasi. Sekarang kita bicara alternatif solusi yang bisa dilakukan. Peni maupun Indra Utoyo, chief information officer PT Telkom Tbk. berharap agar pemerintah mau mendukung tumbuhnya industri kreatif khususnya animasi dengan menumbuhkan ekosistemnya terlebih dahulu. Setidaknya, pemerintah harus mau berinvestasi untuk melakukan sosialisasi dan menumbuhkan bibit-bibit animator muda di daerah. Seperti yang sudah dilakukan oleh Peni dengan melakukan roadshow ke 12 kota di Indonesia sebagai upaya untuk mengenalkan animasi dan mencari calon-calon animator potensial. Peni memang memiliki concern khusus terhadap dunia animasi. Tak terhitung lagi berapa investasi dari kocek pribadi Peni ditengah minimnya dukungan dana. Peni bahkan membentuk Indonesia Creative Idol (ICI) dengan slogannya ‘Banjiri Dunia dengan  Kreativitas Indonesia’. Tak cukup itu, kini Peni Comunity Weekly Creative Workshop yaitu sebuah mini workshop bagi para generasi muda Indonesia yang kreatif sebagai persiapan menjadi ICI. Dan sepertinya Peni tak pernah berhenti untuk mengembangkan industri animasi ini. Demikian pula dengan Wahyu Aditya dengan HelloMotion dan HelloFest sebagai upayanya mengembangkan industri animasi Indonesia. Dan peran animator-animator lainnya.

Tentunya langkah Peni ini akan terasa berat bila hanya berjalan sendirian. Indra pun berharap adanya sinergi antara tiga pihak terkait antara yang tahu (dalam hal ini pelaku bisnis), yang mampu (investor) dan yang kuasa (pemerintah), agar industri animasi ini bisa bergerak lebih cepat dan pada akhirnya industrinya bertumbuh yang pasti diikuti dengan pergerakan ekonomi. Semoga pemerintah responsif terhadap kebutuhan industri animasi dan industri kreatif secara umum agar industri ini cepat berkembang bahkan menjadi penopang utama perekonomian negara seperti yang telah terjadi di Jepang dan Korea.